GM-34-Firts time wekkend bersama

1622 Kata
Semenjak mama dan papanya memutuskan untu k mengurangi kesibukkan mereka di luar rumah. Tri dan kedua kakaknya terasa memiliki oranh tua dalam arti yang sesungguhnya. Rumah mereka yang semula tak lebih dari sebuah bangunan tak berarti. Kini terasa menjadi rumah dalam arti sesungguhnya. Rumah yang dimiliki oleh orang pada umumnya. Rumah yang di dalamnya terdapat keluarga. Rumah yang di dalamnya terdapat peran orang tua yang seharusnya untuk anak - anak mereka. Rumah yang menjadi tempat ternyaman untuk pulang. Rumah yang menjadi tempat paling hangat untuk menetap. Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya, mereka sama - sama terus berusaha. Mama papa yang terus berusaha menjadi orang tua yang baik dan bertanggungjawab. Anak - anak yang terus berusaha bertahan meski tanpa kasih sayang dan perhatian yang cukup. Anak - anak yang bersabar menunggu hari di mana orang tua mereka menyadari. Bahwa mereka tidak hanya butuh materi untuk tumbuh dewasa. Akan tetapi, mereka juga butuh cinta, kasih sayang dan kehangatan dari orang tua, dari orang yang mereka panggil mama dan papa. "Besok hari libur. Hari kemerdekaan Krypton." Papa berujar seraya menutup koran yang dibacanya sejak beberapa menit yang lalu. "Gimana kalau kita ke Taman Kenangan yang terkenal itu?" usul mama dengan anusias seraya menatap ketiga putrinya secara bergantian. Mono, Di, dan Tri, ketiganya hanya terpaksa menarik kedua sudut bibir dengan terpaksa. Tentu saja ketiganya masih merasa sedikit asing dan kikuk saat mendengar rencana itu untuk pertama kalinya. "Gimana, pa? Kan bagus, tuh. Kita bisa ngabisin waktu seharian sama ketiga putri kita." Ketiga perempuan itu saling tatap. Seolah ingin menolak rencana itu. Akan tetapi, tentu saja mereka tidak mungkin melakukannya. Rencana itu sangat langakah terdengar di rumah ini. Terlebih itu berasal dari sang papa lalu disetujui oleh mama. "Tapi, bukannya besok kita harus ikut perayaan kemerdekaan, ya, pa?" tanya Tri dengan polos. "Perayaan kemerdekaan sifatnya tidak mewajibkan, kok. Papa tahu betul undang - undanh soal itu. Sebab teman papa banyak yang bekerja di firma hukum dan kejaksaan." Pria berusia sekita setengah abad itu menyesap tehnya yang mulai dingin karena dibiarkan terlalu lama. Tri menutup rapat mulutnya. Seoalah pertanyaan yang dilontarkannya sama sekali tidak mempengaruhi rencana weekend mereka pekan ini. "Ok. Berarti semuanya setuju?" Mama menatap ketiga putrinya itu dengan tersenyum senang. Baik Mono, Di atau Tri. Ketiganya belum siap terjebak dalam momen akward di akhir pekan mereka nanti. "Kalau begitu, besok mama bakalan masak yang banyak. Kita bawa tikar, kursi lipat, minuman dingin yang segar. Lalu,-" "Maaa.." Mono memanggil mamanya seraya menatap mamanya itu dengan tatapan tak putus asa. "Kenapa bawa barang banyak banget? Kita, kan cuma nikmatin weekend sehari. Bukan buat piknik. Bawa yang secukupnya aja, ya." Di dan Tri merasa lega saat kakak tertua memberikan saran yang semoga saja bisa mengubah rencana absurd mama mereka. Membawa kursi lipat, tikar, makanan yang banyak. Lalu, apa? Minuman dingin dan apalagi? Ayolah, mereka hanya menghabiskan waktu weekend yang hanya sehari. Bukan buat bermalam atau apa. "Baiklah. Kita bawa barang secukupnya saja. Kalau gitu, kalian bertiga jangan lupa setel alarm tepat pukul enam pagi. Ok?" Ketiganya saling tatap seraya meringis. Apa? Pukul enam pagi? Mereka mau keluar kota Argon atau bagaimana? Sependek pengetahuan Tri, Taman Kenangan itu berada di jantung kota Argon dan jarak dari sini ke sana tidak menghabiskan waktu sampai dua puluh menit. Lima belas menit atau bahkan mereka bisa sampai hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. "Ma, gak kepagian apa?" tanya Papa seraya meletakkan gelas teh yang sudah kosong. "Papa sih, kebiasaan bangun di atas jam enam. Makanya susah kalo disuruh bangun di jam enam. Pokoknya mama maunya kita berangkat pagi - pagi. Udara pagi hari, kan bagus tuh." Papa dan ketiga putrinya hanya mengangguk pasrah. "Setuju, kan?" tanya mama menunggu persetujuan dari papa dan ketiga putrinya. Ketiganya hanya tersenyum kaku seraya mengangguk setuju. Sementara papa, hanya bisa menghela napas berat. Kalau pada akhirnya keputusan finalnya ada pada mamanya. Lalu, untuk apa mereka ditanya? "Baiklah. Kalau begitu kita sepakat bangun jam enam pagi. Tidak ada kata tapi." Kan? Apa Tri pikirkan ternyata benar. Tidak ada gunanya ia menolak. Toh, mamanya memutuskan semuanya secara sepihak. Ternyata menjadi keluarga yang normal pada umumnya, tidak semudah yang terlihat. Mereka butuh penyesuaian diri lebih lama dan hati yang lebih lapang. Kalau sesuatu yang tidak biasa itu akan sulit untuk bisa melakukannya. Seperti kata pepatah. Ala bisa karena terbiasa. *** Seperti yang mama katakan. Mereka harus terjaga tepat pada pukul enam pagi. Wanita berusia empat puluhan tahun itu terlihat sibuk di dapur. Menyiapkan semua makanan serta minuman yang akan mereka bawa saat piknik ke taman nanti. Semua makanan dan minuman sudah dikemas dengan baik. Sebelum bersiap - siap berganti pakaian. Wanita itu memutuskan untuk mendatangi kamar ketiga putrinya. Mereka mengatakan kalau ketiganya sudah bangun. Namun, sebagai ibu yang baik, ia harus memastikannya langsung dengan mata kepala sendiri. "Papa masih ngantuk banget," keluh pria dengan kumis tipis dan yang kini duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan. Matanya masih terasa begitu berat. Seolah digelantungi sebongkah batu berat di sana. "Makanya, papa buruan mandi sana, gih!" usir mama seraya menarik lengan suaminya itu lalu mendorong tubuhnya ke dalam kamar. "Gak ada sarapan kalau papa belum mandi!" Wanita itu menutup pintu kamar dengan rapat setelah mengatakan kalimat ancamannya barusan. Dengan berat hati dan mata yang masih digelayuti rasa kantuk yang hebat. Pria bertubuh jangkung itu mulai meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Sementara itu, Tri tengah menatap cermin lalu memoleskan sedikit bedak ke pipi kemerahannya. Terakhir liptint berwarna merah hati diaplikasikan ke bibirnya yang memang sudah merah dari sananya. Tepat, setelah menyudahi aktivitas berdandannya, suara ketukan kuat terdengar dari pintu kamar. Gadis itu melangkah mendekati pintu. Membukanya dengan cepat dan ternyata sang mama sudah berdiri di sana. "Mama kira kamu masih tidur," ungkap mama seraya memindai penampilan Tri saat ini. Seolah ia baru pertama kali melihat putrinya berdandan. "Kenapa ma? Ada yang aneh dengan penampilan Tri?" Gadis itu bertanya seraya ikut menatap dirinya dari atas ke bawah. Mamanya menggelengkan kepala dengan cepat. "gakgak! Sama sekali gak aneh, kok. Anak mama cantik luar biasa." Tri merasa tersanjung sontak tersenyum senang. "Kalau gitu, mama ke bawah dulu buat masukin makanan yang bakalan kita bawa. Jangan lupa, kurang dari jam tujuh, kita harus berangkat." Tri mengangguk patuh. Mamanya berlalu menuruni anak tangga. Pikiran wanita itu kembali melayang. Sejak kapan putri kecilnya tubuh secepat itu? Sejak kapan putri kecilnya sudah bisa berhias sendiri? Sejak kapan putri kecilnya terlihat seperti gadis cantik yang menawan. Begitu banyak kah waktu yang sudah ia sia - siakan hingga tidak menyadari semua itu. Penyesalan bukanlah hal buruk untuk seseorang yang menyadari kesalahannya. Akan tetapi, perubahan menjadi lebih baik lagi jelas jauh lebih baik daripada sekadar rasa penyesalan tanpa arti. *** Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara untuk memulai percakapan. Mungkin, karena ini kali pertama mereka pergi berlima dalam satu mobil setelah ketiga anak perepmuan itu dewasa. Coba Tri ingat - ingat. Kapan terakhir kali ia pergi dengan anggota keluarga lengkap seperti sekarang ini? Rasanya sudah sangat lama. Tri bahkan hampir lupa. Dulu masih sangat kecil. Ingatan akan masa itu tidak begitu jelas. "Kalian bertiga, gak ada rencana sama pacar kalian, kan?" Mama bertanya dengan ragu seraya berbalik badan menatap ketiga anak perempuannya yang duduk di kursi penumpang. Ketiganya nampak diam sejenak. "Mono sama Di sih, gak punya. Gak tau kalo adek," balas Mono, putri pertama seraya melempar tatapan pada kedua adiknya yang duduk bersisian. "Aku?" Tri menunjuk dirinya sendiri seraya bertanya. Mamanya mengangguk, "Iya. Adek gak punya rencana weekend sama pacar, kan?" ulang sang mama memastikan. Tri menggelengkan kepala. "Gak ada kok, ma." Mama mengangguk mengerti lalu tersenyum. Memalingkan tatapannya ke luar kaca mobil. Menatap langit yang nampak masih berkabut. Setelah percakapan itu, keheningan kembali menggantung di tengah - tengah mereka. Seperti yang mama rencanakan. Berangkat di pagi hari akan menghindarkan mereka dari kemacetan yang disebabkan oleh perayaan hari kemerdekan. Jalanan kota Argon nampak masih lenggang. Tidak banyak kendaraan roda dua atau roda empat yang berlalu lalang. Udara di pagi hari jauh lebih segar untuk dihirup. Lebih baik dari pada udara di siang atau sore hari yang sudah terkontaminasi oleh banyaknya emisi gas yang dikeluarkan oleh banyak kendaraan. Meski begitu, pemerintah kota Argon sangat memperhatikan lingkungan kota dan kenyamanan masyarakat. Kebijakan yang membatasi penggunaan kendaraan untuk masing - masing rakyatnya. Ditambah dengan aturan yang baru - baru ini dikerluarkan yaitu, dilarang mengendari mobil jika hanya berkendara sendirian atau bukan untuk ke luar kota Argon. Selain meminimalisir jumlah emisi gas berbahaya yang dikeluarkan kendaraan roda dua dan roda empat, pemberlakuan aturan tersebut juga meminimalisir agar kemungkinan terjadinya kemacetan sangat kecil, kecuali di hari besar negara dan umat beragama. Sepanjang jalan sudah terlihat tiang tiang bendera Krypton terpancang dengan kokoh. Perjalanan menuju taman tidak sampai menghabiskan waktu lima belas menit. Mobil yang dikendarai papa, tiba di area parkiran taman yang amat luas tepat pukul tujuh lewat sepuluh menit. Tidak seperti taman biasa pada umumnya. Taman Kenangan menyedia spot terbaik dengan berbagai macam nuansa berbeda. Tak hanya itu, di tengah - tengah taman mengalir air sungai yang jernih hingga ikan - ikan di sana terlihat dengan jelas. Tak hanya itu, ada sebuah jembatan yang untuk menyebrangi sungai kecil yang indah itu. Jembatan yang setiap sisinya direkatkan ribuan kertas kecil dengan bentuk yang sangat beragam. Mulai dari bentuk hati, bintang, bulan, hingga bentuk buah dan juga bunga. Kertas - kertas itu diletakkan di sana agar setiap yang menyebrangi sungai, mereka bisa menuliskan satu dua kata sebagai ekspresi kebahagian saat mereka berada di Taman Kenangan. Kata - kata yang nantinya dapat menjelma menjadi doa. Doa - doa tersebut bisa jadi menjelma menjadi hal - hal baik yang terjadi pada kehidupan orang yang menulisnya. Karena doa yang mereka tuliskan seraya mengingat Tuhan Yang MahaAgung akan bergerak menemui pintu - pintu langit, lalu mengetuknya. Hingga membuat rahmat Tuhan Yang MahaKuasa turun ke bumi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN