Seharin Arsen mencari Sian ke mana - mana. Akan tetapi, ia tak menemukan pria itu. Ia pikir Sian ada di kafe, namun sesampainya ia di sana. Ia tak menemukan Sian di sudut manapun. Selain kafe, Arsen memilih untuk mendatangi kampus Sian. Barangkali pria itu ada di sana. Akan tetapi, lagi - lagi ia tidak menemukan Sian di manapun.
Jadilah, ia berakhir di sini. Di kamar Sian dengan kepala yang dipenuhi dengan tanda tanya dan asumsi - asumsi mengenai kilasan ingatan yang baru - baru ini ia dapatkan.
Ini sudah sore. Jam dinding yang terpatri di kamar Sian bahkan sudah menunjukkan pukul empat. Akan tetapi, Arsen masih belum melihat akan tanda - tanda kedatangan pria itu.
Karena bosan, ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Melangkahkan kaki menuju teras rumah. Lalu menatap pada tetesan hujan yang turun dengan begitu deras yang kini mengguyur kota Argon.
Sian pasti sedang berteduh. Pikirnya.
Arsen memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di teras.
Akan tetapi, saat ia ingin melangkah mendekati kursi, seseorang muncul dari dalam rumah. Seorang gadis yang menatapnya dengan terkejut.
"Kamu, temennya bang Sian?" tanya gadis itu seraya melangkah mendekati Arsen dengan mata penuh telisik.
Arsen nampak gugup namun akhirnya ia mengangguk.
"Bang Sian belum pulang." Kuna, gadis itu ikut duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi yang Arsen duduki dengan tidak nyaman.
Bagaimana bisa, gadis ini tidak takut padanya? Dan yang paling penting, bagaimana bisa, ia bisa melihat wujud Arsen.
Kuna mengeluarkan sebuah buku dan satu buah pensil. Gadis itu tersenyum menatap pada hujan yang masih setia turun dengan deras.
Lalu meletakkan buku bersampul cokelat itu dan mulai memggoreskan pensil yang ada di tangannya.
"Kamu suka melukis?" tanya Arsen terbata.
Kuna tidak menoleh, namun gadis itu mengangguk dengan kuat.
"Ya, suka banget," balasnya seraya menatap pada hujan yang kini mulai sedikit reda. Tetesan - tetesan hujan yang semula besar, kini perlahan mengecil.
Kuna melanjutkan aktivitas melukisnya. Menjadikan hujan sebagai objek utama dari lukisamnya kali ini.
Arsen diam - diam memperhatikan gadis itu secara saksama. Arsen masih ingat, pertama kali ia melihat gadis itu saat ia memutuskn untuk keluar dari kamar Sian dan berakhir dengan tersesat di kamar adik perempuannya.
"Aku rasa, aku pernah melihatmu." Tri berujar tanpa mengalihkan tatapannya pada buku gambar yang ada si pangkuannya saat ini.
Arsen yang semula memoerhatikan gadis itu nampak terkejut. Buru - buru mengalihkan
tatapannya pada hujan yang kian mengecil. Semoga saja gadis iti tidak menyadari kalau Arsen adalah arwah yang diduga gadis itu sebagai hantu.
"Aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya," balas Arsen terbata. Membuat Kuna menghentikan aktivitas melukisnya itu. Lalu menolehkan kepalanya ke samping.
Kuna menolehkan wajahnya tiba - tiba seraya menyipitkan mata.
"Kau ke sini kehujanan? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya gadis itu dengan tatapan curiga.
Arsen merasa mati kutu. Entah apa yang ada di pikiran gadis di hadapannya saat ini. Namun yang pasti, Arsen sudah salah mengajaknya mengobrol seperti ini.
"Aa sepertinya Sian akan pulang terlambat. Kalau begitu aku pamit ya. Sampaikan salamku padanya," pamit Arsen seraya bangkit dari posisi duduknya. Membungkukkan tubuh, lalu melangkah meninggalkan rumah Sian.
Kuna belum sempat menjawab, namun pria pucat itu sudah pergi begitu saja. Tak hanya itu, pria itu bahkan menghilang dari pandangannya terlalu cepat. Sampai - sampai Kuna merasa kalau yang dilihatnya tadi bukanlah manusia melainkan hantu.
Hantu? Gadis itu nampak berpikir sejenak.
Bagaimana bisa ada hantu setampan itu? Koreksinya seraya melanjutkan aktivitas melukis hujan.
Tiba - tiba saja ia teringat akan pria tadi. Siapa namanya? Ah! Bahkan ia tak sempat menanyakan nama pria itu.
Gadis itu tersenyum lalu menambahkan figur lain dalam lukisannya. Seorang pria yang memunggunginya berdiri di bawah hujan yang mulai reda.
Setelah menyelesaikan lukisan itu, Kuna memutuskan untuk bangkit dari kursi. Melangkah memasuki rumah seraya memanggil ibunya.
"Kenapa gak disuruh masuk tamunya?" Bu Amina bertanya seraya meletakkan menu makan malam. Di luar sudah menggelap. Sepertinya malam akan segera tiba.
"Terus, Una biarin temen abang pulang hujan - hujanan?"
Kuna mengangguk seraya meringis pelan.
"Kuna mau bilang buat tunggu di dalam. Tapi, orangnya udah ngilang gitu aja," jelas gadis itu seraya membantu sang ibu menata meja makan.
"Terus, abangmu masih belum pulang?" tanya bu Amina seraya mengisi teko air minum dan meletakkannya di atas meja makan.
Kuna menggelengkan kepala, "Abang bilang bakalan pulang secepatnya. Sebelum atau sesudah maghrib." Bu Amina mengangguk lalu merapikan letak piring di masing tempat beserta dengan sendok.
Kuna berpamitan pada sang ibu untuk kembali ke kamar. Bu Amina mengangguk meng-iyakan.
Sesampainya di kamar, Kuna berdecak berkali - kali saat menatap kedua kakaknya yang kini tertidur dengan posisi saling melintang satu sama lain.
"Kak Nanaaa... Bangun!" Kuna memanggil seraya mengguncang bahu kedua kakaknya itu dengn sekuat tenaga. Akan tetapi, sang empunya hanya menggeliat kecil lalu kembali melanjutkan tidur.
"Udah mau maghrib, kak. Bangun!"
Kuna mengembuskan napas lelahnya dengan berat. Memabangunkan kedua kakaknya ini benar - benar menguras energi dan emosi.
"Kamu gak baca di depan pintu kamar?" Kana, kakak perempuan pertamanya itu terduduk seraya menatap Kuna dengan mata merah yang setengah terpejam.
Kuna, gadis itu baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya, apa yang kakaknya itu maksud. Akan tetap, Kana sudah kembali berbaring dan terlelap.
Ditatapnya kakaknya itu dengan wajah tidak percaya. Bisa - bisanya Kana hanya mengatakan itu lalu kembali terlelap begitu saja. Kuna pikir, kakak pertamanya itu akan bangun dan membersihkan lalu bersiap untuk salat maghrib.
Kuna menggelengkan kepalanya seraya berdecak. Kemudian melangkah menuju pintu kamar. Ditatapnya pintu itu dengan saksama.
"PENGHUNI KAMAR SEDANG HALANGAN. JANGAN BANGUNKAN!"
Kalimat itu ditulis menggunakan pensil warna Kuna dengan huruf kapital yang ditebalkan.
Gadis itu memejamkan mata seraya mengerang sebal.
Dihampirinya wadah pensil yang ia letakkan di meja belajar. Untungnya pensil warnanya tidak kenapa - kenapa.
Bisa - bisanya kakak - kakaknya itu menggunakan benda kepunyaannya tanpa meminta izin.
Karena kak Kana dan Kena sedang tidak salat. Maka dari itu, Kuna memutuskan untuk meraih handuk yang tergantung bebas di sisi kanan dinding menuju kamar mandi. Berlalu masuk ke kamr mandi, karena adzan mghrib akan segera berkumandang.
***
Sian membungkukkan tubuhnya seraya mengucapkan salam pada kedua orang tua Tri. Sementara itu, gadis yang ada di hadapannya itu nampak menatapnya dengan cemas.
"Tri antar pake mobil aja, ya,?" bujuknya pada Sian.
Bagaimana bisa ia membiarkan Sian pulang dengan menggunakan motor. Bagaimana kalau Sian kehujanan dan jatuh sakit?
Sian menggelengkan kepala.
"Aku bawa jas hujan, kok," tolak pria itu dengan halus.
Papa dan mama gadis itu hanya saling tatap satu sama lain. Mereka tahu betul bagaimana khawatirnya anak bungsu mereka itu hanya dengan melihat wajahnya.
Sang papa berdehem singkat, membuat atensi Tri dan Sian berpaling pada pria dengan sorot mata tajam itu.
"Supir saya akan mengantarkanmu pulang. Jangan menolak." Sian hanya terdiam setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh papa Tri.
Ia ingin membuka mulut untuk menolak. Namun peringatan untuk tidak menolak sudah lebih dulu diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya ini.
"Mengenai sepeda motormu, akan diantarkan bersama denganmu. Bagaimana?" Sian masih bungkam. Akan tetapi, wajah keberatan itu terlihat jelas.
Sian tidak ingin merepotkan keluarga Tri. Tapi, ia merasa tidak enak menolak tawaran papa gadis itu. Lebih tepatnya, Sian merasa kalau ia akan dalam masalah kalau menolak tawaran pria paruh baya yang kini menatapnya dengan tajam.
"Maaf pak. Apa tidak merepotkan. Saya bisa pulang dengan sepeda motor kok, pak." Sian berujar seraya memaksa kedua sudut bibirnya untuk terangkat ke atas.
"Kamu tidak lihat, wajah anak saya?" tanya papa Tri seraya menatap ke arahnya dan Sian secara bergantian.
Kontan Sian langsung menatap ke arah gadis itu.
"Putri saya mengkhawatirkanmu. Saya harap kamu tidak menolak bantuan saya ini."
Sian mengangguk setelah mendengarkan penjelasan orang tua gadisitu.
Tri merasa tidak enak hati. Ia takut kalau Sian merasa tidak nyaman dengan cara penyampaian papanya barusan.
Akan tetapi, Sian menatapnya dengan senyuman hangat lalu mengangguk pelan.
Malam itu, Sian pulang diantar oleh supir keluarga Tri, lengkap beserta dengan motor maticnya.
Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mencelus di hatinya.
Ia makin ragu dan mulai berpikir kalau mendekati gadis itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan, ia sudah memikirkan kemungkinan - kemungkinan lain kedepannya seperti apa. Kalau ia nekat mendekati gadis dengan latar belakang yang jauh berbeda di atasnya.
***
Sesampainya di rumah, Sian memutuskan untuk makan malam sendirian. Karena ia pulang setelah waktu maghrib berlalu dan waktu makan malam juga sudah selesai. Mana mungkin ia membiarkan keluarganya menunggu sampai ia pulang untuk makan malam bersama.
"Abang gapapa?" Bu Amina bertanya seraya menarik salah satu kursi lalu duduk di sana. Menghadap putranya yang kini menampilkan senyuman tipis.
"Gapapa kok, bu," balas Sian lalu lalu melanjutkan aktivitas makan malamnya hingga makanan dalam piring yang dihadapanny habis.
"Kalau mau cerita, ibu siap dengerin." Bu Amina mungkin tidak tahu masalah apa yang tengah dihadapi atau kegelisahan apa yang menghinggapi pikiran putranya ini.
Akan tetapi, naluri seorang ibu tahu, bahwa anaknya sedang tidak baik - baik saja.
Sian nampak berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk senyuman.
"Gapapa kok, bu. Cuma ngantuk aja. Soalnya abang gak tidur seharian ini." Sian bercerita seraya meraih tangan sang ibu lalu menggenggamnya.
"Ibu jangan banyak pikiran ya. Abang beneran gak papa kok. Cuma butuh istirahat sedikit." Jelasnya seraya tersenyum hangat. Berharap ibunya tidak memikirkan yang tidak - tidak.
Ia tidak ingin membebani ibunya tentang apapun itu.
"Syukurlah kalau abang baik - baik aja. Yaudah, sekarang abang istirahat," ujar bu Amina seraya menyuruh putranya untuk segera mengistirahatkan diri.
Sian mengangguk lalu berlalu ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu menatap langit - langit kamar seraya mendesah pelan.
"Ke mana saja kau seharian ini?" Sian tidak lagi terkejut dengan suara yang tiba - tiba berasal dari seorang arwah, siapa lagi kalau bukan Arsen.
"Kau mencariku?" tanya Sian tanpa mengalihkan tatapannya pada langit - langit kamar.
"Kenapa kau malah berakhir dengan mengobrol bersama Una?" tanya Sian karena adik bungsunya itu sudah menceritakan kalau ia bertemu dengan Arsen.
"Aku tidak tahu kalau adikmu bisa melihatku," balas Arsen seraya melangkah mendekati kursi yang berada di dekat meja belajar. Mendaratkan bokongnya di sana.
"Kau lupa, Una pernah melihatmu waktu itu?" Arsen meringis. Ia hampir lupa kalau ia sudah pernah bertemu dengan gadis itu.
"Aku mencarimu ke mana - mana. Ke kafe dan juga ke kampus. Tapi kau tidak ada di sana." Arsen mengembuskan napas lelah seraya menatap Sian dengan sebal.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Sian bangkit dan menegakkan punggungnya. Menatap Arsen dengan wajah penasaran.
"Apa mungkin kau sudah mendapatkan ingatanmu?" tanya Sian seraya menatap Arsen dengan wajah tidak sabar ingin mendengar cerita lengkapnya.
"Ya. Tapi tidak semuanya. Hanya potongan - potongan kecil." Arsen menjelaskan semua yang ia alami saat ia sendirian di kamar Sian tadi siang.
Dimulai dari ia yang menyentuh foto yang Sian simpan. Lalu ia yang melihat gadis bernama Tri itu ada di dalam potongan ingatananya. Hingga suara dan seorang perempuan yang tidak begitu jelas yang menyebut namanya dengan lirih.
Sian tidak tahu apa hubungan Arsen dengan Tri. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika ia mulai menghubungkan apa - apa yang sekiranya menjadi petunjuk tentang kehidupan Arsen di masa lalu.
Tidak akan pernah tahu hasilnya kalau kau tidak mencobanya. Sian harus mencobanya. Semoga saja akan ada titik terang dari permasalahan yang dihadapi Arsen.
Meski Arsen kadang memyebalkan dan membuat Sian jengkel. Arsen sudah membersamainya dalam waktu yang terbilang cukup lama. Sedikit banyak, ada rasa peduli pada diri satu sama lain.
***