Amam menerima ajakan Pak Wawan untuk mampir ke rumahnya yang tak begitu jauh. Pak Wawan yang semula hanya berjalan kaki, kimia berada di atas motor milik Amam.
Keduanya turun beberapa menit kemudian. Pak Wawan mengeluarkan anak kunci. Rumah Pak Wawan tidak besar. Terbilang standar untuk rumah guru se-Indonesia. Halamannya cukup luas, ditanami pohon jeruk purut dan tanaman hias lain. Ada bunga kenanga juga di sana yang menguarkan aroma harum.
Begitu pintu rumah terbuka, Amam mengikuti langkah kaki Pak Wawan. "Kamu mau langsung tidur atau mau makan dulu, Mam?"
"Eh. Langsung tidur saja, Pak. Saya sudah makan."
Pak Wawan mengangguk paham. "Saya antar ke kamar tamu."
Kamar tamu yang dimaksud Pak Wawan letaknya ada di dekat ruang makan. Kamar itu cukup nyaman. Ada kamar mandi di dalam, kasur ukuran single, kipas angin di dinding, rak berisi buku-buku Islam, dan tulisan kaligrafi di atas pintu kamar.
"Maaf kalau kamarnya jelek. Bapak nyuruh kamu mampir ke sini malah ngasihnya kamar sumpek, ya." Pak Wawan tersenyum tidak enak hati. Namun, Amam menggeleng. Ini sudah sangat nyaman.
"Ini lebih baik daripada kamar kos saya, lho, Pak." Lelaki itu tersenyum hangat dan ramah, membuat sosok bapak di hadapannya ikut tersenyum.
Pak Wawan dapat melihat ada binar yang berbeda dengan Amam saat ini. Wajahnya lebih cerah, nada bicaranya menyejukkan, lelaki itu tampak tulus. Berbeda dengan Amam yang dulu. Dia terkesan pembangkang, liar, dan tidak tersentuh hatinya.
"Ya sudah istirahat. Besok pagi Bapak bangunkan."
Amam mengangguk. Membiarkan Pak Wawan naik ke lantai atas, menuju kamarnya.
Ia lalu menutup pintu dan duduk di ujung ranjang sembari mengembuskan napas.
"Bisa-bisanya aku sampai ke sini " Amam terkekeh sendiri membayangkan kelakuannya. Amam hampir saja hendak beranjak untuk tidur sampai akhirnya ia ingat bahwa ia belum berwudu. Ia lalu bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Setelah itu baru ia tidur dengan nyenyak.
***
Seira menangis di ujung ranjangnya, membenamkan kepalanya ke bantal. Sudah tiga jam dia mengeluarkan air mata pasca melihat hasil tes kehamilannya.
Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dari semua alat tes kehamilan yang ia beli, semuanya menyatakan bahwa ia tengah hamil.
Seira benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya, dan apa yang akan terjadi dengan sekolahnya. Apakah dia bisa hidup atau justru harus mengakhiri semuanya.
Di kepalanya muncul nama Amam. Apa ia harus memberi tahu Amam? Bukankah itu akan merusak masa depannya? Seira tidak mungkin menggugurkan kandungannya. Sudah cukup dosa yang ia tabung selama ini.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" Seira meremas rambutnya dengan frustasi. Bantalnya sudah tidak berbentuk lagi karena kuyup oleh tumpahan air matanya.
Karena merasa bingung, Seira mengambil ponsel di dekatnya dengan tangan bergetar. Seluruh tubuhnya dingin dan menggigil. Dia tidak sakit, dia panik dan ketakutan.
Saat melihat kontak Amam di layar, ia lalu menggeser layar itu dan panggilan tersambung.
Namun, tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi dan tetap tidak ada jawaban. "Amam ke mana, sih?!"
Seira lalu melempar ponselnya hingga jatuh ke lantai.
***
Usai salat subuh berjamaah di masjid terdekat, Amam dan Pak Wawan kembali ke rumah. Amam tanpa mengecek ponselnya langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Ia baru akan masuk ke kamar mandi saat pintu depan rumah Pak Wawan diketuk.
Entah ke mana Pak Wawan, mungkin sedang siap-siap ke mandi sehingga ketukan pintu dan suara salam itu tak tersambut. Akhirnya Amam inisiatif untuk membukakan pintu.
"Waalaikumussalam."
Saat pintu terbuka, ternyata seorang wanita dengan gamis panjang, khimar, dan tas besar yang mengetuk pintu. Sangat cantik.
Saat melihat Amam, wanita itu langsung menunduk. "Astaghfirullah. Antum siapa? Kenapa di rumah saya?"
"Eh." Amam kikuk. "Saya muridnya ...." Amam bahkan sulit menjelaskan alasan yang baik kepada gadis yang di hadapannya. Ia tergagap bingung. Lalu kemudian ....
"Nayla? Kamu pulang?" Pak Wawan muncul tiba-tiba dengan wajah berbinar. Ia sudah rapi dan wangi, siap mengajar ke sekolah saat jam dinding masih menunjukkan pukul 5.30 pagi.
"Abah!" Gadis yang dipanggil Nayla mengangkat wajahnya dan menyambut pelukan hangat dari Pak Wawan.
Amam bisa menyimpulkan situasi ini. Nayla adalah anak gadis Pak Wawan yang mondok di pesantren.
Tak lama, Bu Jamilah keluar dengan kerudung panjangnya.
"Nayla, ih. Kebiasaan nggak bilang Abah sama Ummi kalau mau pulang."
Dan, seketika itu Amam terdiam. Dia merasa terperosok ke dalam kebahagiaan orang lain yang anehnya membuat Amam merasa terkucilkan.
Ia mundur selangkah, merasa terabaikan, dan memaksa senyum untuk menghargai kehangatan itu.
Menyadari itu, Pak Wawan menghampiri Amam, menepuk pundaknya. "Mandi, Mam. Nanti telat."
Amam mengangguk. "Iya, Pak Wawan." Amam lantas mematut langkahnya, meninggalkan keluarga kecil itu dalam kehangatannya.
***
Pak Wawan pergi lebih awal, seperti biasa, dan selalu begitu. Amam makan di meja makan bersama Bu Jamilah dan Nayla tetapi dengan jarak yang agak jauh. Bagaimana pun Amam tahu kondisi ini salah. Dia satu-satunya laki-laki di sini. Seorang lelaki yang sudah baligh berada dalam satu ruangan yang sama dengan dua wanita yang bukan mahramnya, dia merasa canggung.
Mungkin berbeda jika wanitanya bukan mereka. Tetapi saat ini Amam merasa menjadi sampah di antara berlian. Dia kotor dan gelap, sedangkan dua wanita milik Pak Wawan seperti cahaya dari surga.
"Amam." Bu Jamilah tiba-tiba memanggil namanya. "Ibu boleh minta tolong?"
Amam segera menghentikan gerakan sendok yang berisi nasi goreng. "Iya, Bu? Insyaa Allah. Amam bisa bantu apa, ya?"
"Jadi begini. Nayla ini mau pindah ke sekolah kalian. Sebenarnya pas lulus SMP kemarin udah mau pindah tapi karena suatu hal dan lain hal belum bisa dipindahkan. Terus tahu-tahu ternyata urusannya udah selesai dan dia udah boleh pindah. Di sini ibu mau minta tolong agar Nak Amam bisa mengantar Nayla ke sekolah, sekalian sama Amam berangkat nanti. Bisa kan, Nak?"
Nayla agak kaget mendengar perkataan ibunya. "Tadi katanya sama Ummi."
"Maaf, Nay. Ummi baru ingat ada janji sama ibu-ibu pengajian. Nayla ga pa-pa, kan? Ini murid bapak kok."
Dari ekspresinya Nayla tampak tak nyaman. Tetapi ia tetap mengangguk. Anggap ini situasi mendesak.
"Kalau Amam nggak keberatan, kan?"
"Oh nggak kok, Bu."
Usai makan Amam mengenakan tas selempang kecilnya. Dia hanya membawa pulpen, untuk urusan buku dan lain-lain bisa diatur nanti.
Ia lalu naik ke atas motor bebek sambil menunggu Nayla mengenakan sepatu. Gamis pink pastelnya tampak sangat manis berpadu dengan sepatu datar warna putih. Nayla membawa totebag bertuliskan STOP SEXUALIZING!
Amam yakin Nayla tipe gadis mandiri yang tegas. Meski tak sedikit pun dia tersenyum kepada Amam tetapi ia juga tak memasang wajah cemberut. Nayla adalah perempuan apa adanya.
Gadis itu memasang jarak dua jengkal dari punggung Amam dan meletakkan totebag di tengahnya. "Mas Amam jangan ngebut-ngebut, ya?"
Amam tak sadar tersenyum mendengar suara itu. Sangat manis. Namun, begitu sadar, ia berusaha membuang pikiran itu. "Iya, Nay."
Motor pun melaju di jalanan, memotong suasana pagi yang lengang.
***
Seira bertekad untuk memberi tahu kehamilannya kepada Amam, meski ia ragu dan takut. Setidaknya dengan mengatakan hal itu, ia tidak perlu menghadapi semua sendiri. Dia yakin Amam tidak akan lari.
Namun, pagi ini, ada sesuatu yang seolah-olah meningkahi tekadnya. Seira melihat Amam berboncengan dengan seorang perempuan cantik dan anggun. Seira seperti melihat bidadari. Gadis itu bukan hanya cantik fisiknya, tetapi semua yang ada di dirinya terasa cantik. Auranya sangat positif. Dan, Seira merasa kecil hati.
Amam berhasil menemukan seorang perempuan yang lebih baik daripada dirinya. Itu membuat kaki Seira lemas dan dia nyaris oleng.
Di sisi lain, Amam tidak menyadari bahwa kehadirannya dengan Nayla membuat banyak pasangan mata menatap mereka. Nayla memutuskan untuk terus menunduk sambil mengikuti langkah kaki Amam untuk menuju ruang guru tempat ayahnya berada. "Mas Amam, kok saya merasa orang-orang lihatin kita, ya? Saya risih."
Amam berbisik. "Mereka memang suka kepo. Maklumin aja."
Saat keduanya tiba di ruang guru, Pak Wawan ada di sana. "Eh Nay, Mam. Kalian bareng?"
Nayla mengangguk. "Iya, Bah, ummi ada janji lain katanya.
"Oalah gitu. Ya udah sebentar Abah siapin berkas kamu dulu. Kalian berdua duduk aja."
Amam dan Nayla lantas duduk di kursi yang ada di depan Pak Wawan. Guru-guru di sana ikut kepo. Salah satunya Pak Rudi.
"Pak Wawan, ini Nayla? Masyaa Allah cantik sekali." Pak Rudi sambil menggeleng dan berdecak saking takjubnya. "Kalau dilihat-lihat cocok lho Nayla sama Amam."
"Eh nggak ada cocok-cocokkan," sahut Pak Wawan dengan nada datar tetapi dengan maksud bergurau. "Sekolah yang benar, belajar yang serius, masalah cocok nggak cocok itu belakangan."
Entah mengapa wajah Amam rasanya menghangat mendengar itu.
"Dih, dih, Si Amam mesem-mesem sendiri, Pak Wawan," goda Pak Rudi. "Denger tuh kata Pak Wawan sekolah yang bener baru mikir yang jauh."
"Apaan sih, Pak. Orang nggak mesem-mesem. Nggak ada yang mikir jauh."
"Halah kayak saya nggak pernah muda aja. Nggak pa-pa lah, Mam namanya anak muda."
Pak Rudi sotoy!
Nyaris Amam bilang begitu untung ditahan. Dia hanya mengelus d**a.
Yang membuat Amam bingung kemudian adalah ... mengapa dia ikut menunggui urusan Nayla, bukannya ke kelas? Tetapi meski menyadari hal itu ia tetap menunggu hingga urusan Nayla selesai.
"Amam, ini tolong temankan Nayla ke ruang kepsek. Bilang saya yang nyuruh."
"Eh, kenapa saya, Pak? Saya bukan walinya."
"Ya nggak pa-pa, biar nanti kalau udah punya anak udah terbiasa ngurus beginian."
Amam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Makin ke sini ia makin merasa orang-orang bertindak random.
***
Nayla pergi ke toilet, menangis hingga belasan menit di sana. Tadi malam ia menelpon Amam dan tidak diangkat padahal dia sangat membutuhkan lelaki itu. Ia berusaha berpikir positif mungkin Amam tertidur tadi malam, dan baik, ia bisa menerimanya. Namun, pagi ini Seira melihat Amam berboncengan dengan perempuan lain. Ia tahu betul selama ini Amam tidak pernah membonceng gadis lain selain dirinya. Maka dari itu Seira memiliki pemikiran buruk bahwa Amam memang sudah tidak mencintainya. Amam meminta putus bukan karena hijrah melainkan karena Amam memang punya hubungan khusus dengan wanita lain.
Membayangkan hal itu, Seira merasa terpukul. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.
Karena terlalu lama di toilet, pintu tempat Seira bersembunyi diketuk dari luar.
"Mbak! Mbak kenapa diem aja nggak ada bunyi air? Mbak tolong jawab saya, Mbak baik-baik aja, kan?"
Seira lalu buru-buru mengesat air mata dan batuk. "Iya. Saya baik-baik aja." Suaranya terdengar serak.
"Oh syukurlah. Jangan lama-lama, Mbak. Takut ada apa-apa di dalam sana."
"Iya. Sebentar lagi saya keluar."
Seira lalu menyalakan keran di bak dan membasuh mukanya. Dia bercermin, melihat wajahnya yang sangat buruk. Bahkan kerudung panjang yang ia kenakan sekarang tidak memperbaiki apa pun.