Nayla berdiri di depan kaca besar kamarnya, mengenakan piyama satin abu muda, sambil memandangi bayangan hujan malam yang turun di luar. Kamar itu luas, mewah, dan berkilau oleh cahaya remang kekuningan dari lampu tidur. Tapi semuanya terasa… kosong.
Ranjang king-size di belakangnya masih dingin. Tak terpakai.
Sudah seminggu sejak pertengkaran mereka tentang Alvaro. Dan sejak saat itu, Leonard tidur di kamar tamu lantai bawah. Tidak ada obrolan pribadi, tidak ada sentuhan. Hanya formalitas di depan media dan rapat pasangan sempurna yang saling percaya. Kenyataannya, mereka adalah dua orang asing yang membangun benteng tinggi, masing-masing takut disentuh kebenaran.
Nayla menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Ia menghela napas dan berjalan ke sana, lalu diam sebentar di baliknya. Ia ingin mengetuk. Ingin menjelaskan semuanya.
Tapi apa yang bisa ia jelaskan, jika hatinya sendiri masih bingung?
***
Di kamar tamu, Leonard duduk di sofa kecil, membuka kembali dokumen merger lama, kali ini dengan catatan tangan Mahesa yang disalin ulang oleh tim legal. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena percaya terlalu cepat. Dan ia belum bisa memaafkan Nayla karena tidak jujur sejak awal.
Tapi setiap kali mengingat wajah Nayla tenang tapi menyimpan luka, keras tapi penuh teka-teki ada bagian dalam dirinya yang berontak.
Dia berbohong. Tapi tidak menjualmu. Belum tentu mengkhianatimu.
Leonard menutup map, memejamkan mata. Tapi yang muncul justru bayangan tubuh Nayla, tidur meringkuk sendirian di ranjang yang ia tinggalkan.
Dan tiba-tiba... ia merasa seperti pengecut.
***
Esok paginya, Nayla bangun dengan kepala berat. Ia tidak tidur nyenyak. Mimpi buruk menghantuinya tentang masa kecilnya, kematian ayahnya, dan suara-suara sinis yang mengatakan bahwa ia tidak pantas berada di dunia orang-orang kuat.
Saat ia turun ke dapur, Leonard sudah di sana, mengenakan kemeja putih dan dasi abu, wajahnya kembali seperti biasa: maskulin, tenang, dan tak terbaca.
“Kau tidak perlu membuat kopi pagi ini,” katanya tanpa menoleh.
Nayla mendekat, mengambil cangkir, dan duduk di seberangnya. “Tapi aku sudah terbiasa dengan rasa pahit di pagi hari.”
Leonard meliriknya. “Aku tidak suka basa-basi.”
“Bagus. Karena aku tidak sedang mencoba memikatmu,” jawab Nayla sambil menyesap kopinya.
“Kita tidak bisa terus seperti ini,” ucap Leonard akhirnya. “Kau tidak percaya padaku. Dan aku… terlalu sulit untuk memercayai siapa pun.”
“Kepercayaan bukan datang dari perintah, Leonard,” Nayla berkata lembut. “Itu dibangun dari kejujuran kecil yang konsisten. Dan aku tahu aku salah karena tidak cerita soal Alvaro. Tapi aku tidak pernah berniat menusukmu dari belakang.”
Leonard menatap matanya. Lama. Dalam. Seolah mencoba menggali semua kepalsuan dan kebenaran dari satu tatapan.
“Kau tahu,” katanya pelan, “dulu ayahku tidur dengan semua wanita yang membuatnya takut kehilangan kendali. Dan ibuku? Ia kabur setelah tahu ia bukan satu-satunya.”
Nayla menggenggam cangkirnya erat.
“Sejak itu, aku pikir... mungkin satu-satunya cara agar aku tak dikhianati adalah dengan tidak memberi siapa pun ruang untuk masuk ke kehidupanku.”
“Dan sekarang?”
Leonard menunduk. “Sekarang aku tidak tahu. Mungkin aku terlalu jauh masuk ke permainan ini.”
***
Hari itu, Nayla kembali menjalankan perannya sebagai istri CEO. Ia ikut menghadiri presentasi proyek pembangunan baru Atmajaya Corp di hadapan para petinggi pemerintah. Di balik senyum dan penampilan anggun, ia bisa merasakan tekanan dari semua arah mata Aurora yang menyala-nyala dari barisan tamu, tatapan sinis komisaris, bahkan para istri konglomerat yang bisik-bisik saat melihat penampilannya.
Mereka tak percaya Nayla bisa berdiri di sisi Leonard. Tapi ia tidak peduli.
Hingga sebuah bisikan menyusup dari belakang seorang wanita paruh baya yang mendekatinya saat break makan siang.
“Kau pikir kau aman, Nona?”
Nayla menoleh. Wanita itu elegan, mengenakan perhiasan minimalis tapi mewah.
“Maaf?”
“Leonard itu... pewaris berdarah dingin. Tapi kamu... kamu wanita yang tidak seharusnya menyentuh tahta itu.”
Nayla menegakkan bahunya. “Siapa Anda?”
Wanita itu tersenyum. “Panggil aku Tante Regina. Aku... mantan ibu tirinya.”
Jantung Nayla berhenti sesaat.
Wanita itu melanjutkan pelan. “Leonard tidak akan pernah bisa mencintai siapa pun. Dia dilatih untuk mencurigai, bukan mencintai. Dan kamu… kamu terlalu berani masuk ke dunianya.”
Sebelum Nayla sempat menjawab, Tante Regina sudah berjalan menjauh, meninggalkan Nayla dalam gelombang kegelisahan baru.
***
Malamnya, saat hujan turun lagi, Nayla kembali berdiri di balkon. Ranjang mereka tetap dingin. Tapi jiwanya semakin panas oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Leonard mendekat perlahan, membawa jaket hangat dan menyampirkannya ke pundaknya. Tapi kali ini, ia tidak hanya diam.
“Aku ingin tidur di kamar ini malam ini,” katanya.
Nayla menoleh. “Untuk apa? Membuktikan pada media bahwa kita tidak sedang berpisah ranjang?”
Leonard menggeleng. “Untuk membuktikan pada diriku sendiri... bahwa aku bisa mempercayaimu.”
Nayla menatapnya lama. Dan akhirnya berkata lirih, “Kalau begitu... jangan hanya tidur di ranjangku, Leonard. Masuklah ke pikiranku. Lihat aku bukan sebagai ancaman… tapi sebagai seseorang yang punya luka juga.”
Leonard mengangguk pelan. Mereka masuk ke kamar bersama.
Tidak ada ciuman malam itu. Tidak ada sentuhan liar atau gairah meledak-ledak. Hanya dua tubuh yang tidur berdampingan, saling membelakangi, tapi tahu… bahwa langkah kecil ini mungkin awal dari kehangatan yang perlahan mencairkan ranjang yang dingin.
Dan di luar sana, rahasia-rahasia masih menunggu waktu untuk meledak.
***
Pagi menyapa dengan hangat, namun udara di kamar masih terasa janggal. Meski Leonard telah tidur kembali di kamar yang sama, jarak di antara mereka seperti garis tak kasat mata yang belum bisa diseberangi. Nayla membuka mata dan mendapati punggung Leonard menghadapnya. Napasnya stabil, seperti seseorang yang tidur nyenyak. Tapi ia tahu: tidur Leonard bukan karena damai, melainkan lelah menghadapi perang batin.
Ia duduk perlahan, menarik selimut, dan menatap ke luar jendela. Jakarta masih mendung. Hujan semalam belum sepenuhnya berhenti.
Ia teringat kembali pada pertemuannya dengan Tante Regina kemarin. Wanita itu adalah teka-teki baru yang harus ia pecahkan. Mengapa tiba-tiba muncul sekarang? Apa motifnya? Dan bagaimana peran wanita itu dalam masa lalu Leonard?
Nayla turun ke ruang makan, berharap bisa berpikir jernih sambil menyeduh teh. Tapi di sana, sudah ada sekretaris pribadi Leonard, Jovana wanita cantik berambut hitam lurus yang selalu bersikap terlalu ramah untuk ukuran staf.
“Selamat pagi, Bu Nayla,” ucap Jovana dengan senyum dingin.
Nayla membalas dengan anggukan. “Pagi.”
“Pak Leonard minta saya antar laporan keuangan bulan lalu. Sekalian menyerahkan undangan gala makan malam dari pihak luar negeri.”
“Gala?” Nayla memiringkan kepala. “Kenapa aku tidak tahu?”
Jovana tersenyum, lalu berkata pelan. “Karena biasanya... istri CEO sebelumnya tidak ikut.”
Nada itu jelas mengandung sindiran. Tapi Nayla tidak terpancing.
“Aku bukan istri CEO sebelumnya,” sahutnya tenang. “Aku adalah istri sekarang. Dan kau sebaiknya tidak lupa posisi siapa yang lebih tinggi di rumah ini.”
Jovana menunduk sopan, tapi jelas tak sepenuh hati. Ia meletakkan dokumen dan pamit.
Nayla membuka undangan gala. Tertulis nama Aurora sebagai salah satu tuan rumah. Ia mencibir pelan.
Tentu saja. Gala ini jebakan.
***
Sore itu, Nayla menyambangi Leonard di ruang kerja lantai atas.
“Kau akan ke gala itu?” tanyanya langsung.
Leonard mengangguk. “Wajib hadir. Investor Jepang dan Swiss akan datang. Mereka ingin lihat wajah ‘istri CEO’ yang sedang jadi buah bibir.”
“Dan Aurora?”
“Akan ada di sana. Sudah pasti.”
Nayla duduk, menatap Leonard lurus. “Kalau begitu aku harus hadir. Tak peduli berapa banyak yang ingin menjatuhkanku, aku tidak akan mundur.”
Leonard menatapnya, sedikit lega dan juga khawatir. “Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu.”
“Aku tidak butuh perlindunganmu, Leonard,” ucap Nayla pelan. “Aku butuh kejujuranmu.”
***
Malamnya, mereka makan malam bersama. Untuk pertama kalinya tanpa canggung. Obrolan mengalir meski tak selalu hangat. Tapi ada jeda-jeda kecil, di mana tatapan mereka bertemu dan tidak saling berpaling.
“Aku bicara dengan seseorang hari ini,” ujar Nayla akhirnya.
Leonard mengangkat alis. “Siapa?”
“Tante Regina.”
Sendok di tangan Leonard berhenti.
“Dia bilang... kau tidak bisa mencintai.”
Leonard meneguk air. “Dia tidak tahu apa pun.”
“Lalu apakah kamu percaya cinta itu kelemahan?”
Leonard menatap Nayla lekat. “Cinta bisa jadi kelemahan, jika salah tempat. Tapi di tangan yang tepat... cinta bisa jadi senjata paling mematikan.”
Ada kesunyian di antara mereka.
Nayla menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. “Kalau begitu... mungkin aku harus belajar jadi pembunuh yang tenang.”
Leonard tersenyum miring. “Kau sudah jadi itu sejak pertama kau masuk ke hidupku.”
***
Malam itu, mereka kembali ke kamar. Leonard lebih dulu masuk ke kamar mandi. Saat ia keluar, ia melihat Nayla sudah berbaring, matanya terpejam tapi napasnya gelisah. Bukan tidur yang damai.
Ia naik ke ranjang, lalu berbaring di sampingnya. Sunyi. Tapi terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Pelan-pelan, Leonard memutar tubuh, membelakangi ketegangan, dan mencoba tidur.
Tapi kemudian ia merasakan tangan Nayla menyentuh punggungnya. Ringan. Tidak mendesak. Hanya menyentuh.
“Kalau kamu terus takut percaya,” bisik Nayla, “kau akan kehilangan lebih dari sekadar warisan.”
Leonard tak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan mereka…
ia tidak lagi merasa sendirian di ranjang dingin itu.
Dan di luar sana, badai baru sedang menanti mereka di gala makan malam…
Tempat semua topeng akan jatuh satu per satu.