Kebenaran
"Sebagai barang antik dari kehidupan kuno, aku sudah menjalani berbagai proses hidup dan mati"
Suara ketukan kayu dan batu terdengar jelas dalam keheningan. Sesekali rintik air menyela di antaranya. Hembusan angin juga berusaha masuk dalam suasana itu.
Sera duduk diam di posisinya. Dalam cahaya fajar yang samar, arang arang di depannya benar benar berubah hitam dan tidak lagi membara seperti sebelumnya.
Hanya sekilas terbit lengkungan samar disudut bibirnya mendengar kata kata itu.
'Barang antik'
"Silih berganti kehidupan yang datang, dan berbagai hal yang terjadi, kau tak benar benar membiarkannya berlalu begitu saja"
Jayden yang semula sibuk dengan kayunya seketika berhenti dan sejenak suasana benar benar hening dengan tetes air yang mendominasi.
"Sepanjang hidup yang sudah kau jalani dan setiap kematian yang kau hadapi, pasti ada sejarah dimana dirimu terpaku tak mampu melupakan"
Merasakan sesuatu menohok jantungnya, Jayden bahkan tak mampu berkata kata. Genggaman nya mengerat pada ranting yang rapuh sisa pembakaran.
"Berapa waktu yang berlalu bahkan tak bisa menebus kenangan itu untuk lepas darimu"
Nafasnya sesak, namun dicobanya untuk tetap tenang. Setenang air yang diam setelah riak sesaat.
"Dari semua yang sudah kau lalui pasti ada satu alasan yang membuatmu ada disini"
Bersamaan dengan mengakhiri kalimatnya Sera menoleh ke sisi dimana atmosfer terasa lebih berat. Disana ia menangkap bayangan yang berusaha menahan percikan percikan emosi dalam dirinya. Deru nafas yang teratur perlahan berantakan, terdengar tak menentu, penuh beban dan tuntutan akan kebebasan yang lama ia nantikan.
"Malam berdarah, dibawah purnama. "
"Cukup" Lirihan yang lebih terdengar seperti permohonan, tapi tak menyurutkan Sera untuk kembali bersuara.
"Dalam lorong yang panjang, didepan tahta Kekaisaran, mengalir lautan kebencian dalam penyesalan dan keputusasaan"
Rahangnya mengeras membentuk garis tegas, merupakan perlawanan terkuat dalam dirinya melawan riak tenang yang berubah menggila. Setelah sekian lama Jayden masih tak percaya dengan dirinya sendiri bahwa ia masih menyimpan hal itu hingga kini.
Kebencian dan amarah dimalam itu mengalir pekat kembali menghampiri dirinya. Bahkan bagaimana sesaknya kembali ia rasakan, akhirnya ia kembali merasakan kesedihan setelah kehampaan yang berkepanjangan.
"Bukan aku... Aku tak menginginkan semuanya... Hhhh... "
Ranting di tangannya semula jatuh entah kemana, dan tak ada apapun lagi dalam genggam nya. Dia gemetar, setiap inchi tubuhnya bergetar ketakutan. Di setiap helaan nafasnya yang tersengal senggal terselip kata kata keterpurukan yang dalam.
Setiap makna dalam setiap perubahan, Sera menangkap semuanya dan merekam dalam memorinya.
'Jelas itu adalah dia... Benar benar dia... '
Rasanya masih segar dalam ingatannya, bagaimana punggung tegap itu luruh tak berdaya. Masih terekam jelas saat bulir bulir liquid bening perlahan menyentuh lantai tetes demi tetes disertai isakan isakan yang menyenandungkan elegi yang menyakitkan.
'Ksatria dengan baju zirah yang berkilau walau tampak kelam.. Dan pedang mata naga merah menyala.. Semerah darah dari ribuan nyawa yang telah direnggut olehnya... '
Dan kini semua terasa nyata, di depan matanya ia melihatnya. Kembali menyaksikan sisi menyedihkan dari Ksatria kegelapan.
'Orang yang kejam tak semua menginginkan jalan hitam , sebagian dari mereka tersembunyikan oleh takdir yang kelam'
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Bola api raksasa itu terlihat lebih redup dari biasanya seolah menyiratkan kesenduan yang tengah menimpa dunia. Angin berembus pelan membawa nyanyian lirihan kesakitan.
Kehidupan yang akan berakhir cepat atau lambat. Kematian yang siap menghadang kapanpun dan di manapun. Kekacauan dan kehancuran dimana mana. Sepertinya dunia semakin mendekati akhirnya.
Perlahan Sera menghela nafas jengah atas apa yang terjadi. Ia tau bukan sepantasnya dirinya mengeluh, karena ada orang lain yang jauh lebih menderita dan menanggung beban yang sangat berat lebih dari dirinya.
Namun, bukankah pada hakikatnya manusia bisa merasa lelah kapan saja. Termasuk dirinya. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, dia terjebak dalam takdir baru yang sangat memenjara. Dalam perjalanan tumpang tindihnya waktu, setiap detik ia rasa hampa. Nyaris tak ada harapan bahkan saat Ivan yang selalu bersamanya selama sepuluh tahun ini menghilang begitu saja, dia mengira sudah tak memiliki harapan lagi untuk terus berlanjut dengan takdir yang rumit ini.
Namun siapa sangka, jika takdir sebenarnya menghendaki dirinya untuk menghentikan kekejaman dari kedamaian palsu yang diciptakan oleh para orang serakah yang hanya mengharap kekuasaan.
Setelah perjalanan singkat menembus waktu, Sera akhirnya mengerti alasan di balik semuanya. Dan semua kebenaran yang selama ini terkubur dibalik kilas kekejaman.
William Alexander Arexis.
Raja terakhir dari Kekaisaran tertinggi yang memberi perintah p*********n besar besaran. Di balik citra kejamnya yang tidak manusiawi tersimpan kenyataan yang rumit.
Dalam sejarah Kekaisaran tertinggi yang turun temurun diwarisi oleh bangsawan Arexis. Setiap raja yang pernah menjabat semua memiliki darah murni bangsawan Arexis. Kecuali, raja terakhir William Alexander yang merupakan keturunan campuran Arexis dan... Artois....
Di permukaan Arexis adalah pemimpinnya, namun sebenarnya Artois adalah penguasa sesungguhnya yang tak pernah diketahui dunia.
Para Artois menyadari akan kehancuran yang membayang bayangi dunia setiap saat. Sebagai pengendali di balik layar, penguasa sesungguhnya yang paling berkuasa mereka memilih melepas gelar itu. Bukan hanya melepas tapi menghapus sepenuhnya gelar Maharaja dari Kekaisaran tertinggi.
Itu disebabkan karena selama masih adanya kursi pemimpin untuk diperebutkan siapapun akan berlomba untuk mendapatkan nya dengan segala cara. Orang orang serakah yang hanya tau memiliki kekuasaan akan berbuat berbagai hal untuk mencapai tujuan mereka. Dengan begini lambat laun berbagai peperangan dan kehancuran tak dapat dihindari.
Satu satunya cara hanya dengan menghapus semua akar akar permasalahan yang akan menyebabkan kehancuran dimasa depan.
Dalam hal ini, tiga aliran besar masuk dalam daftar hitam penghapusan.
Pertama, p*********n ratusan tahun lalu di berbagai penjuru dunia. Aliran pertama, yang merupakan kunci dari semua nya. Clan Artois.
Kedua, p*********n seluruh bangsawan berdarah Arexis. Aliran kedua, yang merupakan komponen besar dalam perebutan kekuasaan. Clan Arexis.
Terakhir, para Ksatria hitam yang merupakan tangan kanan andalan Kerajaan dibantai habis habisan oleh Ksatria dari bangsa mereka sendiri. Aliran ketiga, yang memiliki kemungkinan akan mempelopori perang dan pemberontakan. Clan Ziom.
Raja William yang dikabarkan menghilang setelah tragedi berdarah itu, nyatanya mati diatas singgasananya dengan melepaskan semua beban dan tanggung jawab nya dengan terjadinya tragedi itu maka berakhir juga waktu nya di dunia ini.
Untuk selanjutnya,mencegah kehancuran lain di masa depan tugas itu ia limpahkan pada Ksatria terhebatnya. Kartu hitam yang menjadi kunci terselesaikannya semua misi misi berat itu.
Tangan kanan sekaligus juga putra tunggalnya dari seorang wanita Ziom yang setia. Seorang pangeran yang tak pernah di ketahui kehadirannya, yang memiliki tiga aliran dalam darahnya.
Arexis, Artois, Ziom. Dia...
Jayden Exander Arexis.
Selama ratusan tahun, ia telah mengalami reinkarnasi berkali kali dengan menyandang beban berat yang dilimpahkan untuknya seumur hidup. Dia di perintahkan untuk menunggu, menunggu, dan menunggu. Hingga kunci kedamaian itupun akhirnya datang.
Ratu terdahulu , yang menghilang dalam sejarah Artois.
Ahnsera Gillien Artois.
Yang bisa menghentikan kehancuran dan mewujudkan kedamaian.
Akhirnya kini telah bangkit kembali....
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, xxxxxx,,,,,,,,,,,,,,
????, 30 ???????? 2020
(14:14 ???)
????????