Bab 9

1064 Kata
Happy reading. Typo koreksi. ___ Kata orang melupakan itu sulit ketika hati kita sudah terlalu lama terjerat dalam kubangan hampa dan kosong. Axel tidak menyalahkan Bara atas ucapan sahabatnya itu, semua salah dirinya sendiri. Dengan bodohnya masih terjebak dalam ruang gelap yang dia buat, membutakan hatinya setelah tujuh tahun berlalu. Kedua tangannya menyangga pada pinggiran meja wastafel toilet, wajahnya basah karena lelaki itu baru saja membasuhnya dengan air mencoba meredam kepalanya yang nyaris meledak setiap mengingat masa lalu. Tatapan datarnya menatap kosong lurus ke depan. Bara selalu mengingatkannya untuk tidak mengingat masa lalu, tapi tujuh tahun rasanya belum cukup menghilangkan kisah masa kelamnya. Wajar jika Axel masih belum bisa melupakannya, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu selain Bara. Kisahnya tidak hanya warna abu-abu saja. Di balik tirai ada ruang berwarna yang pernah hidup tujuh tahun lalu. Bahkan Axel sempat berpikir ruang itu akan terus ada sebelum kejadian naas yang terjadi pada sosok itu. "Avril." lirihnya menyebut kembali nama yang telah lama tidak pernah ia ucapkan lagi. Mata memanas setiap mengingat sosok itu, dering ponselnya menyentak Axel untuk keluar dari kubangan masa lalunya. Nama Bara tertera di layarnya, ia menghembuskan napas panjang sebelum menekan tombol hijau di layar. "Bro, kalau lo mau balik ke kantor duluan silahkan. Gue bisa handle semua. Sorry Xel seharusnya gue nggak nyebut nama dia lagi. Sorry."  Bara langsung berucap dengan nada menyesal. "Gue baik-baik Bar. Thank you buat ke khawatiran lo. Gue masih bisa gabung sama klien kita." "Kaynya enggak deh Bro. Disini ada Max dia bilang mau jemput lo." Kening Axel mengkerut dalam, lelaki itu bergegas keluar toilet setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Berjalan cepat menuju ruangan kantornya dan memicing saat benar-benar melihat Max kembarannya disana. "Max," panggilnya membuat sang adik menoleh dan tersenyum lebar. Raut datar Axel kembali terlihat tidak atas kedatangan Max dikantornya. "Ada apa?" "Mama nyuruh gue buat jemput lo. Berangkat bareng buat acara nanti malam." Axel langsung mendesis keras mendengar kalimat acara yang di maksud adiknya. "Gue sibuk. Bilang mama sama papa kalau gue pulang telat." "Xel, ayolah. Cuma sekali aja lo tinggal datang. Lihat, kenalan sama tuh cewek. Emangnya mama pernah nyariin calon istri buat lo itu yang nggak bagus apa. Perasaan gue semua cantik, baik juga." "Darimana lo tahu mereka baik?" tanya Axel mengejek kesoktahuan adiknya tentang perempuan-perempuan yang di jodohkan ibunya untuknya. "Ya ... ya masa mama nyari calon mantu jelek sih Xel. Gue sama Binar gimana baik-baik aja. Kalau bisa menilai orang mereka nggak baik karena emang dalam diri lo sudah l9 doktrin kalau mereka nggak cocok buat lo." "Kenapa lo nggak coba kenalan dulu. Kalau kalian nggak cocok mama juga nggak akan maksa lo kaya gini terus. Xel, mama sayang sama lo sama gue juga. Mama mau yang terbaik. Masa lo nggak bisa kasih hal yang sama buat nyokap yang sudah ngelahirin lo. Mama juga bilang kalau cewek yang ini tuh dari keluarga yang sudah lo kenal jadi nggak mungkin kan mereka orang-orang jahat." lanjut Max menjelaskan. Bara menatap keduanya bergantian meski mereka kembar sifatnya sama sekali jauh berbeda, Max bisa sangat bawel tapi sikapnya yang berpikir rasional dan dewasa membuat lelaki itu dulu sangat-sangat banyak penggemar. Beruntung Max mendapatkan Binar sosok perempuan lembut, sopan, dewasa yang sangat mengimbangi Max tentunya. Terdengar helaan napas berat Axel membuat suasana menjadi tegang dan senyap. Max tetap memandang lurus sang kakak yang masih berdiri di depannya dengan mendongak. "Bar, gue titip klien yang ini sama lo. Kalau ada apa-apa hubungi gue langsung." "Siap Bos." Hormat Bara mengangkat tangannya kedahi seperti sedang upacara bendera. Max tersenyum melihat Axel yang melenggang meninggalkannya lebih dulu. "Titip ya Bar. Balik dulu." ucap Max mengedipkan matanya sekali. "Eh! Iya Max." Bara geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. ___ Di rumah besar seorang gadis tampak sibuk memilih gaun, hingga kamarnya terlihat seperti kapal pecah sekarang. Ketukan pintu dari luar kamarnya membuat gadis itu berjalan cepat dan membukanya. Sebuah kotak bermerk terkenal terulur kearahnya, mata gadis itu mengerjap menatap bingung sang Mommy. "Mommy." "Ambil, Mommy sudah belikan kamu gaun. Pakai ini. Mommy nggak suka gaun-gaun kamu yang kekurangan bahan itu. Cepat ambil, mandi terus siap-siap. Jangan buat malu Mommy dan daddy paham?" Kedua matanya berkaca-kaca, meski ketus dan galak Kiana sangat menyayanginya. Anggun mengangguk mencium pipi ibunya dan mengucapkan 'terima kasih' lalu segera masuk kedalam kamar membuat Kiana tersenyum karenanya. "Dasar." Anggun bergegas mandi sebelum membuka kotak pemberian ibunya tadi. Butuh sekitar lima belas menis untuk gadis itu membersihkan dirinya. Anggun keluar dengan Bathrobe melekat di tubuhnya, gadis itu duduk dan membuka kotak berukuran besar tersebut. Terperangah melihat gaun berwarna pink peach panjang tanpa lengan tapi terlihat sopan. Anggun berdiri bercermin dengan memegang gaun indah dari ibunya dengan senyum merekah lebar. "Cantik." pujinya. Anggun bersiap-siap merias dirinya, memakai bajunya dan mulai menyapukan berbagai alat make-up pada wajah cantiknya. Di lain tempat Axel menatap deretan jas di butik langganan keluarga dengan sorot dingin. Melihat Max yang tampak sibuk memilih satu untuknya. "Xel, coba yang ini. Gue tahu elo suka yang warna gelap. Udah mirip mau kekuburan aja, nih." Axel mendengus menatap tajam Max yang menyodorkan jas abu-abu dengan dalaman kemeja berwarna putih. Lelaki itu menatap lagi Max yang sudah kembali berjalan kearah rentetan jas yang terpajang rapih disini. Axel menghela napas pasrah, sebelum melangkah malas ke arah ruang ganti. "Sudah." ujarnya usai memakai jas pilihan sang adik. Max mengacungkan jempolnya dengan wajah sumringah dan bangga. "Keren. Mbak aku ambil yang di pakai itu." ucap Max pada salah satu pegawai butik. Axel geleng-geleng tapi tidak protes, karena ia akan mencoba menuruti keinginan ibunya. "Gila lo ganteng banget Bro. Gue yakin tuh calon kakak ipar bakalan terkesima deh lihat lo." kekehnya membayangkan wajah cengo calon iparnya. Axel mendesis, beranjak meninggalka  butik mengabaikan ocehan Max yang tidak penting. Tepat pukul 20.00 keluarga Wiradhana sampai di rumah keluarga Dimitri, alis Axel terangkat ketika mengingat ini rumah siapa. "Pa. Ini rumah--" "Kamu masih ingat syukurlah. Ayo masuk tidak enak sudah di tunggu Om Albert." "Tunggu du--" belum sempat lelaki itu protes tangannya sudah di tarik Max masuk kedalam rumah yang ia harapkan bukanlah sosok gadis itu yang akan menjadi istrinya. "Selamat datang." Sambutan hangat itu bagai genderang menakutkan Axel yang melangkah perlahan mengintai suasana disana. "Astaga itu dia. Anak saya Anggun. Anggun sini Nak." Deg. Tubuh Axel berdiri gontai dengan sorot mata kaget ketika seseorang yang tidak di harapkannya turun dari atas tangga spiral dengan sangat cantik dan anggun. Senyum malu-malu kearahnya membuat Axel nyaris mengumpati keluarganya jika saja ia tidak mengepalkan tangan menahan dirinya. Wajah cantik yang mengancam masa depannya sudah berada di depan matanya. Sial. Umpatnya dalam hati. ____ Tbc>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN