"Apa? Rania yang tidak tahu apapun itu menjadi direktur?" teriak Mama tidak percaya suaranya bahkan sudah seperti kaca pecah. Begitu pun dengan Sukma, dia mendadak diam. "Kamu pasti bohong, Riko!" tuduhnya. "Ma, untuk apa aku bohong? Apa keuntunganku?” tanyaku heran. Bisa-bisanya Mama menuduhku berbohong. Padahal jelas-jelas aku tidak pernah melakukan sifat tercela itu. Mama terlihat berpikir sejenak. "Bisa saja biar kita setuju kamu balikan sama dia, kan?" tuduhnya lagi. "Enggak, Ma. Ini kenyataan!" seruku kesal. Kalau tahu akan begini, mending aku tidak cerita aja tadi. Nyesel. "Eh Riko, mau kemana kamu?" teriaknya, ketika aku melangkah ke kamar. "Tidur!" "Gak sopan!" Dapat kudengar Mama terus menggerutu. "Sukma, apa kamu percaya kalau Rania menjadi direktur?" tanya Mama yang

