Saat tiba di rumah, ponselku berdering. Tertera nama di layar Aksa. Aku melotot ngeri. Ngapain sih Aksa meneleponku di jam malem kaya begini. Aku menoleh Adit yang sedang melepas kemejanya.
“Apa?” tanyanya sambil mengangkat wajah.
Dia mendekatiku dan meraih ponselku. “Halo, ini suami Arunika. Ada apa ya malem-malem begini nelepon istri orang." Adit kalau ngomong makin ke sini makin ngeri.
Dia melirikku.
“Iya. Arunika udah bersuami. Kenapa? Sori ya, malem ini kami mau bertarung dulu.” Dia mematikan ponsel.
“Mantan kamu ini masih ganggu aja ya. Aku blokir aja nih orang. Kenapa sih kamu nggak ngeblokir dia? Harus banget aku yang blokir.”
Adit ngomel terus kaya pembawa acara gosip.
“Aku makan sama Arka nggak boleh. Aksa nelepon aku malah diblokir.” Aku menyilangkan tangan di atas perut. “Kamu maunya apa sih, Dit? Malah ngasih tahu lagi aku udah bersuami. Aksa pasti kaget banget.”
Sebelah sudut bibir Adit tertarik ke atas. “Kamu itu teledor, Nik. Beda sama aku, aku mainnya aman.”
Aku memberengut kesal mendengar perkataannya. Ngeselin banget nih orang! Seenaknya sendiri aja tuh.
Aku mengambil handuk, memasuki pintu kamar mandi dan menguncinya. Aku melepas pakaian kerjaku yang udah bua asem dan menyalakan kran air hangat untuk mengisi bath. Aku menenggelamkan tubuhku di dalam bath dan mengusapkan sabun ke seluruh tubuhku. Setelah itu aku memilih memejamkan mata. Mengingat banyak hal yang harus diingat.
Sebelum aku mengingat sesuatu—apa pun itu aku mendengar suara pintu terbuka. Mataku ikut terbuka secara otomatis dan tubuhku menegang seketika.
“Adit!” Aku panik dan mencoba mencari-cari sesuatu yang bisa menutupi tubuhku tapi handukku cukup jauh, aku nggak mungkin bangkit dari bath dan ngambil handuk gitu aja. Aku menutupi bagian dadaku. Untung bisa sabun melimpah sehingga tubuhku masih bisa ditutupi.
“Kamu kok masuk sih? Pintunya kan udah aku kunci.”
“Kalau pintunya udah kamu kunci aku nggak mungkin bisa masuk.” Katanya dengan nada suara acuh tak acuh.
“Tapi... perasaan aku udah kunci pintunya kok.” Aku melotot dan waspada. “Lalu kamu ngapain masuk ke sini?”
“Jangan pakai perasaan makanya.”
Bibirku mengerucut.
“Aku lagi nyari sesuatu nih.”
“Apa?”
Adit menatapku. Tatapan mata Adit malah membuatku makin ngeri. Gimana kalau tiba-tiba dia malah ikutan mandi di atas bath. Ini bahaya untuk keberlangsungan hidupku. Aku nggak mau kalau Adit sampai melakukan yang aku nggak mau lakuin.
“Dit, mending kamu cepetan keluar deh.”
“Apa sih kamu negatif thinking aja tuh.” Adit meraih cincin pernikahan kami yang terletak di tempat sabun. “Aku ninggalin nih cincin di sini, kalau sampai hilang bisa diomelin mamah.”
Aku bernapas lega karena Adit akhirnya keluar dari kamar mandi. “Syukurlah.”
Lima belas menit berlalu aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Adit sedang membaca sebuah buku. “Aku udah mandi.” Kataku memberitahu.
“Terus?” tanyanya acuh tak acuh.
“Kamu nggak mandi?”
“Nanti setelah aku selesai baca nih buku. Bentar lagi.”
Aku menguap. Mataku terasa berat. Aku yang udah mengenakan piyama di kamar mandi segera menuju ranjang dan terlelap.
***
Pagi menyapaku dengan kedinginan yang menggigil. Aku mencari ponsel dan melihat jam yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Aku melihat Adit yang terlelap di sampingku. Aku senang meskipun kami nggak menikah karena keinginan kami tapi aku dan Adit bisa menahan diri hanya untuk sekadar memeluk saat kami tertidur. Ada bantal guling khusus yang memisahkan antara kami. Meski ada bantal guling tetap aja kadang kami tidur berhada-hadapapan dan nggak sengaja menyentuh bahu, lengan atau bagian dadaku. Pernah suatu ketika tangan Adit ada di atas dadaku dan aku langsung menyingkirkan tangan itu. Aku sendiri pernah meminta untuk pisah kamar tapi Adit nggak setuju.
Mata Adit terbuka. Aku nyaris aja berpura-pura tidur tapi terlambat. Dia udah nangkep mataku yang menatapnya.
“Apa?”
“Nggak. Tadi ada nyamuk nempel di dahi kamu.” Dustaku.
“Oh,” dia kembali terlelap.
Aku membalikkan tubuhku agar nggak berhadap-hadapan dengan Adit. Aku menarik napas lega kemudian aku merasakan punggungku yang dibelai sebuah tangan. Tangan Adit.
“Tidur, Nik. Masih pagi.”
Apakah dia sedang mengigau? Kenapa dia membelai punggungku?
Aku yang menyukai caranya membelai punggungku di jam lima pagi membuatku kembali memejamkan mata.
Jangan berhenti membelai punggungku sampai aku terlelap, Dit.
***
Siang itu aku merasa sangat laper. Perutku keroncongan. Aku melirik jam di tanganku. Yes! Jam dua belas. “Makan yuk!” ajakku pada Lanna, Rara dan Ansell.
“Aku masih banyak kerjaan, kamu duluan aja, Nik.” Kata Lanna.
Rara mengangguk setuju dengan pendapat Lanna. Dia fokus menatap layar komputernya.
Aku melirik ke arah Ansell. “Kamu gimana, Sell?”
“Aku belum selesai juga, Nik.” Kata Ansell fokus menatap layar komputer seperti Lanna dan Rara.
“Oke, kalau begitu aku makan duluan ya.”
“Nanti kalau udah makan bawain makanan ya, Nik.”
“Mau makanan apa emang?”
“Nasi ayam geprek.” Kata Rara.
Lanna dan Ansell juga meminta makanan yang sama.
“Oke.” Sahutku.
Saat keluar dari ruangan aku berpapasan dengan Alena. wanita itu mengenakan blouse hitam dengan potongan d**a agak rendah. Rok berwarna maroon dan rambut bergelombangnya yang baru di cat warna cokelat terang.
“Hai, Nik.” Sapanya dengan senyum tipis.
“Hai,” sapaku yang berniat segera pergi dari hadapan wanita manja ini. susah emang kalau punya pacar pengangguran plus bucin kaya Alena. Hobinya ngintilin Adit mulu.
“Kamu mau kemana?”
“Mau makan.”
“Boleh aku ikut? Adit lagi rapat sama Divisi HRD. Aku nggak boleh ganggu katanya." Dia berkata seolah Adit sedang bersenang-senang dengan wanita lain dan Adit meminta Alena tidak menganggunya.
Aku sebenarnya males banget berurusan sama Alena. Ketemu aja males apalagi makan bareng di kantin. Tapi, tidak ada pilihan lain bagiku. Coba kalau ada Lanna, Rara dan Ansell. Seenggaknya, aku nggak perlu nanggepin omongannya Alena. Ya Tuhan, aku seperti ketiban sial. Masa aku harus bareng sama kekasih Adit yang notabene suamiku itu. Sialan!
Saat aku sedang makan Alena menyesap cokelat dingin.
“Kamu masih jomlo aja ya, Nik?” tanyanya. Nyaris aja aku tersedak dengan pertanyaannya.
Andai aku bisa menjawab semauku. Aku pasti akan jawab kalau aku nggak jomlo sejak lepas dari Aksa. Aku adalah istri dari Aditya Chandra Danurdara—kekasihmu itu!
“Aku heran sama kalian berempat. Dari mulai Lanna, Rara dan Ansell apa kalian nggak laku ya sampai sekarang masih pada betah menjomlo? Padahal datingapp sekarang banyak banget loh.”
Semua nama binatang keluar dari dalam hatiku. Aku sebisa mungkin makan banyak-banyak biar cepet pergi dari hadapan Alena. Arka tiba-tiba muncul di sampingku dan aku bisa bernapas lega. Arka pasti lebih semangat menanggapi celotehan Alena.
“Hai, Ka.” Sapa Alena dengan senyum manis manjanya yang membuatku mual.
“Kamu kok di sini?” tanya Arka. Dia mencuil ayam di piringku dan melahapnya.
“Adit lagi rapat sama Divisi HRD. Katanya ada penambahan dan perpindahan karyawan.”
“Kenapa nggak nunggu di ruang rapat aja?”
“Adit nggak ngebolehin aku.” Jawabnya dengan wajah nelangsa.
“Kamu tuh gimana sih, Nik, aku kan dari semalem ngajakin kamu makan. Kenapa nggak ke ruanganku dulu?”
“Tadi aku kelaperan, Ka. Aku mana sempet mikirin kamu saat aku lagi laper berat.”
Arka tertawa kecil. “Oke, besok-bseok sebelum jam istirahat aku bakalan ke ruangan kamu dulu.”
Alena menatapku dengan tatapan menilai. Aku ingin sekali mencolok matanya yang sombong itu. Dia dan Adit memang sama aja sih. Sama-sama menilai rendah orang lain.
“Gara-gara semalem aku ngajakin Arunika makan tapi malah nggak dibolehin Adit.”
“Hah?” Alena tampak terkejut dengan pernyataan Arka. “Kenapa dia nggak ngebolehin kamu ngajak makan Arunika?”
Aku tahu Alena mulai cemburu.
“Ya, mana aku tahu. kamu bisa nanya ke Aditnya langsung.”
“Pekerjaanku belum selesai.” Kataku. Aku bisa melihat wajah menegang Alena berubah tenang. “Adit nggak mau kalau pekerjaanku belum selesai terus aku makan sama Arka.”
Arka hanya tersenyum miris.
“Oh. Yaiyalah, pekerjaan kamu belum selesai tapi kamu mau makan aja. Lagian jadi bawahan tuh harus profesional.” Sindirnya.
Sumpah demi bintang-bintang pengen banget nabok mulut Alena.
“Tuh, orang yang diomongin dateng.” Arka menunjuk Adit dengan dagunya.
Adit duduk di samping Alena.
“Aku udah selesai makan.” Kataku sengaja agar segera pergi dari hadapan Adit. Tapi, Arka menahanku.
Dia menggenggam tanganku. Aku kaget dengan rasa hangat dari tangan Arka. “Nanti, Nik.” Katanya.
Adit melihat Arka menggenggam tanganku. Kalau nggak ada Alena, Adit pasti misuh-misuh. Bisa-bisa dia bakalan ngelakuin ancamannya tempo hari saat Aksa meminta bertemu denganku.
Aku sendiri merasa deg-degan. Aku nggak suka saat deg-degan kaya gini.
“Wah, Arka udah mulai pegang-pegang ya.” Alena menatapku.
“Nik, jangan sok jual mahal ya. Kelihatan banget Arka suka sama kamu. Lagian kamu kan lama nih sendiri kapan lagi dapet cowok ganteng kaya Arka.”
Perkataan Alena membuat kupingku panas.
“Aku harus pesen makanan buat Lanna, Rara dan Ansell." Kataku bangkit dan merasakan genggaman tangan Arka kemudian lepas.
“Emang susah sih kalau berurusan sama Arunika.” Alena geleng-geleng kepala.
Aku nggak tahu mereka ngobrol apaan lagi. Yang jelas aku merasa dadaku sakit. Sakit oleh perkataan Alena. Aku benci Alena. Sangat benci.
Aku kembali ke ruanganku dengan membawa pesanan Lanna, Rara dan Ansell.
“Nik, muka kamu kenapa cemberut gitu?” Tanya Ansell yang penasaran.
Nik, jangan sok jual mahal ya. Kelihatan banget Arka suka sama kamu. Lagian kamu kan lama nih sendiri kapan lagi dapet cowok ganteng kaya Arka.
Perkataan Alena membuatku benar - benar muak dengannya. Bagaimana kalau aku bisa buat Aditya bertekuk lutut padakudan membuat Alena kehilangan Adit. Anggap aja semacam karma untuknya yang merendahkanku dengan kalimat-kalimat pedasnya itu.
Tapi, bagaimana caranya buat Adit jatuh cinta sama aku? Bagaimana caranya buat dia bertekuk lutut padaku?
***