bab 14

1093 Kata
Malam di kota Argen selalu memantulkan kenangan dalam bentuk cahaya. Entah dari neon yang berkedip, atau dari genangan hujan yang tak kunjung kering. Eveline melangkah keluar dari bar setelah Andrew pergi. Gaun merahnya berkilau samar di bawah cahaya lampu jalan yang remang. Sepatu haknya memantul pelan di trotoar basah, setiap langkah terdengar seperti gema masa lalu yang enggan diam. Udara dingin menusuk kulit, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Sejak Andrew menatapnya terakhir kali — tatapan dingin yang nyaris tak menyisakan manusia di dalamnya — ada sesuatu di dadanya yang berubah. Sesuatu yang sudah lama ia kubur tapi kini meronta pelan, seperti bara yang tersentuh udara. Ia berhenti di bawah atap sempit toko tua yang sudah tutup, menyalakan sebatang rokok. Asapnya naik pelan, menari di udara lembab sebelum hilang tersapu angin. Di antara helaan napas, pikirannya kembali ke meja bar tadi — pada cara Andrew menatap gelas whiskey seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan di dunia ini. “Berhenti bukan berarti mati.” Kata-kata itu terngiang. Eveline menarik napas dalam-dalam. Asap terakhir dari rokoknya lenyap bersama desau angin malam. Ia berbalik, melangkah ke arah mobil hitamnya yang menunggu di tepi jalan. Supir membuka pintu, tapi ia menahan dengan gerakan tangan. “Aku mau sendiri,” katanya pelan. Mobil itu meluncur perlahan meninggalkan distrik bawah. Dari jendela, Eveline melihat bayangan-bayangan yang hidup di balik lampu kota — orang-orang yang menjual nyawa mereka setiap malam untuk harga yang tak pernah cukup. Dunia bawah Argen selalu bergerak, tapi entah mengapa malam ini terasa berhenti. Ia membuka tablet kecil di pangkuannya. Layar menampilkan peta kota, berlapis data yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Di tengah peta itu, ada titik berkedip berwarna lembayung — lokasi terakhir chip Seraph terdeteksi aktif. Andrew. Jadi dia benar-benar membawanya. Eveline menutup layar dan menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Untuk sesaat, ia tak melihat dirinya sendiri — hanya pantulan mata Andrew di sana, abu-abu yang kini berubah menjadi lembayung. Ia bergidik, tapi tak bisa berpaling. “Seraph…” ia berbisik pelan. Nama itu masih terdengar seperti kutukan. Dulu, sepuluh tahun lalu, Seraph adalah segalanya. Sebuah proyek yang dijanjikan akan mengubah dunia, membentuk manusia sempurna dengan kemampuan melampaui logika. Dan Andrew… adalah satu dari mereka yang dipilih untuk memimpin eksperimen itu. Tapi proyek itu meledak, secara harfiah dan moral. Yang tersisa hanya puing, darah, dan bisikan tentang manusia yang tak lagi sepenuhnya manusia. Dan sekarang, seseorang mencoba menghidupkannya lagi. Mobil berhenti di depan apartemen Eveline — menara tinggi di distrik atas, berlapis kaca reflektif. Dari luar, bangunan itu tampak seperti benteng yang tak tersentuh. Tapi di dalamnya, hanya ada kesunyian. Eveline melangkah masuk ke unitnya di lantai 58. Lampu menyala otomatis, menyorot ruangan minimalis yang terlalu bersih untuk disebut rumah. Tak ada foto, tak ada tanaman, hanya tumpukan berkas dan layar-layar data yang menyala redup. Ia meletakkan tasnya, membuka jaket, dan berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap kota. Dari ketinggian itu, Argen terlihat seperti lautan listrik yang hidup — biru, merah, dan ungu bercampur jadi satu. Cantik. Tapi kosong. “Andrew…” Namanya keluar tanpa sengaja. Dan seperti racun, nama itu membakar lidahnya sendiri. Ia menutup mata. Dalam gelap, suaranya sendiri terdengar asing. Ia tidak tahu sejak kapan mulai takut pada pria itu — atau mungkin, sejak kapan masih mencintainya. Padahal ia dulu ingin sekali membunuh pria itu, karena pria itu sudah membunuh ayahnya. Namun, perasaan asing datang, membuatnya tidak bisa melakukannya. Evelyn terjebak. terjebak pada pesona pria itu. Eveline membuka matanya perlahan, lalu menyalakan layar di meja kerja. Sebuah video muncul — rekaman dari kamera pengintai bar malam tadi. Wajah Andrew muncul dalam cahaya redup: dingin, tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang nyaris rapuh. Ia memperbesar gambar, memperhatikan lehernya, lalu bagian mata yang berkilau lembayung. Ada denyut samar di sana — bukan pantulan lampu, tapi semacam getaran energi biologis yang terlalu teratur untuk alami. Eveline tahu apa artinya — jika Andrew masih membawa sisa dari energi Seraph, maka dia bukan hanya target; dia adalah kunci. Dan itu berarti… apa pun yang sedang direncanakan “Director”, Andrew akan menjadi pusatnya, entah sebagai alat, atau sebagai ancaman. Tangannya mengepal pelan. “Aku tidak akan biarkan mereka mengambilmu lagi,” bisiknya nyaris tak terdengar. Ia berjalan menuju lemari kecil di sisi ruangan, membuka bagian bawahnya yang tersembunyi. Sebuah kotak logam muncul, dingin dan berdebu. Ia membukanya. Di dalamnya, tersimpan sebuah lencana kecil — logo sayap Seraph yang sudah berkarat — dan pistol perak, model lama. Senjata itu pernah jadi miliknya saat ia masih bagian dari tim pengawasan proyek dulu. Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Begitu banyak waktu telah lewat, tapi rasa bersalah itu belum pudar. Dulu, ia yang menekan tombol penghancur sistem ketika semuanya mulai meledak. Ia yang menyelamatkan Andrew — tapi juga yang membunuh semua yang lain. Dan sekarang, nasib memaksa mereka bertemu lagi. Suara hujan mulai terdengar di luar jendela, menambah sepi yang aneh di dalam ruangan. Eveline menatap pistol itu lama, lalu menutup kotak dan menarik napas panjang. Ia membuka saluran komunikasi terenkripsi di meja kerjanya. Layar menampilkan wajah seseorang — perempuan berambut putih, bermata biru dingin. “Eveline,” suara itu datar. “Sudah bertemu dengannya?” “Sudah.” “Dan?” Eveline menatap langsung ke layar. “Ia masih hidup. Tapi lebih dari itu… aku rasa, sesuatu di dalamnya sudah aktif kembali.” Keheningan di ujung sana. Lalu suara itu menjawab pelan, “Kalau begitu, perintah baru, ikuti dia. Jangan biarkan chip itu jatuh ke tangan Director.” Eveline mengerutkan dahi. “Dan kalau Andrew sendiri yang berubah menjadi ancaman?” “Kalau itu terjadi…” jeda singkat, “kau tahu apa yang harus dilakukan.” Sambungan terputus. Eveline menatap layar yang kini gelap, lalu duduk perlahan di kursinya. Tangannya menutupi wajah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar lelah. Bagaimana mungkin seseorang bisa tetap mencintai bayangan yang terus menakutinya? Dan bagaimana bisa rasa takut itu sendiri justru yang membuatnya tak sanggup menjauh? Eveline mengangkat kepalanya perlahan, menatap pantulan dirinya di kaca. Mata yang dulu penuh keyakinan kini hanya menyimpan dua hal — duka dan tekad. “Kalau harus membunuhmu lagi, Andrew…” ia berbisik lirih, “…semoga kali ini aku bisa berhenti menangis.” Lampu kota di luar berpendar lembayung samar — warna yang sama seperti di mata Andrew. Dan entah kenapa, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Di kejauhan, petir menyambar di atas distrik bawah. Untuk sesaat, kilat itu memantulkan bayangan seseorang di jendela Eveline — siluet lelaki berjas hitam, berdiri di atap gedung lain, menatap arah yang sama. Eveline menatapnya balik, tapi bayangan itu sudah lenyap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN