"Hari ini aku bahkan ragu untuk pergi ke kantor, apalagi menyampaikan salam dari Mama kepada Rania. Enggak mungkin banget. Kecuali kalau aku punya kesempatan berduaan. Baru. "Kenapa kamu Riko, mau bolos?" tanya Mama sinis. Daripada mendengar perkataannya yang tidak-tidak, aku lebih baik ke kantor. Meskipun nanti harus menanggung malu. Mau bagaimana lagi. "Seriusan Rania direktur baru kita itu mantan istrimu?" todong Randy ketika aku baru saja turun dari mobil. "Gak ada urusan." jawabku ketus. Padahal ingin aku mengakui dengan bangga kalau Rania adalah istriku. Karena kita belum bercerai secara resmi atau sah. Tapi enggak bisa. Semuanya terasa seperti tali yang mengikatku kuat. "Cie ... baper. Cuman masalahnya benar gak tuh?" tanyanya membuat napasku naik turun. "Maksudmu apa?" tanyak

