Aku melihat Adit sedang mengenakan pakaiannya. Aku memalingkan wajah takut kalau sampai aku melihat yang tak seharusnya aku lihat. Bahaya juga kan! Aku takut nanti kalau sering kebayang-bayang walaupun cuma punggung Adit doang. Aku hanya bingung bagaimana caranya aku bisa membuat Adit bertekuk lutut? Apa aku harus jadi liar? Astaga! Aku langsung memusnahkan khayalanku mengenakan lingeria merah yang seksi. Nggak! Aku nggak akan make gituan cuma buat Adit. Lagian, Adit sendiri yang pernah nyeletuk kalau dia nggak mau kan? Aku ingat pas malam pertama itu saat aku meminta tolong padanya untuk nggak nyentuh aku. Ah, sialan!
“Tante Luisa sama Lala mau ke sini lagi.” Gerutunya sembari membaca chat dari Lala.
Aku harus siap dengan berbagai pertanyaan yang bakalan terlontar dari bibir Tante Luisa. Aku tahu maksud dari pertanyaan pertanyaan Tante Luisa emang bukan berniat buruk, tapi kadang aku nggak bisa jawab pertanyaan seperti, “Kamu kapan hamil?”. Atau pertanyaan yang seperti, “Mau punya anak berapa?" Lebih ekstrim lagi pertanyaan seperti ini, “Coba gaya begini, Nik, biar bisa dapet anak kembar. Tante baru aja baca di google cara mendapatkan anak kembar dengan gaya ini.” Lalu Tante Luisa bakalan ngasih ponselnya ke aku yang menampilkan berbagai macam gaya yang perlu dilakukan di atas ranjang demi mendapatkan anak kembar.
“Mungkin karena kamu batalin makan malem kita sama Tante Luisa jadi sekarang Tante Luisa ke sini.”
“Aku nggak siap sama kebawelan Tante.” Kata Adit dengan muka masam.
“Aku juga.”
Adit melirikku. “Kamu tahu kan caranya berlagak seperti istri benerannya aku?”
Aku terdiam sesaat.
“Nik, ngerti kan maksud aku?” Tanyanya seolah aku ini bodoh.
“Ya.”
“Aku takut kalau Tante Luisa minta nginep di sini.”
“Emangnya kenapa kalau Tante Luisa nginep?” Aku bertanya heran.
Adit menghela napas.
“Dia bakalan ngawasin kita dan ngaduh ke Mamah kalau sampai kita ada keributan sekecil apa pun.”
Aku memutar bola mata. “Ribet juga.”
Tepat saat itu bel rumah berbunyi. Yakin deh itu Tante Luisa sama Lala.
Aku bangkit dari tepi ranjang dan bergegas menuju pintu rumah. Saat aku membuka pintu rumah aku melihat Tante Luisa dengan semiran rambut baru warna merah. Perhiasan yang dikenakannya mencolok dan lipstik merah melapisi bibir tuanya.
Lala tersenyum kepadaku dan aku membalas senyumnya.
“Tante.” Aku mencoba menyapanya seceria mungkin dangn perasaan deg-degan takut Tante Luisa langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan nyelenehnya.
“Arunika makin cantik aja ya, La.”
Wajahku bersemu merah saat pujian itu diluncurkan Tante Luisa. “Tante bisa aja.” Aku mempersilakan Tante Luisa dan Lala masuk.
“Ma’af ya, Nik, kami datang mendadak begini. Mamah sih minta main ke rumah kamu malam ini juga.”
“Iya, nggak papa kok.” Aku meluncur ke dapur berniat membuatkan kedaua tamuku itu jus jeruk.
“Bikin minumnya tiga ya sama aku.” Pinta Adit saat kami berpapasan.
“Iya, Bos.” Sindirku.
Adit nimbrung dengan Tante Luisa dan Lala. Aku nggak tahu mereka ngomongin apa. Selang beberapa menit aku datang dengan nampan berisi tiga minuman jus jeruk yang aku letakkan di atas meja.
“Tante itu sayang banget sama Adit, Nik. Adit ini keponakan kesayangan Tante.” Tante Luisa mulai bercerita. Dia menyesap jus jeruknya kemudian memulai kembali ceritanya. "Sejak kecil Adit ini aktif banget. Dulu, mainnya sama Arka terus. Sekarang Arka lebih sibuk ngurusin bisnis sampingannya dibandingkan ngurusin Tante. Padaha dulu waktu kecil Arka sama Adit sering banget mijitin Tante kalau Tante kecapean."
Oh ya, Adit ini punya dua tante dan satu om. Tante Luisa ini adik kedua dari Mamah Adit. Lalu yang ketiga Tante Erin yang menetap di Belanda. Dan si bungsu Om Deri yang menetap di Jerman. Hanya Mamah Adit dan Tante Luisa yang tinggal di Indonesia. Dan Arka ini anak dari Tante Luisa. Kakaknya Lala. Arka udah punya rumah sendiri saat usianya masih 24 tahun dan dia tinggal sendiri di rumahnya. Tante Luisa seperti kehilangan putranya. Mungkin karena Tante Luisa sering menanyakan soal kekasih pada Arka yang akhirnya memilih untuk tinggal di rumah sendiri.
“Arka—“ Tante Luisa tampak sedih. “Sepertinya belum ada niatan untuk menikah. Padahal Tante udah kepingin gendong cucu. Lala juga belum ada rencana. Makanya Tante tuh pengin banget kamu dan Adit segera punya anak, Nik.”
Hening.
“Adit ini udah Tante anggep anak sendiri.”
“Tan, tenang aja. Nanti Adit dan Arunika juga bentar lagi bakal punya anak kok. Kita lagi program hamil juga sih.” Aku melirik ke arah Adit dengan lirikan tajam. Adit tampak santai berbohong seperti itu di depan orang tua. Oh ya, aku baru inget kalau kami berdua memang sama-sama pembohong.
“Terus kapan kalian mau publikasi pernikahan kalian. Aneh, loh, kalian menikah tapi teman-teman dekat sampai orang kantor nggak ada yang tahu.”
Aku yakin Adit sedang menimbang-nimbang jawaban yang tepat. “Kalau Arunika udah siap bakalan kita publikasi kok, Tan.”
Tante Luisa mengangguk.
“Dit, kemarin aku ketemu mantan kekasih kamu Alena.” Kali ini Lala yang berbicara. Adit mengaku pada keluarganya kalau dia udah putus dari Alena sejak menikah denganku.
Aku yakin aku dan Adit sama-sama berdebar-debar saat Lala menyebut nama Alena.
“Dia lagi beli baju gitu di mall. Di brand-brand terkenal sendirian. Pake kartu kredit platinum. Kayaknya itu milik kamu ya? ” Lala bertanya ceplas-ceplos.
Tante Luisa meliriknya angker. “Apa? Alena belanja pake kartu kreditnya Adit?” Matanya melotot pada Lala.
Lala tampak gugup. “Bukan begitu, Mah. Kartu kreditnya kayaknya milik Adit tapi kayaknya bukan deh. Mungkin Alena juga punya kartu kredit platinum.” Lala menggaruk-garuk kepalanya.
“Kan kita udah putus, La. Nggak mungkin dia pake kartu kredit aku.”
Aku pengin banget getok kepala Adit pake palu.
“Iya,” Lala menimpali meskipun ragu pada jawaban Adit.
Selang empat puluh menit Tante Luisa dan Lala pulang. Aku dan Adit bernapas lega karena Tante Luisa nggak nginep.
Aku menatap kesal Adit. “Kamu pinter banget ya, bohongnya.” Sindirku.
“Aku emang harus bohong kan.”
“Jadi, Alena ngabisin duit kamu mulu ya.” Nada suaraku terkesan cemburu.
Adit hanya terdiam.
Aku teringat perkataan Alena di kantin yang membuat dadaku sakit.
Nik, jangan sok jual mahal ya. Kelihatan banget Arka suka sama kamu. Lagian kamu kan lama nih sendiri kapan lagi dapet cowok ganteng kaya Arka.
Kalau dipikir-pikir Arka memang sepertinya peduli sama aku. Tapi, bukan berarti kepeduliannya itu diartikan sebagai perasaan cinta kan. bagaimana kalau aku mulai dekat dengan Arka. Dekat dari hanya sekadar teman? Tapi, rasanya kalau sampai aku dan Arka menjadi sepasang kekasih bukankah ini akan semakin rumit? Mengingat aku dan Adit diharuskan memiliki anak. Itu artinya aku harus merelakan kehormatanku pada Adit. Lalu... ah ya, ini semua rumit. Jangan macam-macam Arunika. Apalagi Arka anak dari Tante Luisa.
“Sekarang ini keluargaku ingin sekali menimbang cucu. Mamah dan Papah sering nanyain kehamilan
kamu, Nik.”
“Aku nggak mau disentuh.” Kataku tegas.
“Oh ya? Bukannya kamu pernah pasrah ya waktu aku nindihin kamu.”
“Aku hanya...” jeda sejenak. “Aku hanya kaget aja.”
“Kaget apa mau?” pertanyaan nyeleneh itu membuat wajahku memerah.
“Kalau kamu mau juga nggak papa.” Lanjutnya.
“Nggak!”
Adit mendekatkan wajahnya padaku. “Kamu maunya gimana sih biar kamu tuh mau nglakuin itu sama aku?!”
***