Starla memijit pelipisnya, gayanya sudah seperti Aries yang diberi tugas dadakan oleh Leo. Bagaimana Starla tidak pusing, kalau sekarang dirinya menyimpan rahasia besar menyangkut suaminya dan Selina. Teringat kembali obrolannya di telepon dengan Fandi, ayah Selina. Awalnya dia menghubungi Astrid, tapi yang menjawab teleponnya adalah Fandi.
"Starla, Ayah mohon sekali untuk tidak memberitahu pada Aries dan Selina. Nanti ketika Bunda Astrid sudah lebih tenang, Ayah dan Bunda akan ke sana menemui kalian."
Begitulah kiranya permohonan Fandi pada Starla. Gadis itu menjadi galau, perasaannya tidak tenang kalau harus merahasiakan masalah ini kepada Aries dan Selina. Namun, ia pikir memang seharusnya Fandi dan Astrid sendiri yang cerita, bukan dirinya.
Starla menggeleng. "Rumit, bagaimana nanti kalau ketahuan, Aa' pujaan hati justru marah sama aku karna aku sudah tau dan merahasiakan ini?"
Dia menghela nafas beberapa kali, tadi Fandi tidak mengatakan semuanya, kenapa Astrid belum sanggup bertemu Aries. Dulu Nova, tante Aries pernah cerita kalau Astrid stres karena Danu selingkuh dan dia di madu, tapi kenapa malah sekarang trauma bertemu Aries?
Dari semua kebingungan yang paling mengejutkan Starla ternyata Fandilah yang membohongi semua kalau Astrid telah meninggal, bahkan ayah dari Selina itu yang meminta orang untuk membuat makam palsu. Starla pernah diajak ke makam itu oleh Aries.
"Tidak menyangka karena cinta, Ayah Fandi akan senekat itu," gumam Starla. Dia juga tak menyangka kala itu Fandi adalah seorang psikiater dan Astrid adalah pasiennya. Namun, karena rasa bersalah yang telah membawa kabur pasiennya, Fandi tidak melanjutkan pekerjaannya lagi dan memilih hidup sangat sederhana, menjadi petugas kebersihan di Puskesmas.
"Pantas saja Bapak kalau ada yang bikin stres sering curhat ke Ayah Fandi." Apalagi kemarin keluarga mereka terlilit hutang. Pandu, bapak Starla memang menceritakan keluh kesahnya pada Fandi.
Karena asyik dengan pemikirannya, Starla tidak sadar jika suami tercinta telah pulang. Aries mengernyit karena melihat sang istri kecil melamun di kamar. Dia mendekati Starla dan istrinya itu tetap belum sadar akan kehadirannya sampai telapak tangannya terulur mencubit pipi sang istri.
"Aa'!?" kagetnya.
"Iya, memang kamu kira siapa?"
"Kirain pangeran dari negeri antah berantah," jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Aries menggeleng pelan, lalu menangkup pipi sang istri dengan kedua telapak tangannya.
"Istri kecil, kamu sudah kecil, jangan mikir yang berat-berat."
"Aku kelilit hutang A'," jawab Starla yang membuat Aries bagai tersambar petir. Bagaimana nanti nasib kantongnya?
"Bercanda, A'," lanjut Starla, yang kini membuat Aries bagai di taman bunga saking leganya.
Starla berdiri dari duduknya dan segera memeluk Aries. Dia ingin bercerita, tapi tidak seharusnya dia yang menceritakan dan dirinya juga sudah berjanji agar tidak membongkar semuanya.
"Hai, kenapa?" tanya Aries dengan nada khawatir, sepertinya sang istri memang memikirkan hal berat. Pria itu jadi tidak tega meninggalkan istrinya untuk beberapa hari kedepan. Ya, Aries akan pergi ke Surabaya besok pagi, itu yang membuat ia pulang cepat hari ini.
Starla menengadah. "Chu …." Dia justru memajukan bibirnya, membuat Aries yang tadinya cemas menjadi geli sendiri, lalu mencium bibir istrinya itu, menyesapnya pelan.
"Jadi, ada masalah apa?" Aries memangku Starla. Memang sang istri kecil makin hari-makin manja, bahkan melebihi si kembar.
Starla menunduk memilin ujung bajunya. Beberapa kali terdengar helaan nafas darinya. Aries cemas. Tidak biasanya Starla begini. Dia kembali membujuk sang istri agar menceritakan masalahnya. Ia tidak apa-apa jika memang benar istrinya punya hutang, ia akan mencoba ikhlas, dan berusaha membantu sang istri.
"Aku menyimpan rahasia besar, A," ungkap Starla.
"Rahasia apa?"
"Aku enggak bisa cerita karena ini rahasia, tapi nanti cepat atau lambat Aa' bakal tau sendiri."
Aries mengernyit ketika mendengarnya. "Ini rahasia tentang kamu?" tanyanya.
Ini rahasia tentang keluarga Aa', tapi aku tidak bisa bilang, batin Starla.
Melihat istrinya menggeleng, lalu terdiam Aries menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa kalau tidak mau cerita, seperti yang kamu bilang ini rahasia, saya akan menunggu sampai saya tau sendiri nantinya." Aries tak ingin memaksa, meski ia penasaran.
Starla menatap lekat wajah suaminya. "Tapi, kalau Aa' sudah tau, Aa' janji jangan marah sama aku ya karna menyimpan rahasia ini," mohonnya.
"Kalau itu tergantung rahasianya seperti apa." Bukan gaya Aries berjanji pada hal-hal yang memang belum jelas.
"Tidak apa-apa marah, tapi Aa' janji jangan ninggalin aku, ya?" Starla masih berusaha.
"Kamu tau hanya ada satu hal yang akan membuat saya meninggalkan kamu selain maut memisahkan kita, yaitu pengkhianatan. Entah kamu punya laki-laki lain atau berniat menghancurkan saya."
"Tidak mungkin aku begitu." Starla memeluk erat Aries.
Pria itu tersenyum. "Berarti selain itu sudah jelas, kamu bisa mengartikan sendiri jawaban saya."
Aries dan Starla saling tatap. Hidung mereka beradu dan keduanya pun tersenyum.
"Aa' tau tidak kedalaman Samudera Pasifik?" tanya Starla tiba-tiba.
Aries menggeleng, dia mana ingat pelajaran geografi seperti itu. "Memang kamu tau?"
"Enggak, tapi yang jelas tidak sedalam cintaku pada Aa'. Jadi, tidak boleh ragukan cintaku, oke?"
Aries dibuat gemas kembali. Ternyata seperti biasa gombalan maut. Starla cengar-cengir, lalu mengecup pipi sang suami.
"Sudah berani sekarang cium-cium." Tidak biasa sang istri mencium lebih dulu.
"Aku dan Aa' kan saling memiliki."
"Siapa juga yang mau memiliki kamu …."
"Masih juga malu-malu kayak perawan—aaaw." Aries kembali mencubit gemas pipi Starla. Tidak lama mereka tertawa bersama.
"Loh, kenapa Aa' sudah pulang jam segini?" tanya Starla yang baru melihat jam dinding dan ternyata masih pukul 15.00 alias jam tiga sore.
"Iya besok saya akan ke Surabaya, jadi sekalian beres-beres."
Mendengar itu wajah Starla langsung murung semurung-murungnya. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Cuma tiga hari, kalau lebih cepat selesai juga langsung pulang," terang Aries, sudah terpikir istri kecil nan manja bin bucin akan seperti ini.
"Walaupun tiga hari tetap saja menurutku lama," balas Starla. "Aa' tau tidak perbedaan cintaku dengan matahari?" lanjutnya.
"Memang apa?"
"Kalau matahari, terbit di pagi hari tenggelam di sore hari, nah kalau cintaku ke Aa' terbit terus enggak pernah tenggelam. Jadi kalau tidak ketemu sehari saja rasanya berat."
Aries langsung mengecup bibir istrinya itu, kenapa perumpamaannya bikin gemas.
"Iya Sayang, aku tau … tapi tolong mengerti ya, aku ada tanggung jawab yang harus dikerjakan di sana." Aries mulai berbicara tidak terlalu formal dengan istrinya. Starla tersenyum mendengarnya, Aries memanggilnya sayang dan menggunakan kata 'aku', bukan 'saya' lagi.
