GM-36-Love is complicated?

1814 Kata
Kalau Sian bekerja keras untuk menyelesaikan studi S1nya seraya bekerja paruh waktu di kafe. Berbeda dengan dua sahabatnya, Reno dan Rama. Mereka bahkan tidak berpikir akan berkerja atau apa yang akan mereka lakukan setelah kuliah. Pasalnya, mereka bahkan tidak menyukai ilmu sains, namun keduanya berakhir menjadi mahasiswa biologi. Salah jurusan. "Percayalah, gue kalau bisa pengen banget jadi kaya lo," ujar Rama seraya mengaduk es teh yang ada di hadapannya. Sian dan Reno mecebik seraya berdecih kuat. "Kalo lo jadi Sian, gue yakin lo bakalan nyerah sebelum sampai di sini," hardik Reno seraya mengaduk bakso yang baru saja diletakkan di meja mereka. Sian terkekeh mendengar jawaban Reno barusan. "Lo meragukan gue?" Rama bertanya seraya menatap Reno dengan tatapan mata sebal. "Menurut lo?" balas Reno retoris lalu terkekeh pelan. "Udahudah! Kalian gimana? Udah sampe mana penelitiannya?" Sian mengalihkan topik obrolan seraya menuangkan saus ke dalam mangkuk mie ayam yang ia pesan. Rama dan Reno hanya meringis seraya menggelengkan kepala lemah. Jelas sekali apa yang akan mereka katakan. "Stuck di mananya?" tanya Sian peduli. Walau semenyebalkan apapun, keduanya tetap sahabat bagi Sian. Mereka berdua banyak membatu Sian saat terpuruk dan membutuhkan bantuan materil. Meski begitu, Sian tak pernah menerima itu secara cuma - cuma. Ia akan membayar keduanya semampunya. Sampai keduanya mengancam kalau mereka tidak akan menerima Sian lagi sebagai sahabat, jika lelaki itu bersikeras membayar apa yang mereka berikan. Tak ada manusia yang benar - benar menginginkan kehidupan yang dijalani oleh manusia lainnya. Seperti Reno dan Rama, ia hanya menginginkan kehidupan yang Sian jalani karena melihat sahabatnya itu sudah beberapa langkah di depan mereka. Mereka tidak benar - benar menginginkan kehidupan yang Sian jalani. Kalau mereka tahu, sekeras dan sesulit apa yang harus Sian lalu untuk sampai pada titik yang mereka dambakan dari hidup seorang Sian. Setiap orang punya sepatu kehidupannya masing - masing. Setiap sepatu, ada kurang dan juga ada lebihnya. Tidak ada orang yang benar - benar menginginkan sepatu kehidupan orang lain. Mereka hanya melihat sepatu kehidupan mereka lebih berat atau lebih buruk daripada orang lain di sekitar mereka. Mereka tak pernah benar - benar menginginkan sepatu kehidupan orang lain. Sebab setiap tidak ada satupun sepatu kehidupan yang sempurna. Bagiamana bisa, manusia menginginkan sesuatu yang sempurna sementara pemiliki kesempurnaan itu hanya satu dan tidak ada duanya. "Kapan - kapan kita kumpul di cafe Uno ajaz gimana?" saran Rama seraya menatap kedua sahabatnya yang kini masih sibuk mengunyah mie ayam yang ada di hadapan masing - masing. Reno heran, kenapa Ram dan Sian sangat lambat dalam aktivitas makan. Padahal mereka berduanl hanya memesan mie ayam yang bagi Reno bisa dihabiskan dengan tiga kali sendok. Sian dan Rama mengangguk dengan kompak seraya tetap mengunyah makanan yang ada di dalam mulut mereka. Reno mendengkus seraya meraih gelas es tehnya yang ternyata sudah habis. Tangannya beralih meraih gelas teh Rama yang membuatnya mendapat pukulan pelan dari sahabatnya itu. "Pelit amat, sih!" cibirnya seraya menjauhkan tangan Rama dan buru - buru mengisap es teh sahabatnya itu hingga tersisa setengah. Sian hampir saja tersedak karena menahan tawanya saat menyaksikan kelakuan kedua lelaki dewasa yang ada di hadapannya ini. Hari itu, Sian lupa bahwa ia tidak sendirian datang ke kampus. Setelah selesai dengan segala urusan perkuliahannya dan makan siang bersama kedua sahabaynya, pria itu memutuskan untuk pulang. Namun, saat langkahnya mencapai parkiran fakuktas, ia dipertemukan dengan seorang perempuan cantik dengan senyum merekah. "Sian!" sapa Nisa, perempuan dengan khimar cokelat yang melekat di kepala hingga menutupi dadanya. Sian menoleh dan mengurungkan niatnya untuk meraih helm yang ia lekatkan di motor maticnya. Membalas sapaan Nisa seraya tersenyum. "Hai, Nis," balas Sian. "Kamu apa kabar?" tanya Nisa seraya menatap penampilan Sian saat ini. Tidak ada yang kurang. Pria itu rapi, tampan dan juga sederhana. "Alhamdulillah kabar baik. Kamu gimana?" jawab Sian lalu bertanya balik. Nisa, perempuan cantik itu mengangguk dengan kedua sudut bibir terangkat. "Alhamdulillah, aku juga baik." Sian nampak terdiam sejenak. Bingung mau bertanya apalagi, atau segera berpamitan. Sementara Nisa, perempuan itu nampak ingin mengatakan sesuatu, namun sedikit ragu untuk membuka mulutnya. "Kalau gitu-," "Ayo makan siang bareng!" ucap Nisa dengan cepat memotong kalimat yang ingin Sian sampaikan. "Kalau kamu ada janji, gapapa, lain kali aja makan siang barengnya," ucap Nisa setelah melihat Sian nampak terdiam cukup lama. "Ayo. Mau makan di mana?" Nisa nampak tak percaya, namun ia buru-buru menetralkan ekspresi keterkwjutannya barusan dengan tersenyum tipis. "Di mana aja, kamu ada rekomendasi? Aku jarang makan di luar soalnya," ucap Nisa seraya meringis. Sungguh, ia belum pernah makan di luar rumah atau di luar kampus. Mungkin, lebih tepatnya, sangat jarang. Karena ia lebih suka berhemat dengan memasak sendiri. "Gimana kalau ke kafe Uno?" tawar Sian seraya menunggu persetujuan Nisa. Perempuan itu menjawab dengan cepat seolah tidak perlu memikirkannya ulang. "Yaudaah, mau naik motorku?" Sian menatap Nisa seraya menunjuk motor maticnya, "atau kamu mau bawa mobilmu?" tanya Sian. "Naik motor kamu aja," jawab Nisa dengan cepat. Ah, lagi - lagi ia tidak bisa menahan perasaannya. Bagaimana kalau Sian berpikir yang tidak - tidak? Bukankah, setidaknya ia harus terlihat berpikir sejenak sebelum meng-iyakan tawaran Sian barusan. Sian mengagguk seraya meraih helm berwarna merah dan menyerahkannya pada Nisa. Perempuan itu nampak menahan senyuman yang tercetak di bibirnya seraya menerima benda pelindung kepala itu dengan hati senang. Dipakainya dengan pelan lalu menunggu Sian memutar balik motornya. "Ayo naik!" titah Sian seraya menatap lurus ke depan. Nisa, perempuan itu nampak gugup sejenak sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di belakang punggung Sian. Motor matic itu melaju meninggalkan perkarangan kampus. Membelah jalanan kota Argon yang nampak lebih ramai dari hari - hari biasanya. Mungkin karena peringatan Hari Kemerdekaan Krypton sudah tiba. Syukurlah, di Negeri Krypton tidak menutup kampus serta lembaga - lembaga pendidikan dan layanan masyrakat. Perjalanan dari kampus ke kafe Uno hanya memakan waktu kurang lebih sepuluh menit. Lebih lama dibandingkan hari - hari biasa. Sian menepikan motor maticnya tepat di parkiran motor kafe yang nampak dipadati oleh kendaraan pengunjung. "Ayo, Nis!" ajak Sian pada Nisa seraya berjalan pelan memasuki kafe Uno yang nampak hampir penuh. Mereka sempat berdiri karena bingung melihat meja kafe nampak penuh. Namun, seorang waiter datang menghampiri mereka. Membantu Sian dan Nisa mendapatkan satu meja yang letaknya agak di sudut kafe. Jauh dari jendela kaca. "Makasih," ucap keduanya seraya duduk di kursi yang menghadap meja dengan nomor 20. "Silahkan dipilih menunya, mas, mba." Seorang waiter datang membawa buku catatan kecil seraya mempersilahkan mereka memilih menu. "Kamu mau makan apa?" tanya Sian pada perempuan yang duduk di hadapannya. "Samain aja sama yang kamu pesan," balas Nisa dengan nada sedikit gugup. Entah kenapa, rasanya perempuan itu tidak dapat mengendalikan perasaannya dengan baik. Sian tersenyum, lalu menyebutkan satu menu makanan sederhana dan juga minuman yang sederhana. Air putih. Setelah pesanan mereka datang, keduanya mulai menyantap makanan itu dalam dalam. Nisa, perempuan yang tanpa sadar menjadi pusat perhatian banyak orang yang ada di kafe. Ia memiliki garis wajah yang tak biasa. Wajahnya putih, bola mata hitam yang dibingkai oleh bulu mata lebat dan lentik sekaligus. Sian menyadari curi - curi pandang beberapa pria yang tertuju pada perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Sian yang sebelumnya sudah menghabiskan satu mangkuk mie ayam lengkap dengan pangsitnya. Kini harus menghabiskan satu piring nasi lengkap dengan ayam bakar. Sebenarnya, ia bisa saja memilih menu makanan ringan. Namun, ia tahu, kalau Nisa belum makan siang. Bagaimana bisa kenyang kalau gadis