Awal yang Selesai
Mendapat kesempatan memacari perempuan paling pendiam di sekolah bukan perkara gampang. Aku harus menyusun strategi sampai dia terbiasa dengan kehadiranku. Aku membuatnya 'ketergantungan' hingga dia akan merasa kesepian saat tidak melihat rupaku dalam sehari saja.
Saat masih SMP aku berpikir bahwa mempunyai seorang wanita adalah suatu kebanggaan. Aku merasa jadi laki-laki sejati saat berhasil bergandengan tangan dengan seorang perempuan saat memasuki kelas. Aku juga merasa bangga saat berhasil berciuman meski tak ada orang yang peduli. Aku merasa puas melihat perempuan bertekuk lutut padaku, memuji namaku, dan meneriakiku saat bermain voli di lapangan.
Awalnya aku melakukan itu semua atas dasar iseng, coba-coba, hingga aku tidak bisa berdamai dengan hasratku sendiri.
Aku mengenal Seira sejak kami masih kelas satu SMP. Aku tertantang untuk menaklukkannya. Akan tetapi, menaklukkan perempuan pendiam seperti Seira sangat sulit. Saat aku menyapanya, dia justru menunduk dan berjalan cepat hingga jilbab panjangnya berkelempai ditiup angin. Bagaimana caranya aku tidak luluh melihat kegigihannya? Aku semakin merasa tertantang. Ketika perempuan lain bisa luluh hanya dengan satu kedip, mengapa Seira tidak? Dia ingin aku berkedip berapa kali untuknya?
Lalu saat penerimaan rapor, aku yang biasanya hanya masuk sepuluh besar, nyempil di urutan ketiga peringkat paralel. Aku berdiri tepat di sebelah Seira, si rangking dua. Berada di sebelah Seira ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Awalnya aku ingin membuat perhatiannya teralihkan padaku, tetapi yang justru terjadi adalah perhatianku yang terfokus padanya. Dia baru akan naik kelas delapan, tetapi aku tidak bisa memungkiri betapa cantiknya dia.
Lidahku mendadak kaku. Tolong aku!
Kabar baiknya adalah aku dan Seira menjadi teman sekelas saat kelas delapan. Kami sama-sama masuk kelas unggulan. Dia duduk tepat di depan mukaku. Ternyata benar, sepintar-pintarnya laki-laki, kalau sudah di hadapan orang yang disukai, bakal jadi orang bodoh juga.
"Seira. Mau pinjam penghapus?" Saat itu aku juga bingung, sebenarnya aku menawarkan bantuan atau meminta bantuan.
Seira memutar kepalanya. "Aku nggak punya penghapus. Maaf."
Sebelum Seira kembali menghadap ke depan aku dengan cepat mengambil penghapus yang baru aku beli dan memberikannya ke Seira. "Aku ingin memberimu ini."
Amam, mengapa kamu menghadiahi gadis yang kamu suka dengan sebuah penghapus?
Ajaibnya, Seira justru tersenyum singkat kepadaku dan menerima penghapus itu. "Terimakasih Amam, nanti aku kembalikan."
Seira! Bisa diam, tidak? Kamu membuat jantungku jatuh ke lambung.
Rian yang duduk di sebelahku menyenggol lenganku. "Pak Yoyok merhatiin lo, tuh."
Aku langsung duduk tegak dan fokus ke papan meski pikiranku tidak.
***
Kejadian dua tahun lalu tidak akan pernah bisa aku lupakan. Saat seorang Abrisham jatuh hati kepada Seira. Kami memutuskan untuk memulai hubungan di tahun terakhir kelas delapan. Dan, sekarang kami bersekolah di SMA yang sama bahkan satu kelas.
Kini usiaku sudah menginjak 16 tahun. Cukup paham dengan apa yang terjadi. Perasaanku pada Seira mekar seolah matahari tidak berhenti bersinar. Aku tidak menemukan malam untuk meletakkan perasaanku pada sosok lain selain Seira. Aku hanya membiarkannya tumbuh dan tak kan ada seorang pun yang merusak hubungan kami.
Menjadi seorang remaja memanglah sulit. Terlalu besar dorongan yang sering muncul, apalagi bagi seorang laki-laki sepertiku. Aku seperti orang bodoh yang tak tahu malu dan tak tahu tempat.
Setiap hari aku menjemput Seira ke rumahnya untuk pergi ke sekolah bersama. Orang tua Seira mempercayakan anaknya padaku tetapi aku tidak pernah menghargai kepercayaan itu. Bagiku kepercayaan adalah kesempatan untuk menikmati masa muda dan melakukan apa yang ingin aku lakukan.
Orang tuanya tidak pernah tahu kalau setiap pagi bibir anak perempuan kesayangan mereka menjadi sarapan pertamaku. Warnanya lebih seksi daripada ceri merah maraschino. Rasanya lebih manis daripada setenggak s**u dan lebih panas daripada roti yang baru keluar dari pemanggangan. Aku selalu mendambakannya setiap hari hingga tidak bisa tidur tenang saat membayangkannya. Aku rasa perbuatanku sudah melampaui batas. Aku sudah terlalu candu hingga ingin menghancurkannya berkali-kali sampai ia lumpuh di bawah kakiku.
Akan tetapi aku ingin menghentikannya.
Jantungku seperti berdetak kencang dan perutku mual. Sedangkan Seira, dia memeluk pinggangku dan menyenderkan kepalanya di pundak kokohku.
"Wangi." Seira menghirup aroma tengkukku.
Seira tidak tahu bahwa tubuhku benar-benar lemas karena pikiranku terus menyusun kalimat terbaik untuk menghentikan hubungan kami. Benar, memang tak ada yang bisa menghentikan kami selain kami sendiri. Selain aku sendiri. Akhirnya aku harus membenamkan matahari yang menyinari perasaanku dan membiarkan malam datang untuk membuatnya layu.
Aku menghentikan motor sekuter di pekarangan rumah Seira yang sepi. Orang tuanya pasti sedang pergi bekerja.
Seira turun dari motorku dan menatap wajahku yang kebingungan. "Amam nggak mau turun. Di rumahku nggak ada orang lho." Dia menggodaku.
Seira. Jangan buat darahku berdesir seperti ini.
"Amam. Amam kok melamun?" Seira melambaikan tangannya di depan mukaku hingga aku akhirnya terperanjat.
"Eh gimana, Seira?"
"Amam kenapa melamun? Dari tadi diem aja. Ada masalah?"
Apakah ini momen yang tepat? Apa aku bisa mengungkapkannya?
"Seira aku mau ngomong sesuatu." Aku lalu memutuskan turun dari jok motor, berdiri sambil meraih kedua tangan Seira.
Seira memandang tanganku yang memegang tangannya dengan perasaan bingung.
"Seira tahu kan, Amam sayang sama Seira?"
Seira mengangguk. Dia selalu terlihat manja dan menggemaskan di hadapanku tetapi tampak kalem saat di depan orang lain.
"Amam mau ngomong apa sebenarnya? Kenapa nanya kayak begitu, sih? Amam ada masalah apa?" Ada genting ketakutan yang muncul di wajah Seira. Dia tampak khawatir.
Aku memejamkan mata, lalu menunduk untuk menatap tangannya.
"Seira. Kita berhenti aja, ya."
Kalimat itu seperti mantra yang membuat langit terasa gelap. Ada petir yang menyambar, tetapi untuk kali ini hati kami yang diserang. Dahi Seira berkerut. Aku tahu ini terlalu mendadak.
"Seira. Kita udah terlalu jauh. Aku sayang sama kamu, tapi kita harus berhenti. Pacaran kita udah nggak sehat." Aku menatap kedua matanya yang berkaca-kaca di depan halaman rumahnya. Mengucapkan kalimat itu sangat berat.
"Kamu yang buat aku sampai sejauh ini, Amam. Kenapa kamu bilang kayak gini!? Sebenarnya apa? Amam suka sama perempuan lain? Seira ga marah kok asalkan Amam janji nggak ngulangin lagi."
Aku menggeleng mendengar suara sumbangnya. "Nggak ada siapa-siapa yang bisa gantiin posisi Seira. Amam cuma mau kita bisa balik ke jalan yang lurus. Seira jaga diri baik-baik, jangan mudah terpengaruh sama laki-laki lain. Seira spesial, Seira mahal, Seira berliannya Amam. Amam nggak bisa biarin Seira rusak karena Amam."
Seira menggeleng. Dia pasti sangat kecewa mendengar perkataanku. Sejauh ini hubungan kami baik-baik saja tetapi aku justru membuatnya kebingungan hari ini.
Aku membiarkan tangannya menyerang dadaku berkali-kali. Aku memang pantas dihajar seperti ini. Aku memang berengsek Seira. Aku sudah merusak perempuan yang aku sayang dan sekarang mencampakkannya. Tapi ketahuilah aku melakukan ini untuk menghentikan kesalahan kita.
"Kamu yang berhasil bikin aku ketergantungan sama Amam! Sekarang Amam mau ninggalin aku? Amam pikir aku bakal bisa hidup seperti semula? Gelas yang rusak nggak akan bisa balik ke kondisi awal, Amam!"
Aku menyentuh pundaknya yang dibalut jilbab pendek. "Kamu bukan gelas, Seira. Masa depan kamu panjang. Kalau kita berjodoh kita akan bertemu lagi. Aku akan mengupayakan hal itu."
"Kamu pikir seorang perempuan bisa memegang omongan laki-laki seperti ini? Aku pikir kamu laki-laki yang baik, yang tulus sayang sama aku. Ternyata kamu cuma mau tubuh aku. Amam b******n!"
Satu tamparan keras di pipiku mengantarkan rasa panas dan perih. Tetapi itu tak sebanding dengan rasa sakit melihat perempuan yang aku sayang masuk ke rumahnya bersama kehancuran.
"Kamu akan tahu maksudku, Seira."
***
Jika kita melepas sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik.
Aku bukan pria yang taat agama. Aku fakir ilmu. Aku sering memenangkan nafsu dibanding akalku. Aku tidak bisa menundukkan pandangan, aku jarang salat, aku masih terbata-bata saat mengaji, aku sering meminum minuman yang tak boleh aku minum meski tak pernah lewat dua gelas. Aku pendosa, tetapi untuk kali ini biarkan aku berkata bahwa aku malu dengan dosaku.
Seorang laki-laki digariskan untuk menjadi pemimpin atas wanita. Jika laki-lakinya sepertiku bagaimana bisa aku menyelamatkan keluarga nantinya? Untuk menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Jika laki-lakinya sepertiku maka wanita seburuk apa yang harus aku terima?
Seira, maafkan aku karena harus pergi setelah membuatmu tergantung padaku. Aku hanya ingin kamu tahu kepada siapa sebaik-baiknya tempat bergantung. Manusia hina ini sudah membuatmu terluka tanpa bisa memberimu obat. Maka biarlah kamu sadar bahwa hanya ada satu dzat yang bisa memberimu kesembuhan atas segala rasa sakit. Berhenti menangis, Allah bersama kita.
Semenjak hari terakhir aku mengantar Seira pulang ke rumahnya, tak pernah lagi kutapaki kaki di sana. Di sekolah Seira juga tidak pernah mau memandang wajahku. Yang membuatku sedih adalah hari ini, Seira datang ke sekolah tanpa mengenakan jilbabnya. Rambut panjang yang ia punya tergerai seperti air terjun. Halus dan lembut. Aku sama sekali tak asing dengannya, aku masih hafal aroma sampo yang Seira gunakan. Aku sering memainkan rambut itu dan mengecupnya. Tetapi untuk hari ini, aku menyaksikan rambutnya dilihat oleh semua orang. Aku egois karena masih cemburu saat orang lain melihatnya, padahal sejak awal aku juga tidak punya hak apa-apa atas Seira.
Rian menutup mataku dengan tangannya. "Hijrah nggak akan bisa konsisten kalau belum bisa menghindari hal-hal seperti ini." Ia lalu menurunkan tangannya.
"Gue cuma kaget," jawabku sambil menunduk ke bawah.
Seira juga memangkas roknya hingga lutut. Aku terpukul berkali-kali karena bagaimanapun Seira berubah karena aku. Saat masih SMP dia selalu mengenakan jilbab panjang dan lebar. Saat pacaran denganku jilbabnya jadi pendek dan selalu disampirkan ke belakang. Dan, sekarang dia melepas semua itu.
Rian menepuk pundak lalu merangkulku. "Ini proses pendewasaan, Amam. Nggak semua orang bisa lulus tetapi selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Bismillah aja ya."
Aku mengangguk. Apa yang dikatakan Rian sangat benar. Untuk sementara ini aku hanya melanjutkan langkahku menuju surau yang berada di sayap kiri sekolah untuk ikut Rian membaca almatsurot.
Biar aku deskripsikan siapa Rian. Dia adalah teman sebangkuku sejak masih SMP. Dia adalah orang yang paling sering memarahiku karena tidak pernah mau diajak salat berjamaah di masjid sekolah. Ketika dia berdiri di depan untuk menjadi imam salat Dzuhur, aku justru memanjat plafon kelas untuk menghindari kejaran guru yang akan memukul p****t siswa yang bolos salat berjamaah dengan rotan.
Aku tidak pernah kena makanya aku tidak pernah jera.
Meski begitu aku tidak akan pernah terima jika ada yang bilang aku anak nakal. Aku hanya berpikir praktis. Apa yang membuatku senang itu yang aku lakukan. Saat itu akan tidak kenal sama sekali dengan yang namanya penyesalan.
Usai membaca dzikir pagi, aku kembali ke kelas yang berada di lantai dua. Rambutku yang basah dan wajahku yang segar karena bekas wudu seperti diusap-usap oleh angin. Kalimat penting yang kemarin Rian katakan kepadaku adalah, "Jaga wudu, Mam. Kalau batal wudu lagi. Mau tidur wudu, mau pergi wudu, kapan pun wudu deh. Jadi kalau sewaktu-waktu kamu meninggal kamu dalam keadaan suci."
Aku menuruti perkataannya meski aku sadar dosaku sudah seperti karat pada besi. Tidak akan hilang kecuali dibakar dengan suhu tinggi. Tetapi Rian juga selalu bilang, "Surga bukan urusan kita. Urusan kita mencari ridho Allah. Yakin aja deh, dosa lo segunung pun kalau Allah udah ridho lo bisa masuk ke surga. Asal ... tetap sadar diri dan rendah hati."
***