Semalaman begadang cukup membuat Arsen merasa kalau energinya terkuras. Tidak tidur itu sama saja tidak makan.
Semalam ada hal aneh yang mengusiknya. Selembar foto yang menampilkan Sian dan seorang gadis kecil itu seolah tidak asing baginya. Seolah benda itu sudah ada di dekatnya bahkan sebelum ia menjadi arwah. Entahlah, kenapa ia merasa seperti itu.
Setelah menikmati tidur yang berkualitasnya, ia bangkit dari kasur Sian. Ya, pria itu sudah ke luar pagi - pagi sekali. Katanya, mau kerja.
Arsen merasa kalau Sian benar - benar gila kerja. Jika tidak kerja pun, pria itu akan melakukan apapun untuk mengisi waktu luangnya. Menulis, mendatangi kampus, mengajak pacarmya jalan - jalan. Ah iya, Arsen lupa, kalau gadis nyentrik yang mendekati Sian itu bukan pacarnya.
Setelah bangun dan beranjak dari kasur, Arsen merapikan sprai dan menata kembali bantal sesuai dengan posisi semula sebelum Sian berangkat kerja.
Tidak ada yang harus Arsen lakukan lagi. Sebab, Sian sudah merapikan semuanya. Pria itu sangat phobia pada hal - hal yang berantakan dan kotor.
Atau, Sian maniak kerapian dan kebersihan? Entahlah.
Setelah menimbang - nimbang, Arsen memutuskan untuk mendekati meja belajar Sian kembali. Menatap pada selembar foto yang lupa Sian simpan.
Diraihnya foto itu dengan ini mengembalikannya ke dalam laci, seperti semula. Akan tetapi, sesaat setelah ia menyentuh benda itu. Tiba - tiba saja kepalanya berdengung.
Sebuah kilasan kenangan yang terpotong - potong melewati kepalanya.
Seorang gadis kecil tertawa. Lalu seorang perempuan tersenyum seraya memanggil sebuah nama.
Dicengkramnya rambut hitam itu dengan kuat seolah itu bisa menahan sensasi berat sekaligus nyeri di kepala.
"Nik!"
"Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku."
Suara - suara itu menghantam kuat kepalanya. Lalu, kilatan ingatan kembali menerpanya. Menampilkan seorang perempuan dengan wajah kusut. Air mata membasahi pipi dan mata merah serta membengkak.
"Ku mohon berhentilah menangis, Di. Aku hanya mengalami luka kecil."
"Aku mencintaimu, mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja."
Meski sensasi sakit serta berat di kepalanya terus bertambah seiring cuplikan ingatan itu kembali. Arsen terus memaksa dirinya untuk mengingat hal apapun itu. Hingga pada akhirnya ia terjatuh ke lantai.
Foto itu terlepas dari genggemannya.
Untuk sesaat ia tidak bisa membuka mata. Tubuhnya bergerak susah payah untuk bangkit dan menegakkan punggung.
"Siapa Di?" gumamnya seraya menyentuh kepala yang masih terasa berdenyut hebat.
Gadis kecil yang ada di dalam foto bersama Sian, adalah gadis kecil yang sama dengan yang ada dalam ingatannya barusan.
Setelah merasa sedikit lebih baik. Arsen memutuskan untuk bangkit dan bergegas menemui Sian.
Ia harus menemui gadis nyentrik itu. Dan cara yang paling tepat adalah dengan menemui Sian terlebih dahulu. Meminta pria itu untuk menemui gadis itu dan menceritakan apa yang ia alami beberapa saat yang lalu.
***
Sebuah kafe dengan nuansa minimalis dipadu dengan interior ala kafe kota Neon yang saat ini marak disukai kalangan remaja kota Argon. Seorang pria jangkung dengan alis tebal tengah menatap ke arah seorang gadis dengan dres hitam selutut dengan rambut dicepol ala style remaja kota Argon.
"Ikat rambut kamu buka aja." Tri, gadis itu menatap pria yang ada di hadapannya dengan mata mengerling sebal.
"Gerah kalo diurai. Mending gini," sanggahnya seraya menatap pantulan dirinya lewat layar ponsel yang gelap.
Sian, pria itu mendongakkan kepala seraya mendengkus.
"Pulang? Atau lepaskan ikat rambutmu sekarang?"
Kenapa pria ini? Pikir Tri seraya menatap Sian dengan tatapan tak percaya.
Padahal ia sudah berdandan sedemikian rupa hanya untuk menemui pria itu di sini. Namun, apa yang ia dapat sekarang?
"Kamu kenapa sih?!" tanya Tri dengan sebal.
"Kamu gak tau aja, dari tadi leher kamu itu jadi pusat perhatian cowok - cowok yang ada di sini!" Jelas Sian dengan nada dingin lalu berlalu meninggalkan meja dengan nomor 13 itu dengan wajah merah padam.
Tri, gadis itu menganga dan menatap kepergian Sian dengn sendu. Lalu diedarkannya pandangan ke setiap sudut kafe.
Hampir semua mata lelaki yang ada di sana tertutu padanya. Dengan berani, gadis itu melototi siapa saja yang tertangkap basah sedang memandanginya.
Bagaimana tidak, gadis itu terlalu bersinar di sana. Dres hitam casual selutut dengan lengan sebahu yang ia kenakan sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih kemerahan.
Tri pikir Sian benar - benar marah dan meninggalkannya begitu saja. Akan tetapi, ia salah. Karena saat ini, pria itu kembali melangkah ke arah meja yang ia temoati.
Tri menatap Sian dengan tatapan bersalah. Lalu tiba - tiba saja sebuah jaket berwarna abu melingkar menutupi punggung gadis itu.
"bentar lagi shift aku selesai. Kamu tunggu di sini sebentar," pinta Sian seraya meletakkan sebuah piring berisi kentang goreng dan semangkuk kecil saus tomat. Lalu secangkir orange jus di atas meja.
Tri menganggukkan kepala seraya tersenyum hingga sudut matanya menyipit.
Sian berlalu melanjutkan pekerjaannya sebagai waiter di kafe Uno.
Tri menatap punggung pria itu yang semakin menjauh dengan perasaan hangat. Ditatapnya lagi jaket yang menutupi tubuhnya dengan senyuman merekah.
Menunggu Sian selesai dengan pekerjaannya bukanlah hal sulit bagi seorang Tri. Bahkan di awal - awal pertemuan mereka, Tri pernah menunggu pria itu sampai larut malam. Jadi, kalau hanya menunggu selama satu atau dua jam saja, itu tidak ada apa - apanya.
"Maaf ya, bikin kamu lama nunggu." Sian datang dengan tampilan berbeda setelah mengganti seragam kafenya dengan pakaian casual. Kamerja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Lalu jeans dengan warna senada dan sneakers berwarna putih.
Tri menggeleng seraya mendongak menatap ke arah pria yang kini mengambil posisi duduk di salah satu kursi.
"Gak lama kok," balas Tri seraya tersenyum. Sejak mengenal Sian, ia merasa menajadi seseoramg yang murah senyum.
"Jadi, apa yang mau kamu kasih tau ke aku?" tanya Sian seraya menatap gadis yang ada di hadapannya.
Tri nampak menggigit bibir bagian dalamnya menahan kegugupan yang kini menyerang. Ia kembali merasa ragu, bagaimana caranya agar Sian tidak salah paham dengan apa yang akan ia katakan nanti.
"Ehmm itu, aku mau," Gdis itu berujar pp. Membuat Sian menatapnya dengan curiga.
"Kenapa?" tanya Sian penasaran.
Tri masih ragu untuk mengatakan alasannya menumui Sian di tempat kerja pria itu.
"Kalau gak ada, aku anterin kamu pulang sekarang," putus Sian seraya meraih ponsel dan menyandang tas hitamnya lalu bangkit dari kursi.
"Papa mau ketemu sama kamu," ucap Gadis itu dengan cepat dengan mata setengah tertutup.
Sian menatap dengan wajah tidak percaya dengan apa yang barusn ia dengar.
"Apa?" tanyanya memastikan kalau yang dikatakan gadis di hadapannya ini tidak salah.
"Ya. Papa kemaren liat kamu nganterin aku pulang," jelas Tri seraya meringis.
"Berarti, kemarin kamu bohong soal tidak ada orang di rumahmu?" tanya Sian dengan wajah berubah kecewa.
Tri meringis seraya menundukkan kepalanya.
"Maaf. Aku cuma gak mau kamu ditanya yang enggak - enggak sama papa aku." Gadis itu berujar dengan wajah bersalah dan menyesal.
Sian terdiam. Ditatapnya gadis di hadapannya kini dengan wajah sendu. Gadis itu terus aja mengatakan maaf.
"Aku gak tahu kalau papa bakalan tetap tahu. Kalau kamu gak mau,-"
"Ayo, temui papa kamu!" potong Sian dengan cepat. Tri yang semula menundukkan kepala, kini mendongak menatap Sian dengan wajah tidak percaya.
Sian mengangguk pelan, "Ya. Ayo temui papa kamu," ulangnya seraya meraih tangan Tri dan menggenggamnya dengan erat.
***
Lalu, di sinilah mereka berada. Di sebuah ruang tamu yang luasnya bahkan lebih luas dari pada rumah Sian.
Pria itu terdiam dengan posisi duduk yang kaku. Layaknya siswa yang ditanya di ujian lisan. Papa Tri ternyata terlihat dua kali lebih menyeramkan daripada yang gadis itu ceritakan saat mereka di perjalanan.
Sejak gadis itu meninggalkannya beberapa menit yang lalu, Sian hanya diam menunggu pria berkumis tipis yang ada di hadapannya ini membuka suara.
Tatapan wajah pria di hadapannya ini sangat mengintimidasi. Sian hanya bisa duduk dengan posisi sangat tidak nyaman. Karena ingin bergerak sedikit saja, rasanya tidak berani.
Seketika Sian ingij sekali merutukki dirinya yang begitu berani datang ke rumah ini. Kalau tahu papa Tri akan semenyeramkan ini, setidaknya ia akan berpikir dua kali.
Papa Tri hanya sibuk memindai lelaki yang kini terdiam seribu bahasa. Setidaknya meski belum tahu apa - apa tentang lelaki di hadapannya ini, ia cukup menyukai penampilan pacar anak bungsunya ini.
"Sejak kapan pacaran dengan anak saya?" tanya pria dengan sorot mata tajam itu dengan nada dingin.
Sian hampir saja tersedak salivanya sendiri saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan papa Tri barusan.
Pacar?
Baiklah. Sian harus menjawab dengan baik dan jujur.
"Sebenarnya, kami belum resmi pacaran, pak," jawab Sian dengan sedikit terbata.
"Jadi, kapan kalian akan meresmikannya?" tanya papa Tri yang kemudian membuat lelaki di hadapannya itu terdiam seketika.
Apa yang harus Sian jawab? Pikir lelaki itu dengan cemas.
"Paaa?" panggil Tri pada sang papa seraya merengek.
Gadis itu datang dengan nampan berisi teh hangat, karena di luar hujan sedang turun dengan deras--berserta dengan setoples kue kering.
Tri duduk di sofa tepatnya di samping sang papa.
"Udah ya, introgasinya," pintanya pada sang papa dengan setengah berbisik.
"Apa benar, kalian belum resmi pacaran?" tanya sang papa seraya menatap anak bungsunya dan lelaki yang ada di hadapannya seraya bergantian.
Tri meringis lalu menoleh pada Sian. Pria itu juga terlihat sangat gugup.
"Begini pak,-"
"Oh iya Tri lupa. Tadi papa dipanggil sama mama, katanya ada hal penting," sela Tri dengan cepat. Memotong kalimat Sian agar sang papa tidak bertanya terlalu jauh.
"Bang Sian tunggu di sini sebentar, ya." Tri berlali menarik lengan papanya setelah mengatakan kalimat itu pada Sian.
Sian yang kini sendirian di ruang tamu itu menghela napas lega seraya merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.
Untung saja Tri mengajak papanya pergi sejenak. Sian bisa bernapas dengan lega untuk sejenak.
Pria itu memutuskan untuk menelisik ke sekeliling ruangan. Rumah gadis itu sangat besar dan luas.
Sian menghela napas berat lalu mengembuskannya dengan lemah.
Kenapa ia harus jatuh hati pada perempuan yang strata sosialnya begitu tinggi di atasnya.
Sian tidak malu dengan fakta bahwa ia berasal dari keluarga yang sederhana. Ia hanya merasa kalau keluarga Tri akan sulit menerimanya.
Di kota Argon, strata sosial sangat diperhitungkan untuk menentukan pasangan hidup.Sebuah keluarga terpandang akan sangat selektif memilih pasangan untuk anak - anak mereka.
Hampir sepuluh menit berlalu, Tri tiba - tiba datang menghampiri Sian sendirian, tanpa papanya.
"Maaf ya," ucap gadis itu dengan wajah tertunduk.
Sian tersenyum tipis seraya menatap gadis itu.
"Kenapa harus minta maaf? Aku gapapa, kok," balas Sian membuat Tri perlahan mendongakkan kepalanya.
Gadis itu merasa sangat bersalah. Karena telah membuat Sian berada dalam posisi yang serba salah seperti tadi.
Untungnya, mamanya mau membantunya untuk mengalihkan atensi sang papa.
"Di luar masih hujan. Pulangnya setelah hujan reda aja, ya?" pinta Tri pada pria yang kini menatap ke luar jendela.
Ya. Di luar sedang huja deras. Meski tidak terdengar namun terlihat dari balik jendela ruang tamu.
Sian mengangguk meng-iyakan.
"Iya, nanti aja. Aku juga mau kasih tau sesuatu sama kamu." Sian berujar seraya menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan lembut.
Tri nampak gugup. Ia tidak tahu apa yang akan Sian katakan.
"Aku pernah bilang, kalau aku menyukai perempuan lain," Sian berujar dengan mata menatap ke arah gadis yang ada di hadapannya. Ia sengaja menjeda kalimatnya. Membuat Tri menunggu dengan harap - harap cemas.
"Perempuan itu, kamu." Tri yang semula menatap ke arah lain, sontak mengalihkan tatapannya pada Sian.
Apa?
Apa ia tak salah dengar? Gadis itu bertanya - tanya dengan wajah tidak percayanya yang kentara.
Sementara itu, Sian nampak tersenyum tipis seraya berpikir. Apakah pernyataannya barusan benar atau salah.
***