Syarat Warisan Terakhir

1459 Kata
Di ruang kerja Mahesa Atmajaya yang kini dijadikan arsip pribadi, debu tipis menutupi meja kayu jati tua, rak-rak penuh dokumen, dan sebuah potret besar keluarga yang tergantung di dinding. Leonard berdiri mematung di hadapan potret itu. Wajah ayahnya tersenyum penuh kemenangan, berdiri di belakang Leonard remaja, dan wanita muda yang pernah disebut sebagai ibu tiri yang entah kemana setelah Mahesa meninggal dunia. “Ayah tidak pernah mencintai siapa pun… bahkan dirinya sendiri,” gumam Leonard pelan. Di tangannya, ia memegang berkas baru yang ditemukan pengacaranya: dokumen tambahan warisan. Ada syarat lanjutan yang tidak disebutkan sebelumnya. Dalam waktu enam bulan, Leonard tidak hanya harus mempertahankan pernikahan itu, tapi juga menunjukkan stabilitas keluarga dan penguatan posisi sebagai pemimpin tunggal grup Atmajaya di tengah tekanan internal dan eksternal. Jika gagal… Warisan dan saham kepemilikan utama akan jatuh ke Aurora Santosa. Leonard mengepal tangannya. Ayahnya memang sudah mati, tapi cengkeramannya masih terasa seperti jerat yang tak bisa dipatahkan. *** Di ruang kerja Nayla, ponselnya berdering. Nama pengirim: Alvaro Rasyid. Nayla tidak langsung mengangkatnya. Sudah tiga kali Alvaro menghubunginya sejak pernikahannya dengan Leonard diumumkan. Ia tahu pria itu tidak akan diam saja. Panggilan keempat datang. Ia akhirnya menjawab. "Nayla." "Alvaro," sahut Nayla dingin. "Jadi ini keputusanmu? Menikah dengan pria yang menghancurkan keluargamu?" “Kau tidak tahu semua faktanya.” “Aku tahu cukup untuk memahami bahwa kau sedang menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam istana monster.” Nayla terdiam sesaat. Alvaro adalah pria dari masa lalunya, satu-satunya orang yang tahu kebenaran tentang kematian ayahnya dan satu-satunya yang tahu rencana awal Nayla: masuk ke keluarga Atmajaya untuk menghancurkan mereka dari dalam. “Sudah terlambat untuk menilai, Al,” jawab Nayla lirih. “Aku sudah ada di dalam. Dan sekarang, aku harus memilih jalanku sendiri.” “Aku hanya ingin kau tahu… Aurora tidak akan tinggal diam. Dia bukan hanya ingin Leonard. Dia ingin segalanya. Termasuk kamu, jika perlu untuk dibinasakan.” *** Sementara itu, Aurora sedang berdiri di sebuah lounge pribadi di kantor pusat, bersama seorang pria paruh baya berpakaian mahal. Wajahnya asing, tapi matanya menyimpan rencana. “Kau yakin Leonard tidak akan curiga dengan manuver kita?” tanya pria itu. Aurora menyeruput wine merahnya. “Dia mungkin CEO, tapi dia sendirian. Dia pikir dengan menikahi wanita kelas menengah dia bisa membentuk pertahanan emosional. Tapi Nayla bukan perisai… dia adalah celah.” Pria itu menyeringai. “Kalau begitu, kita gunakan celah itu.” Aurora tersenyum tipis. “Dan ketika waktunya tiba… semuanya akan jatuh ke tanganku. Termasuk Leonard.” *** Malam itu, Leonard pulang lebih awal. Hujan turun deras di luar. Nayla duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuan, jari-jarinya berhenti mengetik saat melihat pria itu masuk. “Kau kelihatan lelah,” katanya pelan. Leonard melepas jas dan melemparkannya ke sofa. Ia duduk tanpa kata. Wajahnya keras. “Ayahku memang jenius,” katanya tiba-tiba. “Dia bahkan tahu bagaimana memanipulasi warisan setelah dia mati.” Nayla menutup laptopnya. “Apa yang terjadi?” Leonard menatapnya dalam. “Ada syarat tambahan. Aku harus mempertahankan pernikahan ini enam bulan, menjaga stabilitas perusahaan, dan—” dia berhenti sesaat, suaranya menegang, “jika gagal, semua saham jatuh ke Aurora.” Nayla tidak terkejut. Sebagian dirinya sudah menduga akan ada kelicikan semacam itu. “Dia memang jahat,” ucap Nayla lirih. “Tapi dia juga tahu bahwa kelemahan terbesarku bukan Aurora, bukan komisaris, bukan investor…” Leonard menatap Nayla. “Tapi rasa percaya. Sesuatu yang tak pernah aku pelajari.” Nayla berdiri perlahan, menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya. Jarak mereka sangat dekat. “Kita bisa membentuk kepercayaan, Leonard,” ucapnya pelan. “Tapi hanya jika kau berhenti melihatku sebagai ancaman.” “Kau bukan ancaman,” jawab Leonard. “Kau adalah bahaya.” Nayla tersenyum samar. “Lalu kenapa kau tetap membiarkanku di sini?” Leonard terdiam. Hujan semakin deras di luar. Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin karena ia butuh Nayla lebih dari yang ia sadari. Atau mungkin… karena Nayla satu-satunya orang yang tidak memohon untuk dicintai olehnya. Ia berdiri. “Kita punya enam bulan. Mulai sekarang, aku akan memberimu akses penuh ke semua proyek, data, dan rapat sebagai istriku. Tapi dengan satu syarat.” Nayla menatapnya. “Apa?” “Jika kau mengkhianatiku… aku akan menghancurkanmu lebih kejam dari siapa pun.” Ada jeda. Tapi Nayla tidak gentar. “Kalau begitu, pastikan kamu tak memberi alasan untuk dikhianati.” *** Di lantai bawah gedung Atmajaya Corp, seorang pria bertopi hitam menyerahkan sebuah amplop kepada petugas keamanan. Di dalamnya: foto-foto Nayla bertemu Alvaro di sebuah kafe dua minggu lalu. Di pojok kanan bawah salah satu foto, ada tulisan kecil: “Sang pewaris tidak tahu... siapa sebenarnya wanita yang tidur di ranjangnya.” Dan permainan pun dimulai. *** Leonard tidak bisa tidur malam itu. Hujan masih membasahi kaca besar di balik ranjang mereka. Di sisi lain tempat tidur, Nayla tertidur menghadap dinding, tubuhnya terbungkus selimut tipis. Sejak pernikahan mereka, ini malam kelima mereka berbagi ranjang secara teknis. Tapi keduanya tahu: tidak ada keintiman, tidak ada kehangatan. Hanya ranjang… dan dua orang asing dengan rahasia masing-masing. Leonard bangkit pelan, berjalan ke ruang kerja pribadinya. Ia membuka brankas kecil, mengeluarkan map berlabel merah: “Klausul Warisan Tambahan – Bersifat Tertutup.” Isinya lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Salah satu poin terakhir surat Mahesa berbunyi: “Jika dalam enam bulan kau menunjukkan kelemahan, rasa percaya pada pasanganmu, atau memberi akses kepemimpinan pada siapa pun di luar keluarga inti, maka sahammu akan dialihkan. Kau bukan pewaris sejati jika membiarkan hatimu membutakanmu dari kuasa.” Leonard mengatupkan rahangnya. Mahesa sudah menebaknya sejak lama. Ia tahu bahwa saat Leonard mulai percaya pada seseorang terutama seorang wanita itulah titik terlemahnya. Ayahnya tahu Nayla bukan hanya istri kontrak, tapi potensi bahaya bagi dinasti. Dan Mahesa telah menyiapkan jebakan terakhirnya melalui warisan. *** Pagi hari, Nayla terbangun lebih dulu. Tapi kali ini, ranjang sebelahnya kosong. Ia berjalan ke dapur, namun Leonard tidak ada di sana. Ia menemukannya di ruang kerja, duduk dalam kegelapan dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan, hanya diputar-putar di antara jari-jarinya. “Sudah lama bangun?” tanya Nayla pelan. “Tidak tidur,” jawab Leonard datar. Nayla memperhatikannya sesaat. Ada gurat lelah di wajah Leonard yang tidak biasa. Matanya merah, tapi bukan karena menangis melainkan karena terlalu banyak menahan diri. “Kau membaca sesuatu tadi malam,” tebak Nayla. “Apa ada yang tidak kau ceritakan padaku?” Leonard menoleh. “Kau pikir semua ini hanya tentang warisan? Ini lebih dari sekadar uang, Nayla. Ini tentang harga diriku, eksistensiku, tentang... apakah aku layak meneruskan nama ini.” “Kau takut kehilangan?” “Tidak.” Leonard berdiri, mendekat. “Yang kutakutkan... adalah kehilangan diriku sendiri saat mencoba mempertahankan semuanya.” Nayla terdiam. Leonard melanjutkan, “Ayahku tidak percaya cinta. Dia pikir rasa percaya adalah kesalahan termahal manusia. Dan aku hidup di bawah ajarannya sejak remaja. Tapi kemudian datang kamu… dan tanpa sadar aku mulai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu.” “Seperti memberiku kepercayaan?” tanya Nayla lembut. “Seperti membiarkanmu melihat sisi lemahku,” jawabnya nyaris berbisik. Nayla berjalan pelan mendekat, berdiri tepat di depannya. “Mungkin sisi lemahlah yang membuatmu manusia, Leonard. Bukan pewaris. Bukan CEO. Tapi lelaki yang hidup, bukan hanya bertahan.” Untuk sesaat, Leonard ingin menyentuh wajahnya, menariknya ke pelukannya. Tapi ia hanya menggenggam jemarinya perlahan, mengujinya. Dan saat Nayla tidak menarik diri, ia tahu: tembok itu mulai retak. Namun belum sempat ia bicara lebih jauh, suara notifikasi dari tablet kerjanya berbunyi. Sebuah email anonim masuk dengan lampiran gambar: Nayla — bersama Alvaro — di sebuah kafe malam hari. Leonard membeku. Dadanya terasa dihantam palu. Ia menatap Nayla. “Kau bertemu Alvaro sebelum kita menikah?” Nayla terlihat bingung. “Iya... dua minggu sebelum akad. Tapi aku bisa jelaskan—” Leonard melempar tabletnya ke sofa. Suaranya menegang. “Kau bilang tidak punya hubungan apa-apa sebelum ini. Tapi kau tidak cerita tentang dia. Siapa dia sebenarnya?” “Alvaro pernah dekat denganku. Tapi lebih dari itu… dia juga tahu tentang keluargaku, tentang merger yang menghancurkan hidup kami. Dia bagian dari masa lalu, bukan masa kini.” Leonard menatapnya tajam. “Lalu kenapa fotonya muncul sekarang? Kau pikir aku akan percaya ini kebetulan?” Nayla melangkah maju. “Kalau memang aku berbohong, kenapa aku tidak sembunyikan pertemuan itu darimu? Aku tidak menghapus chat, tidak menghapus riwayat.” Leonard menghela napas keras, penuh konflik. “Aku tidak bisa membedakan lagi mana yang nyata, mana yang bagian dari rencana. Dan sialnya... aku sudah terlalu jauh mempercayaimu.” Nayla memandangnya dalam. “Kalau begitu, tentukan sekarang. Apakah aku bagian dari jalanmu… atau bagian dari kehancuranmu.” Leonard tak menjawab. Tapi ketika ia akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Nayla sendirian di ruang kerja itu, satu hal jadi jelas: Warisan ini bukan lagi tentang kekuasaan. Tapi tentang siapa yang akan bertahan… dan siapa yang akan jatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN