M.O.S. 10

2150 Kata
Hari ini tibalah proyek Mr. Hobbs dimulai, H-1 sebelum pernikahan, banyak kerabatnya akan mulai berdatangan dan check in di hotel tempat Khalila bekerja. Khalila sudah mengatakan pada Bhanu bahwa selama 4 hari 3 malam ini Khalila tidak akan pulang, dia harus menginap juga di hotel itu, karena pekerjaannya yang full shift mengharuskannya. Bhanu hanya berpesan supaya Khalila selalu menjaga kesehatan dan ingat untuk makan saat tiba waktunya makan.   "Pagi Arina, hari ini akan mulai kesibukan kita, siang nanti pasti sudah banyak yang check in. Kamu sudah sarapan? Ini aku bawakan sarapan buat kamu." Sapa Khalila pada temannya. "Waahhhh asiikkk!!! Aku gak perlu repot keluar cari sarapan, terima kasih Khalila cantik." Sahut Arina berseru girang.   Khalila mulai membuka kembali catatannya, dan berpamitan pada Arina untuk berkeliling memeriksa semua kamar apakah sudah sesuai dengan permintaan masing-masing keluarga Mr. Hobbs. Satu persatu tiap kamar diperiksa oleh Khalila dengan teliti, sesuai dengan daftar catatan yang dia pegang. Lantai 8 hingga lantai 15 semua sudah sesuai dengan catatan, kini langkahnya menuju ke penthouse yang ada di lantai 20 untuk memeriksa kamar pengantin bagi Mr. Hobbs dan istrinya. Sejenak Khalila sangat terpesona dengan mewahnya ruangan itu. Khalila menghela napas dan tersenyum, melangkah dengan hati-hati, bahkan dia sampai melepas sepatunya dan hanya mengenakan stocking saja untuk alas kakinya. Khalila takut mengotori Penthouse itu.          "Seleramu ternyata tidak buruk ya.."ucap seseorang di belakang Khalila. Khalila sudah mengenal suara itu, Mr. Kenny, jadi dia tak perlu repot menoleh. "Calon istri Mr. Hobbs tidaklah merepotkan, dia hanya meminta suasana romantis saja di kamar pengantinnya, tidak perlu bertaburan banyak bunga, simple, namun berkesan." Sahut Khalila terus menatap seluruh ruangan itu. "Apa kau juga menginginkan kamar seperti ini saat pernikahanmu nanti?" Tanya Mr. Kenny datar namun dalam hatinya ada maksud mendalam. Khalila menghela napasnya perlahan dan panjang. "Saya tak mau jadi wanita yang terlalu banyak menuntut pada Bhanu. Saya sadar kami berdua bukanlah warga dari kelas atas, yang penting bagi saya Bhanu selalu ada di sisi saya dengan setia dan mencintai saya." Jawab Khalila tetap tanpa menoleh pada Kenny. Ada sesuatu perih menyayat hati Kenny saat Khalila menyebut nama Bhanu dan kata setia. "Laki-laki setia tak akan bermain s*x dengan wanita lain di belakangmu Lila." Batin Mr. Kenny dengan nanar.   "Saya rasa sudah sempurna, semua penataan sudah sesuai dengan permintaan klien kita. Sekarang saya harus segera menuju ke persiapan kolam renang dan convention hall." Ucap Khalila lalu segera melangkah keluar melewati Mr. Kenny tanpa menolehnya.   Kenny hanya melirik saat Khalila melewatinya begitu saja dengan menunduk. Dia sebenarnya ingin menarik Khalila dan menahannya, menikmati kamar ini berdua, tapi dia tak ingin terlalu terlihat sangat ingin mendapatkan Khalila, itu bisa membuat Khalila justru terlepas dan hilang menjauh darinya. Kenny membiarkan Khalila menyelesaikan pekerjaannya, Kenny mulai memahami bahwa Khalila adalah sosok pekerja yang sangat bertanggung jawab dan ingin sempurna segalanya tanpa sedikitpun celah untuk kesalahan.  Khalila telah kembali ke meja resepsionis, dan mulai sibuk dengan kedatangan banyak tamu yang mulai melakukan check in. Khalila, Arina dan juga Pak Giring supervisor mereka kini turun tangan langsung dalam mengatur kamar para tamu undangan sesuai dengan catatan yang telah Khalila buat, hasil rapat dengan Mr. Hobbs.  Mereka bertiga adalah senior di bagian front office hotel Empat Musim ini. Mr. Kenny terus mengawasi dari layar rekaman kamera CCTV yang ada di ruangannya. Matanya tak pernah lepas dari Khalila yang sedang serius bekerja, kadang ada senyum di bibirnya kala melihat tingkah Khalila yang ramah pada orang-orang yang sudah tua, kadang ada kesal saat melihat Khalila tersenyum paksa karena di goda oleh tamu pria yang genit. Semua berjalan tanpa ada masalah, Khalila benar-benar sempurna dalam tugasnya.   Malam pun tiba dan acara pelepasan masa bujang bagi dua insan calon mempelai pun segera dimulai. Calon istri Mr. Hobbs rupanya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk di malam menjelang pernikahannya, sehingga dia meminta acara malam pelepasan masa bujang pun diadakan bersama tidak terpisah. Hal ini lebih memudahkan lagi bagi Khalila, karena dia tak harus mengawasi dua acara terpisah dalam waktu bersamaan, cukup mengawasi satu ruangan saja.   Khalila tampil beda dari biasanya, malam ini dia menggunakan simple dress berwarna merah, dengan rambut yang ditata keatas menunjukkan leher indahnya, dan make up tipis sederhana, membuatnya cantik elegan.  Khalila berdiri sambil terus mengawasi seluruh rangkaian acara.   "Sepertinya pesonamu mengalahkan mempelai wanita malam ini." Bisik seseorang di dekat telinganya, dan hembusan napas hangatnya seolah meniup leher sampingnya. Khalila sangat terkejut dengan kedekatan yang terlalu intim ini. Khalila menoleh sambil sedikit bergeser dari orang itu. "Apa yang anda lakukan disini Mr. Kenny?" Tanya Khalila menatap tajam, menunjukkan bahwa dia tak suka dengan sikap boss muda nya itu, apalagi kini sangat terlihat bahwa pria itu menatap terus ke bagian lehernya yang memang terbuka sedikit lebar. "Aku? Tentu saja aku berada disini! Ini acara klien besarku, apa menurutmu aku justru seharusnya berada di Spanyol?!" Sahut Mr. Kenny tak mau kalah, masih tetap menelusuri leher dan bagian atas tubuh Khalila yang tidak tertutup. Khalila berusaha mengatur emosinya, dia menghela napas panjang. "Maksud saya, mengapa anda tidak bergabung di floor bersama yang lain?" Ucap Khalila lagi. "Ouw...karena ada yang lebih menarik disini." Sahut Mr. Kenny. Khalila sedikit merasa risih dengan tatapan itu. "jaga mata anda Mr. Kenny! Jangan berpikir m***m!!" Ucap Khalila dengan nada marah. Mr. Kenny tersenyum lebar mengetahui bahwa Khalila menyadari kemana arah tatapannya. "Sangat putih dan mulus, andaikan aku bisa memberinya tanda disana...Ach! Sial! Aku sangat ingin memilikinya."  Pikiran Mr. Kenny terus membuat juniornya sesak berkedut dibalik celananya.   "Maaf saya harus memeriksa yang lainnya. Permisi." Ucap Khalila melangkah pergi menghindari boss mudanya itu, tak mau kembali terjadi pelecehan lagi seperti waktu lalu. Kenny terpaksa harus mencari kesibukan lain sebagai pelarian dari sesuatu yang aneh dalam dirinya. ****   Dari siang Bhanu terus sibuk dengan pekerjaannya, akhir bulan yang melelahkan, dan harus melakukan tutup buku neraca bulan ini, hari ini semua harus selesai karena kalau tidak akan berpengaruh pada transaksi dan laporan esok hari.   "Ouh baru terasa kalau tak ada Khalila yang menyiapkan bekal, aku pasti jadi lupa makan siang. Baru setengah hari tapi aku sudah sangat merindukannya."  Batin Bhanu sejenak berhenti dari pekerjaannya, dan memilih keluar kantor sore ini untuk makan karena konsentrasinya mulai terganggu oleh rasa lapar.   "Mau kemana Bay?" Tanya Bu Rosline yang kebetulan berpapasan di lantai 2 saat Bhanu turun. "Eh..i.itu Bu, saya mau membeli makanan, karena siang tadi tidak sempat makan siang." Jawab Bhanu gugup. "Ouw baiklah, kalau begitu saya titip juga ya, saya juga belum makan siang." Sahut Bu Rosline sembari mengambil uang dari dalam tas nya. "Eh.i.iya Bu, boleh. Mau dibelikan apa Bu?" Tanya Bhanu. "Beef meal Rice box di seberang saja, Pedas level 5 ya Bay. Ini uangnya, kamu sekalian saja beli pakai uang itu, apapun yang kamu suka Bay." Sahut Bu Rosline menyodorkan uang 2lembar ratusan ribu.  "Eh, tak apa bu, pakai uang saya saja. Kalau hanya rice box saya masih bisa traktir Bu." Ucap Bhanu tersenyum menolak uang dari Bu Rosline. "Ach senyuman yang manis, membuat meleleh area sensitif ku." Pikiran Rosline melayang. "Baiklah Bay, terima kasih ya buat traktirannya." Sahut Bu Rosline dan akhirnya Bhanu pergi turun ke bawah.  Rosline masuk ke ruangannya, menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Ach! Hanya senyuman saja sudah membuatku b*******h, ouh...aku sangat menginginkan sentuhan tangannya di tubuhku saat ini. Aku harus bisa memilikinya utuh hanya diriku. Aku tak mau lagi berbagi dengan wanitanya." Pikiran Rosline selalu m***m jika dekat Bhanu.   Tak lama kemudian Bhanu datang membawakan pesanan Rosline. "Makan bersama disini saja Bay." Ajak Rosline. "Maaf Bu,tapi saya harus kembali ke meja saya, masih banyak yang harus saya kerjakan karena ini tepat akhir bulan, harus selesai tutup buku semua neraca hari ini." Sahut Bhanu menjelaskan. "Ehm..baiklah, terima kasih ya sudah ditraktir." Ucap Rosline tersenyum, dan Bhanu mengangguk tersenyum, lalu keluar dari ruangan Rosline.   "Ouh...senyuman dan tatapannya sangat lembut, hatiku jadi hangat." Ucap Rosline sendirian dengan lirih.   Hingga malam Bhanu masih berada di meja kerjanya, Rosline masih terus menunggunya di ruangannya sendiri, hanya mengawasi lewat rekaman CCTV yang tersambung di laptopnya.   "Ach! Itu dia sudah bersiap untuk pulang. Malam ini aku harus bisa memilikinya, apalagi besok weekend dan libur." Ucap Rosline dan ikut berkemas, tepat saat Bhanu melangkah turun ke lantai 2, Rosline juga keluar dari ruangannya dan menguncinya. "Selamat malam Bu." Sapa Bhanu hormat pada atasannya. "Malam Bay, kamu baru selesai?" Sahut Rosline dan mendekat ke Bhanu, karena mereka memang harus turun dari tangga escalator yang sama. "Iya Bu, ibu juga baru mau pulang?" Ucap Bhanu. "Iya, sedari tadi saya harus terus menelepon beberapa nasabah besar, ya kamu tahu kan kita harus tetap berhubungan baik pada mereka setiap hari supaya mereka terus percaya pada Bank ini." Sahut Rosline. "Iya Bu, silahkan bu turun duluan." Ucap Bhanu menghormati atasannya.   Mereka turun ke bawah bersama. Saat tiba di depan pintu utama, Rosline mulai dramanya. "Astaga! Saya lupa kalau mobil saya malam ini menginap di bengkel, tadi sore pak Diman baru membawanya sekalian dia pulang. Saya harus panggil taxi online dulu." Ucap Rosline mengeluarkan smartphone nya. "Eh, saya antar saja Bu, bagaimana?" Bhanu menawarkan diri, tak enak juga karena mobilnya kan juga pemberian dari Rosline. "Tak perlu Bay, nanti merepotkan kamu." Sahut Rosline berpura-pura. "Ach tidak merepotkan Bu." Ucap Bhanu. "Ehm..baiklah Bay kalau tidak merepotkan, saya ikut kamu ya." Sahut Bu Rosline. "Kalau begitu saya ambil mobil dulu di parkiran, ibu tunggu disini saja ya." Ucap Bhanu dan Rosline mengangguk. "Akhirnya, semoga lancar sampai besok pagi." Batin Rosline tersenyum senang dalam hati. Mobil Bhanu pun mulai meluncur ke jalan raya setelah menjemput Rosline dari pintu Lobby Bank. "Bay, kekasih kamu marah gak nih? Kalau kamu nganterin saya" tanya Rosline membuka percakapan. "Tidak Bu, Lila kebetulan sedang ada proyek besar di hotelnya, jadi dia akan menginap disana sampai proyeknya selesai." Jawab Bhanu. "O..begitu, saya jadi tenang, gak enak kalau sampai merusak hubungan kamu dengan kekasihmu." Ucap Bu Rosline, Bhanu hanya menoleh sesaat sambil tersenyum lalu kembali konsentrasi pada jalan. "Bay, kita makan malam dulu yuk, di depan sana ada tempat makan yang enak dan santai tempatnya. Lagipula kekasihmu juga tidak di rumah kan, daripada nanti kamu repot harus cari makan lagi sendirian." Ucap Rosline. "Tapi ini bukan karena ibu ingin balik mentraktir saya sebagai balasan tadi kan?" Tanya Bhanu sambil bercanda. "Ach tidak Bay, kalau ditraktir dan saling membalas terus maka kita tidak akan pernah selesai Bay." Sahut Rosline juga tertawa. "Baiklah, kalau begitu, karna saya memang ikhlas Bu mentraktir ibu tadi sore." Ucap Bhanu. Rosline tertawa mendengar ucapan Bhanu. "Kalau saat membantu saya mencapai klimaks itu ikhlas gak Bay?" Tanya Rosline tanpa basa basi. Bhanu langsung tersentak dan bingung akan menjawab apa, akhirnya dia memilih diam. "Maaf ya Bay, aku selalu merepotkan mu." Ucap Rosline menunduk. "Bu, apakah anda juga melakukan hal seperti itu pada pegawai laki lainnya?" Tanya Bhanu. "Tidak Bay, dengan orang di kantor hanya pernah dua orang saja, dulu dengan Abimanyu, setelah dia mengundurkan diri karena menikah, sekarang hanya kamu." Jawab Rosline entah mengapa bisa jujur. "Aku sebenarnya tak ingin seperti ini Bay, tapi tuntutan ekonomi hidup memaksaku seperti ini. Semua orang lama di kantor pusat dan seluruh cabang lainnya sudah mengetahui bahwa aku selalu berhasil melewati target dan menjadikan cabangku adalah cabang yang terbaik dengan menggunakan tubuhku, biarkan saja mereka menghujatku, yang penting keluargaku tidaklah lagi dihina dan kelaparan." Cerita Rosline mengalir begitu saja. "Aku selalu berhasil memuaskan mereka karena obat perangsang yang kuminum, namun tak semua dari mereka mampu memuaskan ku, jadi aku memakai alat itu sebagai pemuasku setelah melayani mereka para lelaki tua. Tapi akhir-akhir ini aku tak bisa mencapainya, apalagi setelah merasakan sentuhan mu, alat itu bagai tak ada fungsinya lagi, membuatku frustasi." Lanjut Rosline menceritakan tentang bagaimana dia bisa menjadi bagai wanita Hypersex. Semua karena obat perangsang. "Sekarang anda sudah sukses, apakah tak bisa berhenti?" Tanya Bhanu. "Tidak bisa Bay, sekarang aku adalah p*****r bagi mereka para nasabah besar, lagipula kalau aku berhenti melayani mereka, maka kalian akan kehilangan pekerjaan Bay, mereka mengancam akan menarik seluruh dana mereka dari tempat kita, dan itu bisa membuat cabang kita tutup Bay. Aku gak mau membiarkan kalian menjadi pengangguran." Jawab Rosline.   Bhanu sangat terkejut sekaligus terenyuh dengan atasannya ini. Dia selalu memikirkan hidup orang lain tanpa peduli pada hidupnya sendiri. "Tapi anda bisa terkena penyakit kelamin." Ucap Bhanu. Rosline hanya tersenyum "Selama ini aku selalu meminta mereka memakai pengaman Bay, tapi kalau memang Tuhan mau menghukumi dengan penyakit kelamin, aku bisa menolak apa Bay?" Sahut Rosline. "Kamu tahu Bay, dulu aku pernah punya kekasih yang sangat mencintaiku, aku juga sangat mencintainya, tapi semua berubah benci saat dia melihat langsung ketika aku melayani nafsu ayahnya di kantor ayahnya demi menutup target. Dia marah besar dan sangat membenciku, dan sejak itu dia tak pernah mau berhubungan dengan wanita siapapun." Lanjut Rosline. "Berhentilah Bu, mungkin pria itu masih mengharap anda kembali. Bukankah dia anak orang kaya? Jadi anda tak perlu lagi bekerja bukan?." Ucap Bhanu, Rosline hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.   "Dia sudah terpesona pada kekasihmu Bay, tak mungkin kembali padaku, karena aku juga kini menginginkanmu bukan dia lagi."  Batin Rosline dalam hati sambil tersenyum menatap Bhanu.   "Tidak, beberapa waktu lalu aku akhirnya melihat dia pergi berdua dengan seorang wanita." Sahut Rosline menunduk dan isak tangis mulai terdengar.   Bhanu menghentikan mobilnya mendadak di tepi, menoleh ke arah Rosline dan menatapnya. Entah perasaan apa yang Bhanu rasakan saat ini setelah mendengar cerita hidup atasannya itu. Bhanu mendadak mendekatkan wajahnya dan meraih tengkuk wanita itu, lalu mengecup tepi bibirnya. Rosline sempat terkejut, namun akhirnya dia memejamkan matanya, menikmati kecupan bibir Bhanu itu, bahkan membalas gerakan bibir Bhanu yang kini sudah melumatnya  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN