"Pagi everyone". Setiap pagi setibanya di kantor Quenny selalu menyapa setiap orang yang ketemu di kantornya, baik itu pak Satpam, Receptionist, Office girl ataupun boy, tak luput disapa olehnya.
"Pagi Mba". Pak Satpam menjawab Quenny dengan senyum khas pak satpam yang kumisnya tebal seperti pak Raden.
"Good Morning kak Quenny yang imut - imut". Jawaban kompak dari para office girl dan boy.
"Ehhh ciye.. ciye pake bahasa Inggris euyyy kalian, hebat dahhh, saya bangga sama kalian, lanjutkan ya belajar bahasa Inggris kalian". Quenny berceloteh kepada mereka berdua.
"Siyappp kakak cantik". Dengan sikap hormat bendera mereka berdua menjawab Quenny.
"Cao An pak Boss". Quenny menyapa managernya yang memang suku keturunan tionghoa.
"Pagi Quenny, sudah siap dengan presentasi nanti siang?" Pak Jhonny Chen bertanya kepadanya.
"Kemarin saya sudah selesaikan tugas saya pak Boss, si Teo yang merapikannya, sebentar lagi saya akan periksa bahan presentasi tersebut". Disaat membahas pekerjaan, mereka langsung bersikap profesional namun setelah itu, mereka kembali bersikap santai karena pekerjaan yang mereka lakukan dituntut harus tepat waktu. Oleh sebab dikejar dead line, mereka harus bisa membawa suasana dalam kantor nya sesantai mungkin untuk menghindari stress pekerjaan.
"Ok Quenny, kamu bawa sarapan ga buat saya?" Sang boss bertanya kepada Quenny.
"Yaaa elahhh boss, ada juga boss yang beliin saya sarapan, masa anak buah traktir boss sih, mana ada tuh aturan seperti itu". Quenny menggerutu kepada boss nya, tetapi dalam hatinya senyum - senyum.
"Adalah aturan, kan saya yang buat hari ini". Si boss tetap saja menggodanya.
"Ya uda sini, mana uangnya, saya beliin bubur di depan aja". Quenny menengadah tangannya kepada si boss.
"Pake uang kamulah, jangan pelitlah sama boss sendiri, cuma sepuluh ribu aja kok". Si boss menahan tawanya.
"Sepuluh ribu sih sepuluh ribu, kalau tiap hari dikali 10 hari kan lumayan tuh jadi seratus ribu, bisa buat beli bensin atuh pak Boss". Quenny masih ngedumel sama boss nya tapi tetap saja kakinya melangkah keluar kantornya untuk beli bubur buat sang boss.
"Mau kemana luhh cong, kok keluar lagi? Lupa absen ya?" Quenny berpapasan dengan Gita di tangga.
"Tuh si pak Boss minta dibeliin bubur buat sarapan". Quenny jawab dengan cemberutannya.
"Kan bisa minta tolong sama OB atau OG? Napa nyuruh elo yang beli cong?" tanya Gita kembali.
"Tauuu tuh, demen banget dia nyiksa gue, apa coba salah dan dosa hamba sehingga dirinya suka menyiksa diriku". Dengan muka drama yang di buat lesu, Quenny menjawab Gita.
"Doi suka kali ma elo cong, makanya suka banget nyuruh elo". Gita jawab sambil cekikikan.
"Ettt dahhhh, pikiran mu nona, tolong hempaskan ke samudra atlantik sono". Masih mode cemberut menjawab Gita.
"Gue titip ya beliin bubur juga, sama si Teo bencong juga jangan lupa beliin". Titah Gita kepada Quenny.
"Siap nona, titah nona akan hamba lakukan, dan tolong siapkan teh hangat buat hamba ya nona". Quenny membungkuk sedikit badannya menjawab Gita.
"Baiklah hambaku, permintaanmu akan saya lakukan". Dengan dagu sedikit diangkat, Gita menjawab Quenny.
Dan merekapun akhirnya cekikikan dengan drama alay nya. Yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa senyum - senyum dan geleng - geleng kepala saja. Mereka memang terkenal dengan tingkah absurd nya, yang sering menghibur hati dikala pekerjaan menumpuk dan harus selesai tepat waktu.
****
"Quenny sayang, uda siap kan elo babe buat kita presentasi?" Tanya Teo kepada Quenny yang masih sibuk memprint berkas - berkas yang harus dibawa untuk presentasi.
"Sudah donk my dear Teo, selesai print kita cuss ya, kita sekalian lunch diluar ya? Sekali mendayung dua tiga pulau kita kelelep." Quenny menjawab dengan cengirannya.
"Yoiii, tapi abis presentasi bahan elo, temenin gue presentasi di gedung sebelahnya ya, gue kudu presentasi bahan Bangkok di perusahaan sebelah". Sambil membereskan berkas merekapun bersiap - siap menuju perusahaan untuk presentasi bahan yang sudah mereka buat.
Dalam perjalanan tak henti - hentinya mereka bercanda dan juga diselingi dengan argumen - argumen tetapi yang ujung - ujungnya membuat mereka tertawa tak terkecuali pak supir yang mendengar celotehan mereka.
****
"Sampai disini presentasi saya mengenai permintaan dari perusahaan Bapak untuk menyiapkan rencana perjalanan ke Hongkong, besar harapan kami, jika penawaran dari travel kami sesuai dengan kriteria dari perusahaan Bapak". Itulah kata penutup presentasi yang diberikan Quenny kepada Direktur perusahaan.
"Baik saudari Quenny, terima kasih buat presentasinya, akan kami hubungkan kembali dengan travel mana yang sesuai dengan kriteria perusahaan kami". Sang Direktur langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Quenny dan Teo menandakan waktu presentasi yang diberikan sudah selesai.
"Baik Pak, akan kami tunggu kabar baik dari Bapak, kami permisi terlebih dahulu". Setelah membereskan berkas presentasi, Quenny dan Teo mengundurkan diri untuk melanjutkan presentasi ke gedung sebelah.
"Mantab ya babe gedungnya, gue suka banget design interior ma eksteriornya, keren abiss". Teo berceloteh dengan tatapan takjub sambil melihat design gedung tersebut.
"Ho oh, keren abis babe, gue aja sampe tersepona". Quenny pun melihat design gedung itu dengan mata berbinar - binar.
"Bro, gue cuss dulu ya, weekend ini kita jadikan kumpul sama yang lain?" Rafael pamit kepada teman satu kuliahannya.
"Ok bro, jangan lupa telpon gue ya, takut lupa". Alvaro mengingatkan temannya Rafael.
"Eitsss main tarik - tarik aja tangan gue". Quenny mengomel dengan orang yang dengan sengaja menarik tangannya.
"Deggg, astaga dragon kenapa neh jantung jadi begini, kok jadi deg - deg an gue liat cowok yg gue tabrak kemaren". Quenny masih bergumul didalam hatinya sambil melirik cowok yang ada disampingnya dan cowok tersebut melihatnya tanpa berkedip.
"Maaf pak, tolong jaga sopan santunnya, kenapa Bapak menarik tangan partner saya?" Ucap Teo kepada Rafael yang menarik tangan Quenny dengan tiba - tiba.
"Saya akan membawa saudari Quenny karena dia adalah orang yang berarti bagi saya". Ucap tegas Rafael kepada Teo.
"Tapi Bapak siapanya Quenny?" Tanya ulang Teo.
"Sudah saya bilang kalau saudari Quenny itu adalah orang yang berarti bagi hidup saya". Ulang Rafael dengan tegas dan tatapan yang tajam kepada Teo.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Quenny kepada Rafael. Dan Rafael tahu kalau Quenny akan memulai drama queen nya. Dan dia akan melanjutkan skenario yang dibuat Quenny.
"Apakah kamu lupa sayang, kalau kamu ditunggu dirumah oleh orang tua kita?" Dengan seringai licik Rafael memulai perannya.
"Maaf pak, tapi saya masih sibuk, saya masih ada presentasi satu lagi di gedung sebelah". Ucap Quenny sambil mumutar bola matanya.
"Tidak ada penolakan, kamu harus ikut saya sayang, kamu harus presentasi di kantor saya, apa kamu lupa dengan permintaan dari perusahaan saya, setelah itu kita pulang ke rumah orang tua saya?" Ucap Rafael masih dengan seringai liciknya.
"Baiklah pak, saya akan ikut dengan Bapak buat presentasi". Dengan tak bersemangat Quenny menjawab Rafael karena jika Quenny menolak permintaan dari Rafael, tamat sudah riwayatnya.
"Te, gue presentasi dulu ya, elo bisa kan sendiri presentasi di gedung sebelah? Gue nanti pulang naik taksi aja, tolong bilang pak Boss ya". Quenny meminta ijin ke Teo untuk pergi bersama Rafael.
"Ok lah, jangan lupa balik kantor buat absen pulang". Teo mengingatkan Quenny.
"Elo aja deh yang absenin gue balik, tolong bilang pak Boss, lagian kan elo ga bisa absenin gue, kudu pake jari gue. Bilang pak boss aja biar nanti pak boss ijin ke HRD". Ucap Quenny kembali. Di kantor mereka memang menggunakan finger print untuk absensinya.
"Ok, see u then". Sambil melambaikan tangan Teo dan Quenny berserta Rafael pergi meninggalkan gedung Angkasa Cemerlang.
Didalam diam, Alvaro mengamati interaksi antara mereka bertiga."Ohh, tenyata namanya Quenny dan dia adalah pacar sahabatku sendiri". Ada rasa sedikit tercubit dihati Alvaro, namun dia masih belum tahu rasa apa itu. Mereka berdua bersitatap mata hanya sebentar sebelum Quenny meninggalkan gedung itu.
"Ahhh ternyata dia kerja di gedung ini, tapi kerja di bagian mana ya? Jadi penasaran". Guman Quenny dalam hati sambil senyum - senyum.
"Kenapa kamu senyum - senyum sendiri? Sudah stress ya kamu?" Tanya Rafael dengan jidat yang berkerut.
"Ishhh kepo, want to know aja kamu sayang, yok ahh kita cuss, mana mobilnya?" Quenny sambil mengedip kedipkan matanya seperti boneka ke arah Rafael.
"Kamu presentasi apaan tadi Dek?" Tanya Rafael kepada Quenny.
"Mereka rencana mau ke Hongkong Kak". Balas Quenny kepada Rafael.
Mereka adalah kakak beradik, sang kakak bernama Rafael Abrisam Pradipta dan mereka masih mempunyai adik satu lagi yang bernama Rafandra Avshalom Pradipta. Mereka adalah tiga bersaudara dan Quenny merupakan anak tengah, sedangkan adiknya masih kelas XII. Sang kakak membantu daddy nya untuk menjalankan perusahaan yang didirikan oleh daddy mereka yang dibangun dari nol. Sedangkan Quenny dengan kekeras kepalaan nya, dia tidak mau membantu kakaknya serta daddy nya untuk menjalankan perusahaan yang sudah dirintis daddynya dengan alasan Quenny ingin mandiri dan tidak suka bekerja dibelakang meja. Quenny suka sekali kerja yang membutuhkan sosial tinggi. Supaya tidak bosan hidupnya jika bertemu dengan orang - orang yang sama. Jika dia bekerja di bidang travel, maka intesitas bertemu dengan bermacam - macam orang lebih banyak dan itu yang membuat hidupnya lebih bersemangat.
****