Dua tenda udah disediakan di tengah hutan. Tempat ini biasanya dipakai anak sekolah untuk acara kemping seperti di sebelah tendaku yang berjarak sekitar lima belas langkah. Di sana ada banyak tenda guru dan anak-anak. Di bawah sana ada danau dengan air biru jernih. Cukup menuruni jalan dan melewati aliran mata air dan kami akan sampai di danau berwarna biru muda yang dihiasi gerombolan ikan mas.
“Ini mah bukan nyari ketenangan tapi nyari keramaian.” Gerutu Adit sembari menyesap secangkir kopi. “Lihat aja dimana-mana ada anak sekolah. Ada warung dan di bawah sana, ada danau dimana banyak sekali pengunjungnya di saat weekend seperti ini.” dia menatapku marah.
“Siapa yang nyuruh kamu ikut?” Kataku enteng.
“Ansell.”
“Terus ngapain kamu ikut? Kalau kamu mau kemping ke tempat yang sepi ya sana aja di tengah hutan sss sekalian ketemu sama saudara-saudara kamu, Dit.” Sindirku.
Arka dan Ansell muncul seperti hantu di sampingku.
“Seenggaknya, kita bisa menghirup udara bersih di sini.” Arka melirikku dan mengabaikan Adit.
“Betul itu.” Kataku setuju dengan perkataan Arka.
“Udah aku bilang kan, Nik, kalau kamu ikut Arka pasti ikut.” Ansell memulai dan lirikan tajam Adit mengarah kepadanya. Menyadari lirikan tajam yang memiliki makna itu, dia segera tersenyum pada Adit. “Pak Adit juga ikut karena ada Arunika ya?”
Aku melirik kesal pada Ansell.
“Apa sih kamu, Sell.” Aku memilih turun ke bawah melihat danau yang berwarna biru jernih sekalian beli mie.
***
Angin dingin daerah pegunungan ini menerbangkan rambutku. Aku merapatkan jaket. Semakin malam angin semakin dingin. Lanna, Rara, Ansell dan Arka mengelilingi api unggun sembari membakar jagung. Aku memilih duduk di depan tenda, menyesap dalam kopi hangat yang menghangatkan tubuhku. Aku nggak lihat Adit tapi aku rasa anak itu ada di dalam tenda.
Rasanya Adit nggak mungkin bisa betah tidur di tenda semalaman. Jangankan semalaman, sejam aja aku yakin badannya mulai pegal. Adit keluar dari tendanya, dia mendekati dan duduk di sebelahku. Duduk dengan Adit di tengah semilir angin dingin begini malah membuat jantungku makin menjadi-jadi.
Bersahabatlah, malam ini. Jangan membuat aku seakan kehilangan detak jantungku.
Aku melirik Adit yang mengenakan sweater putih dengan necklace yang dipadukan dengan jaket warna cokelat muda. Hidung Adit adalah salah satu hidung yang begitu bagus jika dilihat dari samping. Maksudku, banyak hidung yang bangir tapi tak seunik dan sebagus hidung Adit. Dia mengambil gelasku tanpa ijin dan menyesapnya.
“Jadi, kamu punya niatan bisa berduaan dengan Arka di sini. Makanya kamu nggak mau aku ikut begitu?” tanyanya dengan nada sedingin angin yang menusuk dagingku.
“Kalau iya, memangnya kenapa? Kamu juga niatnya nggak ikut kan.” Aku kembali mengambil secangkir gelas dari tangan Adit dan menyesap isinya tepat di bekas bibir Adit.
Adit tersenyum dingin. “Jadi, kamu naksir beneran sama Arka?”
Aku nggak menjawab pertanyaannya. Aku memilih berpura-pura menatap Arka yang tertawa dengan Ansell.
“Oke. Kalau kamu berani naksir pria lain aku harus mengakui pernikahan kita di depan teman-temanmu.”
Aku menoleh pada Adit. Mataku melebar. Tenggorkanku tercekat.
“Jangan, Dit. Aku...” kosa kataku lenyap entah kemana.
Hening. Kami hanya saling bersitatap.
“Terus nanti kalau Alena tahu bagaimana?”
“Bukannya kamu mau aku mutusin Alena?” Adit malah bertanya balik.
“Emang kamu mau mutusin Alena?”
Kali ini Adit terdiam.
“Kamu nggak bisa jawab ya?”
“Ayo kita buat pengakuan sama tementemen kamu.”
Aku melihat ke arah Arka, dia sedang melihat ke arah aku dan Adit seakan sedang memperhatikan kami.
“Setelah pengakuan pernikahan kita aku akan minta agar bisa tidur dalam satu tenda denganmu.”
Pernyataan Adit membuat mataku kembali melebar.
“Kenapa kamu egois banget sih, Dit?” aku merasa Adit udah semenamena sama aku. Padahal aku dan Arka kan emang nggak ada apaapa.
“Aku nggak bisa terima kalau kamu naksir Arka. Lalu kalian pacaran. Terus bagaimana kita bisa membuat anak kalau kamu dan Arka...” Adit nggak lanjutin kalimatnya.
Adit melirik ke arah Arka. Lalu dengan gerakan lembut dia mengangkat daguku dan memagut bibirku hingga secangkir kopi yang kupegang tumpah di tanah. Dia menciumku dengan lembut. Sangat lembut. Aku nggak bisa menolaknya.
Aku nggak tahu apa cuma Arka yang melihat kami ciuman tapi aku mendengar suara kamera dan flash.
***
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam di belakang dengan Lanna dan Rara yang ikutan diem. Ansell tertawa melihat layar ponselnya yang dipenuhi poto Lanna dan Rara yang tertidur. Arka yang menyetir dan Adit yang duduk di sampingnya pada diem. Lagu Bad Liar dari Imagine Dragon menemani perjalanan kami.
Ciuman lembut Adit semalam membuatku nggak bisa berhenti memikirkan dan merasakannya. Aku tahu Ansell memotret adegan itu. Gelas kopi yang tumpah dan tatapan Arka yang pasti melihatku dan Adit ciuman. Belum lagi pertanyaan dari Lanna dan Rara yang mempertanyakan atas dasar apa Adit menciumku di depan tenda semalam?
Setelah berciuman Adit dan aku saling bertatap. Adit tersenyum kecil. Aku melihat keempat orang yang melihat adegan ciuman kami. Semuanya ternganga kecuali Arka. Arka membuang wajah dan kembali berpurapura fokus pada jagung bakarnya. Aku sedikit lega karena ciuman tadi membuat Adit urung mengonformasi pernikahan kami pada ketiga temanku itu.
“Lihat, deh, Nik, Pak Adit kalau tidur kaya gini hahaha.” Aku melihat layar ponsel Ansell yang memperlihatkan Adit tertidur sembari memeluk bantal guling.
“Udah tahu.” kataku lupa akan sesuatu.
“Udah tahu?” Ansell memiringkan kepala heran.
“Iya, emang Adit kalau tidur kaya gitu kan.” Kataku yang bersitatap dengan Adit.
“Hah?” Lanna dan Rara menatapku heran. Apalagi Ansell yang melongo.
“Mmm... maksudnya, apa yang aneh dari cara tidur Pak Adit. Semua orang tidur seperti itu kan.”
“Iya.” Sahut Arka. “Nggak ada yang aneh. Aku juga tidur kaya gitu. Aku cuma nggak bawa guling aja.”
Sebelah sudut bibir Adit tertarik ke atas sembari membuang wajah.
Kenapa sih dia diem aja? Kenapa nggak memberi pembelaan atau apa gitu biar anak-anak nggak curiga?
Sebenarnya Adit maunya apa sih? Kalau diingetinget lagi apa yang baru aja dia lakuin ke aku semalam. Terus perkataan-perkataannya membuatku bingung sendiri. Intinya dia egois.
Ah, ciuman itu lagi yang aku bayangkan. Sialan!
“Pernah nggak sih kalian suka sama seseorang yang udah punya pasangan dalam artian mereka nggak saling menyukai satu sama lain?” Pertanyaan Arka membuat lidahku mendadak kelu. Aku melihat tatapan tajam yang dilayangkan Adit pada sepupunya itu.
“Mendingan aku cari yang lain kalau dia udah punya pasangan.” Kata Lanna yang realistis.
“Tanpa cinta atau ada cinta yang namanya udah berpasangan ya harus saling sayang. Ya, kan, Nik?”
Aku menoleh gugup pada Lanna. “Ya.” Sahutku dengan nada rendah.
“Kalau aku pantang mundur. Toh, mereka nggak saling cinta ya selama masih bisa diambil ya aku akan berusaha.” Kali ini pendapat Ansell. “Kamu gimana, Ra?”
“Aku sependapat dengan Lanna sih. Tapi, aku juga suka pendapat kamu, Sell.”
“Jangan tanya Rara, deh.” Kata Ansell menyesal bertanya kepada Rara.
“Kalau Adit sama Pak Arka gimana?” tanya Rara sambil menggigit biskuit rasa kelapa kesukaannya.
Nggak ada jawaban dari keduanya. Akhirnya, aku memilih angkat bicara. “Kalau semisal salah satu pasangannya memiliki kekasih yang nggak bisa diputusin, berarti pasangan satunya bolehlah menjalin hubungan dengan yang lain. Mereka menikah kan bukan karena saling cinta kan.” Aku menoleh pada Ansell, Rara dan Lanna yang balik menatapku dengan tatapan heran.
“Ada yang salah dengan perkataanku?” tanyaku pada ketiga anak yang menatapku masih dengan tatapan heran ini.
“Nggak kok. Cuma kedengerannya ganjil ya. Agak aneh.” Kata Ansell bingung sendiri.
“Ya, aku setuju sama Arunika.”
“Kayaknya ini cerita yang Cuma diketahui dan dimengerti antara Arunika dan Pak Arka deh.” Celetuk Rara.
Adit menatap ke arahku dan dengan melihat tatapannya saja aku tahu kalau Adit sedang mengancamku. Astaga, aku salah apa lagi sih? Aku kan cuma membicarkan soal hakku yang berhubungan dengan pria lain, toh, dia pun masih mempertahankan kekasih manjanya itu kan.
***
Jangan lupa tap love ya kalau kalian sukaaa ^^
Thank you :)
Sehat-sehat semuanyaaa :)