itu hanya memasukkan kentang goreng ke dalam perutnya. Perasaan manusia itu kadang jauh lebih kompleks daripada senyawa kompleks sekalipun. Saat yang satu memendam perasaan pada yang lain, karena merasa bahwa perasaannya takkan terbalas. Ternyata yang lainnya malah mereasakan sebaliknya. Kadang, manusia bisa membodohi dirinya sendiri tanpa sadar. Mereka mengeksekusi perasaan orang lain terhadapnya tanpa pernah tahu bagaimana perasaan orang itu sebenarnya. Nampaknya, bukan semesta yang sering bercanda. Namun, manusia lah, seringkali menilai sesuatu seolah ia tahu akan segalanya. Padahal ia hanya melihat secuil dari apa yang sebenarnya. Kata orang, cinta itu sederhana. Entah siapa yang mengatakan kalimat naif itu. Namun, saat sepotong hati bertemu dengan sepotong hati lainnya. Maka semuanya akan indah pada waktunya. Bukankah itu naif? Sebab, faktanya cinta tidak seseserhana itu. Atau fakta lainnya, perasaan manusia tidak sesederhana itu. Selama aktivitas makan berlangsung. Sian hanya diam dan menikmati makan siang keduanya dengan tenang. Setelah selesai. Keduanya memutuskan untuk langsung pukang. Sian akan mengantarkan Nisa ke kampus. Meski perempuan itu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. Sian tetap menyerahkan helm merah itu pada Nisa yang tak enak hati. Ia tahu, jarak rumah Sian dari Sini lumayan dekat. Kalau pria itu mengantarkannya ke kampus, maka itu akan memakan waktu lebih lama untuk pria itu sampai di rumah. "Ian, beneran kok. Aku gapapa naik taksi aja. Gak enak ngerepotin kamunya." Sian nampak diam sejenak. Entah apa yang pria itu pikirkan, namun Nisa benar - benar tidak ingin pria itu pulang terlambat dan menempuh perjalanan yang lebih jauh hanya untuk mengantarkannya. Sebelum Sian menjawab, tiba - tiba saja muncul sebuah mobil putih yang berhenti yak jauh dari area parkir motor. "Ian! Nis!" panggil seorang pria dengan kaca mata dengan bingkai berbentuk bulat yang bertengger di hidung mancungnya yang besar. Pria itu turun, lalu melangkah mendekati Sian dan Nisa yang menatap ke arahnya. "Reno?" Sian berujar seraya memastikan kalau pria itu sahabatnya. "Kalian kenapa berdiri di sini?" tanya Reno penasaran. Nisa nampak berpikir sejenak, lalu menemukan ide agar Sian tidak perlu kelelahan berkendara karena harus bolak - balik mengantarnya ke kampus. "Ren, aku nebeng kamu, boleh? Soalnya, rumah Sian gak jauh dari sini dan Sian bisa langsung pulang. Ya, kan Ian?" Sian nampak terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk meng-iyakan. "Yaudah. Kalau gitu kamu ikut aku ke kampus. Sian bisa langsung pulang dan istirahat. Btw, kalian berdua ke sini dalam rangka apa, nih?" Reno bertanya di akhir kalimatnya. Membuat Sian terbatuk kecil. "Kami makan siang bareng. Udah lama gak makan siang bareng Sian. Kamu juga, Ren. Kapan - kapan kita makan siang berempat, gimana?" Nisa berujar seraya menatao kedua pria di hadapannya. Reno nampak mengangguk dengan cepat. Sian yang semula diam, kini mengangguk pelan. Reno dan Nisa berpamitan pada Sian, karena mobil pria itu berhenti di jalan keluar masuk kendaraan. Meninggalkan Sian yang menatap mobil putih itu dengan tatapan sendu. Pria itu bersehem, lalu mengelengkan kepalanya pelan dan mulai melajukan motor maticnya ke luar dari area kafe. Bergabung dengan kendaraan lain yang berlalu lalang di jalanan kota Argon. Langit ibu kota Krypton itu nampak menggelap. Awan - awan nampak mengandung beban berat yang akan segera ditumpahkan ke bumi kota Argon. Langit seolah mengetahui perasaannya saat ini. Pria itu nampak menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan panjang. Keputusannya untuk memendam perasaannya setahun yang lalu, nampaknya adalah pilihan yang tepat. Ia tak bisa membayangkan, apa yang akan ia lalui kini. Jika ia memilih untuk menyatakan perasaan itu. Barangkali ia akan merasakan perasaan seperti pecundang berkali - kali. Kata orang, waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Semoga saja itu benar. Semoga saja waktu membuat semuanya membaik dengan usaha yang ia lakukan dan dengn doa yang ia langitkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN