1. Perkenalan
"BAGAIMANA BISA, MAS! Mereka berdua itu anakku anak kita, mereka tak boleh dipisahkan." seorang wanita yang tak lagi muda itu tengah menangis dalam satu ruangan. Bagaimana bisa dia melepas salah satu anaknya begitu saja, sedangkan jauh disana tidak ada orang yang akan mengurusnya. Suaminya memang sudah gila, rela mengorbankan salah satu anaknya hanya karena sebuah ketakutan yang belum tentu terjadi.
"Tapi dek, kamu gak mau kan dua anak kita nantinya dibunuh. Mas gak mau, kalau mereka kenapa-napa."
"Kamu berbicara terlalu jauh mas, sebelum mereka bisa menyentuh anakku. Maka mereka harus melewati ku terlebih dulu!"
Pria itu menggeleng pelan dan mendekat badan istrinya yang sudah bergetar sedari tadi. "Dek, mas tau bagaimana perasaan kamu. Mas pun begitu, berat rasanya. Tetapi ini suruhan Aki, kita bisa menyepelekan hal ini."
"Mas, lalu bagaimana nasib dia kalau kita kirim kesana."
"Semuanya akan baik-baik, percayakan sama mas. Kita juga masih bisa melihat dia disana."
Wanita itu semakin menangis sambil memeluk suaminya erat, memukul-mukul d**a pria yang sudah bertahun-tahun menjadi suaminya.
"Ini gila, aku bisa gila mas!"
"Shut.. semuanya akan baik-baik saja dek."
***
Malam semakin larut, tapi aku sama sekali tak bisa tertidur karena perasaan yang tak karuan, aku memikirkan kejadian satu minggu yang lalu dimana kekasihku Elisha tega meninggalkanku begitu saja. Alasan nya memang tak masuk akal, Elisha mengaku jika dirinya sering diganggu oleh makhluk halus setelah mengenal dirinya. Padahal dia melihat jika Elisha baik-baik saja. Kalau seperti ini, Elisha jadi berpikiran jika Elisha meninggalkannya karena ada pria lain.
Saat pertemuan itu, aku tak melihat Elisha sejenak pun. Elisha benar-benar pergi bak di telan bumi. Kita memang sama-sama sudah wisuda, lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Jadi, kita tak bertemu. Bahkan nomor nya saja tidak dapat di hubungi, kemana dia?
Yang aku tahu tentang Elisha adalah, wanita itu anak rantauan. Aku saja tak tahu pasti dia asal dari mana, tetapi dia sempat memberitahukan aku bahwa dia berasal dari Jawa Timur. Rasanya bisa gila jika aku terus menerus memikirkan wanita itu.
"Kevin, kita itu udah gak bisa bersama." Wanita cantik itu, berbicara dengan nada jengkel.
"Kenapa kamu berucap seperti itu, Elisha?" jawabku. "Bukannya selama ini, kita baik-baik saja?" Tanyaku.
"Ya! Menurut kamu baik-baik saja. Tetapi kenyataan yang sebenarnya aku ketakutan Kevin! Aku sering diganggu makhluk halus setelah mengenal kamu!" Elisha berkata dengan nada yang membentak, cukup untuk meruntuhkan pertahanan ku.
"Apa kamu sedang berbohong, Elisha? Jangan bercanda itu nggak lucu!"
"Siapa yang bercanda, Kevin. Aku mengatakan yang sebenarnya!" Elisha terlihat jengkel denganku, sepertinya Elisha benar-benar dengan ucapannya. Lalu apa yang harus aku lakukan sebagai seorang pria?
Aku terdiam, bersiap mendengarkan apa yang akan Elisha katakan selanjutnya. Kuharap perkataan selanjutnya bukanlah kata terakhir sebagai bentuk perpisahan.
"Kevin, aku mohon lupakan saja aku."
Damn it! Kata itu adalah kata-kata yang sama sekali tak ingin aku dengar. Meskipun aku sering cuek pada Elisha tetapi aku tetap mencintai dan menyayangi nya.
"El_"
Elisha menggelengkan kepalanya pelan. " Kevin, aku mohon. Aku sudah tak mau lagi sama kamu, aku capek aku lelah."
"El, apa kamu benar-benar sedang mengatakan kata itu?"
Elisha mengangguk. "Aku serius, aku pergi dulu semoga kamu bahagia ya."
Aku tak bisa berkutik, hanya bisa memandang langkah buru-buru Elisha. Apa benar? Hubungan seberapa lama pun akan kalah dengan orang yang selalu ada? Kali ini aku mengakui, aku benar-benar nyeri.
Melangkahkan kaki gontai untuk sampai ke kamar mandi, sudah seminggu ini aku kehilangan selera. Selera makan, main bahkan yang lebih parahnya tak ada niat untuk membersihkan diri. Yang ada aku hanya ingin tidur dan melupakan masalah Elisha sebentar saja. Sulit memang, tak mudah sudah pasti. Waktu aku berhubungan dengan Elisha bukanlah waktu yang sedikit. Suka duka canda tawa sudah kami rasakan sebelumnya.
Selesai mandi aku bergegas memakai baju, menghela nafas sejenak. Kadang aku tak ingin mempunyai penglihatan lebih seperti ini, kadang juga aku bersyukur mempunyai-Nya.
Jalan terindah dari kehidupan adalah mensyukuri apa yang telah kita jalani setiap hari, tanpa ada penyesalan diri. Tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Kecuali bagi yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan. Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan. Bersyukurlah karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita arti kesungguhan.
Kriekk
Suara pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya, baru saja sedang membicarakan tentang rasa syukur kepada Tuhan, makhluk halus ciptaannya sudah mengganggu. Apakah jika seperti ini, aku harus tetap bersyukur?
"Mau ngapain kamu, mengganggu saja!" Ucap ku pada sesuatu yang entah kenapa tak bisa aku lihat. Memang aku tak sepeka apa yang kalian kira, kadang bisa melihat kadang juga tidak.
Aku kembali menghela nafas, bosan mulai hinggap. Hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum dua hari yang akan datang pergi ke Bandung dan mungkin akan menetap disana.
Aku berjalan di taman seorang diri, mataku celingukan tak jelas keadaan sedang mendung pantas saja taman menjadi sepi, mataku tiba-tiba saja tak sengaja menangkap sosok orang yang tengah tertidur di bangku taman. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan jika itu adalah manusia bukan selainnya. Benar! Kelihatannya Dia manusia seperti seorang wanita.
Aku menghampiri wanita itu, rintik hujan mulai turun tetapi terhalang karena pohon yang ada di belakang ku ini cukup rindang sehingga aku hujan tak kecil tak dapat menembusnya. Ku lihat wajah wanita itu, tidak asing seperti pernah melihat tetapi dimana.
"Mbak, bangun mbak hujan." Ucapku pada wanita itu.
Tak ada pergerakan sama sekali, dan aku memutuskan untuk memegang lengannya, siapa tahu dia bangun.
Saat aku membangunkan untuk yang ketiga kalinya, barulah wanita itu bangun. Dia menatapku tajam dengan kantung mata hitam nya, sangat seram.
"Terimakasih sudah memabangunkan." Aku mengangguk, malas berdebat lagi. Tanpa permisi dia segera pergi menembus hujan dengan langkah kaki nya yang cepat. Tunggu! Wanita itu mirip sekali dengan Elisha. Ah sepertinya Kevin banyak menghayal saking belum bisa move on nya dari Elisha.
***
Alisa kinanti, wanita berusia 19 tahun yang mempunyai banyak sekali rahasia dalam hidupnya. Tetapi setelah kedatangan Kevin ke desanya, rahasia itu perlahan memudar. Kesakitannya selama ini dapat terobati. Ketakutan nya selama ini bisa ia lewati hanya dengan terus bersama dengan Kevin. Yang dia rasakan saat ini, dirinya takut jika Kevin pergi lantas siapa yang akan menguatkan dirinya kembali?