bab 12

1385 Kata
Langit di atas reruntuhan pabrik Seraph berubah warna — dari hitam pekat menjadi abu kebiruan, tapi masih diselimuti kabut tipis yang berbau logam dan debu terbakar. Sisa-sisa ledakan semalam kini hanya tinggal arang dan kawah. Udara hangus, namun di antara puing-puing itu… ada kehidupan yang tak seharusnya ada. Andrew Tubuhnya terbaring di atas meja logam darurat, separuhnya manusia, separuhnya mesin yang belum padam sepenuhnya. Kulit di sisi kirinya hangus dan menghitam, namun perlahan menutup sendiri — bukan dengan jaringan biasa, melainkan dengan serat sintetis yang merangkak seperti urat hidup. Setiap detak jantungnya menghasilkan denyut lembayung samar di sepanjang tulang selangka — sinar kecil yang terus berdenyut, seperti bintang yang menolak mati. Eveline duduk di sisinya, mata lelah tapi tak mau berkedip. Sudah tiga hari sejak ledakan itu. Tiga hari tanpa tidur, tanpa makan cukup, hanya bergantung pada generator portabel yang menghidupi ruang pemulihan sementara ini. Setiap kali ia memandangi Andrew, ada dua hal yang berseteru dalam dirinya — rasa syukur karena ia hidup… dan rasa takut, karena ia tahu apa yang kini hidup di dalam tubuh itu bukan lagi sepenuhnya manusia. Marcus masuk, membawa secangkir kopi dingin dan laporan. “Tim pembersihan militer sudah di perbatasan kota. Mereka pikir Seraph benar-benar musnah.” Ia meletakkan cangkir itu di dekat Eveline. “Dan mereka belum tahu kau menyelamatkannya.” Eveline tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah Andrew — pucat, tak berekspresi, tapi kadang mata kirinya berkedut, seolah sedang bermimpi sesuatu. “Kalau mereka tahu,” katanya pelan, “mereka akan datang memburunya lagi. Dan kali ini mereka tak akan berhenti.” Marcus mendesah. “Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau menyambungkan neural core Seraph langsung ke jaring otak manusia. Itu dilarang. Bahkan buatmu.” Eveline menatapnya. “Aku tahu risikonya. Tapi tanpa itu, dia akan mati.” “Eveline—” “Marcus,” potongnya, suaranya tajam. “Dia bukan sekadar percobaan bagiku. Andrew… bukan objek.” Marcus terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk. “Aku tahu. Tapi kalau dia bangun dan—” Suara itu datang tiba-tiba. Sebuah dengungan rendah, nyaris seperti napas mesin. Monitor di samping Andrew bergetar, menunjukkan gelombang otak yang naik drastis. Lampu di ruangan berkelip. Eveline langsung berdiri, mendekat. “Andrew?” Tubuh itu menegang. Jantung mekanik di d**a kirinya berdetak lebih keras, membuat getaran halus di udara. Sinar lembayung menyala dari bawah kulitnya, memancar di sepanjang lengan dan leher. “Andrew, dengar aku,” bisik Eveline sambil menggenggam tangannya. “Kau aman sekarang. Ini aku, Eveline.” Andrew menarik napas panjang — suara logam dan paru-paru manusia berpadu jadi satu. Lalu matanya terbuka. Yang kanan masih manusia: abu-abu hangat. Yang kiri… lembayung, berputar seperti pusaran data yang hidup. Ia menatap langit-langit sejenak, lalu menoleh perlahan ke arah Eveline. Suaranya keluar berat, serak, tapi jelas. “Berapa lama aku… tidak sadar?” Eveline menahan air mata. “Tiga hari.” Andrew mencoba bangun, tapi otot-ototnya kaku. Beberapa kabel di sisi tubuhnya menarik diri secara otomatis, seolah menyesuaikan. Ia menatap tangannya sendiri — telapak kanan masih manusia, tapi punggung tangan kiri berlapis logam hitam mengilat, urat-uratnya berdenyut lembayung di bawah permukaan. “Jadi…” katanya lirih. “Aku masih hidup.” “Ya,” jawab Eveline, suara gemetar. “Tapi sistem Seraph masih menempel di jaringanmu. Aku tidak bisa memisahkannya tanpa menghancurkanmu.” Andrew tertawa kecil — getir, kosong. “Jadi sekarang aku monster?” “Tidak,” Eveline membantah cepat. “Kau penyintas. Dan kau masih Andrew.” Andrew menatapnya lama. “Kau yakin?” Eveline ingin menjawab, tapi suaranya tak keluar. Karena di matanya sendiri, ia bisa melihat — aura lembayung itu terus menyala dari dalam Andrew, bukan sekadar pantulan mesin, tapi sesuatu yang hidup, sadar, dan… menatap balik. Malamnya, Andrew duduk di kursi roda di dekat jendela terbuka. Hujan kembali turun — pelan, tapi deras cukup untuk menenggelamkan suara generator. Eveline menambal luka di sisi tubuhnya dengan lapisan biogel. Setiap kali kulit sintetis itu melekat, Andrew meringis, tapi tidak mengeluh. “Rasanya… seperti dua dunia berebut tempat di dalamku,” katanya pelan. “Kadang aku mendengar suara mesin. Kadang… suara manusia.” “Efek sinkronisasi neural,” jawab Eveline sambil fokus menempelkan lapisan baru. “Otakmu dan jaringan Seraph belum sepenuhnya menyatu. Kau akan mendengar, bahkan mungkin melihat hal-hal yang tidak nyata.” Andrew menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Separuh wajahnya kini refleksi logam, dan di baliknya — cahaya lembayung itu terus berdenyut pelan, seperti jantung lain yang hidup di bawah kulit. “Kalau aku kehilangan kendali…” katanya lirih, “kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Eveline berhenti sejenak. “Jangan bicara seperti itu.” Andrew menatapnya, matanya serius. “Janji padaku, Eveline. Kalau aku berubah… kalau sistem itu mulai mengambil alih… kau hentikan aku. Dengan cara apa pun.” Eveline terdiam lama, lalu akhirnya berkata pelan, “Kalau kau berubah… aku akan mengingatkanmu siapa dirimu.” Andrew ingin tersenyum, tapi wajahnya hanya menegang sedikit. “Kau terlalu keras kepala.” “Dan kau terlalu berkorban,” balasnya cepat. “Kita impas.” Hari-hari berikutnya, waktu berjalan lambat. Andrew belajar berjalan lagi. Setiap langkahnya berat, tapi presisi. Gerakannya terlalu sempurna — seperti mesin yang sedang meniru manusia. Kadang Eveline melihatnya berhenti di tengah jalan, memandang tangannya sendiri lama, seolah ingin memahami apakah ia masih punya nadi di sana. Marcus membawa kabar buruk dari luar: “Militer mulai menyelidiki sisa-sisa energi Seraph. Mereka menemukan sidik DNA-mu, Andrew. Kau harus segera pergi.” Andrew menatapnya datar. “Pergi ke mana? Dunia tak lagi punya tempat untuk sesuatu seperti aku.” Eveline mendekat. “Kita bisa bersembunyi. Ada fasilitas lama di bawah Zona 9. Tak ada sinyal di sana, aman untuk sementara.” Andrew menggeleng pelan. “Kau tak mengerti. Seraph masih hidup. Aku bisa merasakannya.” Marcus menatapnya heran. “Maksudmu sistemnya?” Andrew menatap keluar jendela. Di langit yang gelap, kilat berwarna lembayung samar muncul jauh di horizon — seperti napas yang kembali diambil. “Bukan hanya sistem,” katanya perlahan. “Sesuatu di dalam Seraph bangkit bersamaku. Aku tidak tahu apakah itu bagian dari diriku… atau sesuatu yang lain.” Eveline menggenggam tangannya. “Apapun itu, kita akan menghadapinya bersama. Sama seperti dulu.” Andrew menatapnya, mata kirinya bergetar lembayung. “Dulu aku manusia, Eveline. Sekarang aku tak tahu apa aku masih punya hak untuk bilang ‘kita’.” Hening. Hanya suara hujan, dan suara jantung mekanik yang berdetak perlahan. Malam berikutnya, ketika semua tertidur, Andrew terbangun oleh suara aneh. Bisikan — halus, seperti gema di dalam kepalanya. “Unit aktif. Protokol kebangkitan dimulai.” Ia berdiri, berjalan pelan ke cermin, dan melihat sesuatu yang tak seharusnya ada — pola bercahaya muncul di bawah kulitnya, membentuk simbol Seraph di d**a. Lalu ia melihat matanya sendiri — lembayung penuh, berputar cepat. Dan di detik itu, ia tahu: Sistem itu tidak mati. Ia hanya menunggu. Dan kini, ia mulai berbicara. Andrew menggenggam sisi meja, napasnya berat. “Tidak… aku tidak akan kembali ke sana.” Tapi suara itu menjawab, datar namun hidup: “Kau tidak bisa melarikan diri dari asalmu, Andrew Reed. Seraph adalah kau.” Tubuhnya bergetar, sinar lembayung menembus kulitnya lagi. Dari jauh, Eveline terbangun mendengar suara itu. Ia berlari ke ruangan Andrew—dan melihatnya berdiri di tengah cahaya ungu berdenyut, matanya terbuka, tubuhnya menggigil. “Andrew!” Ia berusaha mendekat, tapi udara di sekitarnya berubah — seperti medan elektromagnetik yang menolak apa pun yang manusia. Andrew menatapnya dengan mata yang kini sepenuhnya bercahaya. Suaranya bergema dua lapis. “Eveline… tolong aku.” Lalu — Semua lampu padam. Generator meledak. Dan di tengah kegelapan itu, hanya satu cahaya tersisa — lembayung yang berdenyut di d**a Andrew, hidup dan tak terkendali. Pagi berikutnya, kabut menutupi langit. Marcus bangun pertama, menemukan reruntuhan kecil di ruang tengah, dan Andrew duduk di sana, sendirian. Tubuhnya tenang, tapi matanya kosong. “Eveline di mana?” tanya Marcus pelan. Andrew tidak menjawab. Hanya menatap tangannya sendiri — tangan yang kini bersih, tanpa darah, tapi memancarkan cahaya samar. “Aku mencoba melawannya,” katanya akhirnya, lirih. “Tapi setiap kali aku melawan, aku kehilangan lebih banyak dari diriku sendiri.” Marcus mendekat hati-hati. “Apa yang terjadi semalam?” Andrew mengangkat pandangan, dan di balik mata lembayung itu, ada sesuatu yang tak manusia lagi. “Aku bangkit, Marcus,” katanya perlahan. “Tapi aku tidak tahu… siapa yang sebenarnya bangkit.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN