"Lila, kamu sudah pulang?" Sapa Bhanu saat keluar dari kamar dan bersamaan melihat Khalila memasuki rumah kost.
"Eh..i..iya Bay." Sahut Khalila gugup. Bhanu mengernyitkan keningnya menatap kekasihnya. Bhanu menghampiri Khalila lalu menyentuh kening Khalila.
"Tidak demam, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bhanu lagi.
"Mungkin hanya kelelahan Bay." Jawab Khalila menutupi yang terjadi sebenarnya, Bhanu mengangguk.
"Kamu sudah makan?" Tanya Bhanu lagi,Khalila hanya menggelengkan kepala.
"Kamu mandi terus istirahat dulu aja, aku akan membeli makan malam untuk kita, nanti aku ke kamar kamu."ucap Bhanu. Khalila menatap Bhanu dan menahan keras supaya airmatanya tidak mengalir.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan??? Aku sudah berdosa pada pria yang sangat menyayangi aku ini. Dia begitu baik dan sangat menyayangiku, tapi aku malah menerima bibir pria lain tanpa penolakan. Maafkan aku Bay." Rasa bersalah semakin mengganggu hati Khalila. Khalila berjinjit dan menangkup wajah Bhanu.
Cup.
Khalila mengecup singkat bibir Bhanu.
"Terima kasih Bay." Ucap Khalila dengan senyum yang dipaksakan.
Bhanu hanya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Khalila. Khalila lalu naik ke kamarnya di lantai 3, dia masuk ke kamarnya, menutup pintu dan tubuhnya merosot ke bawah, dia menangis sejadinya, di serang rasa bersalah yang sangat besar.
"Ya Tuhan, mengapa aku bisa begitu murahan? mau menerima ciuman pria lain tanpa penolakan dan diam." Batin Khalila dalam isak tangisnya.
Tok.Tok.Tok.
Pintu kamar diketuk dari luar, menyadarkan Khalila untuk segera bangun dan menghapus airmatanya.
"Lila...Lila..." Panggil Bhanu dari balik pintu.
Khalila sengaja hanya diam tak bersuara. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya dan membersihkan dirinya dengan cepat. Khalila lalu berganti pakaian santai dan membuka pintu kamarnya, Bhanu masih berada disana.
"Maaf Bay, aku masih mandi tadi." Ucap Khalila
"Makan yuukk ini aku sudah beli chicken crispy kesukaan kamu." Ajak Bhanu, mereka berdua pun bersama melangkah menuju ruang TV yang ada di lantai 3, dan makan bersama.
"Makan yang banyak ya, terus kamu istirahat, jadi besok sudah segar lagi." Ucap Bhanu sambil menyiapkan makanan untuk Khalila, membuat hangat hati Khalila dan tersenyum.
Bhanu memang selalu memanjakan Khalila setiap hari dari awal bertemu hingga menjalin hubungan sebagai kekasih selama satu tahun ini.
"Besok aku dapat shift malam Bay, jadi mungkin besok kita tidak bertemu, kita jalan-jalan malam ini saja ya Bay? Besok aku bisa istirahat seharian." Ucap Khalila.
"Iya sayang, kamu mau jalan-jalan kemana?" Tanya Bhanu.
"Ehm...keliling kota naik motor saja juga sudah senang Bay, asalkan bersama kamu." Ucap Khalila tersenyum lebar, Bhanu pun ikut tersenyum lebar.
"bersyukurnya aku punya kekasih kamu, hemat pacarannya." Sahut Bhanu dan mereka tertawa bersama.
"Bay, terima kasih ya Chicken crispy nya buat aku semangat lagi." Ucap Khalila.
"Apapun akan aku beli asal kamu bisa tertawa terus dear.." sahut Bhanu menatap Khalila.
Khalila sangat merasa bersyukur ada Bhanu di sampingnya, melupakan segala kejadian dengan Mr. Kenny tadi. Khalila dan Bhanu pun pergi bersama keliling kota, namun tidak lama karena langit mulai membunyikan suara guntur, memberi tanda hujan akan segera mengguyur.
"Bay, nonton film aja yuk, malam ini ada Avenger lho di TV." Ajak Khalila karena ingat Bhanu sangat menyukai Avenger.
"Ayoo...mau nonton di ruang TV bawah atau diatas?" Tanya Bhanu.
"Diatas aja yuk, dibawah sudah ada Zidan dan ceweknya." Ucap Khalila, lalu mereka naik ke atas bersama.
Mereka menonton TV sambil saling menggoda dan bercanda. Khalila berbaring di sofa panjang dengan kepala di pangkuan Bhanu. Bhanu membelai lembut kepala Khalila. Khalila pun semakin mengantuk dan mulai memejamkan matanya di pangkuan Bhanu.
"Lila, kamu sudah ngantuk? Masuk kamar dulu aja, tidurnya di kamar aja, aku lanjut nonton sendiri gak apa kok." Ucap Bhanu
Khalila tidak menjawab apapun, Bhanu hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat Khalila yang sudah tertidur di pangkuannya. Bhanu mengangkat tubuh Khalila, membawanya ke dalam kamar Khalila, dan merebahkannya di atas tempat tidur Khalila. Bhanu tersenyum menatap khalila yang menggeliat pelan, namun tetap terpejam matanya.
"Bahagialah terus dear, senyum dan tawamu adalah semangat hidupku. Aku berjanji akan selalu ada untuk menghapus airmatamu." Ucap Bhanu lirih lalu mengecup kening Khalila dan berjalan keluar dari kamar Khalila.
****
"Aku berangkat dulu ya Lila, kamu istirahat aja, nanti malam aku antar waktu kamu berangkat bekerja." Pamit Bhanu setelah mereka sarapan bersama pagi ini. Bhanu mengecup kening Khalila dengan mendalam dan lama. Khalila merasa hatinya penuh dengan kasih sayang Bhanu.
"Hati-hati ya Bay, jangan ceroboh bawa motornya." Pesan Khalila lalu berjinjit mengecup bibir Bhanu. Bhanu tersenyum dan mengusap puncak kepala Khalila.
Bhanu segera menuju ke kursi kerjanya saat tiba di kantor.
"Ebay, kamu dipanggil bu Rosline, katanya laporan kamu ada yang salah." Ucap salah seorang rekan kerja Bhanu.
Bhanu mendengus berat, dia sungguh ingin pindah dari tempat ini, karena boss sexy itu terus menggodanya bahkan menyodorkan tubuhnya pada Bhanu. Dia tak ingin mengkhianati Khalila yang sangat dicintainya. Bhanu sadar betul kelemahannya sebagai seorang pria, jika dia tidak menjauh dari boss sexy itu maka dia akan menjadi lemah dan jatuh pada tubuh sexy bossnya.
"Bay...!Ebay....! BHANU!!!" Temannya sampai harus berteriak karena Bhanu terus melamun tanpa respon.
"Eh.iya...sebentar aku kesana, terima kasih." Sahut Bhanu kembali dari alam pikirannya.
Bhanu melangkah segan menuju ruangan boss nya.
Tok.Tok.Tok.
Bhanu mengetuk pintu di depannya.
"Masuk!" Seru bu Rosline dari dalam ruangan.
"Astaga! Kenapa ruangan ini remang-remang bahkan hampir gelap sekali?!"
Batin Bhanu saat membuka pintu ruangan itu dan mulai melangkah masuk ke dalam.
Ziiiiss...zzzzzziiisssss....
eugh...ach... zzzziisssss..... aaacchhh..
Suara sesuatu berdengung bersautan dengan desahan seorang wanita, terdengar di telinga Bhanu.
"Bay, tutup pintunya...eugh..aaahhhh" suara seorang wanita dan Bhanu mengenalinya. Bu Rosline.
"Apa yang sedang dia lakukan? Gila! Astaga! Apa Dia melakukan hal itu di pagi hari seperti ini saat seseorang karyawan bisa saja masuk kemari! Astaga! Dasar gila! Maniac!!" Batin Bhanu dalam hati saat dia mulai melihat siluet seorang wanita di sofa samar-samar.
Bu Rosline sedang memuaskan gairahnya berusaha menuju klimaks dengan menggunakan mainan nya, dan meremas dadanya sendiri.
"Bay....aachhhh....kemarilah.. eugh.... cepat Bay! Aku membutuhkan pertolonganmu, diriku ketagihan dengan tanganmu Bay...eugh... cepatlah!" Ucap Bu Rosline sambil mendesah. Bhanu dengan susah payah menelan salivanya.
"Maaf bu, saya tidak bisa memenuhi perintah ibu, maafkan saya bu, lebih baik ibu mencari orang lain saja." Jawab Bhanu gugup.
"Berani kau keluar sekarang?! Aku akan segera mengeluarkan surat pemecatan untukmu! Eughh... s**t!!! Alat ini semakin lama semakin tidak berguna!!!" Ucap Bu Rosline emosi dan langsung melepaskan alat mainan itu.
Bu Rosline menghampiri Bhanu tanpa membenahi blouse nya yang terbuka kancingnya dan payudaranya menyembul keluar bahkan tidak lagi tertutup bra nya, rok sepan mini nya sudah terlipat keatas menampakkan area V nya karena celana dalamnya entah berada dimana. Bhanu semakin bergetar dengan suara ketukan langkah high heels bu Rosline. Bu Rosline melewati tubuh Bhanu, menuju ke pintu dan klik dia mengunci pintu itu. Bhanu terkejut dan saat membalikkan tubuhnya ternyata bu Rosline sudah berada di belakangnya, sangat sangat sangat dekat sekali, dan seketika dadanya menempel pada d**a Bhanu. Napas Bhanu tercekat di tenggorokan, dadanya sesak, saat bu Rosline mulai menggeliat menggesekkan pada tubuh Bhanu seolah penari striptease yang sedang menggoda.
"Bu, jangan seperti ini, kumohon bu, ingatlah ini kantor." Ucap Bhanu lirih menatap tubuh bu Rosline.
"Kenapa Bay?? Teringat kekasihmu?? Bukankah dia juga sering berduaan dengan boss nya?? Kamu tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan di hotel dengan leluasa." Sahut Bu Rosline sengaja memancing amarah Bhanu.
"Tidak bu, saya percaya dia wanita baik-baik dan setia. Tolong jaga mulut ibu." Ucap Bhanu dengan sinis.
"Aku hanya bisa membuat mulutku ini diam jika sudah ada yang memuaskanku. Hari ini aku ingin kamu yang jadi partnerku Bay." Sahut bu Rosline dengan suara mendesah dan tangan yang terus menggerayangi tubuh Bhanu naik turun. Bhanu melangkah mundur menjauh dari tubuh boss sexy nya, tapi bu Rosline terus mendekatinya.
"Jangan menolakku Bay, aku akan memberikan fasilitas apapun yang kamu mau jika kamu bisa selalu memuaskan aku Bay. Sejak malam itu, tubuhku selalu ingin mulut dan tanganmu Bay." Ucap Bu Rosline terus saja mendekati Bhanu hingga Bhanu tanpa sadar sudah terpojok di sofa bahkan sampai terduduk di sofa.
"Bu, apa yang akan dikatakan karyawan lain jika seperti ini?" Tanya Bhanu berharap boss nya bisa sadar bahwa mereka berada di kantor.
"Ruanganku kedap suara dan kacanya tidak dapat melihat ke dalam, jadi kita aman Bay, tenang saja aku selalu bermain aman Bay." Jawab bu Rosline yang kini sudah duduk di atas pangkuan Bhanu dengan posisi mengangkangi Bhanu. Tanpa kata apapun bu Rosline segera menarik tengkuk Bhanu hingga ke dadanya.
"Puaskan aku Bay, lupakan kekasihmu yang polos itu, aku tahu jiwa laki-lakimu sangat membutuhkan ini juga." Ucap Bu Rosline sambil terus menahan tengkuk kepala Bhanu, dan tangan lainnya mengarahkan payudaranya ke mulut Bhanu.
"Hisap Bay, aku sudah merasakan gairahmu juga sudah naik. Ayo Bay! mulai jilat, hisap, kulum payudaraku, nikmatilah tubuhku ini sebagai berkatmu hari ini Bay." Ucap Bu Rosline penuh dengan mendesah.
Semua pria pasti akan b*******h jika disodorkan hal seindah ini di hadapannya, gratis. Begitu juga Bhanu tak bisa membantah bahwa gairahnya mulai naik dan batangnya mulai tegang di balik celananya. Bu Rosline terus menggesekkan area V nya maju mundur di atas batang Bhanu yang sudah mengeras.
"Kita bebaskan gairahmu Bay, kalau tidak dia akan merobek celanamu yang semakin mengetat." Bisik bu Rosline mendesah sambil berusaha membuka belt dan resleting celana Bhanu. Bhanu menyerah, dia akhirnya mulai menjilat, mengecup bahkan mengulum puncak p******a bu Rosline.
"Eugh...aaacchhhh...enak Bay, terus Bay, nikmati tubuhku Bay... Eughh....Bay....euuughhh..." Desahan bu Rosline kembali terdengar.
Bhanu sudah melupakan Khalila, dunia yang nyata yang sesungguhnya. Bhanu hanya manusia biasa yang punya kelemahan. Khalila entah saat ini berada di otak Bhanu sebelah mana hingga tak teringat oleh Bhanu, gairahnya terus menuntut ke tahap berikutnya. Tanpa sadar akan Khalila, Bhanu kini telah telanjang polos bersama Rosline boss sexy nya. Mereka terus berlanjut dalam pergulatan panas, tak ada lagi yang tidak mereka jamah dari tubuh sosok dihadapan mereka, hingga puncak gairah menyembur keluar bersamaan dan berkali - kali, melemahkan stamina keduanya. Rosline berbaring diatas tubuh Bhanu, mengatur ritme napasnya, begitu juga Bhanu, lalu keduanya bersama berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di ruangan itu. Mereka membersihkan masing-masing tubuh mereka dari aroma pergulatan s*x mereka. Bhanu kembali rapi dan bersih, begitu juga dengan Bu Rosline.
"Saya kembali ke meja saya dulu bu, permisi." Ucap Bhanu dan hendak melangkah menuju pintu, namun tangannya ditahan oleh Bu Rosline.
"Terima kasih Bay, kamu sudah mengembalikan semangat bekerjaku hari ini. Lain kali kumohon jangan repot menolakku dulu di awal, kita sudah dewasa, dan aku yakin kekasihmu tak pernah sanggup memuaskan hasratmu, aku mau jadi pelampiasanmu Bay." Sahut Bu Rosline.
Bhanu hanya mengangguk tanpa ekspresi apapun. Timbul rasa bersalah? Pasti! Tapi Bhanu juga melakukannya dalam keadaan sadar bukan pengaruh obat atau minuman apapun, jadi Bhanu menepis rasa bersalahnya, kini dia menganggap hal itu sebagai salah satu Job Description nya di bank ini. Karena boss sexy itu mampu melakukan pemecatan secara tidak hormat kapanpun, jika Bhanu menolaknya.
****
"pagi Mr. Kenny." Sapa Arina pagi ini dari balik meja resepsionis.
Kenny hanya mengangguk, sesaat berhenti karena tak melihat Khalila di balik meja resepsionis pagi ini.
"Dimana Khalila?" Tanya Mr. Kenny.
"Khalila hari ini mendapat shift malam Mr. Kenny, jadi dia baru akan datang pukul 8 malam nanti." Jawab Arina, Kenny mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju lift. Kenny menghela napas di dalam lift.
"Semoga kamu tidak menghindariku setelah kejadian semalam." Ucap Kenny lirih.
Kenny tetap tidak pulang meski jam sudah menunjukkan hari mulai malam, dia sengaja menunggu kedatangan Khalila. Kenny menatap ke CCTV di ruangan ayahnya.
"Ach..itu dia sudah datang dan siap bekerja." Ucap Kenny tersenyum melihat Khalila sudah berada di balik meja resepsionis. Kenny berdiri lalu keluar dari ruangannya dan turun ke bawah.
"Selamat malam Mr. Kenny." Sapa Khalila berusaha tetap profesional, dan sangat membuat Kenny bernafas lega dan tersenyum padanya.
"Malam Khalila, saya jalan pulang dulu." Sahut Kenny dan Khalila mengangguk tersenyum.
Kenny mendapatkan sebuah panggilan telepon. Khalila tahu siapa yang menelepon karena Kenny menyebutkan nama orang di seberang sana saat menerima panggilan itu. Mr. Hobbs.
"Baiklah, saya akan datang besok malam, terima kasih atas undangannya. Khalila? Saya akan coba mengajaknya, tapi saya tidak berjanji. Baiklah..." Ucapan Mr. Kenny di telepon.
"Khalila, kita diundang oleh Mr. Hobbs ke acara makan malam di rumahnya, dalam rangka penyambutan calon istrinya masuk ke dalam keluarga besarnya. Besok kamu masuk sift pagi saja, kita berangkat setelah jam kerjamu selesai." Ucap Mr. Kenny pada Khalila saat telepon sudah dimatikan.
"Eh..hm..a..a...i...itu...sa..saya tidak bisa ikut Mr. Kenny, maafkan saya." Sahut Khalila gugup menelan salivanya dengan susah payah.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan pernah lagi berada dekat dengan boss mudanya itu, apalagi dalam satu mobil hanya berdua saja.
"Kenapa? Saya tidak menerima alasan yang tidak masuk akal." Ucap Mr. Kenny.
"Sa..saya...i..itu...sa..saya besok tidak mungkin masuk sift pagi Mr. Kenny, karena saya hari ini baru akan pulang saat jam 4 pagi nanti, saya butuh istirahat Mr. Kenny. Maaf." Sahut Khalila menunduk.
"Astaga! Maafkan saya Khalila, baiklah saya tidak akan memaksamu, saya juga akan menyampaikan pada Mr. Hobbs."sahut Mr. Kenny lalu berlalu pergi meninggalkan hotel.
Kenny harus profesional, meski dia punya wewenang untuk memberikan libur pada Khalila supaya besok malam bisa menemaninya ke undangan Mr. Hobbs, tapi Kenny tidak ingin terlalu mencolok. Itu hanya akan membuat Khalila menjauh darinya, lagipula ini adalah hotel milik ayahnya, dia hanya sementara disini selama ayahnya menjalani pengobatan saja.
Khalila bernapas lega karena bossnya tidak memaksanya untuk ikut.