GM-37-Patah hati (1)

1556 Kata
Sepanjang perjalanan pulang setelah melewati kafe Uno, Tri hanya diam seraya berpikir jauh. Berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri kalau yang ia lihat sebelumnya bukanlah Sian. Pria itu tidak mungkin bersama dengan seorang perempuan yang bukan siapa - siapanya. Bahkan memberikan perempuan itu sebuah helm yang pernah ia gunakan sebelumnya. Kalau sebenarnya pria itu memang Sian, lalu kenapa? Apa haknya untuk marah? Atau apa yang bisa ia lakukan? Perempuan yang bersama Sian saat itu sepertinya tidak asing di mata Tri. Apa ia pernah bertemu? Atau? Ah, ia ingat. Hanya ada satu perempuan yang sangat mungkin bisa membersamai Sian. Nisa. Ya, teman kuliah Sian yang pernh Tri tumpangi kosannya. Kenapa mereka hanya berdua? Apa sebenarny hubungan keduanya? Ah, lagi - lqgi gadis itu berpikir terlalu jauh. Seraya menyandarkan kepala ke kaca mobil, pikirannya melayang entah ke mana. Hatinya yang sempat dibuat berbunga - bunga. Kini nampak suram dan hambar. Mungkin, memang salahnya. Berharap Sian sudah membuka hati untuknya. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan pria itu yang sebenarnya. Hanya karena ia dan Sian sudah saling mengenal sejak lama, namun faktanya, mereka telah menjalani kehidupan yang tak bersinggungan dalam waktu yang lama, bukan? Tidak ada tahu, apa arti Tri yang sebenarnya bagi Sian. Entah dulu atau sekarang? Meski bagi Tri, Sian tetap sama 2 berartinya. Entah dulu, saat ia masih sangat kecil untuk memahami apa itu rasa suka dan cinta. Sian tetap saja Sian, pria itu sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya. Perjalanan dari Taman Kenangan menuju rumah, terasa begitu lama. Entah karena lampu merah yang haru mereka lewati atau karena adanya kemcetan kecil di beberapa titik jalan kota Argon. Tri ingin cepat - cepat sampai di rumah. Berlari ke kamarnya. Lalu meringkuk di atas kasur seraya bergelung di dalam selimut. "Kenapa?" Tanya Di pada adiknya yang wajahnya kini nampak murung. Padahal, gadis itu cukup antusias saat mereka menghabiskan waktu di Taman. Tri menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap ke luar kaca mobil dengan tatapan kosong. Diana, perempuan itu mengembuskan napas dengan pelan seraya menatap adiknya itu dengan khawatir. Mono melihat kedua adiknya sama - sama diam seraya menata ke luar kaca mobil. Membuatnya ikut melakukan hal yang sama. Langit kota Argon nampak menggelap namun disusul dengan turunnya tetesan kecil dari langit secara perlahan. Menampak kaca jendela hingga membuatnya berembun. Sementara di kursi mobil bagian depan, mama dan papa nampak saling menatap letiga putrinya sejenak. Lalu mengalihkan tatapan mereka. Ketiganya kembali diam dan terlihat murung. Padahal, mama papa begitu senang saat melihat ketiganya saat mereka menghabiskan waktu bersama di taman. Kedua orang tua akan merasa sedih saat melihat senyuman di wajah anak - anaknya menghilang dan berganti dengan wajah murung. Namun, ketidakdekatan mereka membuat keduanya tidak bisa bertanya dengan mudah. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi seorang anak yang sebelumnya merasa kurang kasih sayang dan tidak diperhatikan untuk bersikap terbuka tentang apa yang dirasakannya. Selama perjalanan pulang, semua yang ada di mobil itu nampak bungkam. Keheningan seolah menggantung di tengah - tengah mereka. Hanya bunyi deru mesin mobil dan kendaraan di dekat mereka yang menjadi pengisi keheningan. Seolah langit hari itu tahu, bahwa hujan akan membuat hati masing - masing mereka yang ada di mobil terasa semakin sendu, saat ia turun membasahi bumi kota Argon. Hujan... Kata orang, hujan itu, terdiri dari satu persen air. Lalu, sembilan puluh sembilan persennya adalah kenangan. Namun, bagi Tri tidak demikian. Hujan kali ini seolah melemparkan pada semua kenangan di mana ia bertemu dengan Sian, mendekati pria dingin itu. Mengusik hidupnya, lalu berkenalan dengan adiknya. Mendekati keluarga pria itu dengan menginap di rumah mereka yang hangat dan nyaman. Tidak, bagi Tri hujan kali ini seratus persen terdiri dari kenangan. Kenangan yang membuat hatinya pilu dan hangat sekaligus. Sampai mereka tiba di rumah. Berjalan ke menuju kamar masing - masing setelah saling menyapa sekadarnya. Hujan hari itu membuat rumah megah yang terasa dingin menjadi semakin dingin. Seharusnya orang - orang di dalamnya memberikan kehangatan satu sama lain dengan perhatian dan kepedulian. Namun, lagi - lagi semuanya dimulai dari pembiasaan. Ala bisa karena terbiasa. Mereka bisa saja mengobrolkan kembali momen - momen yang mereka lalui bersamai di taman tadi. Mereka bisa saja saling bercerita mengenai isi hati satu sama lain. Ya. Jika sebelumnya mereka terbiasa melakukannya. Maka, bisa saja mereka melakukan itu sekarang. Menghampiri sang ibu lalu menyampaikan keluh kesah dan isi hati yang gunda gulana. Menangis dalam pelukannya yang hangat seraya mendapat tepukan pelan di pundak yang menenangkan. Akan tetapi, bagaimana bisa seorang ibu yang bahkan belum pernah menyajikan makanan untu anak - anaknya, bertanya bagaimana hari yang mereka lalui, mengingatkan untuk tidak tidur larut malam dapat menjadi tempat yang dianggap oleh anak - anak sebagai rumah. Bagaimana bisa rumah yang dulunya gertutup rapat dan terasa dingin, dapat menjadi tempat pulang yang mengahangatkan? Air mata wanita dengan kerutan kecil di sudut matanya itu nampak menggenang di sana. Seraya menatap ketiga pintu kamar yang sudah tertutup rapat, hatinya terasa mencelus. Langkahnya terhenti di depan pintu, namun tak berani bergerak lebih maju. Terdiam sejenak di sana. Mendengar tangisan yang berasal dari dalam. Membuat bahunya bergetar, hingga kakinya seolah tak sanggup menopang tubuh. Ia berbalik dan bergeges meninggalkan tempat itu. Menuruni anak tangga dengan cepat. Menuju kamar dan menutup pintunya dengan rapat. *** Malamnya, Tri kembali mengingtat kejadian itu. Matanya yang sibuk menatap tumpukan buku yang ada di atas meja belajar, kini beralih pada benda berbentuk bulat berwarna pink pastel. Benda yang kembali mengingatkannya pada sang pemilik benda itu. Gadis itu bangkit dari kursi. Meraih benda itu dan memasukannya ke dalam totebag berwarna hitam yang diambilnya dari lemari. Meletakkan toteebag itu di samping tas sekolah yang sudah ia rapikan. Besok, ia akan mengembalikan benda itu. Ia tidak akan menahannya lebih lama lagi. Tidak ada gunanya. Pikirnya dengan wajah murung. Tatapan beralih ke luar jendela kaca. Menatap tiap tetes hujan yang menampar - nampar kaca jendela dengan kuat. Ternnyata hujan makin daras. Tri bangkit dari kursi dan berjalan mendekati jendela kamar. Menutup gorden berwarna biru putih itu dengan perlahan. Lalu melangkah mendekati kasur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Ponsel yang sejak siang tadi ia lupakan, kini berdering seraya bergetar. Membuat ia meraih benda yang tergeletak di atas nakas igu dengan cepat. "Sian?" gumamnya pelan seraya menatap layar benda persegi yang menyala itu dengan tidak percaya. Kenapa pria itu menelponnya? Suasana hatinya baru saja ia tenangkan susah payah. Lalu, semuanya terasa sia - sia saat orang yang ingin ia lupakan ternyata malah menghubunginya. Tri tidak tahu, kenapa perasaannya kali ini amat lemah. Sebelumnya, ia tetap maju mendekati Sian, meski pria itu menunjukkan sikap penolakan yang kentara. Namun, saat ia menyaksikan Sian berdua dengan seorang perempuan, menatapnya dengan tatapan yang sering Tri berikan pada Sian. Gadis itu langsung tahu, kalau Sian menyimpan perasaan pada perempuan itu. Sayangnya, Tri baru menyadarinya sekarang. Saat perasaannya pada pria itu tumbuh semakin dalam. Ia pikir, tidak ada seorang perempuan yang mengisi hati pria itu, kecuali ibu dan adik - adik perempuannya. Tri pikir tindakan yang sudah ia ambil dengan mendekati Sian dengan cara yang lebih elegan, itu sudah merupakan keputusan yang benar. Namun, nyatanya, tak ada yang barubah. Sian tetap takkan menatapnya sebagai perempuan. Ia hanya sahabat dari Kana, adik perempuan pria itu. Atau, ia tetap saja hanya seorang gadis kecil yang ada di masa lalu. Tak ada bedanya. Entah dulu atau sekarang. Ia tak pernah ada di dalam hati pria itu. "Kenapa?" tanya Tri tanpa basa - basi setelah menjawab salam dari seorang do seberang sana. Sian nampak mengerutkan alis. Berpikir, kenapa nada bicara gadis itu terdengar begitu ketus. Tak seperti biasanya. "Saya mau bilang, kalau besok saya tidak ada kegiatan di kampus. Saya berpikir buat ngajak kamu ke tempat yang waktu itu kamu bilang." Sian berujar mengenai rencana mereka berdua waktu itu. Tri, gadis itu npak terdiam sesaat. Sebelum akhirnya berdehem untuk menetralkan suaranya. "Baiklah. Besok abis pulang sekolah. Aku tunggu di halte. Kita langsung ke sana aja," balas Tri seraya masih mempertahankan nada bicaranya yang terdengar dingin. "Kamu gak mau ganti pakaian dulu? Setelah pulang sekolah, aku jemput di rumah kamu, gimana?" tawar Sian selanjutnya. "Oke." Tri hanya menjawab sekadarnya. Lalu mengatakan kalau ia ingin segera beristirahat. Membuat Sian mau tidak mau memutuskan sambungan telepon itu setelah mengucapkan salam yang selanjutnya dibalas oleh gadis itu dengan cepat. Di kamarnya, Sian nampak mengembuskan napas panjang seraya menatap layar ponselnya yang gelap. Panggilan itu ditutup dengan cepat oleh gadis di seberang sana. Sementara itu, di sebuah kamar perempuan, terlihat seorang gadis yang bergelung di dalam selimut seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan kontak seorang pria yang baru saja menelponnya. Rasa menyesal itu perlahan menyelimutinya. Sejurus kemudian, gadis itu meringis seraya membuka selimut yang ia tutupkan hingga ke kepalanya. Menyibaknya dengan kuat seraya mengatur napas. Menatap layar benda berbentuk pipih itu lagi, namun tidak ada tanda - tanda kalau Sian akan menelponnya kembali. Membuatnya sebal dan meletakkan benda itu di atas nakas seraya membantingnya pelan. "Tidur!" titah hatinya agar ia tidak terus menerus memikirkan pria itu. "Hidup lo bukan buat cinta - cintaan doang, ya, Tri!" batinnya memperingatkan dengan tegas. Lalu ia memutuskan untuk menarik selimut doraemon itu kembali menutupi tubuhnya hingga d**a. Menutup matanya kuat - kuat setelah merapalnya doa tidur. Berharap dengan begitu, rasa kantuk akan datang hingga membuatnya terlelap dengan sendirinya. Sayangnya, rasa kantuk tidak datang begitu saja dengan mudah. Terlebih saat pikirannya masih sibuk memikirkan banyak hal. Rasanya sangat sulit mengistirahatkan pikiran hingga membuat tubuh pun tak dapat beristirahat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN