pertemuan

582 Kata
Malam ini begitu indah dengan taburan bintang yang berkilauan di angkasa. Sayangnya sang bulan tak terlihat melengkapi keindahan ini. Di tengah gurun yang penuh dengan hamparan pasir tiada batasnya. Sera berjalan dengan langkah pasti, tak ada kata berhenti dia terus melangkah meski tau dirinya lelah. Entah apa yang membuatnya begitu tergesa, seakan ada sesuatu yang menantinya di suatu tempat. Sejujurnya, ia sendiri juga tak tau apa yang sebenarnya sedang ia tuju. Dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Dalam kesendirian seperti ini, ia benar benar tak punya tujuan. Seberkas cahaya melesat dari kaki langit tenggara naik secepat kilat keatas langit. Sontak Sera menghentikan langkahnya, mata dengan sorot tajam di balik topeng itu menatap ke arah cahaya yang baru saja menghilang di angkasa. Nomor lima puluh empat... Yang terakhir.. Adalah aku..???? Entah mengapa tiba tiba rasanya menggelikan. Sera merasakan perasaan yang menggelikan. Ia menertawakan dirinya sendiri. Sekarang ia merasa sendirian setelah semua I'Cord yang sama dengannya telah menjemput takdir mereka sementara ia masih di sini. Lucu sekali, sekian lama ia menapaki dunia, bahkan dalam sepuluh tahun yang sudah berlalu ia tak pernah merasa sesepi ini. Padahal selama ini ia selalu menapaki semua dengan jalannya sendiri. Dulu ia sendirian, sekarang juga sama, lalu apa bedanya?? Kenapa ia harus merasakan perasaan yang menjengkelkan ini?! Kenapa?! Rasanya hampa.. Ia merasa kosong di setiap sudut jiwanya. Ia merasa kesepian.. Tapi kenapa harus??!! Apa apaan dengan semua ini??? Sangat menyebalkan! Ia tak ingin mengingatnya lagi. Tapi s**l! Hatinya tak bisa berhenti memikirkan itu setiap kali. Tunggu... Hati..????!! Sera tertawa semakin keras dalam kecamuk yang mengaduk-aduk dirinya. Tawa yang terdengar hambar. Tawa yang tak memiliki makna lalu kemudian berubah memilukan. Lututnya gemetar saking kerasnya ia tertawa. Ia tak tau, bahkan seluruh tubuhnya bergetar, entah karena tawanya atau kah karena kesedihannya yang di tahannya. Sosok itu jatuh berlutut di atas hamparan pasir, tawa yang bercampur tangis menjadi irama memilukan yang mengalun di penjuru gurun malam ini. Sebuah elegi yang menyayat hati, mengundang semesta untuk ikut berduka. Langit berbintang berubah muram, angin bertiup pelan membawa pesan pesan kesedihan. Sera larut dalam dirinya sendiri, kedua lengannya memeluk tubuhnya. Ia tenggelam dalam kegelapan yang menakutkan. Dalam kebencian yang mendalam. Jatuh ke jurang mengerikan dengan kegelapan tiada akhir. BODOH!!!... Apanya yang sama?? Jelas berbeda!!! Semuanya.. Berbeda!! Tak ada lagi yang sama setelah kepergiannya.... Ivan... .... tolong.. aku sendirian.... Angin bertiup kencang menerbangkan pasir gurun yang kering. Sera tak peduli dengan suasana di sekelilingnya yang berubah menggila. Pasir pasir yang berterbangan menutupi pandangan. Ia menggeleng kuat dan terisak, menundukkan wajah dalam dalam berharap bumi akan menenggelamkannya sekarang juga. Di tengah angin dan pasir yang berhamburan, Sera merasa sesuatu menghambat badai pasir yang menerpanya. Sebuah tangan terulur membuat ia menengadahkan kepalanya di sela tangisan yang perlahan teredam. Entah bagaimana caranya badai yang menggila berhenti begitu saja saat Sera menatap mata itu. Mata Zamrud pucat yang teduh. Uluran tangan itu menggapai nya, semakin dekat dan berakhir pada topeng yang ia kenakan. Sera terpaku, entah apa yang terjadi, retakan di topengnya bertambah banyak dan semakin banyak lalu... KRAAK Hancur. Topengnya hancur hanya kerena sebuah sentuhan halus yang tak dapat ia rasakan. "Aku sudah menduganya" Suara yang terdengar lembut mengalun di telinga Sera saat bersamaan ia merasakan tangan dingin menyusuri setiap inchi wajahnya. Lalu beralih menyisir rambutnya, tangan itu bergerak turun menyusuri sepucuk rambut perak Sera yang lembut. Ia membungkuk dan mencium sepucuk rambut di tangannya lalu mengangkat kepala menatap wajah Sera yang membeku. "Sudah kuduga kau akan menangis" Ujar sosok itu. "Ikutlah dengan ku oke? " ,,,,,,,,,,,,,,,,, ?????, 19 ???????? 2020 (21:58 ???)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN