Tubuh itu limbung dengan menghadap ke arahnya. Raut wajahnya terlihat sangat sendu. Segelap senja. Seperti tak ada alasan bagi wajah itu untuk terlihat cerah. Dua bola mata itu masih menatapnya. Ada air mata berwarna merah seperti darah yang keluar dari sudut manik itu. Ada darah segar yang juga masih keluar dari sudut bibir itu. Dari tubuh yang kejang di ujung kematian itu, bibirnya bergetar mengucap 'maaf'. Farel langsung berlari menuju Fania. "Fan..." air mata Farel lolos begitu saja. Ia melepaskan ikatan tali tangan Fania dengan tangannya yang bergetar takut, lalu mengangkat kepala gadis itu. Farel menyingkirkan semua rambut yang menutupi wajah Fania. Air mata Farel semakin luluh saat melihat wajah gadis itu penuh luka juga darah. Tatapan matanya sangat sayu. Seperti tanaman layu ya

