Khalila sudah mulai mengantuk karena sudah mulai pukul 3 dini hari, satu jam lagi shift kerjanya selesai. Dia hanya berjaga saja di meja resepsionis seorang diri, ditemani beberapa orang dari bagian keamanan, bellboy dan bagian cleaning service di dekat pintu. Khalila sudah selesai dengan semua laporan kerjanya hari ini, hingga dia mulai merasa kantuk karena hanya diam saja menunggu tamu datang juga selesainya shift dia.
"Minumlah, kamu terlihat sangat mengantuk, tidak baik jika ada tamu datang yang hendak check in." Tegur sebuah suara dihadapan Khalila.
"Eh! Mr. Kenny?! apa yang sedang anda lakukan disini?!" Tanya Khalila bingung dan gugup sambil menengok ke jam dinding.
"Aku baru dari club, daripada pulang ke rumah yang sepi, lebih baik aku beristirahat di ruang privasi kantor ini, karena besok aku harus rapat dengan Mr. Jong Wook. Aku tak mau kesiangan." Ucap Mr. Kenny.
Khalila hanya ber "O" saja mendengar jawaban Mr. Kenny.
"Maaf, tapi mengapa kopi ini hanya setengah cup ya?" Tanya Khalila bingung menatap kopi yang Mr. Kenny sodorkan tadi.
"Maaf, sudah sempat kuminum setengah tadi, aku sebenarnya tidak membelikan khusus untukmu, berhubung kamu terlihat sangat mengantuk jadi tak ada salahnya membagi minuman ini denganmu." Jawab Mr. Kenny santai. Khalila melotot tak percaya
"Maksud anda ini sisa anda?! Tidak! Saya tidak mau meminum bekas orang lain! Maafkan saya, lebih baik anda habiskan sendiri saja! Saya bisa meminta ke dapur!" ucap Khalila ketus.
"Kenapa? Karena di cup ini ada bekas bibirku? Jadi kamu gak mau?! Kamu takut kopi ini tercampur sedikit ludahku?! Ouw c'mon Khalila, aku sudah pernah mencium bibirmu, jadi bukankah ini belum seberapa jika bibirmu hanya sekedar menempel di bekas bibirku yang ada di cup ini?! Kamu lupa bahwa bibirku sudah pernah menempel langsung di bibirmu?!" Sahut Mr. Kenny tenang, namun seketika membuat Khalila sangat gelisah.
Khalila celingukan ke sekitarnya, berharap tak ada seorangpun yang mendengar ucapan boss gila nya ini.
"sssttttt....!!!!! Anda benar-benar gila! Bagaimana jika ada yang mendengarnya?! Anda benar-benar membuat saya kehilangan muka!" Protes Khalila dengan melotot. Mr. Kenny hanya tersenyum menggoda mengedipkan sebelah matanya, membuat Khalila semakin kesal dan jengah.
"Jadi kamu ingin kita bermain sembunyi-sembunyi Khalila? Baiklah kita lakukan seperti yang kamu inginkan." Ucap Mr. Kenny. Khalila berdecak kesal dan menghentakkan kakinya.
"Mr. Kenny!!! Jangan.pernah.coba.coba. untuk.melecehkan.saya.lagi! Atau detik itu juga surat pengunduran diri saya langsung ada di atas meja ayah anda! Ingat itu!!" Ancam Khalila dengan tegas.
"Ciuman itu bukan pelecehan Khalila, karena kamu juga menikmatinya, ya meskipun kamu hanya diam, tapi matamu yang terpejam sangat menunjukkan bahwa kamu menikmatinya." Balas Kenny dengan nada mengejek. Khalila semakin geram.
"Baiklah! Tunggu saja surat pengunduran diri saya besok di atas meja ruang kerja anda!" Tegas Khalila sudah emosi, dan kantuknya seketika menghilang. Khalila sungguh ingin menyiramkan kopi dihadapannya itu pada wajah boss genitnya.
"Aku tunggu!! Dengan kamu mengundurkan diri dari perusahaan ayahku ini, maka aku lebih leluasa untuk mendekatimu Khalila." Sahut Mr. Kenny tersenyum lebar dan langsung melangkah ke lift meninggalkan Khalila yang semakin kesal.
"Aku tak akan sebodoh itu boss!!!" Rutuk Khalila merengut di balik meja resepsionis.
Tak lama kemudian, ponsel Khalila berdenting, sebuah pesan chat masuk.
"Lila, aku jemput sekarang ya?" Pesan chat Bhanu
"Iya Bay, jalan sekarang aja biar begitu jam nya selesai aku bisa langsung kabur." Jawab Khalila pada pesan chat Bhanu.
"Oke deh, siap sweetheart." Pesan Bhanu.
Khalila tersenyum senang membaca pesan terakhir dari Bhanu. Khalila sangat merasakan besarnya perhatian dan kasih sayang Bhanu padanya. Pesan Bhanu seketika membuat Khalila kembali tersenyum, melupakan kekesalan nya pada boss genitnya. Akhirnya shift kerja Khalila selesai dan Bhanu sudah siap di depan lobby hotel.
"Hai, pasti capek banget ya?" Sapa Bhanu dengan tersenyum. Khalila langsung tersenyum.
"Iya, ngantuk...makasih ya Bay, kamu juga pasti ngantuk banget kan? Maaf ya aku buat kamu repot terus." Sahut Khalila bergelayut manja. Bhanu mengusap kepala Khalila lembut.
"Yuk pulang, kita bisa langsung istirahat, nanti kamu gak perlu masak sarapan, nanti aku saja yang beli sarapan dan beli buat bekal. Aku gak mau kamu sakit Lila" ucap Bhanu, dan Khalila mengangguk langsung naik ke boncengan motor Bhanu dan memeluknya dari belakang.
Sejak perbuatan Rosline padanya, Bhanu kini kembali mudah sekali bangkit gairahnya, pagi inipun Bhanu langsung merasa bergelenyar saat tangan Khalila melingkar erat di pinggangnya dan gundukannya menempel di punggung Bhanu. Mereka tiba di tempat kost, Bhanu menarik tangan Khalila saat kekasihnya itu hendak langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai 3. Bhanu memeluk erat kekasihnya itu, Khalila hanya tersenyum dan membalas pelukan itu sama eratnya. Bhanu melepaskan sedikit pelukannya dan menatap Khalila dengan lembut, Bhanu membelai pipi Khalila dengan ujung-ujung jarinya.
"Aku sangat merindukanmu Khalila." Bisik Bhanu di hadapan wajah Khalila.
"Aku juga sangat merindukanmu Bay, tapi nanti kita diusir lho kalau ketahuan posisi seperti ini." Sahut Khalila sambil melihat sekitarnya.
Bhanu lalu mengecup bibir Khalila lembut, tapi bibirnya tak puas hanya mengecup, Bhanu mulai menangkap wajah Khalila semakin mendekat padanya, dan bibir Bhanu mulai melumat bibir Khalila, menikmatinya bahkan Khalila pun terbuai dan membalas ciuman itu. Bhanu lalu mengecup bibir Khalila lembut, tapi bibirnya tak puas hanya mengecup, Bhanu mulai menangkap wajah Khalila semakin mendekat padanya, dan bibir Bhanu mulai melumat bibir Khalila, menikmatinya bahkan Khalila pun terbuai dan membalas ciumannya. Ciuman yang sangat mendalam, penuh cinta dan menyulut gairah kedua insan itu. Bibir Bhanu mulai turun ke rahang Khalila, dan saat jatuh ke leher, Khalila mendesah, membuat Bhanu tersadar dan menghentikannya. Napas memburu di d**a keduanya saat ciuman itu berakhir.
"Maaf Lila, aku tak bisa menahannya. Lebih baik kamu beristirahat, atau semenit lagi aku bisa-bisa membawamu ke kamarku." Bisik Bhanu tersenyum menggoda. Khalila hanya mengangguk tersenyum, lalu mengecup rahang Bhanu.
"Terima kasih selalu menjagaku Bay, aku ingin malam pernikahan kita sangat spesial dan tidak terlupakan." Sahut Khalila, lalu melangkah naik ke atas menuju ke kamarnya.
Bhanu hanya mengusap kasar wajahnya dan menghela napas panjang, sudah komitmen Khalila sejak awal mereka berpacaran adalah menjaga kesuciannya hingga pernikahan nanti, bukan karena dia tidak percaya pada Bhanu tapi karena memang ingin memberikannya sebagai hadiah pernikahan bagi Bhanu. Bhanu telah sepakat sejak awal, dia sangat mencintai Khalila, dia pun juga ingin selalu menjaga Khalila, hanya Khalila yang mampu menghilangkan nafsu serigala dalam dirinya, bukan tak pernah dia bernafsu pada Khalila, tapi dia sangat ingin membahagiakan Khalila, dia harus berjuang lebih keras lagi untuk dapat menikahi wanita yang dicintainya itu. Bhanu akhirnya masuk ke dalam kamarnya, menuju kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air dingin.
Bhanu melarang keras Khalila memasak pagi ini, akhirnya mereka berdua pergi sarapan bersama ke sebuah tempat makan. Bhanu rela tidak membawa bekal makan siang hari ini, supaya Khalila bisa beristirahat. Selesai sarapan bersama, Bhanu mengantarkan Khalila kembali ke tempat kost dan dia segera berangkat ke kantor.
****
Bhanu barusaja duduk di kursi kerjanya, saat ada intercom masuk.
"Bay, ke ruangan saya sekarang." Perintah seorang wanita dan langsung menutup sambungan intercom tadi. Bhanu menghela napas kesal dan lelah.
"Apalagi yang dia inginkan pagi ini?!" Gerutu Bhanu kesal pada boss sexy nya itu. Bhanu segera turun ke lantai 2 dimana ruangan Bu Rosline berada.
Tok.Tok.Tok.
"Masuk Bay!" Seru boss nya dari dalam ruangan.
Bhanu melangkah masuk, hatinya sedikit lega karena wanita itu duduk rapi dan sedang bekerja di depan laptopnya, tidak seperti kemarin.
"Duduk Bay, itu ada hadiah buat kamu Bay, buka aja." Ucap Bu Rosline menunjuk dengan jarinya ke arah sebuah amplop coklat di atas mejanya, tanpa melihat ke arah Bhanu.
Bhanu dengan ragu duduk diseberang meja boss nya, lalu meraih sebuah amplop coklat berukuran sedang, dan menatap sesaat ke arah boss nya dengan ragu membuka amplop itu, matanya langsung bingung menatap benda itu, bukan tidak mengerti itu apa benda itu tapi bingung dengan benda yang dikatakan "hadiah" oleh boss nya.
"Maaf Bu, tapi ini hadiah dalam rangka apa ya? Karena saya tidak berulang tahun hari ini, dan sekalipun saya berulang tahun saya tidak layak menerima hadiah sebesar ini Bu. Maaf saya tidak bisa menerimanya." Ucap Bhanu menolak.
Bu Rosline segera menghentikan pekerjaannya dan menatap Bhanu di hadapannya dan tersenyum.
"Saya hanya ingin memberikan hadiah padamu Bay, pekerjaanmu sangat bagus selama satu tahun ini. Sebenarnya saya ingin memberikan kenaikan jabatan padamu, tapi hal itu pasti harus mendapat ijin dari kantor pusat dan prosesnya pasti tidak sebentar. Jadi saya pikir inilah yang cocok sebagai bentuk apresiasi atas hasil kerjamu. Lagipula kamu pasti membutuhkan itu untuk mengantar dan menjemput kekasihmu yang jam kerjanya tidak tentu." Sahut Bu Rosline mencoba menyakinkan Bhanu supaya mau menerimanya.
"Maaf Bu, apakah ibu menganggap saya gigolo sehingga saya dibayar dengan mobil ini atas jasa service saya memuaskan hasrat ibu?" Tanya Bhanu dengan nada sedikit tersinggung atas pemberian itu.
Rosline hanya tersenyum lebar, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Bhanu. Rosline berdiri bersandar pada mejanya, menghadap ke Bhanu dan sangat dekat dengan posisi duduk Bhanu.
"Kamu lucu Bay, seharusnya kamu mengucapkan terima kasih saat diberi hadiah Bay, bukan malah berpikir menjadi gigolo. aku gak pernah menganggapmu gigolo atau pemuas nafsu Bay. Kalau kamu gigolo pasti aku selalu langsung bayar kamu di setiap akhir permainan kita. Ini benar hanya sebagai apresiasi atas hasil kerjamu Bay. Terimalah." Jawab Rosline tersenyum.
"Tapi Bu, ini terlalu mewah, semua pasti akan curiga jika melihat saya menerima ini dari ibu." Ucap Bhanu.
"Gak perlu cemas Bay, aku bukan memberimu mobil mewah, ini hanya mobil biasa, kamu bisa mengakui pada semua orang bahwa mobil itu adalah hasil kredit dari gajimu. Ingat Bay, aku selalu bermain aman, aku sudah memperhitungkan hal itu. Jadi kamu tak perlu khawatir. Pakailah selayaknya kamu yang membelinya sendiri." Sahut Bu Rosline.
Bhanu masih diam, dia bingung harus menerima atau menolaknya.
"Bay, kalau ada orang mau berbuat baik itu jangan dicurigai dong, gak baik lho." Ucap Bu Rosline memecah keheningan.
"Mobilnya ada dibawah sana Bay, sebelah mobil saya, kamu bisa lihat dulu, kalau gak suka kita bisa tukar." Ucap Bu Rosline lagi sambil menunjukkan foto sebuah mobil di tempat parkiran gedung ini.