bc

Stuck On You (complete)

book_age0+
6.6K
IKUTI
37.1K
BACA
friends to lovers
goodgirl
CEO
drama
comedy
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

MOHON BIJAK!!! Beberapa part mengandung unsur dewasa!!!

"Mau kah kamu kencan denganku? Aku ingin kencan keliling dunia bersamamu"

"Gue ditembak sama cowok ganteng di Hongkong, di cable car pula, diketinggian dengan pemadangan Lantau Island.... ehhh busyetttt.... mimpi apa gue semalam". Guman Quenny dalam hati.

chap-preview
Pratinjau gratis
Meet You
"Quenny, Teo, kalian dipanggil Boss, elo berdua disuruh siapin bahan meeting buat klien yang di Sudirman". Gita memberitahu kepada teman - temannya setelah dirinya selesai meeting dengan managernya yang dipanggil boss. "Hmmm". Quenny hanya berdehem saja. Dia masih lelah karena baru kemarin sampai Jakarta. Dirinya masih jetlag karena perbedaan waktu setelah pekerjaannya yang menuntutnya masuk kerja untuk membuat laporan perjalanannya. "Makanya conggg... kalo dipesawat itu tidur, jangan nonton film". Gita menoel pipi Quenny yang masih mengantuk di meja kerjanya. "Gue tidur cong di pesawat, cuma itu dibelakang gue berisik, tidurnya ngorok ampe kedengaran, uda ditegor ma sebelahnya, masih aja. Elo tau kan gue ga bisa tidur kalo berisik". Quenny melampiaskan emosinya. "Ya uda conggg, ga usah ngegas kaleee... elu kan tinggal pake head seat, gitu aja ribet". Gita menimpalinya. "Woyyyy, sesama bencong dilarang membencong yak". Sahutan dari Teo membuat mereka berdua mendengus bersamaan. "Iye sihh, gue tau elo bencong makanya elo ga relakan kita berdua punya panggilan kesayangan, ya ga cong??? Gita dan Quenny bertos ria menggoda Teo. "Sue lah elo berdua". Teo merengut karena perkataan Gita. "Kuyyy lah Yo, kita meeting biar cepet selesai, biar gue cepet pulang, spring bed gue uda kangen berat sama gue neh, apalagi guling gue". Quenny menarik lengan Tommy dengan mesranya. "Ayo sayang, abis kita meeting, kita indehoy yak". Teo langsung mengamit lengan Quenny dengan mesranya. "Woyyy bencong, sejak kapan elo ACDC hah?" Gita menimpali perkataan Teo. "Sejak gue suka ma elo, Gita". Tommy menjawab Gita dengan cengar cengir sambil melambaikan tangannya. "Pletakkk". Gita melempar penanya ke arah Teo. "Wleeee". Ga kena... ga kena... Teo menjulur lidahnya ke arah Gita. "Awas luhhh yak, tunggu pembalasan gue". Gita mengancam Teo yang sudah kabur ke ruangan boss mereka. Itulah persahabatan antara Angggita Anggraeni, Quenny Acelin Paradipta, Vannia Fredella, Matteo Alexander, Leon Surendra. Namun Vannia dan Leon sedang tugas keluar negri. Jika mereka berlima kumpul, alhasil kantor akan ramai akan celotehan mereka yang buat orang geleng - geleng kepala dan suka senyum - senyum karena tingkah absurd mereka. **** "Quenny and Teo, besok kalian meeting sama PT. Antariksa Cemerlang, mereka mau jalan - jalan ke Hongkong, perusahaannya memberikan rewards kepada karyawannya yang kerja mencapai target".  "Kalian siapakan bahan - bahannya buat meeting, kita akan bidding dengan 3 travel lainnya. Buat paketnya 4 hari 3 malam, Hongkong dan Shenzhen, hotelnya bintang 4, full board. Besok kita dapat jatah jam 2 siang buat meeting, jadi siapakan dari sekarang". Manager mereka bernama Jhonny memberi perintah kepada mereka berdua. "Siap boss, rencana berapa orang boss". Teo menjawab boss mereka. "Sekitar 20 orang". Jhonny menjawab pertanyaan Teo. "Kira - kira, travel mana aja boss saingan kita?" Quenny bertanya kepada managernya. "Yaa, yang biasa jadi saingan kita siapa?" Bossnya menjawab Quenny. "Yesss, akhirnya gue ketemu doi". Quenny berbicara dalam hatinya sambil senyum - senyum. "Kenapa kamu senyum - senyum Quenny?" Bossnya bertanya. "Biasa boss, ketemu gebetannya kalau lagi bidding". Teo menjawab pertanyaannya bossnya. "Sotoyyy". Quenny menoyor kepala Teo. "Sudah sana kalian kerjakan dengan baik, kalau deal, Quenny, kamu yang bawa group ini dan kamu Teo bantu Quenny siapakan bahan meeting dan temani Quenny meeting besok". Jhonny memberi perintah kepada mereka berdua . "Ashiaapppp Boss". Mereka menjawab bersama sambil memperagakan sikap hormat bendera. "Betewe boss, saya ijin pulang cepat ya boss, kemaren saya baru sampai terus hari ini langsung masuk kerja". Queeny meminta ijin kepada bossnya. "Memang kamu darimana kemarin? Bossnya bertanya pada Quenny. "Astaga dragon". Quenny menepuk jidatnya. "Boss, saya kan baru selesai bawa Group ke Turki". Quenny menjawab pertanyaan bossnya. "Oh iya, saya lupa kalau kamu baru pulang bawa group". Bossnya senyum kearah Quenny. "Ya sudah, kamu selesaikan bahan - bahan buat presentasi besok, terus kamu boleh pulang jam 4 nanti". Bossnya menjahili Quenny sambil senyum - senyum. "Boss, itu sih sama aja bohong, kita aja pulang jam 4.30 sore, setengah jam lagi jam pulang kantor. Sekalian aja bilang pulang jam 4.30 ga usah bilang jam 4. Ihhh.. si boss mah kejam, sekejamnya ibukota". Quenny merengut dan menghentak- hentakkan kakinya. "Ya sudah pulang jam 4.30 aja, gitu aja kok repot sih Quenn". Bossnya suka sekali mejahili Quenny karena mukanya Quenny kalo sedang merengut itu lucu sekali, bibirnya mungilnya yang pink maju dan juga seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada orang tuanya untuk dibelikan es krim. "Ihhhh boss, kan boss pernah bilang kalau kemarin baru pulang bawa tour terus besoknya masuk, terus boleh pulang setengah hari". Quenny masih berargumen dengan bossnya yang bagi teman - temannya manis sekali senyumannya, yang bisa membuat para kaum hawa meleleh hatinya melihat senyuman sang boss, tapi tidak bagi Quenny. Quenny menganggapnya "B" aja, biasa aja senyuman sang boss. Masih manisan senyuman sang gebetan dari travel saingannya. "Kamu sudah tahu masih saja berargumen dengan saya, Quenny". Bossnya menjawab dengan tertawa ringan. "Mankkk enak luhh dikerjain ma si Boss". Teo menoyor kepala Quenny. "Makasih ya boss yang baik hati, hemat dan rajin menabung". Quenny mengucapkan terima kasih kepada bossnya dengan senyum cemerlang seperti iklan pasta gigi. "Ya sudah kalian pergi, cepat selesaikan tugas yang saya berikan kepada kalian". Jhonny memberi perintah kepada mereka untuk yang kedua kalinya. "Kami permisi boss". Quenny dan Matteo mengundurkan diri dari ruangan sang manager, boss mereka. "Quenny... Quenny, kamu itu membuat orang - orang disekitarmu menjadi berwarna". Jhonny sang manager, boss dari mereka berguman dalam hati. "Ahhh seandainya... ya seandainya saja". Jhonny mendesah sambil tersenyum kecut. Itulah mereka dengan segala argumen, candaan dan pekerjaan yang menuntut mereka untuk selalu memenuhi target dari sang CEO. Mereka semua bekerja di bidang travel yang selalu mengutamakan kerja cepat sesuai target dan berpacu dengan waktu, mereka harus bekerja maksimal dan mereka harus mengetahui segala sesuatu mengenai tempat tujuan wisata sesuai permintaan kliennya. Karena mereka bekerja di departemen tour dan juga profesi mereka merangkap Tour Leader yang membawa rombongan wisata ke dalam atau luar negri dari berangkat sampai pulang kembali ke tanah air. Bagi orang awam pekerjaan mereka sangat mengasyikkan karena bisa jalan - jalan dengan gratis. Tepapi mereka tidak tahu didalamnya seperti apa  yang dikerjakan. Mereka harus stand by 24 jam untuk melayani para peserta tour baik itu jika lampu kamar hotel rusak, mereka yang di telpon untuk membetulkan lampu tersebut, padahal kan tingga telpon ke hotel untuk perbaikan, tetapi para peserta tour mana mau tahu, mereka inginnya tour leader mereka yang menyelesaikannya. Mereka bisa bersikap profesional satu dengan yang lainnya, baik dengan teman sejawatnya ataupun dengan sang manager yang notabene selalu asyik banget kalau diajak berargum. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka bercanda disela - sela jam kerja yang sibuk untuk menghilangkan stress dari tekanan pekerjaan. Bahkan sang manager pun kalau sudah dititik penatnya suka wara wiri keliling mengawasi pekerjaan anak buahnya dan juga suka menjahili anak buahnya, terutama si Quenny yang imut, dan segala kejutekannya yang membuat sang manager suka sekali menggodanya.  **** "Quenn, ini balasan dari partner kita yang di Hongkong, elo hitung dan buat jadwal perjalanannya ya". Teo memberitahu Quenny. "Yoi congg". Quenny menjawab Teo sambil mengunyah cemilan yang baru dikasih sama Gita. "Conggg... Elo abis makan siang cuss yaa?" Gita bertanya kepada Quenny. "Yoi conggg... adek lelah hayati, raga gue di kantor, nyawa gue ada di spring bed sama guling gue yang tercinta". Quenny menjawab Gita dengan senyum tengilnya. "Teo benconggg". Gita berteriak kepada Matteo. "Hmmm". Teo hanya berdehem saja kepada Gita. "Teooooo". Gita berteriak kembali. "Apa sih Git?" Teo menjawabnya sambil berdengus. "Ngapain sih elo? Gue panggil bukannya jawab". Gita mendumel sama Teo. "Lah kan uda gue jawab Gita". Teo menjawabnya dengan malas. "Temenin gue yok abis pulang kerja nongki di cafe, gue lagi bosen neh?" Gita memohon dengan eyes puppies nya kepada Teo. "Ogah, gue malas". Teo menjawab dengan cueknya. "Ihhhh Teo". Gita masih memelas. "Cafe mana cong?" Quenny menimpali obrolan mereka. "Itu loh yang baru buka cong, yang di dekat bundaran yang ga jauh dari apartemen elo itu". Gita menjawab Quenny dengan antusiasnya. "Mank ada cafe yang baru buka ya congg... kok gue ga tau ya?" Quenny bertanya lagi pada Gita. "Adalah cong, makanya kalau jalan itu lihat kanan kiri, jangan lurus baeee". Gita menoel pipi Quenny. "Gue kan nyetir benconggg, kalau gue lihat kanan kiri, ada juga mobil gue nyium babang gojek". Quenny menoel dagu Gita. "Hehehehehehe... Yokkk ikutan nongki yok cong? Teo sayangggg, nongki yok? Gue bosen neh". Gita masih ngerayu Teo supaya mau ikut nongki di cafe baru. "Ya udah, tapi elo yang bayarin ya, gue lagi buntu neh". Teo mengiyakan ajakan Gita. "Beuhhhh buntu, eh Teo sayang, kemane aje luhhh... Noh mobil elu permak mulu sih, yang dipermak itu cewek biar cantik, nah elo, mobilyang dipermak". Issshhh ga bangeddd dahhhh". Gita menimpuk kepala Teo dengan gumpalan kertas yang habis diremasnya karena gemas sama Teo yang cinta banget sama mobilnya. "Bawell dahhh... jadi elo mau bayarin apa kagak neh?" Teo langsung kesal sama Gita karena sudah mengusik hobinya yang suka sekali permak mobil. Oleh karena hobinya itulah Matteo dijulukin bencong sama teman se gank nya. Matteo lebih suka bermain dengan mobil kesayangannya daripada mendekati cewek - cewek cantik nan seksi padahal untuk kategori mukanya yang cukup terbilang ganteng. Matteo hanya mau berteman dengan cewek teman se gank nya saja. Selebihnya Matteo berkumpul dengan teman - teman cowok yang lainnya karena dia merasa ribet dengan cewek - cewek yang suka moody an. "Kuyyy lahhh". Gita menjawab Teo. "Cong, elo nyusul yak". Gita mengkorfirmasi ke Quenny. "Yoi cong, nti gue nyusul kalian deh, gue bocican dulu". Quenny menjawabi Gita sambil membentuk jari heart ala - ala fangirl Korea. "Bocican? Apaan itu Quenn?" Teo bertanya pada Quenny. "Bobo ciang cantikkk Teo sayangggg". Quenny sambil mengerucutkan bibirnyan membentuk ciuman jarak jauh pada Teo. "Oooo". Teo langsung membeo. "Gue kira apaan, dasar alay". Teo menggeleng kepalanya. "Hihihihihihi". Quenny terkikik karena ke-alay-annya. "Teo, gue uda kelar neh kerjaannya, gue email ke elo yak, nanti tolong siapin presentasi buat besok. Gue mau cuss dulu. Bye Teo sayangggg, bye conggg, see u there". Quenny pamit kepada mereka. "Okeh Quenn, titidj, jangan lupa titipan gue yak, bawain nanti". Teo menjawab Quenny. "Siyappp bosque". Quenny menjawab Teo dengan cengirannya. "Cong, laporan dinas elo mank nya sudah selesai? Tanya Gita kepada Quenny. "Sut lah... kalau belum selesai bisa digantung gue ma Pak Gun". Jawab Quenny kepada Gita. Seperti yang diketahui sesama departemennya bahwa Pak Gunawan adalah bagian admin yang harus membuat laporan keuangan untuk perjalanan dinas mereka jika mereka tugas membawa Tour baik dalam ataupun luar negri. Pak Gunawan paling tidak suka kepada mereka yang kerjanya suka menunda - nunda karena akan berimbas pada kerjaan selanjutnya. **** "Ehhhmmmm... nyenyaknya tidurku, uda jam berapa ini ya?" Quenny ingat kalau dirinya ada janji dengan Gita dan Teo untuk nongki di cafe baru. Diliriknya jam digital diatas nakas samping tempat tidurnya. "Sudah jam 5 sore neh, lumayan bocican 3 jam", Quenny berguman sambil menguap. Selanjutnya Quenny langsung menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membilas dirinya, Quenny langsung mengambil sweater pink dan celana skinny nya serta mengunakan sling bag dan flat shoe kesukaannya. Quenny langsung keluar dari apartemennya menuju lobby sambil memesan ojol menuju cafe tempat janjian bersama teman kantornya. Setibanya di lokasi tempat mereka janjian, Quenny langsung masuk ke cafe. "Bughhh". Quenny menabrak seseorang yang akan keluar dari cafe tersebut. "Awwww, jidat gue benjol dahhh". Quenny berteriak pelan. "Kalau jalan liat - liat donk, jalan itu lihat kedepan bukan ke henpon". Si pria menggerutu karena Quenny menabraknya sehingga kopi yang dipegangnya tumpah dan mengenai kemejanya yang sudah diguung ke siku. "Ehhh sori mas, saya ga liat, maaf ya mas, aduh bajunya kena kopi ya? Maaf ini mah mas, saya ganti mas biaya laundry nya, kasih saya no henpon mas nya, nanti kalau sudah selesai laundry, saya ganti biayanya". Quenny berceloteh sambil minta maaf. "Ga perlu, saya masih mampu buat biaya laundry". Oklah kalau begitu, makasih ya mas... betewe jutek banget sih mas nya, kan saya sudah minta maaf, jangan jutek - jutek mas, nanti ga cewek yang mau loh sama mas nya". Quenny berceloteh sambil senyum - senyum. "Gaje banget". Si pria itu berguman pelan dan langsung meninggalkan Quenny tanpa melihatnya lagi. Dalam hati Quenny, "ehhh busyettt... ganteng banget dahhh tuh cowok tapi sayang jutek plus dingin sedingin kulkas apartemen gue".  Ya, si cowok itu bernama Alvaro Kalandra Scott, cowok yang jutek dan dingin.  "Hmmm... imut juga tuh cewek tapi pedes banget sih omongannya kayak petasan". Alvaro berguman dalam hatinya. *** "Hai gaesss... sudah dari tadi kalian sampai?" Quenny bertanya pada Gita dan Teo. "Kagak, baru juga sampe 30 menit yang lalu, cukup buat gue ngabisin jus alpukat ini ". Teo menjawabnya dengan sarkas. "Ya elahhh, biasa aje kaleee jawabnya, biasa juga gue yang nunggu elo - elo pada". Quenny mendumel karena Teo menjawabnya dengan sarkas. "Ehhh cong, tadi gue ga sengaja nabrak cowok buleleng, ganteng pisan euyy tapi sayang jutek and dingin, sedingin freezer kulkas di apartemen gue". Celoteh si Quenny kepada mereka. "Buleleng, maksudnya apa ya?" Teo bertanya dengan dahi yang berkerut. "Buleleng itu bule conggg... bule blasteran". Jawab Quenny sambil menyedot jus jeruknya Gita. "Ehh cong, pesan sana, maen sedot aja jus orang". Gita sewot ke Quenny karena jus nya diminum tanpa permisi. "Dikit doank, pelit amat sih elo conggg, biasa juga elu yang abisin jus gue tanpa permisi". Quenny menjawab Gita dengan sebal. "Hehehehehe". Gita meringis dengan jawaban Quenny karena memang Gita suka selonong boy ngabisin jus pesanan Quenny. "Terus tuh buleleng gantengnya se apa sampai elo bilang ganteng?" Gita dengan kekepoannya bertanya pada Quenny. "Etttt dahhh... ganteng abis coyyy, untung gue ga ngences liatnya, kalau ga kan gue jadi malu tuh di depan doi". Dengan mata berbinar - binar, Quenny menjawab Gita. "Jadi penasaran gue". Celoteh Gita. "Betewe, dua cecurut itu kapan touch down Jekardah?" Quenny bertanya kepada mereka berdua. "Si Vanni besok, kalau si Lebang lusanya". Teo menjawab dengan tatapan fokus ke game online nya yang sejak tadi dimainkan. "Ya uda tunggu pada kumpul deh, kita kerokan ya tempat biasa". Quenny menimpali Teo sambil membulak balik buku menu. "Si Vanni mank nya jalan kemana sih, kok gue lupa ya?" Quenny bertanya kembali. "Si Vanni ke Jepang, kalau si Lebang, Leon b*****t ke Korea". Gita menjawabnya sambil melihat cowok yang sedang bernyanyi didalam cafe tersebut. Teman mereka yang bernama Vanni itu sangat feminim dan modis, tapi kalau sudah tidak suka sama orang, maka omongannya pedas sekali kepada orang tersebut mengalahkan cabe rawit yang pedas. Sedangkan teman mereka yang satu lagi bernama Leon Surendra adalah cowok yang suka gonta ganti pacar, dalam sebulan bisa 2 kali ganti pacar. Paling lama dirinya pacaran adalah 3 bulan, dan itu paling top markotop, makanya dirinya dijuluki Lebang... Leon b*****t, Leon berpendapat, jika tidak cocok buat apa diteruskan, toh masih banyak cewek diluar sana yang mengantri untuk dirinya buat disosot. Leon itu dikategorikan cowok manis dan ganteng tapi sayang kelakukannya agak b***t menurut teman - teman se gank nya. "Cuss yok cong, uda jam 8 lewat, besok gue mau presentasi, adek masih lelah hayati neh". Quenny mengajak mereka untuk pulang. "Yok lahh, uda malam, kita nongki - nongki lagi tunggu pada komplit pasukan kita. Kita kerokan di Inul aja ya, bosen gue di Prima Karaoke, lagunya ga ada yang baru - baru". Teo menimpali Quenny. "Baiklahhhh, bye gaess, sampai bertemu besok di kantor". Quenny pamit pada mereka. "Ehhh congg, maen kabur aje luhhh, bayar neh bon elo". Gita menggerutu si Quenny yang uda kabur duluan. "Bayarin, jangan pelit luhhh". Quenny berteriak sambil melambaikan tangannya dan menjauh dari kursi tempat mereka duduki. "Aishhhh jadi gue yang ketiban buat traktir elo berdua". Gita menggerutu namum tetap saja dirinya membayar semua tagihan pesanan yang sudah mereka makan. "Emank enakkk". Teo cekikikan liat muka Gita yang cemberut. Walaupun mereka suka cemberut satu dengan yang lain untuk membayar tagihan makanan, tetapi mereka ikhlas jika harus mentraktir teman - teman kumpulannya. Mereka beranggapan jika mentraktir teman, sama aja memberi sedekah pada kaum duafa dan rejeki buat mereka mengalir ke pundi - pundi tabungannya.     **** "Arrrggghhh nyamannya tempat tidurku ini". Quenny berguman sambil melihat langit - langit kamarnya yang berwarna putih. "Cowok itu gateng banget sih, jadi pengen kenalan". Quenny cekikikan sendiri mengingat kejadian tadi di cafe yang dirinya menabrak buleleng ganteng. "Tidur ahhhh, siapa tahu bisa kenalan dalam mimpi". Tidak sampai 10 menit, Quenny sudah terlelap kembali karena dirinya memang masih mengantuk akibat jetlag setelah dirinya membawa tour ke Turki   **** Dalam apartemen yang sunyi, hanya terdengar detak jarum jam, Varo menyesap wine dalam diam sambil melihat jalanan Jakarta yang masih sibuk walaupun sudah malam dari penthousenya. Pikirannya melayang pada pertemuan dengan cewek yang menabraknya di cafe tadi. Dengan senyum kecil yang terukir, Varo penasaran dengan cewek yang menurutnya sangat imut tapi memiliki omongan yang pedas. Rasa penasaran itulah yang selalu membayangkan pikiran Varo sampai dirinya susah memejamkan matanya walaupun tubuhnya sudah lelah karena seharian bekerja di kantor. Bukan hanya lelah tubuh tetapi lelah fisik juga karena dia harus meeting marathon dari pagi sampai menjelang sore. "Siapa sih kamu nona, kamu yang buat aku jadi tidak bisa tidur?" Alvaro berguman sambil melihat kendaraan yang masih hilir mudik di kota Jakarta yang selalu ramai walaupun sudah lewat dini hari. "Bagaimana bisa kamu ada di pikiran saya bahkan aku tidak mengenal kamu?" Ya walaupun ada seseorang nun jauh disana namanya masih terpatri di hati Alvaro. Ya, wanita itu yang tela meninggalkan Alvaro disaat dirinya baru mengenal cinta, disaat dirinya sedang merasakan bahagianya dengan perasaan cintanya. Cinta pertamanya yang kandas ditengah jalan, karena cinta itulah yang membuat Alvaro terpuruk dan butuh beberapa tahun untuk bangkit dan melupakan semua itu dengan melampiaskan lewat pekerjaannya. Oleh karena kerja kerasnya itulah yang membuat Alvaro menjadi CEO di usia yang terbilang muda, di Usia 27 tahun dirinya sudah menjadi CEO. Karena kerja keras selalu membuahkan hasil yang tidak pernah mengecewakan. Tanpa bantuan orang tua yang notabene juga sudah kaya karena mempunyai usaha dimana - mana. Namun Alvaro mau dirinya sukses dengan jerih payahnya sendiri.  "Ahhh ternyata sudah jam 1 saja, sudah saatnya aku harus istirahat karena besok akan meeting". Mommy tadi sore menelponnya supaya besok pagi untuk pulang supaya bisa sarapan bersama - sama. Alvaro memang tinggal sendirian di penthouse nya karena jarak antara tempat tinggal nya dengan kantor sangat dekat, jika dirinya harus tinggal di rumah keluarganya, jarak tempuh ke kantornya membutuhkan waktu lebih dari 1 jam. Oleh karena itu supaya menghemat waktu Alvaro lebih memilih tinggal di penthouse nya. Walaupun sebelum pindah harus berdebat dengan mommy nya yang tidak rela anak laki - lakinya jauh darinya.  Setelah membersihkan dirinya, Alvaro langsung menuju ranjang King size nya. Karena sudah meneguk wine sebanyak 2 gelas dan juga tubuhnya sudah lelah, tak butuh waktu yang lama, Alvaro sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Namun sebelum menutup matanya, dia mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa terlebih dahulu atas apa yang sudah dialaminya hari ini dan juga berkat yang sudah diterimanya. Tak lupa dirinyanya mengucapkan "Good Night my dear, hope tommorow will be better than today". Entah kalimat itu ditujukan kepada siapa, karena bersifat ambigu. Apakah kepada cinta pertamanya atau kepada cewek yang sudah menabraknya di cafe tersebut, atau kepada mommy kesayangannya, hanya Alvaro yang mengetahuinya,  

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Aira

read
93.1K
bc

PERFECT PARTNER [ INDONESIA]

read
1.3M
bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

I Love You, Sir!

read
270.4K
bc

CEO and His Cinderella

read
56.7K
bc

I Love You Dad

read
293.8K
bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook