Happy reading.
Typo koreksi.
_____
Pagi menjelang, ayam sudah berkokok beberapa menit yang lalu mengeluarkan suaranya bagai nyanyian merdu untuk membangunkan para warga. Anggun menggeliat menutup telinganya dengan bantal guling merasa terganggu, gadis itu lagi-lagi tidur larut malam karena menonton drakor kesukaannya.
Di lain rumah waktu yang sama seorang laki-laki baru saja selesai membersihkan diri, dia harus berangkat pagi-pagi sekali karena ada rapat dengan kliennya yang lain. Lelaki itu membuka lemari pakaiannya memilih kemeja dan jas serta celana yang akan ia kenakan hari ini, pandangannya jatuh pada kotak berwarna hitam di tumpukan samping bagian celana bahannya. Tangannya terhenti menatap datar kotak yang sudah lama ia simpan tanpa ingin menyentuhnya lagi. Terakhir kotak itu terbuka sekitar 7 tahun yang lalu dan lelaki itu tidak pernah lagi mencoba membukanya. Helaan napas panjangnya terdengar berat, kepalan disisi tangannya yang satu lagi menandakan jika seorang Axell Wiradhana tengah menahan gejolak gemuruh di dalam hatinya. Lelaki mengambil cepat salah satu celana bahannya dan menutup lemari keras.
Sial. Umpatnya.
Ingatkan Axel untuk membuang kotak itu, karena terlalu sibuk sampai membuat lelaki itu selalu lupa membuangnya. Karena kotak itu milik seseorang, sosok yang ingin Axel lupakan untuk selama-lamanya.
Enggan bernostalgia dan terjebak dalam masa lalu Axel bergegas memakai pakaiannya, usai semuanya rapih lelaki itu keluar dari dalam kamar. Bertemu sang Mama dan Bi Nur yang sedang menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Kamu sudah bangun. Tumben? Mau kemana?"
"Axel mau ketemu klien." balasnya duduk di salah satu kursi meja makan dan mengambil selembar roti dan mengoles selai kacang.
"Axel kamu ja--"
Brak.
Axel membanting pisu selainya keatas piring keras menimbulkan bunyi tring cukup mengagetkan, menatap dengan raut dingin lurus ke depan.
"Ma. Axel nggak mau. Mama tahu Axel nggak su--"
"Jangan-jangan kamu gay. Iya?" Maya menyentak putranya ikut marah. Axel menghela napas lelah.
"Axel berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Astaga Axel, Mama belum selesai bicara! Jangan pergi dulu. Ya ampun itu anak." Bi Nur yang mendengar perdebatan singkat majikan dan anak majikannya pun memilih bungkam. Meski kasihan dengan majikannya tapi dirinya tidak bisa membantu apa-apa. Terlebih anak sulung beliau pulangnya sering larut malam.
Menikah. Hanya itu keinginan majikan wanitanya untuk anak pertama beliau.
Semoga keinginan ibu tercapai. Doanya dalam hati.
Di dalam mobil Axel menggeram lelaki itu membawa mobilnya kesalah satu pedagang bubur ayam dekat rumahnya. Lelaki itu melepas jasnya dan keluar dari dalam kendaraannya. Mang Ujang si penjual menyapa dirinya ramah.
"Pagi Mas. Baru kelihatan lagi." Lelaki itu meringis, menjawab seadanya saja.
"Sibuk Pak."
"Oalah emang kalau orang kantoran itu sibuk ya Mas. Mau seperti biasa Mas?" tanya beliau dibalas anggukan kepala Axel sopan.
"Nah ini Mas, silahkan di makan."
"Terima kasih, Pak."
Mang Ujang kembali mengerjakan pekerjaannya melayani beberapa pembeli lainnya. Axel menambahkan sambal ke dalam mangkuk berisi bubur ayam miliknya tanpa daun seledri tapi banyak kacangnya. Lelaki itu melihat sekitar sejenak sebelum menyuapkan makanannya kedalam mulut. Lelaki tampan itu tidak malu jika harus makan di tenda sederhana milik Mang Ujang. Mengabaikan tatapan pembeli kaum hawa yang terang-terangan meliriknya. Tidak sampai sepuluh menit bubur ayam spesial Mang Ujang habis ia lahap. Lelaki itu meminum air mineralnya dan segera berdiri menghampiri beliau.
"Ini Pak." ujarnya membuat Mang Ujang menggeleng cepat.
"Ya Allah, ndak usah Mas. Ambil lagi saja. Mas kan sering bantuin Mamang. Hari ini Mamang teraktir." Axel menatap beliau tidak enak, sama halnya dengan beliau yang menatap Axel demikian kepada lelaki tampan itu.
"Besok saya bayar ya Pak."
"Oalah, iya Mas." jawab Mang Ujang dengan setengah menggeleng heran.
Tanpa ada yang tahu kalau Axel lah yang membantu menyediakan tempat dan juga semua keperluan jualan untuk Mang Ujang.
Axel sudah kembali kedalam mobilnya lelaki itu melirik jam di pergelangan tangannya, melajukan mobilnya kembali menuju kantor.
Di lain tempat Anggun bergegas turun ke ruang makan setelah kena semprot omelan ibunya lagi karena telat bangun. Albert menatap putrinya dengan tatapan geleng-geleng kepala.
"Telat lagi." ejek pria paruh baya itu membuat Anggun merunduk bersalah.
"Maaf Dad." lirihnya pelan.
Albert menghela napas menggedikkan kepalanya meminta putri bungsunya itu untuk duduk di kursinya.
"Nanti malam keluarga tante Maya mau datang. Kamu belum kenalan sama om Dika kan?" Anggun menggeleng menjawab.
"Daddy minta kamu jaga sikap, jangan seperti anak kecil. Ingat kamu itu sudah dua puluh tahun Anggun. Jangan kaya anak-anak lagi." pesan Albert tegas.
Anggun mengangguk mengerti, gadis itu mendongak ketika melihat Kiana datang membawa kopi untuk ayahnya.
"Dasar kebo. Besok-besok Mommy nggak mau bangunin kamu lagi. Belajar mandiri. Katanya mau menikah." sarkas Kiana menatap mencibir kearah putrinya. Bibir Anggun mencebik mengerucut memandang ibunya sebal.
"Sudah. Masih pagi. Cepat makan. Kamu ada kuliah hari ini?"
"Ada. Jam sembilan nanti Daddy." Albert mengangguk, pria paruh baya itu menyeruput kopinya sedikit. Melihat kearah Kiana istrinya yang sedang menatap lekat putri mereka.
"Ekhm, Sayang Mas mau nasi gorengnya." ucapnya sengaja mengagetkan istrinya, Kiana menoleh melotot kearah suaminya yang cekikikan. Anggun menatap orangtuanya sekilas sebelum kembali melanjutkan menyuapi nasi goreng ke mulutnya.
Axel menunggu kliennya bersama Bara sahabatnya mereka duduk di salah satu ruangan kantor hotelnya.
"Gue dengar klien kita sekarang ini artis?"
"Siapa bilang?" Axel menjawab malas.
"Anak-anak lah."
"Anak-anak mana. Maksud lo cewek-cewek di kantor ini yang berhasil elo goda. Gitu?" Bara menyengir kuda. Mengabaikan sorot mata tajam sahabatnya itu.
"Ya elah Bro, gue cuma nanya. Makanya jangan kelamaan sendiri. Jadi gini kan, sensian kuping lo. Lo tuh harus bisa menata masa depan. Ngapain masih aja mikirin si Av-- oops sorry Bro."
Tubuh Axel menegang, gerakan tangannya yang memegang pulpen terhenti menatap kosong ke arah berkas di depannya.
Puk.
"Xel, sorry gue benar-benar minta maaf. Gue nggak bermak--" Napas Axel sedikit terasa berat, lelaki itu menghembuskan napasnya perlahan-lahan sebelum menoleh menatap Bara dingin.
"Gue ke toilet bentar." ucapnya tiba-tiba membuat Bara sampai harus menahan napas beberapa saat karena ketakutan.
"Ah! I-iya Xel." gagapnya menjawab.
Kepergian Axel di tatap Bara yang sekarang merutuki dirinya sendiri kesal.
Bego b**o b**o.
"Kenapa gue hampir sebut nama itu sih. Astaga b**o banget gue." sumpah serapahnya menatap nanar kemana arah sahabatnya pergi.
Lo harus bisa lepas Xel. Raih kebahagiaan lo. Batinnya miris.
___
Tbc>>>