GM-23-Gadis kecil agresif

1218 Kata
Selain karena banyak hal - hal baik yang terjadi di dalam hidupnya belakangan ini. Tri semakin semangat sekolah juga karena adanya teman yang sekaligus akan menjadi saudara iparnya. "Kana!" serunya saat matanya menangkap keberadaan temannya itu di ujung koridor kelas dua belas IPA. Kana menoleh dan mendapati gadis cantik yang begitu terlihat bersinar di antara siswa lainnya. Melambaikan tangan padanya seraya terenyum dengan begitu indah. Untuk sesaat, Kana merasa ia masih bermimpi. Bisa berkenalan dan berakhir berteman dengan gadis secantik dan semenawan Triana. Ia ikut tersenyum seraya melangkah berbalik arah dan menemui temannya dengan perasaan bahagia. "Gak biasanya kita ketemu di pagi hari Senin begini? Kamu cantik banget, Tri." Gadis yang ditanya itu hanya tersenyum tipis seraya menoel lengan temannya itu. "Apaan sih, Na. Biasa aja kok," balasnya seraya terkekeh pelan. "Kebetulan hari ini aku bangunnya kepagian. Jadi, sekalian aja aku siap - siap ke sekolah." Tri menerangkan alasannya bisa berada di sekolah sepagi ini. Meski sebenarnya tidak sepagi yang ia maksud. Pasalnya, kurang dari satu menit lagi, bel sekolah akan meraung sampai ke penjuru sekolah. Maklum, pagi bagi seorang Tri sama dengan siangnya bagi seorang siswa teladan di luar sana yang bahkan sudah datang dua puluh menit lebih awal sebelum jam sekolah dimulai. Keduanya memilih berjalan bersisian menuju kelas mereka masing - masing. Hari Senin akan menjadi hari yang panjang untuk mereka sebagai siswa sekokah menengah. Selain banyaknya mata pelajaran berat yang jadwalnya jatuh pada hari ini, juga ada ekskul yang musti mereka ikuti setelah menyelesaikan semua mata pelajaran. Awalnya, tidak ada satupun ekskul yang diminati oleh seorang Tri. Baginya, ekskul hanya akan melelahkan badan dan menambah beban pikiran. Setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelum ia mengetahui adanya ekskul literasi yang baru - baru ini dibuka. Tanpa pikir panjang, ia segera mendaftar dan sepertinya semesta akhir - akhir ini sedang berpihak padanya. Karena saat ia datang ke perpustakaan, ia mendapati gadis berjilbab putih dengan kedua sudut bibir terangkat tinggi ke atas. Tangannya melambai - lambai ke arah Tri. Alkana? Tri bergegas melangkah masuk ke perpustakaan dan mengambil posisi duduk di kursi yang tepat berada di samping Alkana. "Kamu ikut ekskul ini juga?!" tanya Tri pada Kana dengan begitu excitednya. Kana tersenyum seraya menganggukkan kepala dengan cepat. "Iya. Kamu juga?" Tri pun mengangguk seraya tersenyum kegirangan. "Selamat datang di ekskul Literasi Lovers Club. Saya sebagai ketua, akan memperkenalkan diri dan menjelaskan apa itu LLC. Selain Tri dan Kana, ada sekitar enam siswa lainnya yang duduk di kursi yang disusun membentuk persegi empat yang di tengah - tengahnya terdapat sebuah meja besar berbentuk persegi juga. "Perkenalkan, nama saya Merkurina dari kelas dua belas IPS tiga. Saya menjabat sebagai ketua LLC dan di sebelah kanan saya ini, ..." Rina menjeda kalimatnya lalu menatap cowok--dengan kaca mata tebal membingkai mata kecokelatannya-- di samping kanannya. Memberi kode agar cowok itu melakukan perkenalan diri. "Nama saya Heliumika, dari kelas sebelas IPA dua. Saya menjabat sebagai wakil LLC." Setelah memperkenalkan diri, cowok itu langsuing kembali duduk. Sementara Rina kembali melanjutkan kalimatnya. Tri dan Kana mendengarkan dengan baik, penjelasan Rina mengenai LLC. Tujuan dan visi misi dibentuknya ekskul LLC sampai pada jadwal pertemuan rutin dan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan bersama untuk kedepannya. Setelah selesai dengan rapat pertemuan LLC itu, Kana dan Tri keluar bersama dan melangkah bersisian menuju gerbang sekolah yang sudah terlihat cukup sepi. Karena sebagian besar siswanya sudah pulang dan sebagian yang lain masih sibuk dengan kegiatan ekskulnya. "Kamu pulang naik apa?" tanya Tri pada Kana yang kini menatap jam tangan serada mendesis pelan. "Dijemput bang Sian?" Kana mengangguk. "Iya. Tapi bang Sian keknya masih sibuk di kampus. Maklum, abangku itu terobsesi wisuda tahun ini. Makanya jadi lebih rajin lagi ngampusnya." Tri mendengarkan curhatan Kana dengan mata berbinar kagum. Sudah berapa hari ia tidak bertemu dengan Sian. Rasanya ia sudah sangat rindu. Rindu? Aishh! Tri berpikir terlalu jauh. "Ikut aku aja, Na!" ajak Tri pada Kana dengan antusias. Kana tersenyum senang. Ia sangat senang bisa mengenal Tri. Gadis ini begitu baik. Pikir Kana seraya tersenyum. Tapi, tetap saja, ia mengingat perkataan abangnya. Jangan terlalu sering merepotkan seseorang, hanya karena orang itu baik. Sebelum mengutarakan ketidak-enakan hatinya saat ini. Ponselnya yang ada di saku bergetar dan meraung. Kana permisi pada Tri untuk menjawab panggilan dari abangnya. "Iya, bang?" Tri nampak memperhatikan Kana yang tengah mengorbol dengan Sian yang ada di seberang sana. Setelah beberapa detik kemudian, Kana menjauhkan ponselnya dari telinga. Kana menoleh dan mendapati Tri yang masih berdiri tidak jauh darinya. "Bang Sian?" tanya Tri. Kana mengangguk. "Abang bakalan sampai dalam waktu lima menit. Makasih ya, Tri. Udah nawarin tumpangan buat aku. Aku gak enak ngerepotin." Tri menatap Kana dengan memutar bola mata. "Ya ampun, Naaa. Biasa aja lagi! Gak ngerepotin sama sekali, kok. Malah, aku seneng. Bisa sekalian ketemu sama adek - adek kamu dan juga ibu." Bilang saja kau senang karena bisa bertemu dengan Sian, kan?! Bisik sebuah suara yang mengkoreksi kalimatnya barusan. Kana tersenyum mendengar penuturan Tri barusan. "Kakakmu udah di mana?" tanya Kana pada Tri. Gadis itu nampak merogoh ponselnya sebentar untuk memcari sesuatu di dalam benda itu. "Bentar lagi kakak sampai," balas Tri setelah menatap layar ponselnya sebentar. Sebelum kedatangan jemputan dari kakak Tri dan abang Kana. Mereka memilih untuk menunggu di halte bus di seberang jalan. Kembali berbincang mengenai hal - hal yang dilalui mereka di sekolah hari ini Tri sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sian. Terlebih, ia sudah tidak pernah melihat pria itu aktif di sosial medianya manapun. Terlebih ceritanya yang ada di Ways. Sudah berapa bulan, cerita yang ditulis di platform Ways tidak diperbaruhi. "Nah, itu bang sian!" seru Kana seraya menatap kedatangan seorang pria tinggi dengan motor maticnya. Pandangan Tri ikut teralihkan. Seseorang yang sudah lama ia rindukan kini berdiri di depannya. Hmm, tepatnya, di depan sahabatnya, Kana. "Maaf ya, abang telat jemputnya," ringis Sian seraya menyerahkan helm berwarna pink pastel di tangannya pada adik pertamanya, Kana. "Kamu nunggu jemputan juga?" tanya Sian pada gadis yang sedari tadi menatapnya lekat dan penuh minat. Sekadar basa - basi. Akan tetapi, respon yang diberikan Tri, di luar dugaan. Gadis itu buru - buru mendekati Sian dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna. "Kangen," ucap gadis itu seraya menatap Sian dengan mata yang menyiratkan rindu. Sayangnya, Sian--yang tidak begitu tertarik pada gadis agresif seperti Tri--hanya merespon seadanya. "Tri nunggu jemputan kakaknya, bang," Kana memberi tahu abangnya seraya memasang helm di kepalanya dengan benar. "Udah mau sampai apa belum?" tanya Sian pada Tri yang kini masih memaku tatapan ada Sian. Sampai pria itu mengibas - ngibaskan telapak tangannya di hadapan gadis itu, barulah Tri tersadar dari lamunan panjangnya. "Masih lama kayaknya," balas Tri asal. Sian nampak mengangguk - anggukkan kepala. "Kita tunguin sampai kakak temenmu ini datang, ya." Kana mengangguk menyetujui saran dari abangnya. Bagaimana Tri tidak jatuh hati pada pria sebaik Sian. Mungkin, bagi Sian, hal yang dilakukannya saat ini sangat sederhana dan wajar. Tidak lebih dari itu. Namun bagi Tri, dengan Sian menemaninya menunggu sampai kakaknya datang, itu merupakan perlakuan manis yang ia terima dari pria itu. Hampir saja ia khilaf ingin memeluk Sian. Namun ia urungkan kalau ia tidak ingin Sian berakhir meninggalakannya dan lebih memilih pulang. Karena sifat agresifnya sangat tidak disukai oleh pria itu, Tri harus bisa menahan diri. Ya, Tri tidak boleh menjadi gadis yang agresif di hadapan Sian. Sebaliknya, ia harus menjadi gadis kalem dan menjag image. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN