Karena perempuan yang suka memamerkan belahan d**a tidak pantas diperjuangkan menjadi belahan jiwa.
"Oke besok kita ketemuan !!!"
Ora membaca chat terakhirnya dengan laki-laki yang dia kenal melalui aplikasi pencarian jodoh tersebut. Ini baginya adalah sebuah kesalahan. Bagaimana bisa dia memberikan jawaban seperti itu setelah didesak berkali-kali.
Harusnya Ora tetap pada pendiriannya, namun apalah daya. Dia juga butuh sesuatu. Maksudnya, Ora terjun masuk ke dunia maya tersebut memiliki maksud tertentu.
Dan tentu saja dia ingin mencari jodoh. Dia cuma mau berpikir realistis saja. Kalau mantan sahabatnya itu bisa mendapatkan si kacang ijo melalui aplikasi ini seharusnya dia bisa juga mendapatkan hal yang lebih.
Dulu. Dulu sekali ketika pertama kali mantan sahabatnya itu mengundangnya untuk berpartisipasi dalam aplikasi tersebut, Ora tolak mentah-mentah. Dia memberikan statement kepada sahabatnya kalau jodoh yang didapatkan dari dunia maya pasti akan gelap.
Yang pertama gelap masa depannya. Karena belum tentu apa yang mereka bilang di dunia maya sama seperti dunia nyata. Contohnya pekerjaan. Yang kedua, fisiknya gelap. Bukan Ora menilai orang dari fisik. Tapi kebanyakan orang yang menggunakan aplikasi tersebut adalah tipe-tipe manusia yang tidak percaya diri akan fisiknya sendiri dalam dunia nyata!! Dan yang terakhir gelap asal usulnya. Seperti orang tersebut berasal dari dunia entah berantah yang tiba-tiba harus kita paksakan untuk menjadi sandaran hidup.
No!!! Ora tidak mau itu.
Lalu ketika pertama kali mantan sahabatnya itu mengenalkan si kacang ijo pada Ora, mereka terlibat adu pendapat hingga berujung hubungan persahabatan mereka yang merenggang.
Ela mengaku semua yang Ora bilang tidak benar. Contohnya si Jack. Karena pendapat Ora pertama tentang masa depannya suram jika bersama Jack, tidak masuk hitungan. Helooo ... Mana ada di dunia ini istri seorang perwira TNI masa depannya suram? Ela rasa tidak perlu dijelaskan segala t***k bengek pendapatan yang setiap bulan didapatkan oleh aparatur negara.
Dan untuk pendapat Ora yang kedua, Jack masih bisa terselamatkan. Karena Jack salah satu contoh kacang ijo yang kulitnya bersih dan wangi. Tanpa bau embel-embel panas matahari. Ya walau Ora beranggapan mungkin saja dia mandi dulu sebelum ketemu dengan Ela. Namun tetap saja Ela membantah pendapat Ora.
Dan yang terakhir, masalah gelap asal usulnya. Kacang ijo satu ini cukup baik latar belakangnya. Ayahnya mantan seorang Jenderal besar pada masanya. Lalu ibunya sendiri adalah seorang dokter bedah.
Itu kehidupan nyata apa jalan cerita sebuah film???? Teriak batin Ora.
Kembali lagi ke topik tentang janji ketemuan Ora. Perempuan itu mendesah kuat kala melihat jam dinding di kamarnya. Hari sudah pagi, dan dia masih belum siap bertemu nanti sore.
Jujur dia takut. Takut semua pendapatnya benar pada orang ini. Tapi Ora meyakinkan hatinya. Bukankah dia sudah melihat fotonya? Walau sedikit jijik dengan gaya laki-laki tersebut, tapi Ora yakin dia baik.
Kerjaannya juga cukup mapan. Dan yang terpenting laki-laki itu punya jiwa seni dalam hidupnya. Karena setidaknya nanti mereka akan langsung sama-sama bisa mengisi kekosongan ketika membicarakan seni.
Mungkin banyak yang belum mengenal siapa sosok Azzora Kanaya sebenarnya. Dibalik usia yang sudah cukup matang untuk seorang perempuan, Ora adalah seorang pelukis hebat.
Dia adalah pelukis berbakat dengan aliran surealisme. Atau lebih sering disebut pelukis alam mimpi. Mengapa disebut demikian? Karena dia lebih sering melukis bentuk-bentuk yang muncul di mimpinya. Kadang tercipta hal aneh. Tapi ada pula yang ternyata berbentuk sangat memukau.
Seperti salah satu lukisan yang Ora pajang di kamarnya. Walau sudah di tawar oleh banyak pengolek lukisan dan dibubuhi harga mahal agar Ora mau melepaskannya, namun Ora masih sayang untuk menjualnya.
Karena yang satu ini sangat berpengaruh pada kehidupan tumbuh kembangnya dulu. Dan itu tidak pernah bernilai dengan uang.
Sedangkan sosok laki-laki yang akan Ora temui adalah seorang musisi. Dia suka bermain drum dan berambisi bisa berkolaborasi dengan penyayi papan atas.
Walau seni mereka memang berbeda, tetapi bukan berarti tidak bisa disatukan. Dan Ora mencoba percaya bahwa dari seni lah semua yang berbeda bisa bersatu.
***
Berkali-kali Ora melemparkan pakaian yang akan dia pakai untuk acara ketemuan. Setumpuk pakaian yang ada di lemarinya dirasakan kurang pas. Ora menyesal mengapa tidak membelinya tadi.
Setelah hampir satu jam memilih-milih yang terbaik, jatuhnya kembali pada sebuah tshirt hitam dengan ukuran yang cukup besar dari tubuhnya. Ditambah rok mini hitam sporty yang melengkapi tampilannya.
"Gue mau ketemuan apa mau ke acara kremasi?" gumamnya bermonolog.
Dia menatap tampilan dirinya di cermin. Rambut blonde miliknya diikat asal. Dan sepatu yang menjadi alasannya nanti adalah sepatu convers butut yang selalu dia pakai.
Oh Tuhan. Jangan salahkan gaya pakaian Ora dipertemuan pertama mereka. Ora hanya berusaha tampil apa adanya sesuai dengan karakternya sendiri.
Dan inilah dia. Azzora sang pelukis handal. Mungkin keahlian seni yang dia miliki tidak bisa ditampilkan pada diri sendiri. Tapi dengan kanvas-kanvas tersebut Ora sudah tidak diragukan lagi.
Sebuah tas ransel melengkapi tampilan Ora. Dia menutupi kedua matanya yang berkantung dengan sebuah kaca mata hitam. Perfect. Begitu ucap batinnya. Kini dia siap bertemu dengan laki-laki dumay itu.
Perjalanan yang Ora tempuh pada tujuan tidak sampai sepuluh menit. Karena tempat yang menjadi letak pertemuan mereka adalah di pantai. Dekat dengan rumah mungil Ora di kawasan Tanah Lot. Apalagi laki-laki yang ingin dia temui ini sangat setuju untuk bertemu di pantai. Dia berkata bila pemandangan matahari terbenam dari Pantai Tanah Lot sangat indah.
Dan untuk yang satu ini lagi-lagi Ora setuju. Tanah Lot selain terkenal dengan daerah kawasan yang begitu religi, di sini juga tidak kalah banyak turis dari dalam negeri sampai luar negeri yang datang berkunjung. Makanan-makanan yang di jual pada area sekitar sini juga beraneka ragam. Namun yang paling terkenal adalah kue kleponnya.
Sesampainya Ora di tempat janjian, dia melirik ke arah sekitar. Di jam-jam ramai seperti ini sulit sekali bila harus mencari orang untuk bertemu. Dan yang parahnya lagi orang ini belum sama sekali dia temui. Tidak kebayang bagaimana nanti usaha mereka untuk saling menemukan.
Kok jadi baper ya? Mencari untuk ditemukan sepertinya cocok dipakai sebagai slogan Ora. Dia mencari calon suami dan ditemukan oleh laki-laki baik. Sungguh luar biasa. Haruskah dia berterima kasih dengan pembuat aplikasi pencarian jodoh itu? Mungkin bila sampai Ora menikah dengan sosok laki-laki ini, mereka berdua akan bertamu ke rumah si pembuat aplikasi tersebut. Anggap saja ucapan terima kasih mereka berdua.
Entah sudah berapa lama Ora menunggu. Tapi yang ditunggu tidak kunjung juga datang. Kedua mata Ora sudah jelalatan ke kiri dan kanannya. Mencari sosok yang dia tunggu. Tapi tidak juga terlihat batang hidungnya.
Kepalanya menunduk. Menatap layar ponsel yang dia genggam. Di sana terlihat wajah si laki-laki yang akan dia temui. Wajahnya biasa saja menurut Ora. Khas laki-laki pada umumnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahang. Lalu menurut pemikiran Ora laki-laki ini sudah cukup berumur.
Ya, cocoklah dengannya yang sudah tidak muda lagi. Masa iya di usianya yang hampir 30 tahun, Ora mengharapkan sosok laki-laki usia 20 tahun. Itu sama saja dia mimpi pergi ke Paris tapi pakai sepeda.
Lama dan capek!!!!
Impian tinggi boleh saja. Tapi kita juga harus tahu batas kemampuan sendiri. Tapi untuk impiannya soal mendapatkan jodoh, Ora masih mau usaha. Setidaknya dia mencoba mengenal beberapa laki-laki kembali setelah keterpurukan hubungannya dulu.
Dan Ora harap setelah pertemuan ini ada sesuatu hal kemajuan dalam hidupnya. Mungkin saja menikah. Tidak ada salahnya kan berharap begitu.
Ponsel yang berada di tangannya tiba-tiba saja bergetar. Dan nama si laki-laki itu muncul di sana.
Dengan hati berdebar, Ora mencoba mengangkatnya. Mungkin laki-laki ini mau memberikannya kabar di mana dirinya berada.
"Halo, Ora. Kamu di sebelah mana? Saya baru saja sampai. Tadi ada sedikit masalah di rumah,"
Dengan celingukan, Ora bergumam tidak jelas. Dia ingin bersembunyi lebih dulu agar setidaknya jantungnya lebih siap untuk bertemu dengan laki-laki itu.
"Ora ... Azzora," panggil laki-laki itu dengan suara bass-nya.
"Iya mas. Ora.. Ora.." ucapan Ora terputus-putus dengan tarikan napas yang begitu kencang.
Dia butuh oksigen.Dia butuh pegangan.
Tubuhnya tiba-tiba saja ingin jatuh. Karena kedua kakinya tidak kuat menompang berat tubuhnya.
Ini mungkin respon berlebihan dari diri Ora. Harusnya Ora bisa bersikap biasa saja seperti perempuan lain yang sering melakukan kopi darat dengan laki-laki dumay.
Toh, dia juga tidak buruk-buruk banget sebagai seorang perempuan. Tapi kenapa dia menjadi tidak percaya diri sama sekali.
Berbeda sekali dengan Ora biasanya yang tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain.
"Azzora, jawab pertanyaan mas. Kamu di sebelah mana? Di sini ramai orang. Mas bingung kamu dimana?"
Samar-samar Ora kembali mendengar suara laki-laki itu. Dia mengerjabkan kedua matanya berkali-kali. Degub jantungnya semakin tidak terkendali ketika mendengar suara laki-laki itu semakin mendekat.
Bukan suara yang keluar dari ponsel. Tapi dari sekitarnya langsung.
"Kamu pakai tshirt hitam ya? Pakai ransel dan pakai sepatu ... Convers?"
Oh My God ... Oh My God.. Demi kegilaannya selama ini. DIA NERVOUS !!!!
Benar, itu dia!!!! Laki-laki itu sudah menemukannya berdiri di sini. Membelakangi kehadiran laki-laki itu yang mungkin mulai menerka-nerka reaksi Ora.
Bolehkah dia panik sekarang? Rasa mulas diperutnya muncul tiba-tiba. Bisakah dia tunda pertemuan ini untuk pergi ke toilet sebentar.
Tetapi ketika kaki Ora ingin melangkah pergi menjauh, laki-laki itu menghentikan langkah Ora dengan menepuk bahunya.
Membuat Ora menengok ke belakang, ke arah dimana laki-laki itu berdiri.
"I got you," ucapnya dibarengi oleh tubuh Ora yang ambruk tiba-tiba.
Oh Tuhan, memalukan sekali .....
_____ Continue..
Masih baca gak woi?