GM-56-Jatuh cinta sama dengan patah hati?

1200 Kata
"Kenapa?" tanya Tri tanpa basa - basi setelah menjawab salam dari seorang di seberang sana. Sian nampak mengerutkan alis. Berpikir, kenapa nada bicara gadis itu terdengar begitu ketus. Tak seperti biasanya. "Saya mau bilang, kalau besok saya tidak ada kegiatan di kampus. Saya berpikir buat ngajak kamu ke tempat yang waktu itu kamu bilang." Sian berujar mengenai rencana mereka berdua waktu itu. Tri, gadis itu npak terdiam sesaat. Sebelum akhirnya berdehem untuk menetralkan suaranya. "Baiklah. Besok abis pulang sekolah. Aku tunggu di halte. Kita langsung ke sana aja," balas Tri seraya masih mempertahankan nada bicaranya yang terdengar dingin. "Kamu gak mau ganti pakaian dulu? Setelah pulang sekolah, aku jemput di rumah kamu, gimana?" tawar Sian selanjutnya. "Oke." Tri hanya menjawab sekadarnya. Lalu mengatakan kalau ia ingin segera beristirahat. Membuat Sian mau tidak mau memutuskan sambungan telepon itu setelah mengucapkan salam yang selanjutnya dibalas oleh gadis itu dengan cepat. Di kamarnya, Sian nampak mengembuskan napas panjang seraya menatap layar ponselnya yang gelap. Panggilan itu ditutup dengan cepat oleh gadis di seberang sana. Sementara itu, di sebuah kamar perempuan, terlihat seorang gadis yang bergelung di dalam selimut seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan kontak seorang pria yang baru saja menelponnya. Rasa menyesal itu perlahan menyelimutinya. Sejurus kemudian, gadis itu meringis seraya membuka selimut yang ia tutupkan hingga ke kepalanya. Menyibaknya dengan kuat seraya mengatur napas. Menatap layar benda berbentuk pipih itu lagi, namun tidak ada tanda - tanda kalau Sian akan menelponnya kembali. Membuatnya sebal dan meletakkan benda itu di atas nakas seraya membantingnya pelan. "Tidur!" titah hatinya agar ia tidak terus menerus memikirkan pria itu. "Hidup lo bukan buat cinta - cintaan doang, ya, Tri!" batinnya memperingatkan dengan tegas. Lalu ia memutuskan untuk menarik selimut doraemon itu kembali menutupi tubuhnya hingga d**a. Menutup matanya kuat - kuat setelah merapalnya doa tidur. Berharap dengan begitu, rasa kantuk akan datang hingga membuatnya terlelap dengan sendirinya. Sayangnya, rasa kantuk tidak datang begitu saja dengan mudah. Terlebih saat pikirannya masih sibuk memikirkan banyak hal. Rasanya sangat sulit mengistirahatkan pikiran hingga membuat tubuh pun tak dapat beristirahat. Cerita di atas layaknya mimpi baginya. Tri tidak pernah menyangka kalau rasa manis di awal hubungan baiknya dengan Sian tidak ada apa - apanya dengan rasa pahit yang harus ia telan saat ini. "Kalau lo memilih untuk jatuh cinta sama seseorang, itu artinya lo udah siap pula untuk merasakan yang namanya patah hati." Tri mendengkus saat menemukan kalimat itu di beranda instagramnya. Memangnya siapa yang bisa mengkondisikan hatinya untuk jatuh cinta pada siapa, kapan dan di mana? Moodnya kembali teracak - acak saat ia harus mendapatkan sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sangat ia hindari saat ini. Entah untuk berbicara atau bahkan bertemu dengannya. Akan tetapi, saat panggilan itu tak kunjung Tri angkat dan si penelpon itu tetap mengulanginya, apa yang harus ia lakukan selain menerima panggilan masuk dari seorang pria yang ia namai dengan Unknown. Ya, ia memang sangat kekanakkan. Saat ia sebal ia akan mengganti nama kontak orang itu dan titik paling jenuhnya, ia akan menghapusnya untuk kepentingan kesehatan mental, hati dan emosionalnya sendiri. Kenapa tidak direject saja? Yang benar saja, sekesal - kesalnya seorang gadis bernama Triana itu, ia tetap akan memilih untuk tidak menerima panggilan masuk dari orang tersebut, daripada ia harus menolak panggilan masuk itu. Menurutnya pribadi, hal itu lebih sopan dan lebih baik untuk dilakukan. "Halo assalamu'alaikum," ucapnya pertama kali sesaat setelah menempelkan benda berbentuk pipih itu ke sisi telingan sebelah kanan. "Wa'alaikum salam, dengan Tri?" balas seorang pria dengan suara bm Nih orang udah kayak costumer service bank aja dah. Gumam gadis dalam hati seraya menghela napas pelan. "Iya, ada apa ya, bang?" Karena ia yakin kalo seorang di seberang sana adalah Sian, makanya ia menyapanya dengan panggilan 'bang'. Bang Toyib kali ah! Obrolan itu dibukan dengan pertanyaan yang sangat mainstream, yaitu menanyakan kabar. Meski rada aneh mendengarnya, karena tidak biasanya seorang Sian bertanya kabar. Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu. Tapi memang, beberapa hari itu entah kenapa menjadi sangat lama bagi keduanya. "Boleh aku ketemu kamu di kafe biasa nanti sore?" tanya seorang pria di seberang sana dengan hati - hati. Tri nampak berpikir sejenak. Lalu ditatapnya jam yang ia letakkan di atas nakas yang jarumnya kini menunjukkan angka dua siang. "Memangnya mau bicarain apa?" tanya gadis itu skeptis. Bagaimana tidak, ia bahkan susah payah untuk mengkondisikan hatinya setelah mengalami porak poranda karena ulah pria yang ada di seberang sana. "Soal hubungan aku sama kakak kamu." Deg! Meski di pikiran Tri saat ini sudah ada lampu merah kalau Sian akan makin melukai hatinya dengan menjelaskan yang sebenarnya, namun rasa penasaran akan fakta di balik semuanya itu, membuat gadis itu berusaha menetralkan detak jantungnya. Menjauhkan benda berbentuk pipih itu sejenak dari telinganya. Lalu menghela napas panjang beberapa kali, sebelum akhirnya mendekatkan benda berbentuk pipih yang layarnya masih menyala, kembali ke samping telinga. "Yaudah, nanti kabarin aja tepatnya jam berapa," putus Tri seraya ingin menutup obrolan itu, akan tetapi seorang pria di seberang sana lebih dulu membuka suara, "Aku jemput abis ashar, gimana?" Gadis itu kembali menghela napas dan tersenyum kecut, kalau biasanya ia akan merasa sangat senang karena pria itu mau repot - repot menjemputnya ke rumah, tapi kali ini tidak lagi. "Gak usah. Aku bisa minta antar sama pak Ura," jawab gadis itu singkat yang membuat seorang pria di seberang sana menghela napas dengan lemah. "Baiklah, nanti ku pastikan waktunya. Sampai jumpa." Tri hanya mengiyakan lalu menjawab salam yang diucapkan oleh pria di seberang sana. Lalu menjauhkan benda berbentuk pipih itu dari telinganya. Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. Ponselnya entah ke mana karena sekarang kedua tangannya sudah menyentuh d**a seraya sibuk menetralkan pernapasan. Sepertinya ia harus memeriksakan kesehatan jantung dan pernapasannya. Karena hampir setiap kali ia merasa stres, menahan amarah dan kekesalan yang lama, ia akan berakhir dengan mengalami nyeri dan sesak di d**a. Apa yang ingin dijelaskan oleh Sian padanya? Tri, gadis itu bertanya - tanya. Akan tetapi, dengan cepat ia menenangkan dirinya agar tidak berpikir terlalu jauh dan berekspektasi terlalu tinggi. Karena kekecewaan bermula dari harapan yang tidak dikondisikan. Tapi, apa mudah untuk mengendalikan dan mengondisikan harapan? Jawabannya, tentu tidak. Tidak mudah mengondisikan dan mengendalikan harapan yang lahir dari perasaan dan hati manusia. Lalu, bagaimana agar menghidari kekecewaan yang memang kerap kali bermula dari sebuah pengharapan pada seseorang atau pada keadaan? Jangan berharap! Tapi.... Apa bisa manusia hidup tanpa harapan? Lalu, sebenarnya, apa yang membuat manusia bisa bertahan hidup. Karena adanya makanan dan minuman? Tentu saja. Bukan, maksudnya di sini, bukan itu. Maksudnya, apakah manusia bisa bertahan hidup tanpa harapan dan tujuan yang pasti? Manusia hidup dengan sejumlah list harapan dan dengan satu tujuan yang pasti. Harapan akan hari esok yang lebih baik akan membuat orang - orang berusaha tetap hidup hari ini. Harapan akan menemukan sosok teman hidup yang setia akan membuat orang - orang berusaha mencari dan menjadi orang yang setia. Sebab ia berkeyakinan bahwa jodoh adalah cerminan diri. Harapan akan kesuksesan di masa depan membuat orang - orang berlomba - lomba bekerja keras membanting tulang dan memeras keringat, hingga kesuksesan tercapai. Manusia yang hidup tentulah memiliki harapan - harapan dan goals yang mendorong mereka untuk tetap bertahan hidup hingga harapan - harapan dan goals yang mereka bangun menjadi nyata. Dreams will come true. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN