M.O.S. 06

1447 Kata
Khalila menghela napas, saat Mr. Kenny kini sudah membawanya ke sebuah butik.  "Selamat sore Kenny, apa yang bisa kubantu untukmu?" Sambut seorang wanita cantik yang langsung menghampiri kami berdua begitu kami masuk ke dalam butik.  "Apa anda sering kemari? Saya lihat dia sangat mengenali anda?"tanya Khalila berbisik.  Mr. Kenny hanya tersenyum tipis melirik kebawah sampingnya, karena Khalila memang sangat pendek disamping Mr. Kenny.  "Lori, aku ingin kau memperbaiki wanita kecil disampingku ini, bisakah? Aku butuh ugly duck ini menjadi princess untuk malam ini." Ucap Mr. Kenny dan wanita itu tersenyum geli menatap ke Khalila. Khalila hanya melongo dengan sebutan yang diberikan Mr. Kenny untuknya.  "Tentu Kenny, tapi mengapa hanya untuk malam ini? Apakah dia hanya bisa berubah menjadi princess saat bulan purnama saja?" Sahut wanita cantik itu semakin tersenyum sinis masih dengan menatap Khalila dari atas ke bawah ke atas dan ke bawah lagi. Tatapan meremehkan. Kenny tertawa lebar terkekeh.  "Baiklah! silahkan kalian tertawa sepuasnya! karena saya memilih untuk berubah di lain waktu, bukan malam purnama ini! Selamat tinggal!" Sentak Khalila dan berbalik, hendak melangkah pergi dari sana.  Mr. Kenny mencekal lengan Khalila sebelum Khalila sempat melangkah, tapi amarah Khalila sudah benar-benar meluap, harga dirinya dijatuhkan dan ditertawakan itu membuatnya memberontak. "Lepaskan tangan anda! Atau anda tidak akan pernah melihat saya lagi di hotel mulai besok! Dan silahkan anda mengurus Mr. Hobbs sendiri!" Bentak Khalila dengan tatapan tajam pada Boss nya. Mr. Kenny menatap dalam pada Khalila tak menyangka bahwa Khalila bisa begitu marah dengan candaan ini. Kenny merasa menyesal telah melakukannya. Setelah menatap sesaat akhirnya Kenny melepaskan cekalannya pada lengan Khalila, dan membiarkan Khalila melangkah keluar.   "Maaf Lori, aku akan kembali lain waktu." Ucap Kenny berpamitan.  "Kenny, siapa dia? Kau tak pernah kalah seperti tadi pada seorang wanita, bahkan pada Rosline pun kau tak pernah seperti itu." Tanya Lori pemilik butik itu. "Aku akan jelaskan lain waktu, bye Lori." Pamit Kenny dan segera menyusul langkah Khalila, berharap wanita itu belum pergi dengan taxi. "Thanks God. dia belum mendapatkan taxi." Batin Kenny dan langsung menghampiri Khalila yang berdiri di tepi trotoar menunggu Taxi. "Khalila, aku antar kamu pulang." Ucap Kenny. Saat itu juga, entah mengapa Kenny merasa hatinya tersayat nyeri, Khalila menoleh dengan airmata yang berurai di pipinya begitu deras. "Tidak perlu! saya bisa pulang sendiri!" Ucap Khalila ketus sambil mengusap airmata di pipinya. Khalila membuang muka dari tatapan Mr. Kenny. Kenny langsung meraih tubuh Khalila, mendekapnya dalam dadanya, tak perduli mereka saat ini ada di pinggir jalan tempat umum. Khalila meronta, mendorong tubuh Mr. Kenny, melepaskan diri dari dekapan boss mudanya. "Lepaskan! Anda semakin kurang ajar! Terus saja melecehkan saya! Anda pikir harga diri saya semurah itu?! Saya memang bebek jelek! Tapi saya masih punya harga diri Mr. Kenny yang terhormat! Jadi jangan sembarangan menyentuhku sesukamu!" Seru Khalila membentak bossnya. "Maafkan aku Khalila, aku..ach!!!" Sahut Mr. Kenny kesal sendiri. "Maaf, aku sudah menyinggungmu, kumohon ijinkan aku mengantarmu pulang, aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, ini mulai petang dan naik taxi untuk seorang wanita muda yang menangis sangatlah tidak aman Khalila, kumohon...demi keselamatanmu, lagipula.... aku bertanggung jawab pada kekasihmu." Ucap Mr. Kenny lagi, sesak di d**a saat menyebut kata "kekasihmu". Khalila menghela napas berpikir sejenak, lalu mengangguk. Kenny menghela napas lega. "Terima kasih Khalila." Ucap Kenny. Khalila melangkah masuk ke mobil Kenny, duduk di depan di samping Kenny yang mengemudi. Sedari awal masuk dan sepanjang perjalanan, Khalila membuang muka, lebih memilih diam dan menatap keluar jendela. Kenny merasa sangat menyesal atas ucapan bodohnya tadi. Kenny merasa lebih hidup saat melihat Khalila yang jutek dan membantah ucapannya tapi akhirnya menurutinya. Sepi. Itu yang Kenny rasakan saat ini. Mereka kembali ke hotel empat musim, karena Kenny memang tidak mengetahui dimana tempat tinggal Khalila. "Kenapa kita kembali kesini?!" Tanya Khalila bingung, saat sadar mobil berhenti di basement hotel empat musim. "Akhirnya kau bicara lagi padaku. Maaf, tapi aku tak tahu dimana kau tinggal. Sejak tadi kau hanya mendiamkan aku, aku tak ingin mengganggumu." Sahut Kenny. Khalila menghela napas sedikit manyun.  "s**t!!! Bisakah bibirmu tidak seperti itu?!" Batin Kenny menatap bibir manyun Khalila yang membuat juniornya berkedut dan hasrat menciumnya hadir. "Ya sudah, saya naik ojek saja. Terima kasih." Ucap Khalila bersiap turun dari mobil. "Tunggu Khalila!" Cegat Kenny sebelum Khalila sempat membuka pintu mobil. Kenny langsung menjalankan mobilnya lagi keluar dari basement parkir hotel, supaya Khalila tidak turun dari mobilnya. "Biar aku mengantarmu sampai tempatmu." Ucap Kenny lagi. Khalila melongo menatap ke samping dengan bingung. "Kenapa?! Saya punya ojek langganan kalau dari sini." Tanya Khalila. "Karena aku tak ingin bunuh diri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu karena ulahku." Batin Kenny dalam hati. "Aku hanya bertanggung jawab pada kekasihmu." Jawab Kenny padahal sesak dadanya setiap mengucapkan "kekasihmu". "Khalila, kita ke arah mana?" Tanya Kenny saat keluar dari parkiran hotel. "Ke arah kota barat, saya kost di daerah Universitas Nasional." Jawab Khalila. "Baiklah." Ucap Kenny dan segera mengarahkan mobilnya ke jalan raya menuju tempat Khalila. "Khalila, maaf ya, aku tadi tidak bermaksud menghina kamu, aku hanya senang saja memancing emosimu untuk melihat wajah jutek kamu, maaf Khalila, aku tidak menyangka kau sampai semarah itu hingga menangis." Ucap Kenny sambil sesekali menoleh ke arah Khalila. "Maaf, tidak seharusnya saya mempermalukan anda dihadapan wanita pemilik butik tadi. Maafkan saya juga Mr. Kenny." Sahut Khalila diluar dugaan Kenny.  "Tidak, aku yang salah, dan aku juga tak menyangka kalau Lori akan ikut menimpali." Ucap Kenny menyesal. "Mr. Kenny, lalu bagaimana dengan Mr. Hobbs? Bukankah dia akan menunggu kita?" Tanya Khalila. "Tak apa, tadi aku sudah meminta maaf padanya karena tidak bisa datang, besok dia yang akan datang ke hotel." Jawab Mr. Kenny "Anda memakai alasan apa untuk menyakinkan Mr. Hobbs?" Tanya Khalila. "Aku hanya berkata kau sedikit tidak enak badan karena kelelahan, dan dia tak mau mengambil resiko kalau kau sampai sakit saat acaranya berlangsung." Jawab Mr. Kenny "Maafkan saya Mr. Kenny." Ucap Khalila. "Kenapa jadi kau yang minta maaf? Bukankah aku yang bersalah dari awal? Sudahlah, aku sudah lega kau mau bicara lagi denganku.." sahut Mr. Kenny tersenyum menoleh ke Khalila. Khalila pun tersenyum, dan hati Kenny seketika hangat melihatnya. "Saya tak mungkin tidak bicara lagi dengan anda, anda kan boss saya." Ucap Khalila terkekeh, dan Mr. Kenny pun ikut tertawa, tanpa sadar tangannya terulur mengacak rambut puncak kepala Khalila. "Kau ini...." Ucap Mr. Kenny mengusap kepala Khalila. Khalila pun belum menyadarinya, keduanya masih tertawa, lalu tiba-tiba mobil berhenti dan hening saat keduanya mulai tersadar, saling menatap. Kenny menelan salivanya dengan berat, tangannya yang semula ada diatas kepala Khalila, kini mulai turun ke tengkuk Khalila, mendekatkan wajah mereka berdua. Entah dorongan darimana, Khalila justru memejamkan matanya saat wajah keduanya benar-benar hanya berjarak 5cm. Kenny mengecup bibir Khalila lembut, tak ada penolakan, itu membuat Kenny perlahan menggerakkan bibirnya melumat penuh bibir Khalila. Tiiiinnnn...!!!! Suara klakson dari mobil belakang terdengar tidak sabaran, karena ternyata lampu lalu lintas kini telah berwarna hijau terang. Kenny akhirnya kembali pada setirnya dan buru-buru menjalankan mobilnya, dengan umpatan yang bertubi-tubi dalam hatinya karena ciuman mereka terganggu. Khalila hanya menunduk kikuk sambil menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup tidak beraturan, rasa bibir Kenny membuat tubuh bawahnya meleleh dan basah.    "Apa yang kulakukan?! Gila! Dia pasti menganggapku w************n karena mau saja dicium olehnya! Oh God, maafkan aku Ebay. Apa yang terjadi padaku??? Kenapa aku tak bisa menolak setiap dia mendekat?!" Pikiran Khalila terus merutuk kejadian tadi, sambil duduk menundukkan kepala.   "Khalila, kita belok mana?" Tanya Mr. Kenny saat mereka ada di pertigaan jalan di dekat Universitas Nasional "Eh..ouw..kita belok ke kanan, rumah kelima itu tempat kostku, yang tingkat tiga dan berwarna biru." Jelas Khalila tanpa berani menatap ke Mr. Kenny.  "Sudah sampai." Ucap Mr. Kenny, saat mobilnya berhenti di rumah yang Khalila maksudkan tadi. "Terima kasih Mr. Kenny." Ucap Khalila dan segera membuka pintu mobil lalu buru-buru keluar tanpa menoleh lagi pada Mr. Kenny.   Kenny hanya menatap Khalila yang masuk ke dalam tempat kost nya. Dia menghela napas lega karena Khalila telah selamat tiba di tempatnya, namun hati dan pikirannya sangat tak karuan saat ini. Rasa bibir Khalila masih sangat terasa meski Khalila hanya diam tak membalasnya tadi. Kenny segera melajukan mobilnya pergi dari tempat Khalila.   "Apa yang istimewa dari Khalila? Secara penampilan sangat jauh dari Rosline, tapi kenapa begitu menarik dan tidak membosankan untuk ditatap?" Pikiran Kenny terus meracau sendiri selama menyetir.  Tiba di rumahnya, Kenny memilih berendam dalam bathup nya. Tapi pikirannya terus melayang pada Khalila dan bibirnya, membuat kejantanannya berdiri, dan akhirnya Kenny tak sanggup lagi menahan dirinya. Kenny memejamkan matanya bersandar pada pinggiran bathup dan tangannya mulai membelai dirinya sendiri, bayangan wajah Khalila yang diciumnya dan kaki yang berstoking hitam hingga setengah paha terlihat juga seragam yang membentuk lekuk tubuh Khalila terus meningkatkan hormonnya, dan gairah itupun akhirnya meledak dari dalam kejantanan Kenny karena pijatan keras yang Kenny lakukan sendiri.   "Aaaghhhhh!!!!" Kenny pun berteriak dalam desahan, Kenny lalu beranjak keluar dan menyiram tubuhnya di bawah shower air dingin.   "Gila! Baru kali ini aku mampu meledak, hanya dengan membayangkan wanita yang bahkan tertutup baju dan tak pernah ku lihat kepolosan tubuhnya. s**t!!"   Kenny menggelengkan kepalanya sendiri karena tak menyangka hal yang dapat dilakukan Khalila padanya sangat berpengaruh.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN