"Abang abis nangis?" tanya gadis kecil dengan rambut hitam legamnya yang dikuncir kuda dengan rapi.
Remaja sekolah menengah atas itu hanya menggeleng seraya tersenyum tipis.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Abang jangan sedih. Nanti Tli ikutan sedih juga. Apa luka abang sakit banget ya?" Gadis kecil itu menatap remaja lelaki yang ada di hadapanya dengan iba.
"saya sedih karena liat kamu terbaring di sini karena saya." Tri, gadis kecil itu menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tli gapapa kok. Jadi, abang jangan sedih lagi ya," pinta gadis kecil itu seraya menodongkan jari kelingkingnya yang kecil di hadapan Sian yang duduk menghadap ranjang di mana gadis kecil itu duduk.
"Janji!" pintanya pada remaja lelaki itu dengan wajah yang menggemaskan.
Remaja lelaki itu mengangguk seraya tersenyum. Sebenarnya, hari ini hari di mana ia kehilangan sang Ayah.
"jangan angguk - angguk aja! Janji dulu!" desak gadis kecil itu yang kemudian dibalas oleh remaja lelaki dengan bola mata berair itu dengan menautkan kelingking besarnya pada jari kelingkil mungil yang sedari tadi setia menunggunya.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan dari orang asing dan terlebih dari seorang gadis kecil.
Entah normal atau tidak, namun yang pasti lelaki itu merasakan debaran yang berasal dari organ tubuhnya yang terletak di dalam rongga d**a sebelah kiri.
Ya. Jantungnya berdebar karena seorang gadis kecil yang baru ditemuinya.
Sampai saat ini, Sian belum menemukan gadis lain yang membuat jantungnya berdebar layaknya debarannya sama saat itu.
Tapi saat ini, gadis itu bahkan tidak berniat untuk menatapnya seperti biasa gadis itu menatapnya.
Bahkan tiap kali manik mata Sian mencoba menatap wajah gadis itu, dengan cepat pula gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Baiklah, Sian menghela napas sebelum akhirnya membuka topik pembicaraan yang ia harap dapat meluruskan semuanya.
"Kita pesan makan aja dulu," usul gadis di hadapannya itu sebelum Sian berhasil mengatakan apa yang ingin ia
ungkapkan pada gadis cantik yang bersebrangan dengannya itu.
Suasana kafe di sore hari ternyata semakin ramai. Kafe Uno kini menjadi salah satu kafe hits yang ada di jantung kota Argon. Sian merasa kalau setiap sudut kafe merupakan saksi dari perjalanan hubungan asmaranya dengan seoranh gadis unik, nyentrik dan cantik. Siapa lagi kalau bukan gadis yang ada di hadapannya ini.
Sayangnya, karena ulah Arsen, arwah menyebalkan itu, ia harus berakhir di sini dengan perasaan harap - harap cemas.
"Aku tahu kamu sedang marah sama aku, kan? Tapi kamu harus tahu apa yang sebenarnya yang kamu lihat itu gak seperti kenyataannya," ungkap Sian hati - hati saat gadis di hadapannya itu mulai menatapnya dengan tatapan dingin yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Sian, pria itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Sementara Tri, gadis itu pun sedang bersusah payah mengondisikan perasaannya agar tidak terbawa suasana.
Biarkan ia menjelaskan lebih dulu! bisik hatinya menenangkan.
"Mau pesan apa, bang Sian dan kak Ana?"
Tiba - tiba saja seorang pemuda dengan seragam waitres itu datang dan bertanya dengan akrab pada Sian.
Ya, nyatanya Sian pernah bekerja di kafe Uno cukup lama. Tentu saja pemuda itu tahu betul akan sosok Sian. Lalu, Ana?
Tri menoleh dan melayangkan tatapan bingung serta betenya. Siapa yang pria ini panggil 'Ana?'
"Kayak biasanya aja, Ta," balas Sian seraya tersenyum ramah.
"Kak Ana?" Pria yang dipanggil Sian dengan sapaan 'Ta' itu bertanya kepada Tri seraya menunggu untuk menuliskanya pada buku catatan kecil yang pria itu bawa.
"Nama saya Triana," ujar Tri namun ia terdiam setelahnya dan tidak melanjutkan kalimat protes yang ingin ia layangkan.
Nama lo Triana. Gak salah dong, kalo dia manggil lo Ana?" Batin Tri mengingatkan untuk tetap kalem dan jangan bar - bar.
Ia sedang dalam mode dingin dan tak acuh pada pria yang ada di hadapannya saat ini.
Untuk itu, Tri hanya bisa menelan kalimat protesnya kembali. Lalu menagatakan kalau ia ingin segelas jus mangga yang segar dan satu piring nasi plus ayang panggang asam manis.
"Oke, kalau gitu, silahkan ditunggu pesanannya ya bang, kak," ucap pria yang Sian sapa dengan Ta itu, seraya menatap Sian dan Tri secara bergantian. Lalu berlalu meninggalkan meja dengan nomor kosong tujuh itu.
Hening. Seolah keheningan hanya menggantung tepat di langit - langit kafe yang ada di atas meja mereka saat ini.
Suara lalu lalang dan obrolan orang - orang di sekeliling mereka seolah semakin menjauh dan hanya tersisa suara batin mereka masing - masing.
Tri yang sibuk dengan perasaannya yang nampak bimbang akan apa yang Sian jelaskan padanya nanti.
Salahkah jika ia berpikir kalau pertemuan Sian dengan kakanya waktu itu hanya sebuah kesalahpahaman? Karena Sian mengatakan kalau apa yang ia lihat bisa saja berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Namun, alasan apa yang bisa menjelaskan kenapa pertemuan di antara Sian dan kak Dinya itu terjadi dan berakhir dengan mereka yang berpelukan?
Sementara di hadapannya, seorang pria juga sedang bergelit dengan pikiran dan batinnya.
Sian sibuk memikirkan bagaimana caranya agar gadis yang ada di hadapannya ini mau percaya dengan apa yang Sian jelaskan nanti.
Semoga saja apa yang akan Sian katakan nantinya tidak akan membuat gadis yang ada di hadapannya ini mengatakan kalau Sian sudah gila.
"Ini pesanannya, bang, kak. Selamat menikmati." Pemuda itu berlalu setelah meletakkan semua pesanan yang dipesan oleh Sian dan gadis cantik yang ada di hadapannya. Lalu berlalu dari meja dengan nomor kosong tujuh itu dengan air muka yang bingung.
Kenapa Sian dan gadis cantik yanh ada di hadapannya itu hanya diam seraya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang jauh seolah mengingat masa lalu.
"Silahkan," ucap Sian setelah sempat terdiam selama beberapa saat dan juga membunyarkan lamunan gadis cantik yang ada di hadapannya itu.
Tri, gadis itu nampak terkesiap seraya mengerlingkan tatapannya ke arah lain. Tidak ingin manik matanya berserobok dengan manik mata pria yang kini menatapnya dengan lekat.
"Iya, terimaksih." Meski berujar dengan sedikit terbata, gadis itu tetap mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak berubah.
Gadis itu menikmati makanan yang ia pesan dengan lahap. Akhir - akhir ini ia tidak nafsu makan saat ia berada di rumah. Entah karena masakan mamanya yang itu - itu saja dengan rasa yang sangat standar, atau karena memang nafsu makannya hilang setiap kali ia melihat wajah kakak keduanya saat berada di ruang makan keluarga.
Entah kenapa, Tri sangat kecewa melihat kaka Dinya tidak mengatakan apapun perihal pertemuannya dengan Sian waktu itu.
Bahkan, Diana tidak mencoba menjelaskan apa - apa, di saat ia ingin kakaknya itu menjelaskan apa yang terjadi di antara kakaknya dengan Sian.
Tri tidak masalah kalau memang keduanya punya hubungan yang spesial, meski tidak bisa dipungkiri kalau ia tetap akan merasakan yang namanya sakit hati. Akan tetapi alangkah baiknya jika mereka yang Tri percaya itu mau menjelaskan apa - apa yang sebenarnya terjadi yang tidak ia ketahui. Bukan malah bersikap seolah tidak terjadi apa - apa yang menyembunyikan banyak hal darinya.
***