"Kak, kita mau kemana? Aku ga mau ke kantor kalian". Quenny berbicara kepada Rafael sambil bergelayut di lengan kakaknya. Mereka berdua sangat akrab karena memang jarak usia hanya beda 4 tahun. Hal itu yang membuat sang kakak dekat dengan Quenny.
"Kakak mau ambil berkas sebentar di kantor, kalau kamu tidak mau turun, kamu tunggu di mobil aja, setelah itu kakak antar kamu ke kantor buat absen pulang. Dan selanjutnya kita kencan ya, sudah lama kita tidak kencan, terakhir 2 bulan yang lalu. Sehabis kencan, kita pulang ke rumah". Penjelasan dari sang kakak hanya dijawab dengan kedipan mata Quenny.
"Tapi ke apartemen aku dulu ya kak, aku mau bawa peralatan lenong, di rumah ga ada stoknya, sudah aku bawa semua ke apartemen". Quenny menjawab sang kakak dengan tatapan puppy eyes nya.
"Kamu ga perlu dandan lagi, ngapain bawa peralatan lenong segala, kamu sudah cantik". Rafael paling malas kalau harus mengantar Quenny balik apartemennya karena mereka harus putar balik cukup jauh untuk jalan pulang ke rumah orang tua mereka.
"Kakakku yang ganteng, baik hati, dan rajin menabung, adikmu yang imut ini juga butuh perawatan skincare supaya mukanya tetep kinclong biar kalau lalat neplok, tuh lalat jatuh tergelincir sangkin licin and kinclong nya muka adikmu tersayang ini". Dengan sedikit jutek Quenny menjawab kakaknya.
"Ya uda, GPL, ga pake lama ya". Sambil mengacak rambut sang adik tersayang, Rafael senyum - senyum dengan celotehan sang adik.
"Ahhsssiiaappp bosque". Quenny mencium pipi kiri sang kakak karena sudah menuruti keingannya.
****
"Babe, elo uda kelar presentasi ma client elo?" Teo menyapa Quenny setelah melihatnya kembali ke meja kerjanya.
"Sudahlah, ngapain lama - lama, lagian filenya sudah gue siapain di flash disk. Gue cabs duluan yak, see you gaesss, malming kita jadi kan kerokan? Si Vanni sama Lebang uda sampe kan?" Tanya Quenny kepada Teo dan Gita.
"Ude cong, Vanni and Lebang uda mendarat dengan sempurna di Jekardahh. Malming seperti biasa ya jam nya". Ucap Gita kepada Quenny.
"Gaesss, tolong bawa mobil gue donk, gue mau pulang ke bonyok dulu bareng babang gue, nanti malming, bawain ya boil gue". Minta Quenny kepada temannya.
"Sini gue yang bawa aja congg". Vanni yang tiba - tiba muncul menjawab sambil mengambil kunci mobil Quenny.
"Uda sampe luhhh congg? Mane titipan gue, bawa ga?" Quenny kembali bertanya kepada kepada sahabatnya yang baru kembali dari dinas.
"Elo nitip So Jong Ki kan? Noh gue bawaiin, ada diruang pak Boss". Vanni menjawab Quenny dengan muka yang serius.
"Cius loo nek? Elo bawa So Jong Ki kemari? Ga halu kan elo?" Tanya Quenny kembali dengan muka serius dan polos.
"Bhuahahahahaha". Serempak teman - teman mereka yang lain langsung ketawa dengan ucapan Quenny.
"Ya elo kagak percaya, si pak Boss kan sebelas dua belas sama So Jong Ki". Balas Vanni masih dengan muka seriusnya.
"Ehhhh busyet dahhh, diliat dari mane tuh muka pak Boss mirip ma So Jong Ki? Diliat dari Monas pake sedotan balon?" Quenny mendumel kepada Vanni yang sudah mengerjainya.
"Nah elo lagi, siapa gue nek? Bisa - bisanya gue bawa So Jong Ki ke kantor kita? I'm Just Vannia Fredella yang cantik nan bohayy". Jawab Vanni sambil mengibaskan rambutnya.
"Hoekkk". Serempak Gita, Teo dan Quenny memperagakan orang yang sedang mual sambil menjauhkan diri mereka dari Vanni.
****
"Kak, kita dinner dulu ya, abis itu kita nonton yang midnight?" Quenny memberitahukan keinginannya kepada sang kakak.
"Yes my Queen, as your wish". Rafael menjawabnya sambil menoel dagu sang adik.
"Kak, kakak kan sekarang sudah umur 27 neh, ga kepingin nikah? Mau aku jodohkan ga dengan kenalanku?" Usia kakak itu sudah cukup matang untuk memulai rumah tangga supaya nanti anak kakak tidak terlalu kecil jika usia kakak sudah tua". Quenny bertanya sambil menampakan cengiran khasnya.
"Tumben kamu ngomongin kakak seperti itu? Disuruh sama mommy ya?" Sambil menyuap makanan, Rafael menjawab adiknya.
"Hmmm, ga juga sih, cuma pikiran aku aja kak, siapa tahu kakak punya kepikiran untuk masa depan kakak sendiri". Sambil meminum jus jeruknya Quenny menutupi salah tingkahnya.
"Kamu ga usah bohongin kakak, kamu disuruh kan sama mommy?" Tanya Rafael sambil menaik turun alisnya sambil senyum - senyum.
"Hufftt, susah ya kalau sama kakak, ga bisa bohong sedikit, selalu ketahuan". Quenny menyeka bibirnya yang terdapat sisa jus jeruknya dengan tissue.
"Apa yang tidak kakak ketahui tetang dirimu my queen?" Dengan jumawanya Rafael menjawab adiknya.
"Jadi kak, sekarang sudah ada gebetan belum? Perlu aku bantu ga neh? Stock teman cewekku banyak loh". Sambil memotong steik nya, Queeny menggoda sang kakak.
"Tidak perlu, kakak masih belum mau dekat dengan cewek, cukup kamu sama mommy saja yang buat kepala kakak pusing dengan tingkah dan manjanya kalian". Sambil memainkan gelas jusnya, Rafael menjawab Quenny dengan senyuman liciknya.
"Tapi kamu suka kan kalau kami manja sama kakak? Sudahlah kak, sudah saatnya kakak manjakan cewek lain, jangan kami, aku sudah besar, mommy ada daddy yang manjain". Tak mau kalah, Quenny menjawab kakaknya.
"Hai bro, lagi dinner? Sejak kapan elo punya pacar, kok ga cerita - cerita sama kita?" Alvaro menegur Rafael dengan mukanya yang datar, yang saat itu melihatnya sedang makan malam dengan cewek yang pernah menabraknya, Quenny, ya cewek yang menabraknya tempo hari di cafe, yang membuat dirinya memikirkan sejenak tentang cewek tersebut.
"Ehhh bro, sama siapa? Sendirian? Oh ya kenalkan sayang, ini temen aku waktu sama - sama kuliah di London". Rafael mengenalkan Quenny kepada Alvaro.
"Quenny Acelin". Quenny menyodorkan tangannya.
"Alvaro Kalandra". Varo menyambut tangan Quenny untuk berjabat.
"Sayang, kamu kalau makan berantakan sih, tuh liat sausnya sampai berantakan". Rafael membersihkan saus di bibir Quenny yang berantakan dengan jempolnya dan langsung menjilat jempolnya. Blushh, muka Quenny langsung merah menahan malu didepan Alvaro. "Kenapa gue bisa makan berantakan gini sih". Dumal Quenny dalam hatinya.
Sedang Alvaro memperhatikan muka Quenny yang memerah karena perlakukan manis dari temannya Rafael. "Ahh, imut banget sih kamu dengan muka merahmu seperti itu". Guman Alvaro dalam hati.
"Ahhh sayang, maaf ya, habis enak sih steik ini". Setelah menetralkan degub jantungnya, Quenny menjawab sang kakak yang suka memainkan peran drama di depan pria manapun jika mereka sedang berdua antara kakak dan adik kesayanganya, karena Rafael masih belum rela jikalau adiknya memiliki pacar. Rafael masih menikmati kedekatan mereka sesama sibling, karena sampai sekarang Rafael pun masih belum memiliki kekasih, makanya Rafael tidak rela. Minta dijitak kan punya kakak seperti ini, huhh egois....
"Ayo sayang kita lanjutkan kencan kita, habis itu baru kita pulang ke rumah aku ya". Rafael mengambil tangan adiknya untuk dibawa ke bioskop.
"Sorry ya bro, gue mau lanjutin kencan kami dulu". Rafael meminta ijin kepada Alvaro untuk pergi terlebih dahulu sambil memegang pinggang Quenny dengan posesifnya.
"Ohhh, Ok bro, see you and good luck". Dengan muka datarnya, Alvaro menjawab Rafael.
"Kak, kok kakak panggil aku sayang sih didepan teman kakak, aku kan jadi ga enak sama temen kakak, nanti aku juga dikira pacarnya kakak, kan jadi turun pasaran aku". Quenny cemberut dengan tingkah laku kakaknya yang posesif ini.
"Kenapa kamu protes? Kamu suka sama temen kakak itu yang dinginnya sedingin freezer kulkas kita yang dirumah". Rafael penasaran dengan pertanyaan Quenny.
"Bukan gitu loh lak, nanti kalau orang - orang taunya aku sudah punya pacar tapi kenyataannya aku masih single, kan pasaran aku jadi turun, gimana sih kakak?" Quenny protes dengan ucapan kakaknya.
"Tenang aja, kamu ga bakal turun pasarannya, coba kamu lihat tuh cowok - cowok, dari tadi kamu dilihatin terus walaupun disampingnya ada gandengan". Sambil memegang pinggang Quenny dengan erat, Rafael tidak rela adiknya yang cantik dan imut ini dilihat cowok - cowok apalagi dijadikan fantasi seks nya mereka. No Way...
Alvaro pun berjalan menuju mobilnya yang di parkir di basement. "Ahhh pupus sudah harapanku untuk berkenalan dekat dengan Quenny, dia sudah dengan Rafael". Dengan berat hati, Alvaro merelakan Quenny untuk sahabatnya.
****