Hari ini Khalila mendapatkan shift 1 yaitu pukul 00.00 - 08.00, jadi seharian dia bisa beristirahat juga beres-beres cucian kotor dan kamarnya, sebelum tengah malam nanti berangkat ke hotel. Pekerjaan resepsionis memang sudah resikonya dengan jadwal seperti ini, karena hotel memang selalu buka 24jam, tapi Khalila sangat menyukai pekerjaannya ini, bertemu banyak orang yang berbeda setiap harinya.
Note :
Shift 1 : 00.00 - 08.00
Shift 2 : 07.00 - 15.00
Shift 3 : 12.00 - 20.00
Shift 4 : 20.00 - 04.00
Khalila menghela napasnya lega setelah semua pekerjaan rumahnya selesai, dan kini sudah siang, dia berencana untuk makan nasi dan telor dadar kecap saja karena Bhanu sudah menelepon akan makan siang bersama teman kantornya, jadi Khalila tidak perlu memasak untuk makan siang berdua.
drrrtt...drrrtt...
Sebuah pesan chat masuk ke ponsel Khalila.
Ibu : Lila, bagaimana kabarmu nak? kamu masih sibuk?
Lila : ibu, Lila baik-baik saja. Ibu apa kabar? Hari ini Lila gak bekerja Bu, masuknya nanti jam 12 malam.
Ibu. : Lila, apa kamu bisa cuti beberapa hari nak? Ada hal penting yang harus kamu ketahui nak, dan harus bicara langsung di rumah.
Lila : ada apa Bu? Lila masih ada satu proyek Minggu depan yang harus diselesaikan. Setelah itu baru Lila bisa pulang.
Ibu. : Baiklah nak, kapanpun kamu bisa pulang, secepatnya pulang ya nak. Ibu merindukanmu nak.
Lila : baik Bu, Lila akan pulang secepatnya, Lila juga merindukan ibu.
Khalila menghela napas, merebahkan dirinya di atas tempat tidur, berpikir apa sebenarnya yang terjadi di rumah?? Hingga ibunya memintanya untuk pulang secepatnya.
"Semoga tak ada sesuatu yang buruk" doa Lila dalam hati.
Drrrtt...Drrrtt....
Ponsel Khalila berbunyi, panggilan masuk dari Mr. Kenny.
"Selamat siang Mr. Kenny."
"Siang Khalila, maaf mengganggu waktu istirahatmu. Calon istri Mr. Hobbs ingin ditemani olehmu dalam penentuan dekorasi, apakah kamu bisa?"
"hm...kapan waktunya Mr. Kenny?"
"Siang ini jam 2, apa kamu bisa menemani?"
"Baiklah, saya akan segera kesana, karena shift saya hari ini baru dimulai jam 12 malam nanti."
"Baiklah, terima kasih Khalila. Sampai bertemu di hotel."
Khalila segera bersiap, dia sangat profesional, tidak hanya mengharapkan bonus yang besar saja, tapi dia bekerja sepenuh hati dalam proyeknya ini, melupakan sejenak segala perlakuan Mr. Kenny padanya belakangan ini. Khalila menghubungi Bhanu untuk memberi kabar rencananya siang ini, Bhanu pun mengijinkan dan berpesan supaya dia berhati-hati. Setengah jam sebelum waktu yang ditentukan, Khalila sudah tiba di hotel.
"Lila??? Kamu kok datang sekarang???" Tanya Arina teman dekatnya.
"Calon istri Mr. Hobbs ingin ditemani untuk penentuan dekorasi, jadi aku disini." Sahut Khalila dan Arina hanya mengangguk.
"Eh Lila, sini deh!" Panggil Arina meminta Khalila mendekat lebih lagi ke meja resepsionis.
"Ada apa?" Tanya Khalila bingung saat dirinya mendekat.
"Kamu lagi jadi gosip deh di lingkungan office." Ucap Arina berbisik.
"Gosip?! Apaan sih?!" Sahut Khalila bingung dan kesal.
"Iya, kamu lagi digosipin dekat sama si gunung es itu! Katanya kalian selalu terlihat bertengkar tapi mesra, hati-hati lho nanti bisa jatuh cinta kamu!" Bisik Arina lagi.
Khalila spontan tertahan napasnya dan melotot juga menganga tak percaya dengan gosip yang didengarnya.
"Apa?! Apaan sih kalian ini?! iiicchh!!! Amit-amit deh! Lagipula aku ini kan cuma sedang ada proyek Mr. Hobbs aja, jadi setelah semua selesai juga aku gak akan mungkin dekat dan berurusan sama dia lagi! Siapa juga yang mau dekat sama si gunung es gila itu?!" Sahut Khalila sewot tanpa sadar suaranya pun meninggi.
"Ehem! Siapa si gunung es gila?!" Tanya seseorang yang sudah ada di belakang Khalila.
"Mampus!" Ucap bibir Khalila tanpa suara pada Arina didepannya, sebelum berbalik menghadap Mr. Kenny.
Arina juga mendadak diam seribu bahasa, dan parahnya lagi dia langsung kembali fokus pada komputer dan membiarkan Khalila menghadapi boss nya itu sendirian. Khalila tersenyum kecut saat berbalik dan menatap Mr. Kenny yang hanya selangkah dihadapannya.
"Selamat siang Mr. Kenny, eh i.itu hanya sebutan untuk pria gila yang suka mengganggu, tidak penting untuk dibahas. Ehm...apa bisa kita mulai sekarang?" Sahut Khalila mengalihkan pembicaraan.
"Belum, bagian dekorasinya belum datang, pihak WO yang menangani juga belum datang, calon istri Mr.Hobbs juga sedang dalam perjalanan kemari. Lebih baik kita tunggu di ruang meeting saja." Ucap Mr. Kenny lalu berjalan menuju lift dan diikuti oleh langkah Khalila.
Arina tersenyum melihat wajah manyun temannya itu saat mengikuti langkah boss mudanya.
"Awas jatuh cinta." Ucap bibir Arina tanpa suara pada Khalila, dan langsung dibalas dengan ekspresi muntah oleh Khalila membuat Arina terkekeh.
Mr. Kenny dan Khalila kini berdua di dalam lift pribadi bossnya. Khalila berdiri di belakang Mr. Kenny.
"Kapan surat pengunduran dirimu ada di meja ayahku?" Tanya Mr. Kenny mendadak membuat Khalila emosi.
"Saya tunggu hingga Beliau sembuh dan kembali kemari." Jawab Khalila.
Mr. Kenny mendadak berbalik menatap Khalila dan selangkah maju menghimpit tubuh Khalila pada dinding lift dibelakangnya.
"Baguslah! Itu berarti Minggu depan. Saya sudah tidak sabar menunggunya. Ingat Khalila! Kamu adalah milikku, jika ayahku tak melepaskanmu, maka aku akan memintamu darinya dan bekerja ditempatku, milikku harus berada di tempatku!" Ucap Mr. Kenny sambil memainkan helai anak rambut di samping wajah Khalila. Khalila hanya membeku menatap boss muda itu, hembusan napasnya begitu dekat di wajah Khalila.
Ting.
Bunyi lift sudah tiba di lantai yang dituju.
Mr. Kenny segera berbalik dan bersiap melangkah keluar, Khalila menghela napas lega akhirnya keluar dari gunung es yang membuatnya beku.
"Miliknya?! Enak saja!! Lebih baik pulang kampung daripada bekerja dengan gunung es yang suka melecehkan wanita!" Batin Khalila sewot dan emosi.
Khalila sengaja mampir ke meja Mrs. Winda, sekretaris Mr. Lambroche ayah Mr. Kenny. Khalila berusaha mencari kesibukan supaya tidak berada di ruangan berdua dengan Mr. Kenny, selagi yang lain belum hadir.
"Hai, Mrs. Winda, apa kabar?" Sapa Khalila tersenyum.
"Hai Lila, baik. Kamu apa kabar? Pasti sulit ya bekerja dengan Mr. Kenny?" Sahut Mrs. Winda.
"Ya begitulah, tidak boleh dalam kondisi perut kosong dan harus dalam kesabaran penuh, kalau tidak bisa darah tinggi terus deh tiap hari." Ucap Khalila. Mrs. Winda terkekeh mendengar ucapan Khalila.
"Yang sabar ya Lila, kamu pasti bisa kok membuat gunung es itu mencair." Sahut Mrs. Winda memberi dukungan mental.
"Iya Mrs. Winda, saya harus sabar, daripada cepat mati karena tekanan darah tinggi." Ucap Khalila.
"Kamu ini bisa saja! Ouh iya, Mr. Lambroche sudah kembali dari Europe sekarang Beliau sedang masa pemulihan, mungkin Minggu depan kamu sudah gak perlu ketemu dengan gunung es lagi." Ucap Mrs. Winda. Khalila hanya menghela napas panjang.
"Andaikan bisa begitu, sayangnya si gunung es itu meminta dirinya untuk bekerja di hotelnya, hhhuuuuhhhhhh..." Batin Khalila dalam pikirannya.
"Khalila! Kemari!" Seru Mr. Kenny dari dalam ruangan Meeting. Khalila segera mengakhiri pembicaraan dengan Mrs. Winda.
"Iya Mr. Kenny." Ucap Khalila masuk ke ruangan itu.
Mr. Kenny terlihat sedang duduk santai menunggu klien mereka yang masih dalam perjalanan.
"Duduklah, persiapkan segalanya, supaya nanti tidak perlu menunggu lama." Ucap Mr. Kenny memainkan pen tinta nya di atas meja.
Khalila mengangguk, lalu membuka laptop Mr. Kenny dan menurunkan layar juga menyalakan LCD untuk membantu presentasi dari pihak dekorasi dan WO. Khalila lalu duduk kembali, mencari folder musik di laptop Mr. Kenny lalu menyetel sebuah alunan musik lembut dari John Legend, sambil tersenyum sendiri.
"Tidak kusangka si gunung es ini bisa punya lagu romantis hehehehe" Batin Khalila tersenyum geli sendiri.
"Ehem! Kenapa kau senyum sendiri seperti itu?! Ada yang salah dengan laptopku?!" Tegur Mr. Kenny melihat Khalila tersenyum sendiri di depan laptopnya.
"Ah tidak ada apa-apa, hanya tidak menyangka saja ada lagu seromantis ini di laptop anda." Sahut Khalila terkekeh, Mr. Kenny hanya menatap datar ke arah Khalila sambil terus memainkan pen nya di atas meja.
Tak lama kemudian klien mereka mulai datang, Mr. Hobbs dan calon istrinya, kepala WO juga bagian desain dekorasinya. Rapat mulai berjalan, presentasi dari pihak WO dan dekorasipun mulai disajikan pada Mr. Hobbs dan pasangannya. Semua mata memperhatikan ke layar kecuali Mr. Kenny yang justru menatap ke arah Khalila yang serius mengikuti presentasi di layar.
"Apa yang membuatnya special??? Mengapa aku selalu terarah padanya??? Cantik??? Lumayan sih, jutek??? Banget!mengapa aku selalu berkedut melihatnya??? Dan ingin selalu bersentuhan dengannya??? Padahal tak ada yang istimewa." Pikiran Mr. Kenny terus melayang menatap Khalila.
"Mr. Kenny, apakah kita bisa langsung ke lokasi?" Tanya orang dari pihak WO dan langsung membuat Mr. Kenny tergagap menanggapinya, sekaligus terkejut karena kini semua mata termasuk Khalila telah menatapnya dan mengetahui bahwa sedari tadi dia terus menatap Khalila bukan ke layar presentasi yang arahnya berlawanan.
"Eh maaf, baiklah kita langsung ke lokasi saja untuk survey pastinya." Sahut Mr. Kenny langsung berdiri dari kursinya. Khalila segera menghampiri Mr. Kenny, namun Mr. Hobbs sudah lebih dulu menghampiri Mr. Kenny.
"Kenny, Kenny, kuharap kau bisa gerak cepat, sebelum Khalila dinikahi pria lain." Goda Mr. Hobbs tersenyum lebar dan juga terdengar oleh Khalila, membuat Mr. Kenny dan Khalila kini saling menatap dengan salah tingkah.
"Kau bisa saja, apa itu yang dulu kau alami dengan tunanganmu di awal perkenalan kalian?" Sahut Kenny tenang, tak ingin terlalu terlihat bahwa dia telah terpesona pada Khalila.
"Hahahaha...semua pria pasti mengalaminya jika sedang jatuh cinta." Ucap Mr. Hobbs seraya melangkah keluar mengikuti yang lainnya. Mr. Kenny juga melihat bahwa Khalila memilih berbalik arah menuju keluar dan batal menghampirinya. Mr. Kenny tertawa sinis sendiri.
"Jatuh cinta??? Tak mungkin!" Batin Kenny mengelak dari ucapan Mr. Hobbs.
Kini mereka semua berada di ballroom hotel, untuk memastikan lagi dekorasinya. Entah bagaimana secara tak sengaja dan tanpa sadar, kini Khalila sudah berdiri disamping Mr. Kenny, agak jauh dari yang lainnya yang sedang berdiskusi.
"Pernikahan yang sempurna, sungguh beruntung wanita itu mendapatkan Mr. Hobbs yang sangat menyayanginya." Ucap Khalila pelan namun mampu di dengar oleh Mr. Kenny dan membuat Kenny menoleh ke sampingnya.
"Memangnya seperti apa pernikahan impianmu?" Tanya Mr. Kenny
"Saya hanya ingin sederhana saja, yang penting bisa dengan orang yang sangat mencintai saya dan juga saya cintai. Itu sudah sangat sempurna. Daripada pernikahan megah dan mewah tapi tanpa cinta." Jawab Khalila masih menatap ke depan ke arah Mr. Hobbs dan pasangannya.
"Khalila! Kemari lah!" Seru calon istri Mr. Hobbs memanggil dan langsung membuat Khalila melangkah mendekat.
"Bagaimana menurutmu jika ditambah ice carving ditengah sini? Apakah cocok?" Tanyanya.
"Ehm...maaf, tapi sepertinya itu tidak cocok dengan gambaran dekorasi yang tadi telah di presentasikan, lebih baik tanpa ice carving, daripada terlihat dipaksakan." Jawab Khalila, dan klien nya pun mengangguk setuju.
Akhirnya semua perbincangan dan diskusi dekorasi selesai dengan kepuasan klien mereka. Khalila memeriksa ponselnya setelah klien nya pulang, dan kini tepat saat dia akan kembali ke tempat kost adalah bertepatan dengan waktu pulang Bhanu. Khalila mencoba menghubungi Bhanu, siapa tahu mereka bisa pulang bersama, dan Bhanu pun setuju untuk menjemput Khalila.
Beberapa saat kemudian
"Aku sudah di depan lobby." Ucap Bhanu memberi kabar pada Khalila melalui panggilan telepon.
"Baiklah, aku keluar sekarang." Jawab Khalila lalu berpamitan dengan Arina dan lainnya. Khalila terlihat bingung dengan Bhanu yang berdiri bersandar di samping sebuah mobil.
"Bay, mobil siapa ini?" Tanya Khalila sambil mengamati mobil itu. Bhanu tersenyum.
"Ini mobilku, nanti aku jelaskan di perjalanan, sekarang kamu masuk dulu ya dalam mobil." Jawab Bhanu mengantarkan Khalila pada sisi mobil yang lain , dan Khalila hanya menurut.
Bhanu membukakan pintu penumpang depan bagi Khalila, setelahnya dia berlari kembali ke pintu bagian sopir. Khalila menganggumi interior dalam mobil ini, dan Bhanu mulai menjalankan mobil itu memasuki jalan raya menuju tempat kost mereka.
"Bay???" Panggil Khalila tersirat meminta penjelasan.
"Aku ambil kredit mobil yang dilelang oleh kantor, dan karena aku pegawai bank jadi uang DP nya bisa dicicil 5x, setelah 5x baru ini mobil bisa deh aku bawa pulang. Aku gak tega harus antar jemput kamu kerja di tengah malam dengan motor, kamu bisa sakit Lila." Jawab Bhanu tersenyum menoleh sesaat pada Khalila lalu kembali fokus pada jalan.
"Tapi Bay, bagaimana dengan biaya pengobatan bunda?" Tanya Khalila cemas.
"Kamu gak perlu khawatir, biaya pengobatan bunda tidak terpakai sedikitpun, dan juga tabungan untuk pernikahan kita juga tidak terpakai sayang. Kamu tenang saja ya." Jawab Bhanu tersenyum.
Khalila mengangguk paham, dan Bhanu menghela napas lega. Bunda adalah panggilan Bhanu pada ibunya, Bunda telah lama mengidap penyakit anemia parah, sehingga harus rutin therapy dan selalu dalam pengobatan.
"Terima kasih ya Bay, kamu selalu mikirin aku." Ucap Khalila tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu Lila." Sahut Bhanu dan meraih tangan Khalila untuk diciumnya.
Khalila tersenyum, dia merasa sangat bersyukur memiliki Bhanu dalam hidupnya.