"Jadi hari ini saya akan diajak kemana sama kamu Queen?" Tanya alvaro.
"Saya akan ajak Bapak ke Lantau Island, kita ke Ngong Ping 360 dan Giant Budha, setelahnya saya ingin window shopping di City Gate". Terang Quenny kepada Alvaro.
"Ok, kita naik apa?" Tanya Alvaro.
"Kita naik MRT, biar seru dan berkesan bagi Bapak. Jadi nanti Bapak akan mengingat perjalanan Bapak selama di Hongkong dengan saya". Terang Quenny sambil memasang senyumnya dengan manis.
"Loh, Bapak bawa kamera? Perasaan kemaren Bapak tidak bawa". Tanya Quenny pada Alvaro karena penasaran.
"Semalam saya beli. Sehabis mandi, saya keluar lagi ke mall buat beli kamera ini". Terang Alvaro sambil memperlihatkan kamera yang dibelinya semalam.
"Mari kita explore Hongkong dengan MRT". Ajak Quenny sambil menarik tangan Alvaro.
"Let's go". Alvaro menjawab dan melihat tangannya ditarik oleh Quenny dan seketika itu juga hati Alvaro terasa hangat atas perilaku Quenny.
Setelah beberapa menit berjalan, Quenny baru menyadarinya jika dirinya sudah menarik tangan Alvaro. "Upss, sorry pak.. saya tidak bermaksud tidak sopan dengan Bapak, saya suka reflek menarik tangan orang yang berjalan di samping saya". Ungkap Quenny dengan rasa bersalahnya. Dan Quenny melepaskan genggaman tangannya. Tetapi Alvaro kembali menarik tangan Quenny dan menggenggam kembali tangan Quenny.
"Biarkan seperti ini saja, saya tidak mau kamu hilang di keramaian Hongkong, saya akan merasakan kehilangan dan kecewa pada diri saya sendiri karena tidak bisa menjagamu. Jika saya tidak bisa menjagamu, bagaimana saya bisa menjaga hatimu". Alvaro berbicara kepada Quenny dengan kalimat tersirat.
"Ehhmmm.. maksud Bapak apa ya? Saya tidak mengerti." Tanya Quenny dengan pernyataan yang sudah dilontarkan oleh Alvaro.
"Saya tidak mau kamu hilang di Hongkong, kamu kan mungil dan cantik, nanti kalau kamu diculik bagaimana, kamu tidak lihat dari tadi cowok - cowok pada lihatin kamu. Saya tidak mau kehilangan kamu, susah lagi nanti carinya". Ucap Alvaro sambil menggenggam tangan Quenny.
"Ohh.. ehh.. baiklah, mari ikuti saya Pak". Ucap Quenny sambil meredakan detak jantung yang kembali berpacu lebih cepat. Dirinya pikir, cukup semalam saja Alvaro bertindak manis dengan Quenny, tetapi hari ini tetap berlanjut. "Hufffttt... Please God, help me please.. jangan buat jantungku keluar dari tempatnya". Doa Quenny kepada sang Pencipta.
"Kamu kenapa masih panggil saya Pak, kita kan hanya berdua, tidak dengan peserta lainnya. Kesannya saya tua sekali jika jalan bersamamu". Ucap Alvaro dengan muka sedikit cemberut.
"Maaf Pak... ehhh Kak... habis sudah terbiasa memanggil client saya dengan sebutan Bapak/Ibu. Ya sudah sih kak Al, ga usah ngambek, nanti jadi jelek, ga ganteng lagi". Jawab Quenny kepada Alvaro. Dalam hati Quenny "Ya alisssss... elo mau ngambek atau diam pun tetap ganteng mas bro.. lama - lama iman gue kagak kuat ngadepin elo babang ganteng. Dari tadi elo itu jadi pusat perhatian cewek - cewek, jadi bete kan. Cuma pake celana pendek warna putih selutut plus kemeja biru soft yang kancingnya dilepas dua ditambah dengan sweater yang disampirkan ke pundak, errrgghhh... so seksehhh. Jadi pengen dipeluk, upsss kok otak gue jadi gini sihhh??? Quenny kenapa dengan otak elo". Tanya Quenny dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu geleng - geleng kepala? Kamu pusing? Atau kita kembali ke hotel aja biar kamu beristirahat?" Tanya Alvaro.
"Ga kok Kak, aku hanya ingat pesanan mom semalam. Mom titip dibelikan asinan kiwi. Dari tadi saya cari - cari tidak ketemu, kadang mom itu suka nyusahin anaknya. Ga tau kali kalau anaknya sedang kerja. Asinan kiwi itu kan belum tentu ada". Terang Quenny, padahal bukan itu sebenarnya,
"Ohh... saya kira kamu sakit kepala". Alvaro menjawab sambil mengangguk - anggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya mengerti kenapa Quenny menggelengkan kepala tanpa menyadari apa yang sudah terjadi ada Quenny.
Dalam perjalanan, Alvaro tidak pernah melepaskan tangannya dari Quenny. Alvaro merasa kalau Quenny adalah barang berharga yang harus dijaganya dengan segenap hati, jiwa dan raga. Di dalam MRT yang ramaipun, Alvaro akan berdiri di belakang Quenny untuk menjaganya apabila ada tangan - tangan usil yang akan coba - coba menjahili Quenny, selain itu juga menjaganya, apabila MRT berhenti mendadak, Quenny tidak akan jatuh karena Alvaro dengan siap siaga menjaga Quenny agar tidak terjatuh. How sweet your are, Alvaro.
****
"Bagus ya Ngong Ping Village nya, Giant Budha nya juga so amazing". Ungkap Alvaro setelah mereka selesai berpertualang di Ngong Ping dan mereka sedang dalam perjalanan kembali ke Tung Chung dengan menggunakan cable car dan kebetulan cable car nya hanya diisi oleh mereka berdua. Biasanya berisi 6 orang.
"Iya, udaranya sejuk sekali diatas sana, nanti aku mau ajak kak Rafa kencan ke Hongkong ahhh.. aku mau ajak ke Ngong Ping". Ujar Quenny sambil tersenyum membayangkan apa jadinya jika dirinya dan kakaknya berpetualangan di Hongkong, alangkah asyiknya dan pastinya seru.
"Kencan itu sama pacar, bukan sama kakak sendiri". Ujar Alvaro dengan sedikit tidak suka akan pernyataan Quenny.
"Yaa mumpung kami masih single, kami mau menikmati masa muda kami dengan jalan - jalan bersama. Jika nanti kami sudah memiliki keluarga masing - masing, akan susah kami meluangkan waktu bersama - sama karena kami akan fokus dengan keluarga kami masing - masing". Terang Quenny dengan menggebu - gebu.
"Quenn, mau kah kamu kencan denganku? Aku ingin kencan keliling dunia bersamamu". Ungkap Alvaro dengan hati yang was - was takut dengan jawaban penolakan Quenny.
"Ehmmm.. ehmmm". Quenny bingung mau jawab apa, dirinya tidak menyangka jika Alvaro mengungkapkan perasaannya kepada Quenny di atas cable car dengan pemandangan yang sangat fantastik. "Gue ditembak sama cowok ganteng di Hongkong, di cable car pula, diketinggian dengan pemadangan Lantau Island.... ehhh busyetttt.... mimpi apa gue semalam. Mommy tolong anak perawanmu ini, Ce masih mau hidup lebih lama, Ce mau membahagiakan Dad and Mom, Ce belum mau mati, jantung Ce uda mau keluar neh mom... Tolong Ce mom... dad... Kak Ab... Dek Av". Teriak Quenny dalam hati.
"Kamu tidak perlu jawab sekarang, kamu bisa jawab saya sebelum kita landing di Jakarta". Ujar Alvaro dengan menampilkan senyum hangatnya.
"Ehhh... ehmmm... baiklah". Jawab Quenny yang menahan malu karena mukanya merah dengan pernyataan yang telah Alvaro berikan tadi.
Quenny merutuki mukanya yang sudah merah seperti kepiting rebus."Ah, Al kamu buat saya melted aja. Jangan sering - sering buat seperti ini kepada saya, bisa - bisa saya di opname karena hati saya sudah mencair dan mengalir kemana - mana. Ihhh apa coba maksudnya, kenapa otak gue jadi gini sih, receh banget". Guman Quenny dalam hati.
"Kamu sudah kenyang belum? Tadi diatas kamu hanya makan sedikit loh". Tanya Alvaro untuk menghilangkan kecanggungan yang sempat terjadi karena Alvaro telah mengungkapkan perasaannya kepada Quenny.
"Lumayan, tapi nanti saya akan beli camilan aja kak. Saya suka kuliner kalau sedang di luar negri. Seru kalau mencobai makanan khas negara - negara lain". Ungkap Quenny sambil melihat pemadangan keluar cable car untuk meredakan detak jantungnya.
"Kamu kasih tahu aja mau makan apa, nanti kakak belikan". Alvaro menjawab Quenny masih dengan posisi menatap Quenny tanpa mengalihkan pandangannya keluar.
"Hati - hati". Ucap Alvaro sambil memegang tangan Quenny ketika mereka akan keluar dari cable car.
"Terima kasih kak". Ucap Quenny sambil tersipu malu.
"Manisnya kamu.. jadi gemes deh". Ucap Alvaro sambil mengelus rambut Quenny.
"Kamu katanya mau shopping di City Gate, ayo saya antar kamu ke City Gate". Ajak Alvaro
"Loh kak, ini sekarang kita ada di City Gate, ini station Tung Chung sama aja namanya City Gate". Terang Quenny sambil tersenyum sipu.
"Ohh.. ya sudah kamu mau beli apa? Saya belikan, anggap aja ini extra tips yang saya berikan padamu karena sudah menemani saya jalan - jalan selama di Hongkong". Alvaro mengajak quenny untuk keliling City Gate guna menuntas hasratnya buat shopping. Alvaro tahu bagaimana memanjakan seorang wanita, cukup diajak shopping, dan semuanya beres. Sama seperti mami dan adiknya.
"Bener neh kakak mau belikan apa saja yang saya mau?" Ucap Quenny dengan mata berbinar - binar.
"Benar, kamu mau minta beli apa?" Tantang Alvaro kepada Quenny.
"Saya mau minta dibelikan rumah saja". Ucap Quenny sambil terkikik karena candaanya.
"Saya akan belikan kamu rumah jika kamu setuju menjadi istri saya". Jawab Alvaro dan seketika hening, mereka tidak tahu apa lagi yang harus mereka katakan. Mereka masih berusaha untuk memahami apa yang baru saja Alvaro lontarkan.
"Ehh... ayo kak, aku mau ke Giordano, biasanya suka ada sale disini. Aku sering beli disini buat kasih kak Ab dan dek Av. Lumayan buat mereka olahraga". Terang Quenny sambil menarik tangan Alvaro menuju counter Giordano.
"Kak Ab? Dek Av? Siapa mereka?" Tanya Alvaro dengan penasaran.
"Kak Ab itu si kak Rafael.. namanya kan Rafael Abrisam, kalau dirumah dipanggil babang Ab. Sedangkan Dek Av itu adik kami yang bontot. Namanya Rafandra Avshalom dan panggilannya Av". Terang Quenny kepada Alvaro.
"Lantas kamu panggilannya apa kalau dirumah? Tanya Alvaro kembali.
"Saya dipanggil Ce.. nama saya kan Quenny Acelin... jadi panggilannya Ce.. diambil dari nama tengah kami masing - masing". Terang Quenny kembali.
"Ohh seperti itu.. Saya boleh panggil kamu Ce juga? Biar kedengarannya lebih akrab dan kekeluargaan". Ungkap Alvaro sambil mengacak kembali rambut Quenny.
"Boleh, apa sih yang ga buat kakak Al yang ganteng". Ucap Quenny bercanda sambil mengedipkan matanya.
****
"Kita ke Avenue of Stars lagi ya, ada yang mau saya beli disana. Kemaren tidak keburu buat membelinya". Ajak Alvaro kepada Quenny disaat mereka hendak memilih station tujuan mereka selanjutnya.
"Siap bosque, titah Paduka akan hamba lakukan". Ucap Quenny sambil menahan senyum.
"Kamu ini, ada - ada saja. Sejak kapan saya jadi boss kamu dan jadi padukamu?" Tanya Alvaro sambil menahan senyum juga akibat ucapan Quenny.
"Hehehehehehe.." Quenny hanya tertawa saja tetapi dalam hati nya berucap "sejak elo nembak gue Al".
"Kak, kita mau nongki di cafe yang kemarin lagi atau pindah cafe yang satunya?" Tanya Quenny kepada Alvaro setelah mereka tiba di dekat station Avenue.
"Kita coba cafe yang satunya lagi ya". Ajak Alvaro dengan senyum hangatnya dan yang masih dengan posisinya menggenggam tangan Quenny untuk berjalan dari station.
"Kamu mau makan lagi Queen?" Tanya Alvaro setibanya mereka di cafe dan sedang melihat - lihat menu".
"Saya masih kenyang kak, kalau kakak mau makan, makan aja.. saya hanya minum teh saja". Ucap Quenny sambil membalikkan buku menu.
"Kak.. nanti setelah A Symphony of Lights selesai, kita kembali ke hotel ya. Kelihatannya kakak sudah lelah, saya tidak tega mengajak kakak untuk jalan lagi". Terang Quenny yang melihat Alvaro sedikit kelelahan karena seharian ini mereka banyak berjalan kaki. Setelah dari City Gate, mereka menyempatkan diri untuk ke Disneyland Hongkong, hanya untuk foto - foto di pintu masuknya. Biar dikata eksis foto - foto di Disneyland walaupun hanya di pintu masuknya saja, demi upload di medsos pikir Quenny. Alvaro sebenarnya mengajak Quenny untuk masuk ke Disneyland, tetapi Quenny menolaknya karena semua yang didalam adalah permaianan anak kecil, Alvaro sudah tidak pantas lagi untuk diajak bermain di Disneyland.
"Saya tidak lelah, saya masih kuat kok berjalan, apalagi jika berjalan berdampingan denganmu. Memangnya kamu mau kemana lagi?" Tanya Alvaro penasaran.
"Saya sih ingin ke Ladies Market sebentar, teman kantor ada yang nitip belikan tas". Ungkap Quenny.
"Ayo.. saya akan temani kamu kemanapun kamu pergi, sampai alam maut pun akan saya temani kamu". Jawab Alvaro dengan tegas.
"Ehhh ciye... alam maut? Ngapain saya ke alam maut, saya cukup disini aja. Melihat senyum kakak cukup buat saya". Jawab Quenny dengan tegas. Sedangkan Alvaro salah tingkah dengan ucapan Quenny.
"Ayo Queen, kita berdiri dekat tiang pembatas itu buat lihat lampu - lampu itu". Ajak Alvaro dengan mengambil tangan Quenny dan Quenny pun mengulurkan tangannya.
Dalam diam mereka memperhatikan lampu - lampu yang bergantian mati dan hidup dengan latar belakang gedung bertingkat yang mana gedung - gedung tersebut merupakan perusahaan terkenal di manca negara.
"Quenn.. ayo kita berkencan, aku tidak mau kamu selalu berkencan dengan kakakmu terus. Sudah saatnya Rafael melepaskan adik tersayangnya untuk dimiliki seorang pria". Ucap Alvaro tegas kepada Quenny.
Quenny menoleh dan menyelami mata Alvaro untuk mencari keseriusan apa yang sudah diucapkan oleh Alvaro. Dan Quenny tidak menemukan keraguan di mata Alvaro. Hanya keseriusan dan ketulusan yang didapatinya.
"Ayo kita berkencan, tapi kak Al jangan kecewa dengan semua sifat dan tingkah laku saya. Nanti yang kak Al temukan di diri saya adalah kekurangan saya semua. Semua yang tampak baik dimata kak Al belum tentu kak Al bisa lihat lagi". Ucap Quenny dengan sungguh - sungguh.
"Baik dan buruknya seseorang bukan kamu yang nilai. Masih ada sudut pandang dari orang lain, masih banyak pendapat lain. Jangan hanya fokus dengan satu pendapat, kita harus mendengarkan pendapat orang lain supaya kita bisa bertindak adil dan baru bisa memutuskan sesuatu. Kekurangan dan kelebihanmu akan sama - sama kita hadapi. Sayapun banyak kekurangannya, kamu sanggup menghadapinya? Oleh karena itu, kita sekarang sudah mengambil keputusan untuk bersama, kitapun harus bisa menutupi kekurangan pasangan kita masing - masing dengan kelebihan kita". Terang Alvaro sambil tersenyum hangat kepada Quenny.
"Terima kasih kak". Jawab Quenny yang langsung membuat hatinya menghangat karena ucapan Alvaro.
Lalu mereka berpelukan dan Alvaro mencium kening Quenny dalam dan lama. Alvaro ingin merasakan pelukan hangat dari Quenny lebih lama.
"Kak, d**a kakak bidang sekali, cocok buat pelukable". Celotek Quenny sambil senyum - senyum.
"Kamu bisa peluk kakak sesuka hatimu kalau menurut kamu kakak ini pelukable". Alvaro terkekeh dengan ucapannya.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke Ladies Market". Ajak Alvaro.
"Let's go kak". Jawab Quenny
****
"Kita naik taksi aja ya balik ke hotelnya, kakak seperti sudah tidak sanggup lagi buat naik MRT". Ucap Quenny yang melihat Alvaro benar - benar kecapean.
"Ya sudah, kita naik taksi aja, sampai hotel kamu pijitin kaki kakak ya, kamu harus bayar karena kakak sudah menemanimu keliling Ladies Market". Ucap Alvaro sambil bercanda.
"Yeee enak aja, tadi kan aku sudah bilang sama kakak, kalau kakak capek, kita balik ke hotel aja. Tapi kakak tetap mau ikut aku ke Ladies Market". Tolak Quenny sambil cemberut.
"Ciye.. ciye yang sudah pake aku - aku an... panggilan sayangnya belum neh, jadi kapan kakak dipanggil sayang". Goda Alvaro sambil menaik - naikkan alisnya.
"Tunggu sudah nikah, baru aku panggil sayang". Jawab Quenny dengan ketus.
"Jadi kamu maunya nikah bukan pacaran lagi neh sama kakak? Kakak sih siap aja langsung melamarmu ke orang tuamu". Goda Avaro lagi.
Sambil menahan marahnya, Quenny masih jawab dengan mode ketusnya "pacaran aja belum genap 12 jam, sudah mau diajak nikah, penjajakan dulu, kalau ga cocok gimana?"
"Bhuahahahahaha.. lucu sekali kamu Quenny". Tawa Alvaro pecah karena ucapan Quenny.
"Aku akan melamarmu, jika kamu sudah benar - benar siap menjadi Nyonya Alvaro Kalandra Scott, my lil queen". Ucap Alvaro sambil menoel ujung hidung Quenny.
Queeny hanya tersenyum sipu dengan muka yang merah menahan malu. "Ahh kak Al.. jadi pengen cepat - cepat nikah sama kakak.. haizz Quenny... sadar.. sadar sama ucapan elo". Guman Quenny dalam hati.
"Selamat malam kak, selamat tidur.. besok kita akan kembali ke Jakarta. Istirahat yang cukup supaya tidak sakit". Ucap Quenny setelah dirinya sudah berdiri di pintu kamarnya.
"Good night my lil queen.. kamu juga harus istirahat yang cukup supaya tidak sakit". Ucap Alvaro sambil mengecup bibir berwarna pink nya Quenny dengan lembut tanpa ada nafsu. Hanya ciuman singkat, ciuman sayang seorang pria kepada wanitanya.
"Bibir ini yang akan menjadi canduku selanjutnya selain rambutmu yang wangi vanilla". Guman Alvaro dalam hati sambil mengusap bibir Quenny dengan jempolnya.
"Good night my king Al". Ucap Quenny sambil mengelus pipi Alvaro dengan lembut.
"Gimana gue bisa tidur nyenyak, kalo elo uda nyium gue .. Al, ada juga gue bisa begadang cuma karena mikirin ciuman elo Al.. haizzzz". Guman Quenny lirih dalam hatinya.
****