Adit adalah seorang pria penggila kebersihan. Dia sampai mandi malam-malam begini karena hanya sebuah kopi yang jatuh di dadanya. Jujur aja di satu sisi aku ingin ketawa tapi di sisi lain aku juga kesel sama Adit. Rasanya pengen banget meluk dia dan membenamkan pria itu di dadaku. Eh, s**t!
Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya membalut bagian bawahnya dengan handuk. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku melihat Adit hanya mengenakan handuk. Tapi, kenapa aku malah merasa jantungku berdegup kencang ya.
“Kenapa?” Tanyanya dengan angkuh.
Dahiku mengernyit. Aku menggeleng.
“Aku seksi ya?” Dia tersenyum tipis dan mendekatiku.
Aku cuma meringkuk di bawah selimut.
Aku terkejut saat Adit menarik paksa selimutku. Jangan-jangan dia minta dilayani lagi. Tapi, Adit memangnya mau sama aku? Bukannya dia sendiri yang bilang nggak bakal mau nyentuh aku. Aku bukan selera pria sok ganteng dan sok seksi ini kan. ngomong-ngomong, tubuh Adit emang kekar. Dia rajin olahraga dan tentunya peduli sama penampilannya.
“Mau lihat nggak?” Tanya Adit dengan nada suara menggodaku.
Sialan!
“Aku nggak mau lihat apa pun.” Kataku dengan mata terpejam. Pokoknya jangan dilihat apa pun yang Adit perlihatkan padaku.
“Lihat sini bentar doang.”
“Nggak, Dit!” Aku masih memejamkan mata.
“Ayolah,” rengeknya.
Aku makin ketakutan. Aku nggak mau disentuh Adit sama sekali. Meskipun kami suami-istri. Ini nggak boleh terjadi kecuali Adit nggak punya Alena.
“Mamah bilang kalau kamu nggak hamil selama tiga bulan ke depan, kamu harus ikut program hamil dan resign dari kantor.”
“Persetan!” Aku membuka mata dan melihat Adit nyengir. Dia masih mengenakan handuk.
“Kalau kamu nggak cepet hamil nanti aku yang repot. Mamah bakal ngawasin kita terus. Bisa-bisa dia nanti tinggal di sini lagi.”
“Bukannya kamu sendiri ya, yang bilang nggak mau nyentuh aku.”
Adit duduk di tepi ranjang dan menghadapkan wajahnya padaku. “Well, itu dulu, Nik. Karena kamu sok cantik dan arogan kalau di depan aku. Sok jual mahal.”
“Isshhh! Apa bedanya sama sekarang.”
“Sekarang, setiap kali aku melihatmu aku merasa...” Dia melirikku dengan lirikan mata yang nggak pernah diperlihatkannya padaku. Semacam lirikan tergoda olehku. Astaga! Aku harus segera kabur dari sini. Tapi... di rumah ini tidak ada siapa pun kecuali kami.
“Merasa apa?” tanyaku takut-takut.
“Masa kamu nggak ngerti?”
“Tolong ya, jangan macem-macem.” Aku hendak berdiri kalau saja Adit tidak mencegahku. Dia meraih tubuhku dan berhasil menindihku.
Astaga, bagaimana kalau handuk yang melilit bagian bawah Adit lepas?
Aku bisa merasakan napasnya yang hangat. Kami saling bertatapan.
“Sebenarnya, apa yang terjadi, Dit? Bukannya Alena sakit ya. Kamu kenapa malah mengajakku pulang?” Aku bertanya di sela-sela ketakutakanku berharap aku bisa membuat Adit melepaskan tangannya yang mengunci tanganku.
“Karena aku menginginkanmu malam ini, Nik.” Suaranya hangat.
Jantungku berdegup kencang.
“Dit...” lirihku.
Aku teringat malam saat kami berdua berada di dalam kamar yang baru saja sah sebagai pasangan suami-istri.
“Tolong ya, Pak, saya tidak mau disentuh barang seinchi pun.” Itu adalah kalimat pertama yang meluncur dari kedua daun bibirku setelah kami sah menjadi pasangan suami-istri.
` Adit dengan mata elangnya menoleh santai. “Kamu pikir aku mau?” Dia berkata seakan aku tidak layak disentuh olehnya.
Kalau diingat-ingat saat malam itu, rasanya nggak mungkin Adit mau menyentuhku. Mengingat betapa nggak sukanya kami satu sama lain. Saat Adit masih berstatus bosku dan saat aku dan dia tidak tahu mengenai perjodohan ini, Adit selalu saja merendahkanku dan menyindirku. Arka adalah saksi yang tahu bagaimana sikap Adit padaku.
“Kenapa? Kamu mau?” Tanya Adit, matanya menatapku lekat-lekat.
Ya ampun, apakah malam ini aku akan menyerahkan semuanya pada Adit?
“Kamu belum pernah melakukannya?” Ini adalah pertanyaan paling sensitif yang Adit tanyakan padaku.
Aku menggeleng.
“Bagus. Aku akan memberikanmu pengalaman yang tidak akan pernah kamu lupakan.” Suaranya kali ini mirip seperti seorang pria dewasa yang akan memberikan sesuatu yang berbau ‘dewasa’ pada gadis polos.
“Apa kita benar-benar akan melakukannya?” Perasaanku bercampur aduk. Ada takut, gelisah, khawatir tapi juga penasaran. Aku tidak boleh gegabah dengan mengiyakan keinginannya. Kalau sampai itu terjadi akan ada malapetaka yang muncul nanti.
“Iya.” Ujarnya. “Kamu sangat seksi malam ini, Nik.”
Apanya yang seksi? Apa Adit lagi mabuk? Atau dia membayangkan aku sebagai Alena?
“Kamu mau kan?” Tanyanya lagi.
Aku tidak menjawab apa-apa selain hanya menatapnya dengan perasaan takut namun terkendali.
Bagaimana ya? Adit memang suamiku tapi bagaimana kalau dia melakukannya hanya karena terdorong nafsu belaka? Lalu kenapa aku jadi bingung seperti ini sih?
***
Aku memilih memejamkan mata.
Hening.
Lalu suara tawa terbahak-bahak menggema. Aku membuka mata dan melihat Adit tertawa terbahak-bahak. Dia bangkit dari atas tubuhku. Aku mengernyit heran.
“Jadi, cuma sampai di sini pertahananmu?” Ejeknya.
Dia cuma ngerjain aku?
Sialan!
Wajahku memerah seketika. Emang ya, Arunika t***l banget. Masa nggak ngerti kalau Adit itu cuma ngerjain aku doang.
“Arunika... Arunika... kamu mau menghabiskan malam ini denganku?” Tanyanya dengan tatapan mata mengejek.
Aku memberengut kesal. Menarik selimut sampai ke wajahku. Aku benci Adit!
“Mau lihat aku telanjang nggak?” Dia bertanya dengan nada suaranya yang menggoda.
“Suruh aja Alena yang lihat kamu telanjang sana!”
Adit kembali tertawa.
“Mau minum sama aku nggak, Nik?” Adit bertanya dengan nada serius. Aku menurunkan selimut yang menutupi wajahku.
“Mabuk maksudnya?”
“Nggak sampai mabuklah. Minum dikit aja.”
“Kenapa?” Aku bertanya penasaran.
Adit mengabaikan pertanyaanku. Dia berjalan menuju lemari pakaian dan mengenakan pakaiannya, aku menutup mata saat Adit melepaskan handuknya.
Sengaja banget sih, nih, orang!
Adit keluar kamar dengan hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek. Kenapa ya, ekspresi wajahnya cepet banget berubah. Tadi, dia tampak puas mengerjaiku tapi sekarang wajahnya tampak serius. Ngajak minum bersama lagi, udah tahu aku nggak pernah minum. Boro-boro mau minum, nyium baunya aja mual.
Aku mencoba mengingat-ngingat masa saat aku tidak tahu kalau Adit adalah calon suamiku. Pagi itu, aku masih berstatus sebagai wanita single. Duduk di ruanganku bersama Ansell, Lanna dan Rara.Adit tibatiba masuk ke ruanganku. Melepas jasnya di kursi depanku. Menopang dagu dan menatapku seperti tatapan seseorang yang sedang menimbang-nimbang.
***