Bab 8

1554 Kata
Lebih baik ditertawakan karena umur lanjut tapi belum menikah, dari pada tidak bisa tertawa ketika menikah muda. Ora menatap pantulan dirinya dicermin, betapa hancurnya wajah dia saat ini. Bukan hancur karena lecet atau sebagainya. Tapi hancur berkeping-keping karena malu. Setelah tadi diberitahu bahwa dia mengompol sama si santen Kara, Ora terburu-buru masuk ke dalam rumah besar itu tanpa ijin. Sambil tidak lupa menutup bagian celananya yang basah. Karena dari tempatnya Kara masih setia menertawakan. Laki-laki itu benar-benar puas menonton wajah sengsara bercampur malu dari Ora. Pikirnya kapan lagi dia bisa mendapatkan hiburan yang begitu istimewa. Apalagi perempuan yang membuat pertunjukkan adalah sosok yang sudah beberapa hari ini ingin dia temui. Perempuan yang dia kenal melalui dunia maya, hingga akhirnya bertemu di dunia nyata. Karena merasa bahagia dia biarkan saja Ora lari terbirit-b***t untuk membersihkan diri. Biar perempuan itu tenang sejenak, pikir Kara begitu. Namun ketika Ora sampai di ruang tamu ada sesosok perempuan cantik dan sexy yang menghentikan langkahnya. Untung bukan sesosok hantu cantik. Bisa-bisa pulau ompol Ora bertambah banyak. Tapi pikiran Ora berubah buruk. Jangan-jangan rumah ini tempat berkumpulnya perempuan-perempuan cantik penghibur laki-laki. Atau bisa saja pemilik rumah ini adalah sebuah bandar yang suka menjual perempuan ke luar negeri. Kan takut, seru batin Ora. Pokoknya setelah dia membersihkan diri lalu mungkin meminjam salah satu handuk di rumah ini, Ora harus segera pergi sebelum menjadi korban penjualan perempuan. "Dek ..." Suara laki-laki terdengar cukup kuat dari luar, membuat Ora kaget setengah mati. Tubuhnya berbalik, bersandar pada wastafel. Kemudian menatap pintu tersebut dengan penuh waspada. Oh habislah dia. Waktu dia sudah habis. Mungkin sudah ada pembeli yang mau membelinya. ORAAAA!!! HENTIKAN PIKIRAN ANEHMU ITU!! Teriak hatinya. "Azzora, buka pintunya!!" Gedur kuat sekali lagi. Tubuh Ora semakin menempel pada tembok, layaknya cicak-cicak genit yang suka mengintip dia mandi. Eh, dia bilang apa? Minta buka pintu? Enak saja!!! Situ pikir Ora perempuan gampangan??? Walau perut kotakmu buat Ora tergiur lapar, dan harum wangimu membuat Ora mengompol tetap saja Ora harus jual mahal. Bukannya perempuan itu bebas menentukan pilihannya. Memang kodrat perempuan menunggu laki-laki. Namun ketika laki-laki sudah datang menghampiri, bila tidak sesuai dengan kehendak hati perempuan bisa saja menolak. Adilkan? "Kamu jangan pikir macam-macam dulu. Mas bawakan baju ganti untukmu" Oh bawa baju ganti? Bilang dong mas dari awal. Kan jadi enak sudah mikir mas mau nerkam Ora tadi. Dengan perlahan Ora bergerak, membuka pintu kamar mandi. Ternyata tepat didepannya, laki-laki itu sudah berdiri tegak menantangnya untuk diterkam. Aih, tidak di luar rumah atau di dalam rumah, tetap yahut tampilan laki-laki ini. Dia benar supirkan? Kok Ora merasanya bukan. Jangan-jangan dia lagi berperan jadi supir dan Ora yang menjadi majikan genitnya. Hadawwww.. Kok berasa hangat tiba-tiba. Eh, Ora langsung sadar dari fantasi liarnya dan merasakan sesuatu menempel di pipinya. Ini apa sih? Hangatnya kalahin cintanya mas Kara. "Ini apa mas?" "Minum untukmu, mas bawain karena kamu kelamaan di kamar mandi. Sengaja pilih yang hangat, biar sama seperti kedekatan kita, dek" kekehnya geli menatap tubuh bagian bawah Ora dengan haduk putih. Aih.. Aihh.. Romatis sekali santen Kara satu ini. Peres juga nih lama-lama. "Makasih ya" balas Ora dengan tampang dimanis-manisin. "Dan ini pakai saja bajunya Elva. Eh. Maksud mas, pakai saja bajunya mbak Elva. Dia anak majikan di sini. Mas rasa ukurannya pas untukmu" sambung Kara kembali. Ketika dia ingin berbalik pergi, dengan kurang ajarnya laki-laki itu menarik ujung handuk yang dipakai Ora. Bum!!!!! Handuk itu jatuh diiringi gelak tawa Kara. Tubuhnya memang sudah berbalik dan tidak melihat apa yang dibalik handuk itu. Tapi umpatan kekesalan dari Ora membuatnya tertawa puas sekali. "Dasarrrr m***m!!!! Kenapa bukanya nggak bilang-bilang, kalau bilang juga .... Nggak akan aku kasih !!!!" Jerit Ora ada jeda sedikit dibagian akhir. Tapi dari jeritan Ora itu tidak bisa membohonginya. Dia tahu kalau sesungguhnya Ora juga tertarik dengannya.Sekarang biarkan Ora dengan kesibukannya memakai pakaian. Karena dia ada masalah kecil dengan perempuan yang duduk di ruang tamu sekarang. *** Kara mengambil posisi duduk di single sofa sambil terus mencermati sosok perempuan di depannya.Tidak berubah. Begitu batinnya. Walau sudah hampir 5 tahun mereka berpisah, tapi komunikasi mereka masih sering terjalin untuk membicarakan Afsheen. Anak dari hasil pernikahan mereka dulu. Dia, Lui. Mantan istri Kara yang paling dia cintai dan sangat sulit dilupakan. Apalagi mereka berdua berpisah karena adanya orang ketiga. Yang kala itu lebih memikat perempuan ini dibandingkan Kara. Hm, waktu itu Kara masih bisa mengalah. Toh menurutnya mencintai itu memang terkadang tidak harus dimiliki. Karena bila memiliki tapi membuat orang yang dicintai tersiksa, untuk apa? Karena itu, Kara melepaskannya dulu. Dan buah cinta mereka menjadi tanggung jawab Kara. Perempuan itu setuju saja, asalkan Kara bisa mengurus Afsheen dengan baik. Dia hanya terkadang mengecek saja melalui telepon kepada Kara mengenai keadaan Sheen. Tapi beberapa hari lalu ada masalah besar yang membuatnya datang ke sini. Dia ingin tahu bagaimana Kara mengurus Sheen. Karena dari laporan guru kelas dimana Sheen belajar, gadis kecil itu sedang menonton video tusuk menusuk antar manusia dewasa ketika sedang berada di laboratorium komputer. Info yang keluar dari bibir gadis itu, dia mendapatkan video dewasa itu dari seseorang. Karena itulah Lui datang ke sini untuk memastikan. Apa Kara mendidik Sheen dengan benar? Lui juga tidak setuju dengan kegilaan Kara memasukan gadis kecilnya ke dalam sekolah perempuan. Dimasa-masa pertumbuhan seperti Sheen, dia juga butuh bersosialisasi dengan laki-laki. Tanpa mengkotak-kotakan ruang lingkup kehidupan Sheen. "Aku rasa kamu sudah tahu masalah Sheen" Kara menegakkan tubuhnya. Dia sedikit kaget dari mana Lui mengetahui kegilaan putrinya itu. Padahal Kara sudah setengah mati menutupinya agar Lui tidak tahu. Bukannya Kara tidak suka Lui ikut campur dalam mengurus Sheen. Tapi banyak sekali kekecewaan yang sudah dirasakan laki-laki atas mantan istrinya. Dia tidak mau kehidupan Sheen merasa buruk akibat dari kegilaan ibunya. Untuk itu Kara melindungi Sheen lebih dari anak-anaknya yang lain. Dia tahu dibalik galaknya Sheen, anak itu menyimpan luka yang begitu dalam. "Iya, aku tahu" "Lalu? Masih memaksa Sheen untuk tinggal denganmu?" "Lui kita sudah sering membahas hal ini. Dan ..." "Dan apa? Dan aku harus percaya kamu bisa menjaga Sheen? Tapi lihatlah Kara? Sheen hancur dirawat olehmu. Otaknya sudah teracuni yang tidak-tidak" desak Lui. Tatapan keduanya sudah tidak bersahabat lagi. Sebaik apapun Kara menjaga hubungannya dengan mantan istrinya ini, suatu saat pasti akan rusak juga karena tidak cocokan pemikiran. Pernikahan sakral mereka saja hancur. Apalagi hanya pemikiran mengenai anak mereka. "Biarkan aku ..." "Satu bulan. Aku kasih waktu satu bulan terakhir. Kalau sikap Sheen masih sama, maka aku akan membawa Sheen!!!" Putus Lui cepat. Tubuhnya berdiri tegak, memandang Kara penuh permusuhan. Kemudian perempuan sexy itu pergi begitu saja. "Mau enaknya saja. Dia pikir gampang mengurus domba kecil," gumam Kara sambil memijat pelipisnya. Sekarang dia harus cari cara bagaimana agar Sheen, si putri kecilnya bisa bersikap lebih baik. Bagi Kara mengurus anak perempuan lebih sulit dari pada laki-laki. Bila tidak hati-hati, bisa jadi Kara akan menjadi kakek sebelum waktunya tiba. Tidak!! Jangan harap anak-anaknya dapat menikah sebelum dia menikah lagi. Nanti yang ada akan timbul keirian sosial bagi hati Kara. "Mas Kara" panggil Ora. Kara menatap penuh kekaguman tubuh Ora di depannya. 'Tower pemancar' yang menjadi andalannya langsung hidup. Memancarkan radar pemangsa seperti sebuah sirine berbahaya yang bila tidak dikendalikan, akan berbalik kepadanya sendiri. Apalagi perempuan seperti Ora memang tidak boleh disia-siakan. Ora yang tadi sudah merubah penampilannya menjadi lebih memukau. Dengan sebuah dress hitam milik Elva yang sengaja Kara pilihkan sangat cocok di tubuhnya. Pakaian kotornya tadi entah sudah dikemanakan olehnya. Baguslah Kara tidak akan mencium bau pesing lagi. Yang jelas Kara benar-benar kagum dengan Ora. Wajah itu tidak terpoles make up, rambut pirang sepanjang bahu tidak disisir rapi. Tapi mengapa daya tarik perempuan ini begitu kuat kepadanya. Dunia perempuan bukan hal baru bagi Kara. Sejak mimpi basah pertamanya terjadi, sudah begitu banyak perempuan yang silih berganti dalam hidupnya. Namun anehnya tidak ada yang seperti Ora. Biasanya perempuan-perempuan itu seperti menjadi sosok lain didepannya. Berjaim-jaim ria hanya ingin terlihat imut. Yang ada Kara merasa amit dibuatnya. "Ora pinjam baju ini dulu. Nanti Ora kembalikan lagi" ungkapnya salah tingkah. Siapa juga yang tidak salah tingkah, laki-laki ganteng serta menawan ini sedang duduk di sofa dengan kedua manik mata tajam seperti ingin melahapnya. Gila benarrrr.. Ini Mas Kara sudah lama tidak lihat perempuan kali? Batin Ora. Bola mata Kara hampir menggelinding keluar jika tidak tersambung dengan kuat. Dan parahnya bulu-bulu halus yang terus memanggil Ora untuk diraba-raba sedang laki-laki itu usap perlahan. Aduh, gantian adek yang usapin sini!!! Teriak hati Ora kencang. Memang ya, pesona laki-laki Jemiss alias Jenggot kumis tipis sangat menggoda. Kalau dulu ibu Ora selalu bilang bila menyapu lantai tidak bersih akan mendapatkan suami brewokan, sekarang Ora rela. Serius rela banget mendapat suami brewok manja seperti milik Mas Kara. Si santen kental. Bawaannya pengen jadi silet saja. Yang rela digesek berkali-kali di daerah sana. Aih... Aihh... Fantasi liar. Pergi jauh-jauh. Ora kan datang ke sini mau kembalikan jaket bocah tengik itu. Bukan mencari suami. "Ah, iya mas. Niat Ora ke sini tadi mau kembalikan jaket ini. Milik gadis tengik. Eh maksudnya milik gadis kecil dengan nama Afsheen" terang Ora. Kara menatap penuh kebingungan wajah Ora. Kenal dari mana Ora dengan Sheen? "Kamu kenal dengan Sheen?" "Iya, kebetulan nggak sengaja ketemu waktu itu" "Kalau begitu, sekarang kita ketemu lagi dengan dia. Biar sengaja kali ini. Bukan kesengajaan lagi" pancing Kara penuh muslihat licik. Ide cemerlang muncul dipikirannya. Kesuntukan pikirannya bertemu dengan jalan terang. "Tap.. Tapi ..." "Sekalian kamu kembalikan jaket itu. Mas mau jemput dia ke sekolah. Ayo ikut mas" paksa Kara. Dengan penuh percaya diri dia menarik tangan Ora. Mengisi kekosongan jemari tangan itu dengan miliknya.Begitu pas. Dan posisinya sangat dalam. Apa benar Ora jodohnya? Sedangkan bagi Ora, genggaman tangan itu membuat bulu kuduknya merinding. Bukan karena merasa tersetrum akibat dari hangatnya tangan Kara. Tapi karena dia sekarang tengah diseret menuju bocah menyebalkan khas ibu mertua yang katanya kejam!!! Ya Tuhan. Tolong selamatkan Ora. ____ Continue. Kalian pembacaku asal mana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN