pertemuan
bruk,,,,,
tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya tentu saja membuat Lidya kaget dan membuatnya terjatuh begitu juga pria itu, dengan spontan Lidya mendorong tubuh pria itu yang jatuh tepat di atas tubuhnya
"tuan, kalau jalan hati-hati" ucapnya sambil mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya.
pria yang setengah mabuk itu tentu saja tidak merespon perkataan Lidya, dia hanya tergeletak di lantai dengan baju yang sudah berantakan.
Lidya yang sudah berdiri sambil merapihkan pakaian segera menoleh ke arah pria yang beberapa saat lalu menabraknya, seketika dia merasa heran karena ternyata pria itu sudah tidak sadarkan diri.
Lidya yang tidak tega segera berjongkok kembali memastikan bahwa pria itu baik-baik saja, namun setelah beberapa kali dia mencoba menyadarkannya namun pria itu tidak kunjung sadar juga hingga membuat Lidya tampak bingung.
dia segera melihat sekeliling namun tidak ada satu orang pun yang lewat membuatnya semakin bingung apalagi dia hanya seorang wanita bagaimana dia membantu pria itu, setelah cukup lama berpikir akhirnya Lidya memutuskan untuk membantunya.
namun sejenak dia berpikir harus kemana membawa pria itu, apalagi dia sama sekali tidak mengenalnya bahkan dia tidak tahu dari mana pria itu datang.
"ya ampun berat banget sih ini cowok." gerutu Lidya yang sudah membantu pria itu untuk bangun.
namun tiba-tiba sesaat kemudian pria itu tersadar saat Lidya telah memapahnya, sontak Lidya senang karena pria asing itu sudah tersadar.
huek....huek...
tiba-tiba pria itu muntah dan mengenai baju yang dikenakan oleh Lidya seketika membuat Lidya kaget dan reflek menjatuhkan pria itu lagi.
"kenapa kamu malah muntah di baju aku" ucap Lidya dengan sedikit kesal.
"sorry gue tidak sengaja" seru pria yang terjatuh kembali akibat Lidya reflek tadi mendorong pria itu.
kini Lidya tampak bingung karena sekarang baju dia pun sudah kotor, berbeda dengan farel yang memang merasakan kepalanya sangat pusing dan berat akibat pengaruh minuman yang tadi dia minum di acara ulang tahun sahabatnya.
Lidya Rahmawati, gadis yang berusia 22 tahun terlahir dari keluarga sederhana membuatnya harus pergi merantau ke kota untuk bekerja demi membantu Kedua orang tuanya yang berada di kampung. walau dia harus merelakan masa mudanya untuk bekerja namun itu tidak membuatnya berkecil hati karena baginya kebahagian kedua orang tuanya adalah segalanya baginya.
farel segera berdiri dengan sisa tenaga yang dia miliki, tentunya dia ingin meminta tolong kepada wanita yang berdiri di hadapannya untuk menghubungi asistennya agar menjemputnya.
dia mulai berjalan ke arah lidya yang tengah sibuk membersihkan muntahan farel di bajunya tentu saja dia tidak mungkin pulang ke kosan dengan baju yang kotor seperti itu.
"hey nona" ucap farel sambil menepuk bahu Lidya.
Lidya segera menoleh saat bahunya di tepuk. "ada apa lagi tuan! apa belum cukup tuan sudah mengotori baju saya" gerutu Lidya dengan tatapan sedikit kesal karena niatnya membantu pria itu malahan membuat bajunya menjadi kotor.
"nanti saya akan ganti baju kamu yang kotor itu, tetapi sekarang saya mau minta tolong kepada kamu" kata farel.
Lidya yang sedikit takut mulai memundurkan langkahnya tentunya dia berpikir yang tidak-tidak apalagi dia bisa mencium jelas bau alkohol dari napas pria yang tengah berdiri di hadapannya.
melihat reaksi wanita itu tentu saja farel mengerti walau dia dalam keadaan setengah sadar namun dia juga bukan lelaki sembarangan yang akan menyentuh wanita yang bahkan baru dia temui.
"tuan mau apa?" dengan raut wajah sedikit takut Lidya memberanikan diri untuk bertanya .
"bisa tolong ambilkan ponsel saya?" sahut farel.
"ponsel!" ulang Lidya yang tampak bingung.
"iya, ponsel saya" farel kembali meminta Lidya mengambilkan ponselnya.
Lidya menaikan alisnya karena dia tidak mengerti dengan permintaan pria itu, sedangkan farel yang masih mencoba menahan kesadarannya segera menunjukan dimana letak ponselnya berada tentu saja melihat itu Lidya sangat shock karena farel memintanya mengambil ponsel itu di kantong celananya.
"cepat ambilkan" seru farel.
"maaf tuan, saya tidak bisa" tolak Lidya.
mendengar penolakan itu akhirnya farel segera mencari ponselnya sendiri setelah mendapatkannya dia langsung menyerahkan ponsel itu kepada Lidya walau masih bingung Lidya segera mengambilnya.
"kamu Carikan nomor Junot di situ dan minta dia datang kemari" ucap farel yang segera menyandarkan tubuhnya di tembok karena dia sudah tidak tahan dengan kepalanya yang semakin pusing dan berat.
"maksud tuan saya!" dengan polosnya Lidya kembali menayakan hal itu kepada farel.
"memang selain kamu dan aku siapa lagi di sini" jawab farel yang tidak percaya mengapa dia begitu sial karena bertemu dengan wanita sebodoh itu.
Lidya yang sedikit kesal hanya bisa menghela napas panjang, sungguh hari ini dia benar-benar sial karena bertemu dengan pria yang membuatnya susah seperti ini tetapi dia tidak ingin lama-lama berurusan dengan pria asing itu hingga dia pun segera menekan layar ponselnya namun seketika dia bingung karena ponselnya ternyata mati.
"tuan maaf, tapi ponsel anda sepertinya mati" ucap Lidya sambil menyerahkan ponsel itu kepada farel.
"s**t,,," farel seketika marah karena dia baru sadar bahwa ponselnya mati sejak tadi sore.
kini tidak ada pilihan lain selain dia meminta tolong wanita di hadapannya untuk mengantarkannya ke apartemen, awalnya Lidya menolaknya karena dia tidak mengenal pria itu lagi apalagi dia sangat takut bahwa pria itu hanya mencoba membohonginya apalagi ini kota besar tentunya dia tidak mungkin dengan cepat percaya dengan orang asing.
farel yang sadar bahwa wanita di hadapannya itu curiga kepadanya akhirnya mencoba menyakinkan dia bahwa dirinya bukan pria jahat, setelah cukup lama dia membujuk Lidya akhirnya Lidya bersedia membantunya mengantarkan pulang.
***
di sebuah rumah yang begitu megah seorang wanita paruh baya sedang memarahi semua orang yang ada di sana tentunya dia tidak habis pikir mengapa tidak ada yang tahu di mana keberadaan anaknya.
"untuk apa saya membayar kalian kalau kalian mengurus hal kecil seperti ini saya tidak bisa" ucapnya sambil menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri sambil menundukan wajah mereka.
"tapi nyonya, saya sudah mengikuti tuan muda namun ternyata setelah kita ikuti mobilnya, kita berdua baru sadar bahwa yang ada di dalam sana bukanlah tuan muda" jelas salah seorang yang memiliki badan tegap.
Risma Wiguna, ia lah sosok wanita yang tengah begitu marah karena dia telah jengah dengan sikap putra semata wayangnya, bahkan dia sengaja meminta dua orang untuk mengikuti farel namun anaknya itu masih saja bisa lolos darinya membuat dia semakin geram.
"saya tidak mau tahu kalian harus mencari tau dimana farel sekarang dan bawa kehadapan saya" tegas Risma.
"ba...baik nyonya" sahut keduanya dengan terbata-bata.
keduanya segera membalikan badannya dan segera meninggalkan ruangan itu, sekarang tinggal Risma seorang diri dengan memegangi kepalanya dia segera mendudukan dirinya, dia sungguh di buat pusing dengan tingkah farel yang sulit di atur.
saat sedang dalam kebingungan menghadapi tingkah putranya itu. tiba-tiba Risma teringat sesuatu tanpa menunggu lama dia segera beranjak dari duduknya.
"pak Ujang" panggil Risma.
tidak begitu lama seorang pria berlari ke arah Risma. " iya nyonya" jawab pak Ujang yang merupakan supir di rumah itu.
"tolong siapkan mobil" pinta Risma.
"baik nyonya" tanpa bertanya apapun pak Ujang langsung membalik badannya dan segera melangkah pergi dari sana.
Risma pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas.
***
Lidya yang membantu farel akhirnya bisa bernapas lega karena mereka sudah sampai di apartemen milik farel, sejenak dia menatap ke setiap sudut ruangan itu dia sungguh takjub dengan apa yang dia liat saat ini.
"wah,,, indah sekali" batin Lidya yang memang untuk pertama kalinya menginjakan kaki di tempat semewah itu.
farel yang duduk di sopa menyandarkan tubuhnya karena kepalanya masih terasa berat, tentunya dia tidak memperdulikan Lidya yang kini tengah mengagumi apartemen miliknya.
"hey nona, bisa tolong ambilkan air" pinta farel.
Lidya yang sedang menikmati pemandangan di sekelilingnya langsung kaget mendengar permintaan itu dia segar melihat ke arah Pria yang sudah menyandarkan tubuhnya di sopa, bukan kah pria itu hanya meminta di antarkan saja tetapi mengapa sekarang malahan menyuruhnya seperti pembantu.
"maaf tuan, saya kesini hanya mengantarkan anda dan tugas saya sudah selesai jadi jangan meminta hal lebih" tolak Lidya yang memang tidak mau melakukannya.
farel segera melirik dengan ujung ekor matanya dengan sangat tajam tentunya ini untuk pertama kalinya ada orang yang berani menentang perintahnya. Lidya yang melihat lirikan farel tentu saja langsung menelan ludahnya
"baiklah, kamu boleh pergi tapi ingat saya tidak akan mengganti baju kamu yang kotor itu" ucap farel yang kembali memalingkan pandangannya dari Lidya.
mendengar hal itu tentu saja membuat Lidya sangat kesal karena perjanjian tadi bahwa setelah mengantarkannya maka pria itu akan mengganti bajunya yang kotor tetapi sekarang malahan pria itu mengingkari ucapannya sendiri.
"tuan sudah berjanji, kenapa sekarang tuan mengingkarinya" ucap Lidya.
"suka-suka saya, kalau kamu tidak mau mendengarkan perintah saya maka silahkan kamu pergi dari sini" tegas farel yang kini sudah menunjukan sifat aslinya.
Lidya yang tidak punya pilihan lain akhirnya segera mengikuti perintah pria itu walau dalam hatinya begitu kesal namun dia tidak punya pilihan lain selain menurutinya, karena dia tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu.
dia pun segera berjalan menuju dapur yang tidak jauh darinya, namun ada sedikit pertanyaan dalam benaknya siapakah pria yang dia tolong itu melihat dari tempat dirinya tinggal tentu saja membuat Lidya yakin bahwa pria itu bukan orang sembarangan.
setelah mendapatkan air minum yang di minta oleh farel, dia segera berjalan ke arah sopa dan tanpa mengatakan apapun dia langsung memberikan air itu kepada farel.
farel segera meraih gelas yang di berikan oleh Lidya dan segera meminumnya sampai tandas, Lidya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sungguh dirinya sial hari ini karena harus berurusan dengan pria yang menyebalkan.