Kata orang, semakin dewasanya seseorang, maka ia akan semakin menekan egonya untuk kebaikkan bersama.
Tri bertanya - tanya, kenapa kedua orang tuanya malah sebaliknya? Semakin menaikkan egonya. Apa itu artinya, mereka tidak dewasa?
Sungguh menjadi sebuah tanda tanya besar, kenapa kedua orang tuanya bisa bertahan sampai sejauh ini. Sementara keduanya sama - sama sibuk dengan dunia sendiri - sendiri. Seolah mereka hanya partner kerja bukanlah sepasang suami istri.
Papanya hanya akan mengajak mamanya berbicara ketika itu mengenai pekerjaan mereka.
Lalu, keduanya akan saling bersikap dingin satu sama lain saat mereka berkumpul di meja makan untuk pertama kalinya selama Tri hidup. Dan lihatlah! Mereka hanya diam seraya mengunyah makanan masing - masing. Tidak ada obrolan sebagai pengisi aktivitas makan malam bersama perdana ini.
Baiklah, mereka memang sedang menikmati makan malam. Tapi, apa salahnya jika membuka obrolan untuk merekatkan hubungan keluarga yang sudah sangat renggang ini?
Bukankah mereka bisa membuka obrolan sederhana di sela - sela aktivitas makan malam ini? Seperti menanyakan bagaimana sekolah Tri akhir - akhir ini? Atau, bagaimana pekerjaan kak Mono dan Kak Di belakangan ini?
Atau, ... Ah, sudahlah. Tidak seharusnya Tri mengharapkan begitu banyak hal terjadi saat makan malam perdana ini. Bisa makan malam bersama seperti saat ini saja, itu, sudah merupakan suatu hal yang luar biasa yang terjadi di rumah ini.
"Ehmm! ... Adek sekarang udah SMA kan?" Entah harus bersyukur atau sedih. Namun, pertanyaan yang dilontarkan ayah mereka secara tiba - tiba itu, berhasil membuat ketiga anak perempuannya saling menoleh dan beradu tatap.
Bersyukur karena papanya masih ingat kalau ia mempunyai anak gadis remaja. Tapi, bagaimana bisa ia baru menyadari kalau anak gadisnya ini sudah SMA?
Tri tidak bisa menyembunyikan tatapan sebalnya saat ini. Bagaimana bisa, papanya bahkan tidak tahu kalau Tri sudah duduk di bangku kelas dua belas saat ini?
Bayangkan?! Ia bahkan sebentar lagi akan lulus dari sekolah menengah atasnya. Tapi papanya bahkan baru sadar kalau ia sudah menjadi anak sekolah menengah atas?
"Adek udah mau lulus, pa. Udah kelas tiga sekarang." Gadis berambut sebahu itu menoleh ke kakaknya, Diana. Kenapa kakaknya musti repot - repot menjelaskan.
Orang tua mana yang tidak tahu kalau anaknya bahkan sudah kelas tiga SMA? dan disangka baru masuk SMA?
Aneh? ... Tidak! Ini keterlaluan namanya. Tri ingin protes. Tapi, seperti biasanya. Ia mengurungkan niatnya itu. Menelannya bulat - bulat dan menutup mulut rapat - rapat. Tidak ada gunanya melakukan protes. Semuanya masih akan menjadi seperti apa yang orang tuanya inginkan.
Jadi, daripada menghabiskan energi secara percuma. Lebih baik ia menyimpannya untuk hal - hal yang lebih berguna.
"Aaah, papa lupa. Jadi ... Sebentar lagi adek sudah mau kuliah ya." Diana hanya mengangguk membemarkan.
"Besok kalian mau dimasakkan apa? Mulai besok mama ambil cuti." Seolah pertanyaan tiba - tiba yang dilontarkan papanya sebelumnya bukanlah satu - satunya hal yang luar biasa. Mamanya kini bertanya seraya menatap ketiga putrinya dengan mata berbinar senang.
Baik Mono, Di, dan Tri, ketiga kini diam sejenak seraya saling menatap satu - sama lain. Di wajah mereka seolah tertulis pertanyaan besar,
"Mama papa lagi kerasukan atau apa?"
"Apa yang terjadi dengan mama papa?"
"Apa mama papa sakit?"
Selagi menunggu respon anak - anak mereka. Kedua orang dewasa itu pun ikit saling menatap.
"Apa yang kita lakukan saat ini terlalu tiba - tiba?"
"Apa ide mengambil cuti untuk memasakkan makanan untuk anak - anaknya terlalu aneh?"
Saking tidak pernahnya mereka berkomunikasi, obrolan yang sempat dibuka sebelumnya seolah terasa aneh dan terlalu tiba - tiba.
Mereka sama - sama bingung. Harus memulai semuanya dari mana dulu. Agar hubungan di antara mereka menjadi lebih baik.
Benar kata orang, komunikasi merupakan hal dasar yang harus dilakukan. Agar suatu hubungan bisa berlangsung lama dan berjalan dengan baik.
Komunikasi membuat kita dapat saling memahami orang - orang yang kita cintai. Komunikasi membuat kita tahu hal - hal apa yang terjadi pada orang - orang yang kita cintai.
Jika tidak ada komunikasi, beginilah yang akan terjadi. Mereka sama - sama bingung dan merasa canggung satu sama lain.
Untungnya, makan malam yang cangnggung dan akward ini segera berakhir dengan habisnya makanan yang ada di piring masing - masing.
***
Kalau biasanya, Hari Senin adalah hari yang di mana Tri akan datang terlambat dengan sengaja. Selain, karena tidak menyukai aktivitas upacara bendera, ia juga malas harus berdiri dalam waktu yang lama seraya mendengarkan dongeng yang diucapkan okeh pemimpin upacara. Siapa lagi kalau bukan pak Argentum. Kepala sekolah SMA Negeri Krypton yang punya segudang kalimat puitis dan nasionalis yang tidak akan habis - habisnya.
Tapi hari ini, ia melakukan hal yang berbanding terbalik dari kebiasaan sebelumnya. Entah setan apa yang merasukinya, hingga membuat gadis itu sudah berdiri di depan kaca secara merapikan seragam sekolahnya.
"Wah! Jangan - jangan hari ini akan turun hujan deras." Tri kontan menoleh saat mendengar suara yang berasal dari pintu kamar.
"Kakak bisa gak sih, ketuk pintu dulu sebelum masuk?" keluh gadis itu seraya menatap sebal kakak perempuan pertamanya. Mona.
Perempuan itu mencebik seraya mendesis pelan. "Orang kamu kok, yang gak denger kalo kakak udah ketuk pintu berkali - kali."
"Tumben banget, udah siap - siap sepagi ini?" sindir Mona seraya menatap penampilan adik bungsunya itu.
Tri memutar bola mata jengah.
"Tri bangun kesiangan... Diomelin. Tri bangun pagi... Dicurigain." Kakaknya hanya terkekeh seraya mendaratkan b****g ke bibir kasur yang dibalut denag sprai bergambar musang besar.
Mona masih tidak percaya dengan apa yang terjadi belakangan ini. Melihat mamanya yang tengah sibuk berkutat di dapur pagi ini, sudah membuatnya merasa takjub dan aneh. Ditambah dengan apa yang ia lihat sekarang.
Adik bungsunya yang keras kepala dan malas bangun pagi di hari Senin, kini malah sudah siap - siap dan begitu rapi dengan seragam sekolahnya. Bahkan jarum jam belum mencapai angka tujuh.
"Mama udah masak sarapan. Kita disuruh sarapan bersama sebelum berangkat." Tri yang sibuk memasang kaus kakinya itu kini terdima sejenak. Menghentikan aktivitas memasang kaus kakinya lalu menatap kakak pertamanya itu dengan tatapan paling aneh.
Ah iya, Tri hampir lupa semalam mamanya bilang kalau ia akan memasak untuk mereka semua. Bahkan mamanya rela mengambil cuti.
Bukankah itu merupakan hal yang sangat luar biasa? Untuk ukuran seorang ibu yang bahkan jarang berada di rumah karena kesibukkannya di luar rumah. Mamanya melakukan trobosan yang patut diacungi jempol dan .... patut dicurigai?
Baiklah. Mungkin Tri terlihat jahat karena mencurigai Mamanya sendiri, namun, tidakkan ini semua terasa terlalu tiba - tiba?
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Apa yang membuat mama dan papanya bisa berubah? Apa karena kasus kabur Tri dari rumah waktu itu? atau?
Belum sempat gadis itu melanjutkan asumsi - asumsi yang berenang - renang di kepalanya. Suara kakaknya lebih dulu mengitrupsi pikirannya.
"Udah melamunnya! Buruan ke bawah!" ajak Mona pada adik bungsunya dengan mengapit lengan Tri dengan cepat. Mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga bersama.
Ternyata, Diana dan papa sudah ada di meja makan. Kenapa mereka sangat kompak bangun di pagi hari dan barakhir sarapan bersama yang lagi - lagi ini menjadi sarapan perdana mereka.
Meski masih terasa canggung dan akward momment tak terhindarkan. Ini merupakan awal yang baik untuk sekelas keluarga yang tidak pernah berkumpul meski hanya sekadar untuk makan bersama sebelumnya.
Mereka hanya butuh waktu dan konsistensi hingga nanti suasana seperti ini tidak terasa aneh. Karena mereka sudah terbiasa.
***