"Asyik aku dipanggil sayang, cinta, enggak?" tanya Starla.
"Kalau itu sih pikir-pikir dulu."
"Bilang cinta aja gengsi."
***
Sebelum pergi, di teras, ketiga kesayangan Aries telah mengantre untuk mendapat pelukan pria itu. Siapa lagi kalau bukan Starla, Venus, dan Mars.
"Jangan nakal, jauhi masalah, kalau pakai motor jangan kebut-kebutan. Jaga anak-anak dengan baik." Begitulah petuah yang diberikan Aries pada Starla. Sang istri mengangguk dengan ekspresi sedih. Aries segera mengecup kening istrinya itu dan tersenyum, membuat jantung Starla seakan meletus akibat serangan senyuman mematikan.
Aries berpindah pada Venus dan Mars. Memeluk sayang mereka dan mengecup gemas wajah keduanya.
"Jangan nakal, ya. Nurut sama Mama."
"Oce Papa, tapi biasanya Mama yang nakal bukan kita," jawab Venus.
"Betul, betul, betul," sahut Mars.
Starla terbelalak, kenapa pada durhaka sama emak, sedangkan Aries sudah terkekeh.
"Selina, kamu juga harus jauhi masalah dan pertengkaran. Saya titip istri dan anak-anak saya," pinta Aries pada Selina yang juga berada di sana.
"Oke, Kak. Beres."
Starla memandang bergantian Aries dan Selina. Bagaimana ya reaksi mereka kalau tau sebenarnya mereka bersaudara?
"Malah melamun." Aries mengagetkan Starla membuat istrinya itu terkekeh canggung.
Keduanya saling berpelukan lagi. Begitu pun akhirnya Venus dan Mars juga mengikuti. Kalau dibiarkan seperti ini Aries bisa ketinggalan pesawat.
Keempatnya melambaikan tangan ke mobil yang keluar dari pagar dan setelahnya tak terlihat lagi.
"Cus anak-anak dan Adik ipar mari kita masuk," ajak Starla.
"Siapa yang adik ipar?" protes Selina.
"Kamu pernah bilang Aa' sudah dianggap kakak kamu, jadi aku kakak ipar kamu," terang Starla yang adalah kebenaran.
"Ogah!" Selina malah menjitak kepala sahabatnya itu dan kabur ke kamar untuk siap-siap berangkat kerja.
"Ih dasar adik ipar durhaka." Starla menggeleng pelan.
***
Ini hari ketiga Aries di Surabaya. Leo sendiri yang awalnya ikut bersamanya sudah kembali kemarin karena harus menghadiri rapat di Jakarta, sedangkan Aries ada pertemuan terakhir bersama klien atas perintah Leo.
Aries merasa harus segera kembali, maka dari itu ia memesan tiket pesawat sore hari. Pertemuannya dengan klien akan diadakan sebentar lagi tepatnya jam 10 pagi hanya saja dari malam perasaannya sungguh tak tenang. Apalagi dia menghubungi Starla tidak diangkat, walaupun setelahnya dia menghubungi Mbok Sur dan wanita paruh baya itu mengatakan semua baik-baik saja. Mungkin Starla ketiduran.
Aries berusaha profesional rapat dengan klien hari ini, meski perasaannya gelisah. Hanya sekitar sejam kedua pihak telah mencapai kesepakatan kerja sama. Aries bersyukur rapat tak berlangsung lama.
Pria itu kembali ke hotel untuk bersiap ke bandara.
Saat Aries berada di ruang tunggu Bandara, ponselnya berdering, nama Mbok Sur ada di sana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Den Aries kapan pulang? Ini Non Starla dan Non Selina sebenarnya ditahan, Den. Anak-anak saking sedihnya sampai demam, gimana, Den?" Mbok Sur tampak bingung, awalnya dia tidak mau memberitahu Aries karena keinginan Starla, tapi dia tidak kuat karena si kembar jatuh sakit.
Aries terdiam kaku, kenapa selalu saja masalah terjadi?
"Saya sedang di bandara, Mbok. Sebentar lagi pesawat saya berangkat."
Aries menutup panggilan teleponnya. Dia belum tau masalah sebenarnya, tapi semoga dia bisa menyelesaikannya.