Kejahatan itu berasal dari sifat bukan dari penampilan. Karena jaman sekarang yang berdasi belum tentu orang baik.
Angin segar terasa berulang kali berhembus di depan wajahnya. Memberikan hawa sejuk hingga mampu membangunkan alam sadar Ora kembali.
Perlahan-lahan Ora membuka mata, melihat beberapa barang disekitarnya yang tidak dia kenali.Pikirannya mulai merunut keping kejadian yang mampu dia ingat. Terakhir kali dia merasa tengah berada di tepi pantai. Lalu kini dia berada dimana?
"Syukurlah kamu sudah sadar," terdengar sebuah suara yang mulai mendekatinya. Dalam diri Ora mulai memasang mode waspada. Dia merasa kenal dengan suara ini tapi dimana?
"Mau minum? Atau makan sesuatu?" tegurnya kembali bersamaan dengan lirikan kedua mata Ora.
Ya Tuhan. Ini dia yang membuat dia shock tadi!!!
Sosok laki-laki yang Ora kenal melalui aplikasi pencarian jodoh, sehingga mereka bisa melakukan kopi darat berdua. Dan ...
Dia pingsan setelah melihat sosok laki-laki itu.
Kulit laki-laki ini memang sedikit lebih hitam dari yang di foto profil aplikasi tersebut. Bulu-bulu halus di rahangnya juga sama seperti yang di foto. Tapi tahukah kalian bila bentuk wajah dan tubuh orang ini jauh berbeda dari fotonya.
Mungkin Ora harus banyak bertanya padanya, menggunakan aplikasi edit foto apa hingga semuanya berubah menjadi jauh-jauh lebih tampan!! Karena ... Aslinya sangat jauh lebih buruukkkk!!!
Ora saja sampai pingsan melihat senyuman memikatnya. Hingga napasnya mendadak terhenti dan akhirnya menghilang.
"Kamu masih pusing?" tanya dia kembali.
Ketika Ora yakin sedikit lagi laki-laki ini akan tersenyum, Ora segera menutup wajahnya dengan selimut tipis yang sejak tadi menutupi sebagian tubuhnya.
Maaaakkkk!!!! Ampun!!! Ora janji akan bantu ingatkan warga masyarakat untuk mengosok gigi bila tidak ingin tampilannya seperti laki-laki ini.
"Ora ..."
Selimut yang menutupi wajah Ora ditariknya kuat. Kedua sudut bibirnya terbuka lebar hingga Ora menjerit melihat senyumannya!!!
Siapapun tolong usir orang ini !!!
"Kamu kenapa? Nggak mau bicara lagi sama mas? Ini mas Seno. Kita kan janjian mau ketemu tadi," ucap laki-laki yang bernama Seno tadi kepada Ora.
Laki-laki dihadapannya ini sangat berbeda jauh dengan yang ada difoto ketika dia tersenyum. Bayangkan saja gigi depannya hilang entah dicuri siapa. Belum lagi bibir hitamnya khas perokok berat seakan menertawakan Ora. Lalu rambut hitam keriting kecilnya semakin membuat Ora jijik.
Kedua mata dan bibir Ora terkatup rapat. Dia sepertinya salah memilih laki-laki untuk diajaknya kopi darat!!!
Kemarin Ora memang sempat menolak beberapa laki-laki yang mengajaknya bertemu hari ini. Mulai dari yang latarbelakang pekerjaannya sebagai seorang kontraktor hingga seorang pemain sepak bola.
Lalu mengapa dia bisa memilih bison Afrika ini?
Begini kisahnya, Ora sempat bingung harus memilih yang mana ketika ada banyak ajakan kopi darat dari laki-laki. Dia juga melakukan seleksi ketat agar tidak kecolongan. Untuk itu Ora melakukan sistem eliminasi dalam memilih calon laki-laki yang bisa bertemu dengannya.
Yang pertama dari sikap. Ora paling tidak suka dipaksa-paksa atau dikendalikan oleh laki-laki. Sehingga dia eliminasi contoh laki-laki seperti itu. Lalu para kacang ijo yang bergeriliya di akunnya juga dia hapus. Dia tidak mau kalah saing dengan mantan sahabatnya itu bila mendapatkan laki-laki sejenis pasangannya.
Kemudian sisalah 2 laki-laki yang mampu meleweti ketentuan-ketentuan standarisasi miliknya. Yang pertama seorang pemain bola dan satu lagi adalah laki-laki ini.
Mungkin karena Ora sudah gelap mata mendengar semua pengakuan laki-laki yang bernama Seno ini, maka Ora menerimanya dan mengeliminasi si pemain sepak bola.
Tapi memang takdir berkata lain. Dia sadar ternyata uang bisa menipu segalanya. Dia terlalu terlena dengan uang untuk kenyamanan masa depan, hingga tanpa sadar terjebak oleh pilihannya sendiri.
"Ora benci sama mas ya? Maaf ya Ora, semua foto mas edit pakai photoshop jadinya Ora ketipu deh," akunya dengan cengiran yang memuakan.
Ketika Seno mencoba mendekatinya, buru-buru Ora mendudukan diri. Menatap benci pada sosok Seno, si bison Afrika, yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya.
Sebelum terjadi hal yang tidak dia inginkan, Ora segera mengambil langkah seribu. Sampai kedua kakinya hampir terlilit satu sama lain. Untung saja dia masih lihai menjaga keseimbangannya. Kalau tidak, kening lebarnya bisa mencium lantai seketika.
***
Ora mengerjab bingung. Dia celingukan ke kiri dan ke kanan mengenali di mana dia sekarang. Saat kedua matanya menangkap nama tempat tersebut, kedua matanya kontan melebar. Hampir saja, pikirnya menenangkan.
Dia kaget bukan main karena laki-laki itu telah berhasil membawanya ke hotel. Untung saja dia cepat sadar. Jika tidak, maka habislah dia.
Sambil sedikit berlari, dia mencoba kembali ke rumahnya di daerah Tanah lot. Dari sini sampai ke tempatnya kurang lebih memakan waktu 1 jam. Maka dari itu dia harus cepat sebelum malam semakin menunjukan keganasannya.
Selama perjalanan pulang, Ora memilih menggunakan armada taksi untuk mengantarkannya sampai ke rumah. Dia duduk santai di kursi belakang sambil membuka kembali aplikasi pencarian jodoh diponselnya. Banyaknya chat yang masuk dari para laki-laki pengguna aplikasi itu langsung menyapa Ora. Membuat diri Ora jengah.
Dia memang ingin mencari pasangan hidup. Tapi tidak yang seperti mereka juga. Agresif sampai membuat Ora takut.
Ora sedikit menyesal memasang foto profil yang sangat menggoda. Tidak seharusnya dia begini. Coba dia pakai baju yang tertutup akankah laki-laki ini masih mengejarnya?
Dari sekian banyak berita yang sering Ora dengar, ada segelintir kenyataan yang membuat hatinya tersentil kuat. Bila perempuan yang cantik itu adalah perempuan yang auranya kemana-mana bukan auratnya kemana-mana.
Lalu benarkah Ora bukan termasuk golongan perempuan cantik?
Lihatlah dia. Masih suka mengumbar-umbar yang tidak seharusnya diperlihatkan. Tapi memang beginilah ciri khasnya. Dia bukan perempuan yang tertutup dari ujung kaki sampai ujung kepala. Namun Ora juga bukan perempuan nakal yang bisa dicoblos oleh semua laki-laki.
Ketika sedang asik membaca satu demi satu status teman diaplikasinya tersebut, muncul sebuah chat dari laki-laki yang sejak awal Ora tolak mentah-mentah.
Ora ingin berpura-pura saja tidak melihat chat itu. Tapi dia tidak mampu. Rasanya gatal sekali kedua ibu jarinya ingin membuka isi chat tersebut.
"Malam dek Ora,"
Entah kenapa bila sudah si Mas Kara atau si santen Kara yang mengirimkan chat kepadanya, rasa mual langsung muncul. Dia ingin muntah mendengar godaan dari laki-laki ini.
Mungkin karena terlalu percaya diri, hingga Ora merasa si Mas Kara memang tidak punya malu. Lihat saja berkali-kali dia dengan PD nya mengirimkan Ora foto-foto yang menurutnya sexy ke dalam dinding chat mereka. Dan kurang ajarnya semua foto tersebut bertelanjang d**a.
Heloooo.. Dia pikir Ora perempuan lempeng yang tidak punya napsu? Dia sama seperti perempuan lainnya yang kadang suka khilaf bila memandang tubuh kotak-kotak itu
Apalagi seharusnya laki-laki paham bila napsu yang perempuan miliki lebih besar. Dan lebih banyak!! Tapi untung saja Tuhan masih baik dengan kaum sempurna ini, dia menutupinya dengan sikap malu-malu.
Asal jangan malu-maluin saja, batin Ora.
Tapi bukannya benar, perempuan sekarang lebih memilih malu-maluin dibandingkan malu-malu kucing? Pastinya Ora bukan salah satu dari perempuan-perempuan yang tidak punya harga diri itu.
Kembali lagi ke foto yang tampil di layar ponsel Ora. Kedua matanya menscan seluruh bagian tubuh Mas Kara. Penuh dengan gelombang-gelombang kecil di sana. Seperti sebuah pantai yang indah dengan ombak beriringan.
Kurang lebih seperti itulah asli pemandangan tubuh bagian atas dari Mas Kara.
Untung saja baru bagian atas yang laki-laki itu obral, jika bagain bawah turut dia kirimkan bisa kejang-kejang Ora dibuatnya.
"Cuma di pantai yang buat mas merasa selalu dekat dengan Adek,"
Gombal!!! Maki Ora dalam hati. Dia bilang apa tadi? Bila di pantai dia bisa merasa dekat dengan Ora?
Orang mempertanyakan kelayakan syaraf laki-laki ini. Dia pikir Ora itu salah satu dari butiran pasir yang bisa ditemukan di sepanjang mata memandang pantai.
Tidak!!! Ora ini berbeda dari gadis lain. Lihat saja dari arti namanya. AZZORA yang berarti matahari terbit. Dimana kalian tidak bisa memandangnya dengan mudah karena sinar kuat akan membuat kedua pupilmu menyipit dan meminta bantuan tangan untuk menghalaunya.
Sama seperti dirinya. Azzora. Tidak banyak orang yang memandangnya. Namun sekali ada yang memandangnya, maka tunduklah dia pada sinar cahaya dari perempuan ini.
"Dek .. Sudah tidur?" Sebaris chat masuk kembali. Dan itu masih dari pengirim yang sama. Serta masih dengan ke alay'an yang sama karena munculnya chat tersebut bersamaan dengan emoticon menjijikkan.
Oh Tuhan. Berapa sebenarnya usia laki-laki ini?
"Mas usianya berapa? Nggak jijik pakai emoticon begitu?" Balasnya ketus.
Tak sampai satu menit balasan dari laki-laki itu muncul. "Usia Mas nggak beda jauh dari Adek. Kalau Adek 20 tahun bolehkan Mas jadi angka duanya. Seperti diri kita berdua. Yang saling melengkapi,"
Howeeeekkk!!!! Semakin sering dia melakukan chat dengan laki-laki yang bernama Kara, semakin Ora ingin muntah di wajahnya.
Apa santan kental ini tidak tahu bila dia benci sekali dengan gombalan recehan yang dikeluarkan olehnya?
"Kalau Adek nggak percaya, makanya kita ketemuan. Adek bisa nilai sendiri seberapa muda usia Mas," tutupnya kembali.
Namun ketika Ora mau membalas chatnya, laki-laki itu sudah lebih duluoffline.
Masa baru jam 10 sudah tidur? Pikir Ora. Jangan-jangan si Mas Kara ini sibuk buatin s**u untuk anaknya. Sambungnya kembali.
Asal sekali dia berkata demikian. Rasanya tidak mungkin seorang laki-laki yang sudah memiliki anak sibuk menggombal sana sini di medsos. Kecuali bila laki-laki itu adalah seorang DUREN!!! alias Duda Keren.
____ Continue
Kalian baca jam berapa?