bc

Rahim Penggantiku, Adik Tiriku

book_age16+
117
IKUTI
1.4K
BACA
love-triangle
contract marriage
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
pregnant
boss
stepfather
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
brilliant
city
office/work place
childhood crush
lies
secrets
love at the first sight
affair
polygamy
addiction
like
intro-logo
Uraian

Khadijah dan Umar adalah sepasang suami istri yang kaya raya. Mereka merupakan pasangan yang saling mencintai dan sangat bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani. Namun kebahagiaan mereka terasa kurang karena belum adanya keturunan. Segala macam usaha telah mereka lakukan, namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya Khadijah berfikir untuk mencari rahim pengganti. Karena yang bermasalah hanya rahim Khadijah, sedangkan Umar tidak ada masalah apapun. Saat mereka sedang berdiskusi terkait hal tersebut, Aisyah adik tiri Khadijah mendengar dan diam-diam menawarkan diri untuk menjadi rahim pengganti. Bagaimana kelanjutan rencana Khadijah? Apakah dia akan menerima tawaran Adik tirinya? Dan apakah Umar mau menikahi Aisyah untuk mendapatkan keturunan?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - Ijab Qobul
"Saya nikahkan dan kawinkan putri saya yang bernama Aisyah Rahma Said binti Abdul Said dengan mas kawin 5 gram cincin emas di bayar tunai." "Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Rahma Said binti Abdul Said dengan mas kawin tersebut tunai." "Alhamdulillah, sah?" "Sah." Ucap yang berada di ruangan bersamaan. Aku menarik nafas panjang. Rasanya ternyata jauh lebih sakit. Aku mulai meneteskan air mata dan air mata tersebut mulai membasahi pipiku. Khawatir ada yang melihat, akupun segera menghapusnya. Bunda melihat ke arahku dan memberikan tissue. "Terima kasih Bunda." Aku tersenyum tipis. Bunda mengangguk, mengambil tangan sebelah kiriku dan mengelusnya perlahan. "Semangat sayang, kamu pasti bisa." "Iya Bunda." Abang Umar dan Aisyah saling menyematkan cincin. Setelah selesai, Pak Ustadz mulai mengucapkan kata penutup dan berdoa. Setelah itu meminta Aisyah mencium tangan Abang Umar dan Abang Umar mencium kening Aisyah. "Khadijah, kamu pulangnya di antar Bunda dan Ayah saja ya?" Aku menggelengkan kepala, "Tidak Bunda, aku naik taksi online saja. Aku tidak mau merepotkan Ayah." "Tidak ada yang merasa direpotkan Khadijah." "Lagipula akan lebih baik jika kamu pulang bersama kami." Ayah meyakinkan. "Aku.. Ingin sendiri Ayah." Ucapku sendu. Bunda menyentuh tanganku kembali dan mengelusnya untuk menenangkan, "Baiklah kalau begitu. Tapi jika kamu butuh kami, tolong hubungi Bunda segera ya sayang. Ingat tetaplah berfikir positif." "Baik Bunda, terima kasih. Aku pamit pulang duluan ya." "Iya sayang." Bunda memeluk tubuhku perlahan dan mencium lembut pipiku. Aku segera memesan taksi online dan ke luar masjid. Saat aku sedang menunggu, Abang Umar datang menghampiri dan meraih tanganku. "Apa kamu baik-baik saja Khadijah?" "Tentu Bang." Aku tersenyum tipis. Abang Umar memandang lekat kearahku, "Kamu tidak baik-baik saja Khadijah." "Abang tenang saja, insyaallah aku akan baik-baik saja." Abang Umar menggelengkan kepala dan memeluk erat tubuhku. Tidak sengaja air mataku menetes dan membasahi baju yang dikenakan Abang Umar. "Kita pulang sekarang ya." "Tidak Bang, aku sudah memesan taksi online. Abang bisa pulang bareng Aisyah dan Arfa hari ini." Aku melepas pelukkanku perlahan dan memperlihatkan ponselku yang telah memesan taksi online. Aisyah dan Arfa menghampiri kami sambil membawa 2 buah koper. Aku dan Abang Umar saling pandang dan mengerutkan kening. Seolah membaca pikiran kami, Aisyahpun menjelaskan kalau tadi dia dan Arfa menumpang di mobil Ayah dan Bunda dan sekarang Ayah Bunda sudah pulang terlebih dahulu. Makanya membawa koper tersebut. Beberapa saat kemudian, taksi onlineku datang. Lalu aku pamit pulang dan salaman dengan Abang Umar. Alhamdulillah perjalanan pulang sangat lancar. Setelah sampai di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Lalu membaringkan badan di atas ranjang. Air mata kembali menetes dan membasahi pipiku. Lagi-lagi rasa sesak ini kembali datang. Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diri tapi rasa sakit ini tetap terasa. Padahal aku sudah mencoba mempersiapkan diri tapi kenapa semua terasa lebih sakit ya Allah. Perlahan aku menutup kedua mataku karena lelah menangis. Sepertinya aku sudah tidur cukup lama. Namun rasanya ada kehangatan yang memeluk tubuhku seperti biasanya. Akupun mulai membuka mata perlahan dan berbalik ke arah kehangatan yang sudah biasa aku dapatkan. Akupun mengerutkan kening dan membesarkan kedua bola mataku untuk memastikan siapa yang ada di sampingku saat ini. Abang Umar? Kenapa dia kesini? Apa dia segitu khawatirnya padaku? Batinku. Akupun memandang wajah Abang Umar dengan seksama hingga akhirnya dia terbangun dan membuka kedua matanya perlahan. Sepertinya Abang Umar terganggu karena merasa diperhatikan. "Assalamualaikum bidadariku." "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Abang kok ada di sini?" Abang Umar mengerutkan kening, "Bukankah ini rumahku dan kamu adalah istriku? Jadi wajar kan kalau aku ada di sini?" Akupun bangkit dari tidurku dan duduk di samping Abang Umar. "Iya Bang, tapi kan harusnya kamu bersama Aisyah hari ini? Memang Aisyah mengizinkan kamu?" "Aku laki-laki Khadijah, aku yang memutuskan." Tegas Abang Umar. "Baiklah kalau begitu." Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. "Apa kamu marah bidadariku?" "Aku mau ke toilet sebentar Bang." Selesai dari toilet, aku segera ke luar dan mendapati Abang Umar sedang membuka ponsel. "Bang..." "Iya bidadariku." "Maaf Bang, aku mau tanya, saat kamu pergi ke sini apakah Aisyah dan Arfa tahu?" "Tahu kok. Lagipula aku sudah berjanji kepada mereka akan kembali sore ini." Aku membulatkan mulutku, "Owh begitu, baiklah. Kamu mau makan siang bersamaku Bang?" "Tentu bidadariku." Kamipun segera berjalan ke luar kamar untuk makan siang bersama. Namun berapa terkejutnya kami saat sampai di meja makan ada 2 orang yang kami kenal dan sudah menjadi bagian dari kami per hari ini sedang duduk dan mulai mengambil makanan serta minuman. "Aisyah, Arfa? Kalian ada di sini?" Abang Umar menatap tajam kearah Aisyah. Tapi Aisyah tidak terlalu memperdulikannya. Aku dan Abang Umar menghampiri Aisyah dan Arfa lalu duduk di meja makan. Akupun mulai mengambil makanan dan minuman. Setelah itu aku menaruhnya di depan Abang Umar dan diriku sendiri. Akupun duduk di samping Abang Umar. "Maaf ya Aisyah, Abang Umar meninggalkan kamu di hari pernikahan kalian. Sepertinya dia sangat khawatir denganku. Aku harap kamu berkenan memaafkannya Aisyah." "Tidak apa-apa Kak. Aku dan Arfa kesini untuk segera menyelesaikan misi kita bukan hal-hal yang melelahkan hati seperti itu." Aisyah tersenyum tipis. Aku dan Abang Umar saling pandang untuk mencoba mencerna ucapan Aisyah. Menyelesaikan misi? Apa maksud Aisyah? Tapi ini kan di rumah aku dan Abang Umar. Masa mereka mau melakukan hubungan suami istri di sini? Batinku. "Kita jalankan misi tersebut di rumah yang telah saya siapkan untuk kamu dan Arfa. Saya harap kamu bisa paham dan mengerti kondisi Kakakmu sendiri Aisyah, jika kita melakukannya di sini." Ucap Abang Umar datar sambil menyuap makan siangnya. Aku melihat ke arah Abang Umar dan Aisyah bergantian. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Terasa sekali ada tembok yang besar diantara mereka berdua. Terlebih yang membuat jarak tersebut adalah suamiku sendiri, Abang Umar. Seharusnya tidak boleh seperti ini, bukankah mereka harusnya bekerja sama untuk segera mendapatkan keturunan? Aku menyentuh dan mengelus punggung tangan Abang Umar dengan lembut lalu tersenyum dan menatap wajahnya. Ini adalah cara yang biasa aku gunakan untuk meredakan amarahnya. Alhamdulillah, kali inipun berhasil. Abang Umar tersenyum padaku dan melanjutkan makan siangnya. "Kita lanjut makan siang dulu ya Aisyah. Terkait misi tersebut, kita bahas nanti. Lagipula ada Arfa, kasihan dia masih belum bisa mencerna pembicaraan kita dengan baik." "Aku hanya ingin Abang Umar menghargaiku sebagai seorang istri Kak, walau hanya sebagai ra..." "Sudah cukup Aisyah, aku paham dan mengerti perasaanmu saat ini. Nanti kita bahas selesai makan siang di ruang tamu." Ucap Abang Umar tegas. Aku terdiam dan kami kembali menghabiskan makan siang masing-masing. Setelah selesai, aku memanggil salah satu asisten rumah tanggaku untuk menemani Arfa bermain di taman. Aku, Abang Umar, dan Aisyah berjalan beriringan menuju ruang tamu dan duduk di sofa. Aku duduk di samping Abang Umar, sedangkan Aisyah duduk dihadapanku. "Sebenarnya ada apa ini? Apa kamu bisa menjelaskannya Aisyah?" Aisyah menarik nafas panjang, "Aku hanya ingin dihargai oleh Abang Umar Kak." Aisyah menatap nanar ke arah Abang Umar. "Memang Abang Umar kenapa?" Aku melihat ke arah Abang Umar dan dia mengedikkan bahunya seolah tidak paham apa yang diucapkan Aisyah. "Abang Umar melihat aku seperti perempuan murahan Kak. Terlebih saat aku menggunakan pakaian mini dan hendak melayani layaknya seorang istri sholehah. Abang Umar malah beristighfar dan pergi begitu saja meninggalkan aku sendirian di kamar." Aku menarik nafas panjang, "Sepertinya kamu salah paham Aisyah, Abang Umar memang sudah terbiasa menjaga pandangannya untukku. Jadi mungkin Abang Umar butuh waktu untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang suami." Aku memandang wajah Abang Umar yang tetap tenang. "Aku paham Kak, aku hanya ingin segera hamil dan menyelesaikan misi sebagai Rahim Pengganti dengan cepat. Sehingga aku bisa segera melanjutkan kehidupan aku dan Arfa kembali." "Sabar Aisyah, kita baru saja memulainya. InsyaAllah semua akan segera selesai sesuai waktunya jika Allah SWT berkehendak." Aku berjalan menghampiri Aisyah dan duduk di sampingnya. Aisyah menunduk seolah menyesali perbuatannya, "Iya Kak, maaf kalau aku terkesan tidak sabar padahal aku yang menawarkan diri untuk menjadi rahim pengganti untukmu Kak. Aku.." "Sudahlah tidak apa-apa Aisyah, sekarang kamu kembali ke rumah ya? Aku pesankan taksi online sekarang. Dan insyaAllah Abang Umar akan segera mendatangimu." Aku tersenyum tipis. "Iya Kak, maaf sudah mengganggu waktu Kakak dan Abang Umar." Aisyah memandang aku dan Abang Umar bergantian. "Tidak masalah Aisyah." Aku segera memesan taksi online dan meminta salah satu asisten rumah tangga memanggil Arfa untuk kembali ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Arfa datang dan menghampiri Aisyah. Taksi onlinepun sudah datang. Aku mengantar Aisyah dan Arfa ke luar rumah hingga mereka naik. Setelah taksi online tersebut melajukan mobilnya dan sudah tidak terlihat pandanganku, aku kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan kembali menuju ruang tamu tempat Abang Umar berada. Abang Umar masih berada di tempatnya sambil memainkan ponsel tanpa terusik sedikitpun dengan kejadian tadi. "Bang.." "Iya bidadariku." Abang Umar tersenyum lembut dan melihat ke arahku. Beda sekali dengan sikapnya pada Aisyah tadi. Akupun duduk di pangkuan Abang Umar dan mengalungkan kedua tanganku di lehernya untuk mengalihkan fokus Abang Umar dari ponsel kepadaku. "Apa kamu menggodaku Khadijah?" Abang Umar tersenyum. Aku menggeleng cepat, "Apa kamu membenci Aisyah Bang?" Abang Umar mengerutkan kening, "Tentu saja tidak bidadariku, aku hanya tidak nyaman bersamanya. Terlebih ketika dia berpakaian terbuka dan mencoba menggodaku. Astaghfirullah." Aku terkekeh, "Tapi dia istrimu Bang, dan dia juga memiliki hak atas diri kamu. Lagipula, Aisyah cantik dan menarik bukan? Apa kamu yakin tidak tergoda olehnya?" Aku memicingkan sebelah mataku sambil menyentuh hidung Abang Umar dengan jari telunjukku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook