Bunuh Diri

1562 Kata
Beberapa hari yang lalu, setelah menginap di rumah Pak Wawan, ponsel Amam yang semula baik-baik saja, tiba-tiba rusak. Bukan baru kali ini, ponselnya sudah beberapa kali rusak. Dulu konektor chargernya yang bermasalah sehingga saat baterai ponselnya mati, dia tidak bisa mengisi ulang dayanya, dan masih banyak kerusakan yang terjadi pada ponselnya. Alhasil ia hanya menggunakan laptopnya untuk berkomunikasi, yaitu melalui Line. Kontak Line Amam sangat terbatas, hanya ada kontak Sonya, Seira, dan Rian. Benar-benar eksklusif. Amam yang fokus memperbaiki diri pun tidak sempat up date berita terkini yang merebak di sekolahnya. Dia buta dan tuli akan informasi. Siang ini Amam berjanji untuk menjemput Sonya di sekolahnya. Alasan utamanya karena Amam ingin meminjam ponsel adiknya itu untuk sementara waktu. "Gue udah bilang lho Bang biar lo ganti hp. Batu banget jadi orang, gue ada duit kok." "Itu duit lho, Sonya. Ya kali gue yang makai." "Kayak sama orang lain aja. Ya udah entar mampir makan di naspad dulu, temenin gue makan." Sonya naik ke motor bebek milik Amam. "Motor sekuter, lo ke manain sih, Bang? Ya Allah Abang gue makin gembel aja." Amam mengabaikan sikap cerewet Sonya. "Udah duduk anteng, peluk gue." "Dih, jomlo kelakukannya gini kalau abis putus." Namun, Sonya tetap memeluk perut kakaknya. Bagi gadis itu, Amam adalah manusia terbaik yang ia punya di dunia ini. Rumah yang nyaman saat ia kehilangan tempat hidup. Orang tua mereka egois, mereka gagal jadi orang tua. Tetapi Amam tidak pernah gagal menjadi seorang kakak. Keduanya tiba di rumah makan Padang pinggir jalan. Sonya turun dari motor. "Lo turun juga, Bang." "Lah, biasanya kan Adek bungkus doang kenapa Abang jadi mesti turun?" "Kali ini Adek pengen makan di sini. Abang harus temenin. Ada yang mau Sonya ceritain." Saat ini emosi keduanya melunak dan tata bahasa mereka juga menjadi terdengar sangat manis. Aman mengembuskan napas dan memilih menurut. "Ya udah buruan ambil." "Abang juga ambil." "Gue nggak laper." "Sonya traktir. Buruan ambil piring!" Kalau tatapan Sonya sudah seperti ini, Amam tidak berani menolak. Dia lagi-lagi hanya bisa menurut dan mengambil piring. Saat melihat nasi dan lauk-lauk di sana, tiba-tiba perut Amam terasa bergetar. Ia merasa lapar. Sebagai bentuk reaksi alamiah, dia mengambil banyak sekali nasi dan lauk. Sonya tertawa dalam hati melihat itu, tetapi ia memilih untuk membiarkan Amam. Ia takut kalau ia menegur justru Amam ngambek dan tidak minat makan lagi. "Minumnya apa, Mbak?" tanya pelayan. "Air putih aja. Bang, lo minum apa?" "Air putih es." "Oh ok. Air putih biasa satu, air putih es satu." Pelayan itu mengangguk dan kembali masuk ke dalam. Sonya memilih duduk tepat di bawah kipas angin. Siang ini lumayan panas. Sonya melepas peniti jilbabnya. "Eh lo mau ngapain?" "Ngendurin jilbab, Bang. Panas." "Eh jangan. Nanti leher lo kelihatan." Sonya memandang Amam dengan tatapan bingung. "Lo kenapa lagi sih, Bang. Gue nggak buka jilbab, cuma kendurin doang." Amam bersikeras menggeleng. "Lo cabut penitinya, gue nggak mau makan," ancamnya. "Emang kenapa, sih?" "Aurat. Ini tempat umum, Abang nggak mau kamu gitu." Untuk sejenak Sonya terperangah, antara takjub dan kaget dengan apa yang barusan keluar dari mulut Amam. Setahunya Amam cowok yang agak liar. Seira yang alim saja bisa berubah jauh setelah mengenal Amam. Tandanya kan, Amam membawa pengaruh buruk. Tetapi kali ini Amam justru sangat ketat perkara jilbab. "Ya udah. Yang penting lo makan." Berhubung dari tadi Amam terus yang menurut, sekarang giliran Sonya. Mereka mulai menyantap makanan mereka. Sonya hanya mengambil daun singkong rebus, ayam bakar, sambal, dan perkedel. Sedangkan Amam mengambil rendang sapi, daun singkong, ayam goreng, rempeyek, bakwan, sambal, dan telur dadar. "Katanya mau cerita, cerita apa?" Astaga! Sonya lupa tentang hal itu. Dia refleks menghentikan kegiatan mengunyah dan meminum air putih yang baru saja datang. "Anu Bang, gue mau nanya. Gue ditembak sama Adrian, menurut lo gimana?" Amam menautkan alis. "Adrian anak dokter itu?" "He'em." Sonya mengangguk. "Menurut lo dia baik?" Sonya tampak berpikir sejenak. Dia tidak mengenal Adrian sedekat itu. "Kayaknya baik." Dengan santai Amam lalu menjawab, "Ya udah nggak usah." Tentu saja Sonya membeliak mendengar jawaban Amam. "Kok nggak usah?" "Suruh dia telepon Abang kalau emang serius." "Ih mau lo apain? Jangan aneh-aneh, deh." "Lo percaya nggak sih sama gue? Lo tu belum pernah pacaran, jangan gegara kepo lo nerima dia. Lo juga nggak kenal baik, kan, sama tuh anak?" Amam benar. Sonya tidak kenal Adrian dengan baik. "Lagian pacaran tuh nggak baik. Gue khatam banget jeleknya pacaran, jadi nggak usah dulu." Sonya mendeteksi ada suatu hal besar yang disembunyikan Amam, tetapi dia memilih untuk diam. "Karena gue percaya, gue ikutin perkataan lo." *** Hidup Seira rasanya hancur. Sekuat apa pun dia mencoba bertahan, rasanya sangat sulit. Gosip itu terus menyebar dan menyedihkannya kabar itu tak dapat ia sangkal. Pulang sekolah ini Seira memberanikan diri untuk cek kehamilan, untuk memastikan apakah ia benar-benar hamil. Ia masih berharap hasil tes kemarin salah. Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya. Seira hamil dua bulan. Artinya anak yang ia kandung saat ini adalah hasil kesalahannya sesaat ia dan Amam masih bersama. Pulang dari klinik, hari sudah mulai malam. Dia sengaja berjalan kaki untuk menghabiskan waktu. Rambutnya berantakan dan jalannya gontai. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan segala hal yang membuat batinnya tersiksa. Seira lalu berdiri di jembatan layang yang sudah rusak, reot, sedang dalam rencana perbaikan. Dia memperhatikan suasana kota Jakarta selepas magrib. Para pedagang di pinggir jalan tampak selalu bahagia. Anak-anak kecil yang baru pulang dari masjid juga bisa tertawa dengan lebar. Mereka seolah meledeknya. Perempuan itu benar-benar putus asa dan pikiran buruk menguasainya. Dia melempar tasnya ke belakang, lalu menaikkan satu kakinya ke atas palang pembatas jembatan layang. Kakinya yang satu lagi juga terangkat. Dia berdiri di pinggir palang jembatan dengan tangan masih berpegangan. Pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya, melepas tangannya yang menumpu. Satu sentilan angin saja sudah cukup untuk membuat Seira terjun bebas ke aspal bawah sana. Angin malam itu berembus dingin, menyeka anak rambutnya. Tidak ada yang membutuhkannya sekarang. Tidak ada juga yang peduli. Bahkan Amam seolah tak mengerti dengan apa yang menimpa Seira belakangan ini dan itu membuat Seira merasa dirinya tidak berharga. Dengan mata yang membengkak karena tangisan, Seira berdiri tegak di pinggir jembatan layang yang pada saat ini masih sepi. Orang-orang di bawah sana mulai menjerit histeris melihat apa yang akan dilakukan Seira. "Ndok! Turun Ndok!" "Heh heh turun lo! Jangan aneh-aneh! Woi!" "Gila ya lo mau mati di sini? Kalau mau mati yang jauh sana?" Satu dua orang justru mengabadikan momen ini sebagai postingan di sosial media. Tubuh Seira yang melemas kehilangan keseimbangan dan condong ke depan. Dia hampir terjatuh andaikata tidak ada tangan yang melingkar di perutnya. "Seira. Jangan tinggalin aku." *** Tubuh Seira roboh ke belakang saat seorang laki-laki menahannya. Perempuan itu pingsan. Orang-orang lalu berkerumun naik ke atas jembatan layang untuk melihat kondisi Seira saat ini. Amam memangku kepala Seira, dengan penuh kekhawatiran ia melepas jilbab Seira agar perempuan itu bisa mendapatkan udara segar. "Gimana, Mas, kondisi mbaknya?" "Tolong panggil ambulans." Orang tadi lalu segera melakukan apa yang Amam perintahkan. Amam meraih tas milik Seira dengan maksud mengeluarkan ponselnya. Namun, gerakannya terhenti saat melihat kertas hasil tes kehamilannya. Rasanya ada yang meledak di dalam hati Amam. Tubuhnya melemas. Ternyata Seira sudah hamil selama dua bulan ketika mereka sudah putus. Amam sontak tergugu dengan bibir bergetar dan urat leher menegang saking merasa bersalahnya. Dia lalu mencium kening Seira dengan refleks. "Ya Allah Seira, kamu menghadapi ini sendirian selama ini dan aku nggak melakukan apa pun." "Mas telepon orang tuanya, Mas. Mas ini kerabatnya apa gimana?" Mendengar pertanyaan itu Amam lalu membulatkan hatinya untuk berpikir jernih. Dia kembali mengambil ponsel milik Seira dan menelepon nomor orang tuanya. Ternyata sudah banyak panggilan masuk di sana tetapi Seira sengaja mengabaikan. Begitu Amam menyambungkan panggilan ke papanya Seira, panggilan itu langsung disambut. "Seira! Kamu di mana, Nak, sekarang, Papa khawatir. Papa jemput, ya?" Amam dengan napas tersengal-sengal menahan tangisnya usaha menjelaskan apa yang bisa ia jelaskan. "Pa, i-ini Amam." "Amam? Seira di mana, Amam? Dia baik-baik aja, kan?" Selagi menelepon ambulans sudah datang. Orang-orang di sana lalu menghampiri Amam dan mengatakan bahwa Seira sudah harus segera di rumah sakit terdekat. "Mas buruan ini ambulansnya sudah datang." Suara itu berhasil di dengar oleh papanya Seira tetapi sesaat setelah itu panggilan langsung Amam matikan karena ia ingin menyelamatkan nasib Seira dan anaknya dulu. *** Tanpa pikir panjang Acel langsung meraih kunci mobil. Pikirannya kalut seperti benang yang memintal. Septi yang melihat gelagat aneh suaminya keluar dari dapur. "Pa, ada apa? Kok seperti orang buru-buru." "Seira, Ma. Seira dalam masalah!" Air muka Septi berubah. Sejak tadi ia sudah panik gara-gara Seira menghilang tanpa kabar dan melihat Acel begini ia jadi semakin panik. "Seira kenapa?" "Jangan banyak tanya. Kamu ikut nggak?" Septi sontak mengangguk dan memakai kerudung di meja dapur sembarangan demi menyusul Acel yang sudah buru-buru keluar dari rumah ini. Begitu di mobil Acel terus menelpon rumah sakit untuk menanyakan apakah ada seorang gadis SMA yang baru masuk ke sana. Di panggilan keempat, Seira bertanya dengan suara kencang. "Apa ada kasus gadis SMA yang baru dirawat di rumah sakit. Usia 16 tahun." Septi di sebelahnya terus berdoa berharap kondisi anaknya baik-baik saja. "Ok, ok, terima kasih informasinya." "Pa, gimana? Seira ada?" "Ada. Dia di Rumah Sakit Persik." Acel memutar setir dengan lihai, memotong, menyalib, hingga menerobos lampu merah rela ia lakukan. Pikirannya saat ini hanya satu, bagaimana keadaan Seira saat ini. Seira adalah anak semata wayang mereka. Dia tidak akan bisa menerima jika terjadi hal buruk pada Seira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN