Seandainya Tri adalah laki - laki dan Sian adalah perempuan. Maka ia tidak akan segan - segan mengajak Sian untuk menjalin kasih.
Ah, lihatlah! Lagi - lagi gadis kecil itu berpikir terlalu jauh dan juga agresif.
"Kakak kamu beneran udah deket?" tanya Sian pada gadis yang sedari tadi duduk manis di kursi halte yang tak jauh dari posisinya duduk.
"Mungkin kejebak macet, bang," duga Kana, adik Sian yang kini duduk di anatara Tri dan abangnya.
"Kayaknya gak mungkin, deh. Argon jauh dari kata macet. Kecuali ada peringatan hari - hari besar." Kana ber-o ria seraya menganggukkan kepala mengerti.
Sementara Tri, gadis itu hanya senyam senyum tidak jelas. Di saat ia seharusnya khawatir kalau - kalau kakaknya tidak juga sampai untuk menjemputnya. Ia malah tersenyum penuh arti seraya tidak mengalihkan pandangannya ada Sian sedikit pun.
"Ok, begini saja. Abang anterin kamu pulang, terus balik ke sini buat nganterin temanmu ini," usul Sian seraya menatap Kana dan Tri secara bergantian meminta persetujuan.
"Apa gak repot, bang?" tanya Tri basa - basi. Padahal, hatinya sudah berjingkrak - jingkrak kegirangan dengan usul dari Sian barusan.
"Ini udah kesorean kalau mau nunggu bus bakalan lebih lama lagi. Gimana?" Tri dan Kana hanya mengangguk secara bersamaan.
"Okedeh. Kalo gak ngerepotin," balas Tri setuju dengan usul pria yang sedari tadi ia ingin berada lebih dekat dengan pria itu.
"Kamu tunggu di sini aja. Gak akan lama kok. Kalau ada apa - apa, hubungin aku, ya, Tri." Tri mengangguk seraya tersenyum meng-iyakan permintaan sahabatnya barusan.
Selanjutnya, Sian dan Kana berpamitan dan menghilang di ujung jalan bersama motor matic pri itu.
Tri merogoh ponselnya dan membaca pesan balasan dari Diana, kakaknya.
From : Kak Di
Beneran gapapa? Kamu langsung pulang ya, dek. Jangan kelayapan kayak kemaren - kemaren. Kalo mau minta jemput, telepon kakak aja.
Tri terseyum sebentar, lalu mulai mengetikkan pesan balasan untuk kakaknya.
To : Kak Di
Siyap, kak! Tri kabarin kalau udah deket rumah.
Setelah mengetikkan pesan balasan untuk kakaknya itu, Tri kembali memasukkan benda berbentuk pipih itu ke dalam saku rok sekolah yang ia kenakan.
Tak lama setelah itu, Sian datang dengan motor maticnya. Berhenti tepat di depan halte bus.
Tri tidak bisa menahan diri untuk mengangkat kedua sudut bibirnya, saking senangnya gadis itu dapat diantar oleh pria yang ia sukai.
"Ayo, naik!" titah Sian seraya menyerahkan helm kepada teman adiknya itu.
Tri tersenyum malu - malu sebelum akhrinya bergegas mendekati motor Sian. Meraih helm yang disodorkan pria itu dan mengenakannya dengan susah payah. Hingga Sian harus turun tangan untuk membantu gadis itu.
Untuk sejenak, Tri merasa kalau pasokan oksigen di dalam paru - parunya semakin menipis. Saat matanya bertemu dengan mata Sian yang sibuk mengaitkan benda pelindung kepala itu.
Entah kenapa, atmosfer di sekitar mereka terasa sedkit panas.
Lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat seakan terhenti seketika. Gerakan angin seolah melambat dan gesekan dedaunan pohon seolah menjadi suara pengisi adegan romantisnya bersama Sian.
Kumpulan awan di langit kota Argon seolah menari ke sana ke mari. Mengikuti arah angin yang bergerak lembut.
"Sudah. Ayo!" Semua khayalan indah yang baru saja dirangkai gadis itu, kini buyar seketika. Sian sudah duduk dengan sigap. Kedua tangannya menggenggam kemudi sepeda motor seraya menunggu seseorang di belakangnya mengatakan 'siyap.'
Tri nampak cemberut, akan tetapi ia masih teringat akan misinya untuk tidak bersikap agresif dan menyebalkan di mata Sian. Oelh karena itu, gadis itu bergegas merapikan rok selututnya yang terasa tidak begitu nyaman karena ukurannya mulai sempit dan juga pendek.
Sian yang melihat kegelisahan Tri lewat kaca spion motornya, itu, berdecak kecil. Turun kembali dari motornya.
Melepaskan almamater berwarna biru dongker gelap yang bertuliskan nama kampusnya itu pada Tri.
"Pakai ini!" Tri menatap Sian dengan termangu. Gadis itu terdiam selama beberapa detik. Hingga akhirnya, suara bariton Sian berhasil membawanya pada kenyataan.
"Buruaaan! Bentar lagi turun hujan," desak Sian pada gadis itu. Pasalnya, langit kota Argon nampak sudah mengabu. Awan - awan nampak menggelap.
"Sudah," ucap gadis itu pada Sian.
Sian mengangguk dan kembali menaiki kendaraan roda dua itu. Melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalan kota Argon yang nampak terlihat lebih penuh oleh kendaraan lainnya.
Tri merasa seolah - olah sedang bermimpi. Seorang Sian mau repot - repot mengantarkannya pulang. Padahal jarak dari rumahnya cukup jauh. Dan pria itu bahkan harus mengantarkan Kana terlebih dahulu.
Tri menggigit bibir bawahnya pelan seraya menatap lekat punggung kokoh pria yang ada di hadapannya saat ini.
Perjalanan dari sekolah sampai ke rumahnya biasanya terasa cukup lama. Akan tetapi, kenapa kali ini terasa begitu sebentar? Padahal ia masih ingin bersama dengan Sian.
Ah! Seharusnya Tri tidak mengatakan alamat rumahnya yang sebenarnya pada Sian. Jadi, mereka bisa berkeliling lebih lama.
Dasar gadis licik!
***
Sian menepikan motor maticnya di depan gerbang rumah megah dan kokoh berasitektur modern.
"Selamat sore, non," sapa seorang satpam seraya membukakan gerbang menjulang tinggi itu dengan cepat.
"Bang Sian gak mau mampir dulu?" tawar Tri dengan sepenuh hati seraya menampilkan senyum terbaiknya.
Bahkan ia tidak ingin repot - repot melepaskan helm yang dikenakannya saat ini. Ia ingin Sian berada di dekatnya sedikit lebih lama.
Sian menggelengkan kepala, "Lain kali aja. Udah sore dan mumpung hujan belum turun," tolak pria itu dengan sopan.
Lalu bergegas berpamitan pada Tri dan penjaga keamanan yang menunggu di pos dekat gerbang rumah gadis itu.
"Saya pamit pak" Sian berpamitan seraya menaiki sepeda motornya.
Pria itu menoleh ke belakang sebentar. Mendapati Tri yang tengah memasang wajah cemberutnya.
Pria pergi meninggalkannya setelah mengucapkan salam.
Tri yang semula murung tiba - tiba saja wajahnya berubah sumringah. Saat matanya menatap almamater biru dongker yang ada pada genggamannya saat ini.
Lalu, ia juga meraba sisi kepalanya. Helm berwarna pink pastel itu masih melekat di sana.
Bukannya khawatir, kalau pemiliknya akan kebingungan mencari benda itu. Tri malah tersenyum penuh arti.
Kedua benda ini dapat menjadi alasan untuk ia menemui pria itu kembali.
Ia akan mencuci almamater itu dengan tangannya sendiri. Memberikan pewangi dan juga parfum yang paling harum yang ia punya.
Gadis itu berpamitan pada pak satpam untuk segera memasuki rumah.
Ia melangkah seraya menari kecil dengan helm yang masih melekat di kepalanya.
Menaiki anak tangga seraya bersenandung ria. Seolah ia baru saja mendapat hadiah yang luar biasa.
Sesampainya di kamar. Tri melefakkan tas sekolah kembali ke tempatnya. Melepas kaus kaki dan helm berwarna pink pastel itu dengan hati - hati. Meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur.
Gadis itu menghela napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur king size yang dibalut dengan sprai berwarna biru putih bergambar musang.
Matanya kembali beralih menatap benda yang sedari tadi tidak ia lepaskan dari genggamannya.
Almamater kampus Sian.
Depeluknya benda itu seraya membayangkan dirinya yang sedang memeluk punggung pria itu dengan erat.
Hentikan fantasi liarmu, gadis kecil! Cibir batinnya mengingatkan.
Sejurus kemudian, gadis itu menggelengjan kepala dengan kuat. Berharap pikirannya kembali jernih dan tidak melayang ke mana - mana.
***