BAB 11 - Bulan Madu Yang Tertunda

1177 Kata
Adit menyalakan rokok dan menyesapnya saat kami sampai di rumah. Dia melirikku dan tersenyum dingin. Dia kembali menyesap rokoknya dalam. Aku dengan setengah ketakutan mendekatinya. Menatap wajahnya dari pinggir. Hidungnya berdiri dengan begitu sombong. Terkadang aku iri dengan hidung mancung Adit. Tapi, seenggaknya aku masih bisa bernapas dengan mudah kan dengan hidung yang apa adanya ini.   “Aku sekarang sadar kalau Arka memang naksir kamu.” Dia tersenyum kecil sembari menunduk. Kemudian menatap langit yang mendung.  Aku duduk di sebelahnya.   “Kok bisa ya, tuh, anak ngasih pertanyaan kaya gitu.” Dia menoleh padaku tajam. “Kamu juga malah nambahin lagi.”  “Ya, kan aku cuma berpendapat. Jangan melarang kebebasan pendapat aku dong. Itu hak setiap warna negara Indonesia untuk mengutarakan pendapatnya.” Aku berkata seperti seorang diplomat.  “Kamu nggak ke apartement Alena?” Tanyaku.  Adit menyesap kembali rokoknya. “Kamu nyuruh aku ke apartement Alena?”  “Aku kan nanya bukan nyuruh. Nggak bisa bedain mana nanya dan mana nyuruh ya?”   Aku nggak tahu Adit kenapa. Tapi, aku merasa dia agak kacau. Wajahnya muram. Apa karena Arka naksir aku? Lagian, belum tentu juga Arka naksir aku kan. Aku pengen banget nanya Adit apa dia cemburu kalau Arka naksir aku? Cemburu atau takut kalau nanti masalah rumah tangga kami malah makin runyam.  “Nik, nanti malem mamah minta kita ke rumahnya.”  Deg!  Ini membuat jantungku kembali bermasalah. Masalahnya Mamahnya Adit pasti bakalan nanya-nanya yang—mungkin nanti membuat Adit semakin menggebu-gebu untuk menyentuhku.   ***   Sesampainya di rumah Mamah Adit, aku dipeluk Mamah. “Kamu kok kurusan, Nik.” Kata Mamah.  “Masa, Mah? Kayaknya Arunika nggak kurusan deh.”  Mamah Adit melirik tajam ke arah putranya. “Kamu nggak ngurusin istri kamu, Dit?”  “Eh,” Adit tampak kikuk.  Kalau aku bilang Adit masih menjalin hubungan dengan Alena pasti Mamah marah-marah sama Adit dan bakalan ngebela aku habis-habisan. Terus Mamah bakalan nyuruh Adit buat mutusin Alena. Apa aku bilang aja ya kalau Alena dan Adit masih berhubungan ke Mamah.   “Gimana perkembangan hubungan kalian? Bertambah mesra kan?” Mata Mamah berbinar cerah.   Bertambah mesra? Aku ingin sekali tertawa mendengar kalimat pertanyaan macam itu. Hei, Mah. Bukannya bertambah mesra Adit malah sering ngrepotin aku dan buat tensi aku makin naik. Udah gitu dia terus aja ngejek aku ditambah ngegoda dengan cara yang keterlaluan. Setelah aku masuk ke perangkapnya dia bakal tertawa terpingkal-pingkal.  “Mesra banget kok, Mah. Arunika istri yang paling pengertian. Adit makin sayang sama Nika, Mah.” Dia melirikku beberapa kali.   Kebohongan macam apa itu, Dit?!  Mamah tersenyum lebar.   “Bagus deh, Mamah tinggal nunggu kabar baik dari kalian aja. Pokoknya, Nik, Mamah udah pesen berbagai macam ramuan dari berbagai negara. Mulai dari Jepang, Korea, Cina sampai Thailand.”  Aku mengernyit nggak ngerti. “Ramuan apa, Mah?”  “Ramuan kesuburan.” Mamah kembali tersenyum.  Apa?! Aku harus minum ramuan kaya gitu dari berbagai macam negara?  Aku menatap ke arah Adit yang makin terlihat pusing. Kepusingan Adit menular padaku. Kepalaku tiba-tiba terasa berat.   “Nik, apa Adit memperlakukan kamu dengan baik?” tanya Mamah lagi.  Aku melirik ke arah Adit. Bibir Adit bergerak mengucap kata ‘iya’. Tapi, aku enggan mengucapkannya pada Mamah. Mamah harus tahu yang sebenarnya. Dia harus tahu kalau Adit masih menjalin hubungan dengan Alena. Ini kesempatan yang baik untukku kan. Emm—maksudnya, seenggaknya aku punya kuasa yang sama seperti Adit agar Adit nggak semena-mena sama aku.  Tapi, Adit nanti bakal marah banget sama aku. Bisa-bisa dia makin semena-mena sama aku.   “Iya, Mah.” Akhirnya bibirku mengucap sesuai dengan permintaan Adit.  Adit mengedipkan sebelah matanya padaku sembari tersenyum manis. Astaga, kedipan mata dan senyumannya membuatku candu.   “Bagus. Kalau begitu kapan kalian berniat bulan madu. Ambil cuti aja selama tujuh hari.”  Tujuh hari bulan madu?  “Tante Luisa bilang dia mau rekomendasiin tempat yang bagus buat bulan madu. Tempat yang eksotis buat kalian.”  “Tapi Mamah lupa nama daerahnya apa. Mungkin Sumbawa.”  “Bagus! Aku sama Arunika siap-siapa aja kok, Mah. Cuma kalau untuk saat ini kita emang lagi banyak pekerjaan, Mah.”   “Oh, begitu ya.” Mamah tampak kecewa.  “Tapi, Adit janji, Mah, setelah pekerjaan selesai Adit bakalan bulan madu sama Arunika.”  Senyum kembali mengembang di bibir Mamah.  “Oke, kalau begitu Mamah mau kalian jujur sejujurnya pada Mamah.”  Aku dan Adit saling tatap.  “Mamah mau tanya sama Adit dulu. Kamu beneran sayang sama Nika kan, Dit.” Mamah menatap Adit serius seakan mencoba mencari kejujuran di mata Adit.  Adit mengangguk. “Iya, Mah. Adit sayang Arunika.”  Mamah mengalihkan tatapannya padaku. “Oke, sekarang Mamah tanya Arunika ya. Kamu sayang Adit kan, Nak?”  Aku mengangguk. “Iya, Mah.”  “Kamu nggak akan ninggalin Adit kalau Mamah mengatakan sebuah kejujuran sama kamu?”  Aku nggak ngerti sama maksud Mamah. “Kejujuran apa, Mah?”  Mamah menghela napas. “Kemarin Mamah bertemu Alena di mall.” Mamah menajamkan tatapannya pada Adit. Wajah Adit memucat.  “Dia mengikuti Mamah. Dan mamah menanyakan perihal siapa kekasihnya sekarang setelah putus sama Adit. Tapi, Alena bilang dia nggak pernah putus sama Adit.” Mamah kembali menatap Adit dengan wajah marah nan murka. “Jadi, selama ini kamu bohong sama Mamah dan Arunika, Dit?!” tanya Mamah dengan nada tinggi.  Adit nggak bisa mengelak. Dia tampak pasrah.  Aku sangat terkejut mendengar perkataan Mamah. Padahal aku juga ingin mengatakan kalau Adit masih menjalin hubungan dengan Alena tapi Mamah sudah tahu.   “Kamu tahu Mamah sangat benci dibohongi, Dit.”  “Ma’af, Mah, tapi pada saat itu Adit belum siap ngomong ke Alena...”  “Alasan!” sela Mamah marah. “Kamu mau Mamah yang bilang sama Alena kalau kamu udah nikah sama Arunika atau kamu sendiri?!”  “Mah, kasih Adit waktu buat—“  “Oke. Sekarang juga Mamah akan temui Alena!”   ***  Aku mengucap syukur dalam hati saat Adit setuju kalau dia akan memutuskan Alena demi Mamahnya. Bukan demi aku. Tapi, nggak papa. Ini juga kabar baik bagiku. Seenggaknya, Alena nggak bisa ngabisin duit Adit kan. Dan akhirnya, aku merasa mengalahkan Alena. meskipun belum tentu Adit  akan benar-benar memutuskan Alena.  “Aw!” aku meringis kesakitan saat telunjuk kananku terkena sayatan pisau. Darah keluar begitu saja.  “Kenapa, Nik?” tanya Adit yang tiba-tiba muncul.  “Kena pisau.” Aku mengambil tisu dan menempelkannya di telunjuk jari yang terkena pisau.  “Lihat,” Adit meraih tanganku dan melepaskan tisunya. “Duh, lain kali tuh hati-hati coba.” Adit melakukan hal yang nggak aku duga. Dia menyesap jariku. Aku merasa pedih sekaligus linu. Tapi, rasa pedih dan linu itu bisa aku abaikan. Aku hanya nggak bisa mengabaikan apa yang dilakukannya padaku saat ini.  Dia kemudian mencari sesuatu di kotak P3K. Memberikan obat antiseptik di jariku kemudian membalutnya dengan  kapas lalu plester.   “Bisa kena pisau gini gimana ceritanya?” Adit menatapku penasaran.  Ini kan gara-gara tadi mikirin kamu yang mutusin Alena.  “Aku kurang hati-hati aja.” Kataku lalu kembali mengiris bawang.  “Oke, gini aja, gimana kalau kita makan di luar.”  Tumben Adit ngajak makan di luar.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN