3. Kenal?

2140 Kata
Aku mencintainya, tidak peduli itu benar benar cinta atau hanya sekedar obsesi semata ** kini malam sudah menyapa. Dhiya, Indah, dan Siska memutuskan untuk duduk di balkon kamar yang menghadap langsung ke arah laut. Balkon disini, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, beruntung sekali Dhiya mendapatkan kamar di lantai dua.  Sedang asik-asiknya bermain gitar, dengan Siska yang menjadi vokalisnya. Tiba-tiba saja, handphone Dhiya bergetar, menandakan jika ada pesan yang masuk. Pake jaket kalau mau duduk di balkon, angin malam gak cocok buat kesehatan. Dhiya mengernyitkan keningnya bingung kala nomor asing lah yang mengirimi dirinya pesan. Dhiya berpikir pasti itu adalah teman atau pengagum rahasia yang bersekolah ditempat yang sama dengannya, wajar saja jika Dhiya banyak penggemar, mengingat jika gelar primadona di raih oleh dia di sekolahnya. Siapa ya? Dhiya membalas pesan tersebut, setelah berpikir agak lama. Banyak yang mengirim DM dia di i********:, hanya berbasa-basi ataupun sekedar menyatakan perasaannya. Namun, dari sekian banyaknya laki-laki, belum ada yang mampu menarik hatinya dari gelapnya masa lalu dia. Dhiya tak pernah menyebar nomornya pada siapapun, menurut dia, nomor pun privacy. Tapi sekarang, nomor asing itu malah mengirimi dirinya sebuah pesan bukan di sosmed. Arkan Dhiya membulatkan matanya dengan sempurna, tentu saja dia sangat terkejut. Arkan? Pemuda yang kemarin sore mengobrol dengannya di pantai menghubunginya. Bahkan sejak kejadian itu, Dhiya tidak pernah lagi bertemu dengan Arkan. Lalu dapat nomor dirinya dari mana, Arkan? Sekilas tentang Anindhiya, Dhiya tidak pernah mempunyai teman laki-laki setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu yang membuat dirinya malas untuk berhubungan dengan pria, dia juga tidak pernah berkenalan dengan yang namanya Arkan terkecuali Arkan yang satu hari lalu mengobrol dengannya. Jadi Dhiya berpiki kalau Arkan yang mengirimi pesan barusan adalah Arkan yang pernah mengobrol dengannya tempo lalu. "Aneh" pikir Dhiya. Kalau untuk orang lain mungkin tidak akan ada yang dapat menolak pesona dari seorang Arkan, lain hal nya dengan Dhiya . Ia nampak cuek dan mengubur dalam-dalam rasa penasarannya dengan sosok Arkan. Lihatlah sekarang Dhiya malah mengabaikan pesan tersebut, dan fokus kembali pada penglihatan sebelumnya yaitu, pantai. Gitarnya sudah di mainkan oleh Indah. Dhiya segera mengambil handphone yang ia taruh di depan, tepat di atas meja. Hanya ingin melihat siapa yang menelponnya, dahi Dhiya berkerut kala seseorang yang barusan mengirimi pesan malah menelponnya. Siapa lagi kalau bukan Arkan. "Hallo" ucap Dhiya "kamu udah makan?" tanya seseorang di sebang sana. Suaranya terdengar tak asing di pendengaran Dhiya. "Belum" jawab Dhiya singkat "Kita nyari makan sekarang. Aku tunggu di bawah, gak ada penolakan! Karna aku sekalian mau bicara sesuatu yang penting sama kamu." terang Arkan setelah itu mematikan telponnya secara sepihak. Dhiya mendengus kesal dengan Arkan yang ia panggil dengan sebutan om. Bagaimana bisa? Dia dengan mudahnya mengajak dhiya makan malam, malam-malam begini. Dan lagi mereka baru kenal. Huh dasar. "Gue aja masih bingung siapa Arkan. Atau jangan-Jangan Arkan cuman mau nyulik gue dan menjadikan gue sandra . Tapi masasih dia begitu." Batin Dhiya, "Lagi pula kalau arkan macam macam. Gue bakalan laporin ini sama ayah. Mengingat gantungan kalung liontin gue yang dalam nya di pasang GPS, Pasti kalau gue kanapa-napa ayah bakalan cepet nemuin gue. Gue juga bisa bela diri kok," sambung batin Dhiya. Dhiya pun berpamitan kepada sahabatnya dengan beralasan ingin ke supermarket depan, membeli pembalut. Awalnya Siska dan Indah akan ikut tapi dilarang oleh Dhiya, bisa gagal kalau mereka ikut. Dhiya memutuskan bersiap siap karena juiur ia sedari tadi belum makan dan perutnya sudah sangat lapar. Dan ada satu hal yang mendorongnya untuk meng-Iya kan ajakan Arkan selain lapar ia juga penasaran apa yang akan Arkan beritahukan kepadanya. Untuk kali ini seorang Dhiya tertarik kembali dengan laki-laki? Dhiya menuruni anak tangga satu persatu, sambil memainkan Handphone nya. Dhiya segera menghempaskan tubuhnya di sofa sembari menunggu balasan dari Arkan. Dan tanpa sadar di ruangan itu bukan hanya ada dirinya saja. Betapa terkejutnya kala di samping kanan dan depannya banyak pasang mata yang melihat ke arahnya, dengan tatapan bingung. Siapa lagi kalau bukan para tentara. Hah? Tentara? "Jangan bilang kalau gue se villa sama para tentara" batin Dhiya sambil menatap mereka satu persatu. Arkan? Kenapa dia ada disini , apakah Arkan seorang tentara? Dan berarti?" Seketika pipi Dhiya merona karena menahan malu. Bagaimana bisa Dhiya tidak mengetahui jika banyak orang di sofa. Ohh Good! Tenggelamkan gue sekarang. Apalagi sekarang banyak pasang mata yang meliriknya dengan tatapan heran. Ahh s**t! Arkan s****n kamu! "Kenapa pipi mu merah, Nona?" tanya Arkan menggoda Dhiya. "Hmmm.. itu anu" jawab Dhiya malu sekaligus gugup sambil menundukkan kepalanya dan meremas ujung bajunya, tak lupa dia bedoa dalam hati semoga dia dapat menghilang sekarang juga. "Assalamualaikum," salam seseorang dari pintu masuk. Bersamaan dengan wajah Dhiya yang sudah berubah bak kepiting rebus. Semacam maju kena mundur tidak bisa. Namun, Dhiya bersyukur karena ada seseorang yang masuk, dengan begitu Dhiya pun berinisiatif untuk kabur kembali lagi ke kamar. Namun Tunggu.. "Kok suaranya gak asing" lirih dhiya pelan bahkan sampai tidak akan ada yang mendengar selain dirinya sendiri. Dhiya mendongak, lagi-lagi matanya membola dengan sempurna, Dhiya menatap binar pada seseorang paruh baya yang lengkap dengan memakai baju seragam Tentaranya. "Ayahhhhh!" teriak Dhiya nyaring. Dan itu mampu mengagetkan Arkan beserta kawanannya yang sedang memeberi hormat kepada Herman-Ayah kandung Dhiya. Herman wijaya Mahendra. Adalah Ayah kandung Dhiya. Profesinya adalah sebagai tentara Angkatan Udara namun ia sudah cukup terpengaruh di bidangnya, sepupu atau lima belas tahun lagi mungkin Herman pensiun. Dhiya beranjak dari duduknya dan segera Memeluk ayahnya yang sudah berumur 40 tahunan tetapi masih kelihatan gagah dan tampan. Dengan mata yang berkaca kaca Dhiya masih memeluk ayah nya erat. Bayangkan saja sudah sembilan bulan lamanya Dhiya tidak bertemu dengan Herman. Ayahnya sangat sibuk dengan pekerjaannya yang tidak selalu pulang ke rumah. Setiap malam Hanya lewat Vidio Call saja mereka bertemu, apalagi mengingat jika Dhiya tidak punya sosok seorang Ibu membuat Dhiya semakin kesepian. Dhiya hanya di asuh oleh seorang pembantu paruh baya yang sudah mengasuhnya sedari bayi. Dhiya juga sempat bertanya dimana bunda pada pembantunya mbok Nah. Namun, jawabannya selalu mengatakan tidak tahu atau hanya dengan gelengan kepala saja. Huft, Mungkin Dhiya tidak ditakdirkan hidup bersama bunda nya. Meski begitu Dhiya tidak pernah menyesal untuk hidup, Dhiya menjadi anak yang mandiri dan slalu men-support kegiatan ayah nya meskipun memakan banyak waktu sekalipun. "Hay sayang...kamu ikut juga ternyata, ayah Kangen" ucap Herman sambil memeluk putri satu-satunya lagi itu. "Untung Dhiya ikut jadi bisa ketemu sama ayah. How are you, Dad? I miss you more" jawab Dhiya beserta dengan isak tangisnya Herman segera memeluk kembali Dhiya sambil mengelus rambutnya dengan sayang, "Malam ini dan delapan hari kedepan kita habiskan moment bersama ayah disini, bagaimana?" tanya ayahnya. Dhiya langsung melepas pelukan ayahnya, dan segera menatap binar sang ayah. "Really??" jawab Dhiya antusias dan hanya di balas anggukan kepala oleh herman. Herman terkekeh mendengar bunyi yang berasal dari perut anaknya. Bukan hanya Herman semua yang ada disana 'pun terlihat menahan tawanya. Jarak mereka dekat tentu saja akan terdengar bunyinya. "Apa kamu lapar little girl?" tanya Herman yang hanya di balas dengan anggukan kepala dari Dhiya. Jujur Dhiya sangat malu kali ini. Kenapa perutnya tidak bisa diajak kompromi. "huh menyebalkan" batin Dhiya. "Yasudah sekarang kamu makan ya, mau makan apa princes?" tanya Herman kembali. "No dad, There Was a young man who invited me to eat, But it turns out he is lyng (Tadi ada seorang pemuda yang mengajakku makan, tapi ternyata dia berbohong)" jawab Dhiya jujur. Herman mengernyitkan keningnya. dalam hatinya berkata Sejak kapan Dhiya mempunyai seorang teman laki-laki, seingatnya tidak ada. Terkecuali saat dulu. Arkan? Dia yang mendengar semuanya pun sedikit terkejut. Ia lupa bahwa tadi dirinya mengajak Dhiya untuk makan di luar. Dan sekarang, Arkan harus apa? Meskipun ia tentara tapi kalau harus berhadapan dengan atasannya sendiri. Rupanya sedikit canggung. Namun, Arkan sudah terlanjur mengajak jadi bagaimana pun juga ia harus menanggung semua konsekuwensinya. Dan juga masalahnya dengan Dhiya harus segera ia selesaikan. "Benarkah?" tanya Herman pada Dhiya dengan nada sedikit terkejut. "Yes daddy, maybe now she's embarrarsed or forget." jelas Dhiya sambil melirik kecil ke arah Arkan. Sebenarnya bisa saja Dhiya makan bersama dengan sang ayah. Tapi, dia sudah terlanjur penasaran dengan apa yang akan Arkan bicarakan padanya nanti. Arkan yang merasa tersindir pun segera maju satu langkah dan langsung menundukkan kepalanya. "Maaf komandan, saya lancang mengajak putri anda untuk makan di luar, soalnya sedari tadi putri anda belum makan" ucap Arkan sopan. Herman tersenyum, ' Dhiya pasti aman bersama Arkan. apalagi kalau dia tau semuanya' batin Herman. "Yasudah, kalian makan sekarang. nanti keburu malam. Dan ingat Arkan, jangan biarkan Dhiya makan yang pedas. Nanti asam lambungnya bisa kambuh" jelas Herman sambil menepuk pelan bahu arkan. "Siap ndan," jawab Arkan mantap. "Kalau bukan penasaran gue pasti gak akan pergi makan sama Arkan. Lebih baik gue makan sama ayah dan bermanja manja bersamanya," Batin Dhiya. Arkan tersenyum, dan langsung menatap Dhiya. "Siap berangkat?" tanya Arkan. "Siap om" jawab Dhiya dengan senyuman khasnya. Semua yang ada di situ pun tertawa mungkin karena Arkan di panggil om. Padahal umur Arkan baru akan menginjak 26 tahun. Sedangkan Dhiya, beberapa bulan lagi 18 tahun, hanya terpaut umur delapan tahun saja. Arkan menghiraukan gelak tawa mereka, mereka berdua pun berjalan keluar setelah berpamitan pada Herman. "Mau pakai mobil atau motor?" tanya Arkan "Pakai motor aja. Seru kali ya om?" jawab Dhiya. Akhirnya mereka pun pergi dengan menggunakan sebuah motor beat berwarna biru putih, milik temannya yang sudah ia pinjam. ** Setelah berkeliling mencari restoran, akhirnya mata Dhiya jatuh pada penjual bakso di pinggir jalan. "Niat mau ke restoran malah nongkrong di angkringan. Hahhaaaa" "jangan pake sambal ya," ujar Arkan, saat Dhiya akan memasukkan sambal ke mangkuknya. "Tapi kan gak bakalan enak om" elak Dhiya. "Kalau begitu saya bakalan telpon pak Herman sekarang" ancam Arkan. "Iyah deh iya" jawab Dhiya pasrah. ** Setelah makan, Arkan memutuskan untuk pergi ke taman mengajak Dhiya. "Kencan nya malam sabtu ya" celetuk Dhiya asal. "Setiap malam juga ayo" jawab Arkan yang langsung seketika membuat Dhiya terkejut. "Ehh, dasar om." "Kamu bisa gak jangan panggil aku om. Kakak aja atau Arkan" pinta Arkan. "Yasudah kakak saja bagaimana?" tanya Dhiya. Yakali dia manggil nama, ketahuan gak sopan nya, kan? "Baiklah" Hanya keheningan yang terjadi diantara mereka, tidak ada yang mau memulai percakapan duluan. Hingga akhirnya Arkan melepas jaket kulitnya, dan memakaikannya di tubuh mungil Dhiya. "Makasih," ucap Dhiya, yang terlihat malu malu. "Anin" panggil arkan, di iringi dengan senyumannya. "Ya" jawab Dhiya singkat. Dhiya merasa tidak asing dengan panggilan itu, dia jadi teringat seseorang yang berada di masa lalunya. "Mungkin hanya kebetulan" batin Dhiya. "Kamu ingat gak. Dulu laki laki yang sering ngejaga kamu saat kamu di bully sama temen temen kamu, hingga pada akhirnya kamu tidak mempunyai teman selain laki-laki itu," tanya Arkan. deg Jantung dhiya berpacu lebih cepat. Ah tentu saja dia ingat, laki laki itu adalah Wira. lalu laki yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. "Dulu kamu cengeng, kamu selalu minta di gendong. Tingkah kamu yang dulu lucu dan ceria, kenapa sekarang kamu berubah menjadi wanita cuek dan dingin? Bahkan awalnya aku sangat susah mengenalimu. Apa karena Wira mu yang pergi di bawa orang tuanya pindah ke luar kota, sehingga kamu menjadi seseorang yang murung?" ujar dan tanya Arkan. Satu bulir air mata jatuh di pelupuk mata Dhiya. Bukan hanya satu bulir tetes tapi kini kian banyak kala Arkan memeluknya erat. "Maafin aku Anin," lirih Arkan sambil memeluk Dhiya. "Kenapa kamu jahat kak. Kamu ninggalin aku sendiri," tangis Dhiya seketika pecah. Arkan adalah wira, Wirra yang Dhiya punya selain ayahnya dan mbok Nah. Namun, waktu itu.... "Anin kalau aku pergi kamu jangan nangis ya" ucap bocah yang berumur 13 tahun menatap Anin. "Memangnya kakak mau kemana?" jawab Anin sambil duduk dipangkuan bocah itu. "Kakak mau pergi jauh. Tapi, Anin harus percaya kalau kakak bakalan nemuin anin dan nikah sama Anin saat kita sudah dewasa dan memiliki banyak uang." ucapan dewasa itu lolos di bibir anak itu. "kakak harus janji kalau kakak gak bakalan ninggalin Anin" pinta Anin. Mereka pun bercanda dan bermain hingga petang. Hingga akhirnya mereka pulang bersama sama karena rumah mereka bersebelahan. Dan sejak hari itu, Anin tidak pernah bertemu dengan Wira yang sudah ia anggap sebagai kakak nya sekaligus pelindungnya. "kamu mau kan maafin kakak?" tanya Arkan sekali lagi. "Aku gak tau," lirih Dhiya, yang masih berada di pelukan Arkan. "Kakak akan membalas semuanya, sekarang kakak akan menjaga kamu seperti dulu. So,will you be my lover?" tanya Arkan mantap. Kali ini, ia tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya. Dhiya segera mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata Arkan dalam. Bisa Dhiya rasakan tidak ada kebohongan di dalam manik mata Arkan, malah arkan sekarang tengah menangis meskipun tidak cukup kentara karena pencahayaannya yang remang. "Apa kalak sedang menembakku?" tanya Dhiya. "Tentu saja, dan kakak gak mau ada penolakan, pilihan nya iya atau iya." jawab arkan "Mana ada pilihan seperti itu kak," protes Dhiya tak terima. "Jadi bagaimana? Apakah kamu mau menjadi pacar kakak?" tanya Arkan sekali lagi sambil menatap lekat mata Dhiya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN