"Kau pikir bisa masuk ke sarang serigala tanpa meninggalkan jejak, Anak Muda?" Suara Albert kini tidak lagi serak lemah, melainkan tajam seperti sembilu. Wilder tetap tenang, meski ia tahu satu gerakan salah bisa membuat otaknya berceceran di lantai kusam kafe itu. "Sarang serigala? Aku lebih suka menyebutnya kandang tikus tua yang bau, Paman." Tepat saat itu, sebuah ledakan kecil dari bom cahaya (flashbang) yang dilempar Wilder ke arah lantai meletus. BLAARR! Cahaya putih menyilaukan membutakan seisi ruangan. "SIALAN!" umpat Albert. “Tembak dia!" geram Albert. Duar! Duar! Peluru-peluru panas itu bersarang di pintu kayu kafe tepat saat Wilder melompat ke trotoar. Di sana, sebuah mobil Porsche 911 berwarna hitam legam sudah menderu, mesinnya menjerit seolah tidak sabar untuk melesat.

