bab 1
Malam di kota itu begitu pekat, seolah menelan setiap cahaya lampu jalan yang redup. Hujan baru saja reda, meninggalkan jalanan yang basah dan berkilau oleh pantulan lampu neon dari bar dan klub malam. Aroma alkohol, asap rokok, dan bau logam karat bercampur menjadi satu. Di sinilah Eveline memulai langkahnya—dunia yang tak pernah ia masuki sebelumnya, dunia yang penuh dengan orang-orang yang hidup di bawah bayang-bayang gelap.
Ia mengenakan mantel panjang hitam, rambutnya diikat sederhana, wajahnya disamarkan dengan riasan tipis. Mata gadis itu menatap lurus ke depan, menyembunyikan kegugupan yang menggerogoti dadanya. Malam ini, ia harus memulai pencariannya. Ia tahu betul, Andrew bukan pria biasa—dia adalah pemimpin sebuah clan mafia paling berbahaya di kota ini. Jika Eveline ingin menemukan celah untuk mendekatinya, maka ia harus memulainya dari bawah: dari orang-orang kecil yang berada di lingkaran gelap Andrew.
Hatinya masih sering dipenuhi bayangan malam berdarah itu. Malam ketika ayahnya—pria sederhana yang jujur dan keras kepala—direnggut nyawanya oleh seseorang yang disebut-sebut bernama Andrew. Wajah sang ayah yang penuh darah, tergeletak di ruang tamu, masih begitu jelas dalam ingatannya. Tangisannya, teriakan ketakutannya, semua menjadi bara dendam yang membakar setiap langkahnya kini.
Eveline melangkah ke sebuah bar tua di pinggiran kota, tempat yang katanya sering menjadi markas para anak buah mafia. Lampunya redup, musik keras berdentum, dan orang-orang berwajah kasar duduk dengan botol minuman keras di tangan. Beberapa menoleh ketika ia masuk, namun segera kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Eveline tahu, ia harus hati-hati. Satu gerak salah bisa membongkar niatnya.
Ia menuju meja pojok, di mana seorang pria berjaket kulit hitam duduk sendirian sambil merokok. Pria itu bernama Rico—informan yang menurut desas-desus, sering menjual informasi tentang pergerakan mafia kepada siapa saja yang berani membayar dengan harga tinggi.
“Rico?” suara Eveline terdengar pelan, namun cukup jelas.
Pria itu menoleh, matanya sempit meneliti sosok Eveline dari ujung kepala hingga kaki. Senyum miring tersungging di bibirnya. “Si cantik… siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Bar ini bukan tempat untuk gadis baik-baik.”
“Aku tidak datang untuk main-main.” Eveline duduk tanpa diminta. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya, meletakkannya di meja. “Aku hanya butuh informasi.”
Mata Rico berbinar melihat uang itu, namun ia tidak serta-merta mengambilnya. “Informasi? Tentang siapa?”
“Andrew.” Eveline menatapnya lurus, tanpa goyah.
Nama itu membuat Rico terbatuk kecil. Ia menunduk, lalu tertawa pelan. “Kau bercanda? Andrew? Nama itu… terlalu besar untuk disebut di tempat ini. Banyak orang mati hanya karena menyebut namanya sembarangan.”
“Aku tidak bercanda.” Eveline mendorong uang itu lebih dekat. “Aku ingin tahu tentang dia. Apa saja. Aku butuh semua informasi yang kau punya.”
Rico menatap Eveline lekat-lekat, seolah menimbang nyawa gadis itu. “Kenapa seorang gadis sepertimu ingin tahu tentang Andrew? Kau punya urusan apa dengannya? Hanya orang bodoh atau orang putus asa yang akan mencari masalah dengan pria itu.”
Eveline mengatupkan rahangnya. Ia tidak bisa mengatakan kebenaran—bahwa Andrew adalah pria yang membunuh ayahnya—setidaknya belum. Jadi ia memilih setengah kebenaran. “Aku punya urusan keluarga dengannya. Katakan saja, aku tidak bisa membiarkan sesuatu berlalu begitu saja.”
Rico termenung sejenak, lalu akhirnya mengambil uang itu dan menyelipkannya ke sakunya. “Baiklah. Tapi dengarkan baik-baik. Andrew bukan orang yang bisa kau dekati begitu saja. Dia ibarat iblis yang menyamar jadi manusia. Punya pasukan, punya kekuatan, dan punya otak yang brilian. Dia menjalankan bisnis gelap dari narkoba, perdagangan senjata, sampai pengendalian klub-klub malam. Semua orang di kota ini tahu, tapi tak seorang pun bisa menyentuhnya. Polisi pun tak berani.”
“Dimana dia biasanya berada?” Eveline bertanya cepat.
Rico menyeringai, menggeleng. “Tidak semudah itu. Andrew bukan pria yang berkeliaran di jalanan. Dia punya markas, tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Aku hanya bisa memberimu satu petunjuk: Andrew suka menguji orang. Dia tidak sembarangan menerima orang baru di lingkarannya. Kalau kau benar-benar ingin mendekat, kau harus membuktikan dirimu.”
“Bagaimana caranya?”
“Kerjakan sesuatu untuk orang-orangnya. Tunjukkan kalau kau bisa berguna. Dari sana… mungkin, hanya mungkin, kau akan mendapat perhatian Andrew.” Rico menyalakan rokok baru. “Tapi aku peringatkan sekali lagi—bermain-main dengan api sepertinya hanya akan membakar dirimu sendiri. Aku sudah melihat banyak orang mencoba. Tidak ada satu pun yang bertahan hidup lama.”
Kata-kata itu menggema di kepala Eveline. Namun bukannya membuatnya mundur, justru semakin meneguhkan tekadnya. Ia tahu jalan ini berbahaya. Tapi rasa kehilangan ayahnya lebih besar dari rasa takutnya.
---
Malam makin larut. Eveline meninggalkan bar itu dengan langkah cepat. Di luar, udara dingin menyambut, menusuk hingga ke tulang. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar. Kini ia tahu satu hal penting: jika ia ingin dekat dengan Andrew, ia harus membuktikan dirinya. Ia harus masuk ke lingkaran mafia itu, meski nyawanya menjadi taruhannya.
Ia berjalan melewati lorong-lorong sempit kota tua. Lampu jalan berkelip, tikus-tikus berlari di antara tumpukan sampah. Di kepalanya, ia merencanakan langkah berikutnya. Mungkin ia harus mencari tahu siapa saja orang kepercayaan Andrew. Jika bisa mendekati mereka, mungkin jalannya akan terbuka.
Tapi jauh di dalam hatinya, Eveline merasa getir. Andrew… nama itu bukan sekadar nama. Ia adalah mimpi buruk yang nyata. Setiap kali Eveline mengingat wajah ayahnya yang hancur malam itu, ia semakin yakin. Dendam ini tidak boleh padam.
Keesokan harinya, Eveline kembali bergerak. Kali ini ia mendatangi sebuah klub malam mewah di pusat kota. Klub itu dikenal sebagai salah satu tempat milik Andrew. Dari luar, lampu neon biru menghiasi, dengan antrean orang-orang berbusana glamor yang menunggu masuk. Musik berdentum keras bahkan sampai ke jalanan.
Eveline menyusup masuk dengan memanfaatkan tiket VIP yang ia beli dari calo jalanan. Begitu masuk, matanya langsung disambut oleh cahaya lampu disko yang berputar, aroma parfum bercampur alkohol, dan keramaian yang menyesakkan.
Ia menyusuri lantai dansa, lalu berhenti di bar. Matanya mencari-cari sosok yang tampak menonjol. Rico pernah mengatakan, orang-orang Andrew bisa dikenali: mereka selalu mengenakan cincin perak dengan lambang singa, tanda khusus clan itu.
Dan benar saja, di sudut ruangan ia melihat dua pria berjas hitam dengan cincin serupa di jari mereka. Mereka berbicara serius dengan seorang lelaki berambut pirang, yang tampak seperti bos kecil. Eveline menatap mereka lekat-lekat. Inilah jalannya. Jika ia bisa mendekati mereka, ia mungkin bisa mendekati Andrew.
Tapi bagaimana caranya?
Eveline tahu, ini baru permulaan. Ia harus bersabar, harus pintar memilih langkah. Setiap detik yang ia habiskan di tempat ini bisa menjadi langkah menuju balas dendam—atau menuju kematian.
Di tengah hiruk pikuk musik, Eveline berbisik pada dirinya sendiri.
“Andrew… cepat atau lambat, aku akan menemukanmu.”