Bab 9

1851 Kata
Semua orang percaya bila cinta itu buta. Tapi ternyata mereka semua tahu dimana letak belahan d**a. Mobil Audi A8 berhenti diparkiran sekolah. Kedua manusia dewasa yang berada di dalam mobil saling melirik. Kemudian tiba-tiba menjadi salah tingkah. Seperti layaknya ABG yang baru merasakan cinta. Mereka bingung. Terdiam dalam keadaan tidak nyaman. Apalagi sejak tadi kedua mata Kara kurang ajar sekali. Menjelajahi bukit indah milik Ora yang terlihat menyembul ketika dadanya tertekan sabuk pengaman. Dasar laki-laki. Suka sekali yang menonjol-nonjol. Karena merasa pikirannya terlalu jauh, Kara membuang pandangannya. Napas keduanya terdengar dalam sebelum suara Kara mengintrupsi keadaan hening itu. "Mas ke dalam cari Sheen dulu. Adek tunggu di sini saja" perintah Kara. Ora sih setuju-setuju saja. Secara dia malu dilihat banyak orang turun dari mobil bersama Kara. Nanti banyak yang menyangka mereka pasangan suami istri berbahagia. Menjemput putri kecil mereka lalu memilih berjalan-jalan. Iyuuuh.. Terasa alay bagi Ora. Apa semua pasangan yang sudah menikah akan bertindak alay seperti itu? Saling melempar tatapan cinta bersama putra putri mereka. Rasanya nanti Ora setelah menikah tidak sealay itu. Cukup dia dan suaminya yang tahu seberapa besar perasaan saling melengkapi mereka. Tidak usah lah, cekrakcekrek terus diupload sana sini. Malu kelessss.. Memangnya yang menikah dia saja. Banyak kok pasangan yang sudah menikah lama adem-adem saja tanpa perlu pemer kemesraan di dunia maya. Ahh ... Pokoknya Ora akan pertahankan prinsip itu. Dia tidak boleh alay di depan semua orang. Karena Ora tahu rasanya diposisi orang yang melihat. Oke, kembali ke Santen Kara itu. Dari dalam mobil Ora melihat punggung laki-laki itu berjalan menjauh. Menghampiri seorang gadis kecil yang sayangnya judes abis. Coba itu anak berlaku manis, Ora pasti suka sama dia. Secara wajah Sheen sangat manis. Tidak terlalu bule seperti Kara tapi tidak juga berwajah Asia. Eh, kenapa Ora menyamakan Sheen dengan Kara? Memangnya Kara itu bapaknya Sheen. Kan bukan. Sambil terus menatap interaksi Kara dan Sheen di luar sana, Ora baru sadar betapa mewahnya mobil yang membawanya kemari. Interior mobil tersebut sepertinya lebih mahal dari rumah mungilnya. Belum lagi tampilan mobil ini bila dilihat dari luar. Ya Tuhan, jika dia kemana-mana selalu diantar mobil seperti ini pasti Ora bangga. OH TIDAAKKK!!! Tadi katanya tidak boleh pamer di depan umum. Kok sekarang pikiran Ora sudah melenceng!!! Yang namanya pamer itu tidak baik. Toh semuanya hanya titipan. Namun memang manusianya saja yang bebal baru punya henpong baru saja sudah pamer sana sini. Apalagi punya mobil seperti ini, yang ada kejang-kejang. Terus dibawa kebut-kebut dan nabrak orang sampai semua tewas. Haha, pikiran Ora kok jahat sih!! Habisnya manusia sekarang kan memang begitu. Terlalu sibuk memamerkan segala hal, sampai mereka lupa kalau yang dibawa mati hanya berupa kain tipis. Bukan mobil mewah. Hm, kalau sudah begini siapa yang bisa disalahkan? Manusia? Atau keadaan sekitar? Kan tidak mungkin Tuhan disalahkan? *** Kara tersenyum kala melihat tubuh mungil Sheen sedang duduk di salah satu kursi yang menjadi tempat menunggu. Kedua matanya menatap ke sekitar, masih banyak ternyata murid yang belum dijemput oleh orang tuanya. Ketika Kara mendekat, Sheen mendongakkan wajah. Dan tersenyum sebal. Dia melipat kedua tangannya sambil menunggu teguran sayang dari Kara. "Halo sayang, masih marah sama Daddy?" Merasa masih ingin dibujuk, Sheen membuang pandangannya ke arah lain. Bibirnya sengaja dimanyun-manyunkan. Hanya dengan Kara ekspresi menggemaskan ini hadir. Biasanya jika dihadapan yang lain, Sheen lebih suka memasang wajah jutek khas perempuan yang tengah PMS. "Jangan marah lagi dong, kan Dad udah minta maaf" bujuk Kara kembali. Tubuh besarnya sudah berjongkok di depan Sheen sambil memasang wajah penuh senyum. Lalu tangan besar itu menarik kedua tangan Sheen yang terlipat kemudian diciumnya. "Ayo dong sayang. Padahal Dad mau ajak Sheen pergi main hari ini" bujuknya penuh pengharapan. Dan ternyata kena. Sheen meliriknya. Menaikkan sebelah alisnya penuh kewaspadaan. "Tenang, Dad nggak bohong lagi. Kan Sheen segalanya buat Dad" pancing Kara. "Kalau Sheen segalanya, terus Ucca, Elva dan Idni gimana?" Suara gadis kecil itu. Kara salah tingkah, dia menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum masam. Sheen memang ceplakan dia sekali!!! "Dad kasih tau, mereka cuma menumpang" bisik Kara perlahan. "Cuma Sheen yang tetap di sini" tunjuknya pada hati. Biarlah dia bohong sedikit, untuk membujuk Sheen yang merajuk butuh pengorbanan. Ini semua memang salahnya juga. Semalam ketika dia kembali dari kamar Idni, dia masih memergoki Sheen yang tertawa cekikikan. Lalu ketika dia tahu Sheen tengah melakukan apa, dia mengamuk marah!!! Bayangkan saja, gadis kecilnya itu tengah mencoret-coret lembaran pekerjaannya yang belum dia selesaikan. Karena itu dia mengamuk dan menyuruh Sheen untuk keluar dari kamarnya. Tapi gadis kecil itu sepertinya salah paham atas kemarahan Kara. Dia menjerit dan menangis masuk ke dalam kamarnya. Hingga pulang sekolah ini Sheen masih merajuk. "Baikan?" Ucap Kara mengangsurkan jarinya. Sheen mengangguk. Dia melilitkan jari kelingking kecilnya dengan jari kelingking Kara. Kemudian bibir mungilnya sudah mendarat pada bibir Kara. Mencium penuh cinta antara anak dengan ayahnya. "Ayo ..." Ajak Kara. Dia menggandeng tangan Sheen ke mobilnya. Tetapi ketika dia tahu ada siapa di mobil itu, langkah Kara terhenti. Sampai menimbulkan tanda tanya diwajah Sheen. "Kenapa Daddy?" Kara berjongkok. Dia memegang kuat kedua bahu Sheen sambil terus mengunci pandangan gadis kecil itu. "Kita main sebuah permainan mau?" "Main?" "Iya. Cara mainnya begini..." Tahannya sebentar. Mencermati, apa Sheen berhasil dia bohongi? Harus berhasil dong, kalau tidak mau 'buruannya' ini lepas lagi. "Kalau Sheen berhasil seharian ini panggil Daddy seperti memanggil Kak Ucca, Sheen bisa minta apa saja dari Daddy." "Seperti panggil Kak Ucca?" Ulang Sheen. "Iya..." Jawab Kara antusias. "Ucca. Nggak pakai Kak!!" Ucapnya tegas. Mana mau dia panggil Ucca dengan sebutan Kak. Bagi Sheen, Ucca itu hanya seorang laki-laki usia 20 tahun yang mau diperbudak olehnya. Dasar anak kecil kurang ajar. Kakaknya sendiri diperdaya semena-mena. Jika saja Sheen bukan anak kesayangan Kara mungkin Ucca juga tidak mau menuruti!!! Sheen dan ketiga saudara lainnya memang berbeda ibu. Tapi mereka tetap satu bapak. Satu bibit. Dan itu harusnya tetap dijelaskan oleh Kara kepada semua anaknya. Namun sepertinya ajaran Kara selama ini ada yang salah. Buktinya Sheen tidak mau memanggil kedua kakaknya dengan panggilan yang sopan. Tinggal sebut nama seenaknya, Sheen bisa memerintah apa saja. Bagaimana? Tengil sekali dia. "Apa saja?" Ulang Sheen penuh pengharapan. "Iya. Apa saja!" Sahut Kara. "Dad janji?" Kara mengangguk antusias. Akhirnya bocah kecil ini termakan sama perangkapnya. Bisa membohongi dirinya dalam versi mini ada kesenangan tersendiri ternyata. Yah walau dia harus berkorban dipanggil hanya sebutan nama oleh anaknya sendiri, Kara rela. Asalkan satu, dia bisa mendapatkan Ora. "Tapi nggak boleh bohong ya" "Daddy bukan tukang jualan yang kayak di sekolah Sheen. Mainan yang dipasang banyak, tapi kalau Sheen kasih uang untuk 'masang', yang Sheen dapat cuma permen cokelat kecil" "Bukan permen cokelat Dad" "Terus apa?" "Lidi-lidian" Kini kedua mata Kara yang terbuka lebar. ANAKNYA MAKAN LIDI? YA TUHAN. KOK BISA?? APA SHEEN PUNYA KEKUATAN DEBUS SEKARANG? "Kamu makan apa?" "Lidi Dad. Enak deh. Ucca aja suka comot lidi punya Sheen" Kara menepuk keningnya kuat. Tak pernah dia sangka menjaga anak dari hal-hal aneh serta makanan yang tidak sehat itu susah!!!! "Jadi Sheen mau terima tawaran Dad?" Pancing Kara kembali. Dia tidak boleh gagal. Dan harus menang dari otak licik Sheen "Oke" setuju Sheen. Bibir mungilnya tersenyum penuh rencana. Dasar Daddy bodoh. Mudah sekali masuk ke dalam rencana jahat Sheen. Pikir gadis kecil itu. "Tapi, kalau sampai Sheen salah panggil Dad. Sheen yang harus ikutin semua perintah Dad" Sheen menelan air ludahnya kesusahan. Ah, dia lupa kalau ayahnya tidak kalah licik!!! *** Ora terus menghitung dalam hati ketika Kara serta Sheen berjalan mendekati mobil. Keduanya nampak bahagia dengan tangan yang saling bergandengan. Dari bentuk wajah antara Kara dengan Sheen sangat terlihat mirip. Mulai dari tatapannya, bentuk rahangnya, bibirnya, dan segala hal pembentuk di wajahnya sangat mirip sekali. Ora sampai bertanya pada Tuhan, apa memang Dia sengaja membuat Kara bekerja di rumah gadis kecil itu. Atau ... Tidak. Itu tidak mungkin. Kan kurang ajar bila ternyata Kara menitipkan bibitnya pada si nyonya rumah. Sampai lahirlah Sheen. Bisa dimutilasi laki-laki itu oleh si tuan besar. Ora tidak rela dan tidak mungkin akan membiarkan bila ada yang memutilasi Kara. Masa mereka tega memutilasi laki-laki tampan ini? Ya Tuhan. Jika dia boleh meminta satu kali saja. Biarkan dia bisa mendapatkan Kara dan menjadikannya satu-satunya. Ora juga rela bila ternyata Kara bukan seorang bujangan. Asalkan laki-laki itu mau menerimanya dengan tulus, yang lain akan Ora terima. Bahkan bila buntutnya sepanjang gerbong kereta seperti difilm Korea juga Ora mau...!!!! Karena sekarang ini kekagumannya kepada Kara terlalu serius untuk dibercandakan. Maksudnya, dia sadar ada ketertarikan fisik antara dia dan Kara. Walau dia sudah lama tidak berdekatan dengan laki-laki, Ora tahu bagaimana cara menilai tatapan laki-laki. Tatapan yang dia tangkap dari Kara seperti didalam film zombie yang menggejar manusia. Ngeri-ngeri bikin nagih. Ada debaran jantung di sana, ada hasrat yang membuat sekujur tubuhnya teransang jika berdekatan dengan Kara. Kan.. Kan.. Akhirnya mengaku juga dia kalau Kara istimewa. Waktu di chat saja jual mahal. Lagian siapa suruh pasang foto profil jelek di aplikasi cari jodoh itu!!!!! Kayak gembel tengik yang sering mangkal di lampu merah. Ungkap Ora dalam pikirannya setalah dia ingat bagaimana bentuk foto profil tersebut. Apa iya gaji supir sedikit sampai Kara tidak mampu membeli baju bagus? Kenapa coba harus baju gembel yang dipakai untuk menjadi DP aplikasi tersebut. Kan buat Ora mikir yang tidak-tidak. Jadinya jangan salahkan Ora kalau pikiran negatifnya membludak tiba-tiba. Mungkin saja waktu dia dekatin Ora ada maksud terselubung. Tapi kini setelah bertemu. KARA MANTAP!!! Aahh ... Semoga tadi Tuhan mendengar permintaan hatinya. Aamiin. "Kok Sheen duduk di belakang?" Protesnya. "Nggak mau!!!" Teriaknya kencang. "Hari ini aja Sheen dibelakang" "No. No!!! Sheen di depan. Pokoknya harus" jeritnya lagi. Langkah kaki kecilnya berlari. Memutari mobil lalu membuka paksa pintu penumpang bagian depan. Lalu... Boomm!!!!! Kedua matanya melotot tajam saat tahu siapa yang tengah duduk di sana. Sheen adalah anak yang pintar. Dia tahu mana-mana saja orang yang pernah bermasalah dengannya. Dan ini adalah perempuan aneh yang mengotori jaketnya tempo hari. "Oh ..." Serunya. Kedua mata liciknya melirik gemas ke arah Kara yang berada di posisi mengemudi. Dia mulai tahu mengapa ayahnya meminta dibuat permainan tadi. Ternyata ini alasannya. Dasar licik!!!!! Batin Sheen tidak terima. Tapi kok bisa sama perempuan aneh ini? Pikiran jahat bergentayangan diotak Sheen. Dia tahu harus berbuat apa. Jangan harap ayahnya bisa leluasa memilih istri baru tanpa persetujuan darinya serta ketiga saudaranya. Dasar Sheen!! Tadi Ucca, Elva dan Idni tidak diakui sebagai saudara. Sekarang saja inginnya bersekongkol dengan mereka untuk memusnahkan Ora. Memangnya Ora takut???? Dia jelas tidak takut. Cuma ... Cuma. Apa ya, Ora agak segan saja berurusan sama anak kecil. Malu kali, usia sudah tua masih saja berebut sama anak kecil. Tapi kalau yang diperebutkan si Santen Kara apa Ora bisa nolak untuk bersaing? "Hai ... Aku mau balikin jaketmu. Sudah dicuci loh. Harum. Dan bersih" sapa Ora basa basi. Dia menarik jaket tersebut dari tasnya kemudian menyodorkan pada Sheen. Gadis kecil itu hanya diam. Tidak bergerak sama sekali dari sisi pintu mobil tempat Ora duduk.Dalam harap-harap cemas, Ora menantikan reaksi Sheen. Dan ajaib!!!! Sheen tersenyum. Memamerkan deretan gigi mungilnya yang bersih. Lalu kedua tangannya menerima jaket itu dengan baik. Tanpa cacian seperti waktu itu. Salah makan apa ini anak? "Makasih kakak. Kakak cantik deh. Masih muda" Bibir Ora terbuka lebar. Rahangnya hampir saja jatuh ketika mendengar pujian dari Sheen. Kok berubah nakutin bocah gila satu ini? Teriak batin Ora. Dia tidak dalam acara reality show di tv kan? Atau mungkin ini acara pemburu hantu. Hingga harusnya Ora melambaikan tangan ke kamera. Ketika Ora mau berpindah ke belakang agar Sheen bisa duduk di depan, Sheen menahannya. "Tante bisa duduk di depan sama Kara!!" Tekannya kuat-kuat pada kata Kara. Lalu Sheen berbalik mencoba menutup pintu mobil itu untuk pindah ke belakang. "Asal jangan duduk dinikahan aja!!!" Sambungnya pelan tapi masih sedikit terdengar oleh Ora. OH NO!!!! SIAGA SATU.. _____ Continue Bagus enggak cerita duren sawit ini? Kalau bagus kasih komen yang banyak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN