Penyihir ungu

1022 Kata
setelah sadar dari lamunannya Melisa mencoba tenang dan membaca situasi, selain pohon pohon ia juga mengamati benda benda yang seperti tumpukan sampah yang tak jauh dari ruangan yang terbelah dua itu, mulai dari kulkas tivi dan beberapa pakaian yang terkoyak koyak seperti baru saja di robek robek, ia mengambil baju robek itu dan terlihat basah tintah yang entah berwarna apa, melisa kembali ke ruangan dan memikirkan jalan keluar dari dunia ini, tapi petunjuk yang ia temukan cuma lukisan itu. Melisa mencoba melepas lukisan itu dari bingkainya, dan mencari petunjuk yang mungkin ada di sisi lain lukisan. ternyata media lukisan itu adalah kain yang tebal dan sudah terlalu kaku untuk dilipat kerenakan cat yang tebal dari lukisan itu, Melisa membolak balik lukisan itu mencari petunjuk di setiap sudut, tapi tak ia temukan apa pun yang berguna, dan Melisa tampak gelisah dan panik, dikarenakan itulah satu satunya harapan untuknya. di kesibukannya mencari cari petunjuk melisa dikagetkan dengan suara tertawa yang bergema berulang kali, Melisa yang terkejut mencari sumber suara. terlihat dari jauh seekor monster yang sangat besar dan berwarna hitam seperti gumpalan tinta, dan hanya kepalanya yang berwarna warni dengan rambut yang terbelah berwarna kuning terang. Melisa melihat sosok tersebut seperti tertawa dan marah saat bersamaan, Melis terkejut matanya saling bertemu dengan sosok tersebut “anak anak?” ucap badut tersebut dengan seram yang membuat melisa ketakutan dan terhentak mundur ke belakang. badut itu berlari mengejar Melisa, seperti seorang t-rek yang sedang mengejar mangsanya. Melisa yang terkejut sontak berlari menjauh dari sang badut meninggalkan ruangan bibinya. Melisa yang berlari sekuat tenaga melihat sang badut menginjak ruangan bibinya yang langsung hancur seketika, melisa yang semakin panik mempercepat larinya hingga ia sadar sang badut sudah tak terlihat lagi di pandangannya. Melisa yang kelelahan beristirahat di sebuah batu yang tak berwarna dan mendudukan dirinya sambil mencoba tenang, apa itu tadi? tanyanya. tapi ia sendiri tak tahu jawabannya, ruangan yang mungkin jadi petunjuknya sudah dihancurkan dan yang ia bawa hanya lukisan wanita cantik di tangannya. ia kembali memeriksa lukisan tersebut lagi, dan lagi lagi tak menemukan petunjuk apa pun jadi ia memutuskan untuk beristirahat di batu itu dan menidurkan dirinya, kelelahan saat dikejar badut dan ia bahkan belum tidur, padahal mungkin saat ini ia sudah tidur, dan Melisa akhirnya tertidur karena kelelahan &&& Batu besar tersebut tiba tiba bergerak dan ternyata batu tersebut bukanlah batu melainkan kura kura yang berjalannya lambat, entah sadarkah kura kura itu jika ada beban tambahan di atas cangkangnya?, sedangkan Melisa belum juga terbangun dari tidurnya tampaknya ia sangat kelelahan. saat kura kura lambat itu berjalan dengan perlahan tiba tiba ada seorang yang berada di depan kura kura tersebut, anak mudah yang mungkin umurnya setara dengan Melisa melihat dari sama tingginya mereka, anak muda itu berpakaian seperti pangeran di abad 18 di eropa. “mr kuro, kenapa jalanmu sangat lambat hari ini?” tanya anak laki laki itu “sutt” ucap tuan kuro, yang sambil ngasih kode dengan kepalanya, ternyata tuan Kuro tau ada Melisa di tempurungnya dan ia berusaha berjalan selambat mungkin agar tidak membangunkan Melisa. “dia anak yang manis, akan kamu bawa ke nona?” tanya anak laki laki itu “iya” ucap tuan Kuro yang merasa curiga dan sedikit menyipitkan matanya “apa kamu ingin mengambil usaha ku?” “tentu tidak” ucap anak muda itu seakan menyembunyikan sesuatu dengan senyumnya “silahkan lanjutkan perjalananmu tuan Kuro” tuan kuro melanjutkan perjalanannya lagi dengan perlahan namun pasti agar tidak membangunkan Melisa, telah beberapa saat berjalan terlihat sebuah rumah kecil yang nampak sederhana dengan makhluk aneh di depannya, makhluk sedang memotong kayu bakar dan tampak berhenti ketika melihat tuan Kuro. makhluk itu hanya sebuah tangan dengan sebuah pegas besar yang membuat ia bisa melompat lompat untuk berjalan. makhluk itu tidak menghampiri tuan kuro dan hany kembali bekerja, seakan memastikan siapa yang baru saja datang. tuan kuro menaiki tangga kayu yang sedikit membuat tubuh melisa miring dan terjatuh di belakang tuan kuro, sebelum jatuh ke tanah Melisa tampak melayang dan ia juga tak bangun dari tidurnya dan seorang wanita tampak keluar dari rumah dengan tongkat sihir besar seukuran tubuhnya. “kamu hampir menjatuhkannya Kuro” ucap wanita itu tuan kuro yang terlihat panik langsung meminta maaf dan bersyukur Melisa tak jatuh ke tanah “maafkan aku seharusnya aku lebih berhati hati” “mau bagaimana lagi, kamu yang biasanya secepat petir harus berjalan perlahan-lahan” Penyihir tua itu tak seperti makhluk yang sebelumnya kita temui, ia sangat mirip dengan manusia dan ia mempunyai warna di tubuhnya, tak seperti tuan kuro atau pun anak kecil yang kita temui tadi, ia seperti penyihir di sebuah kisah fantasi, topinya yang besar dengan gaun yang di d******i warna ungu . “serahkan anak ini pada ku, jadi kamu boleh pergi” ucap sang penyihir “baiklah” tuan Kuro langsung pergi dengan sangat cepat dan langsung menghilang “Kuro memang sangat cepat, sangat aneh melihatnya melakukan gerakan lambat, kau juga merasakan itu kan Jo” ucap penyihir itu kepada jari yang berjalan dengan pegas itu, dan jari itu tampaknya merespon dengan jempolnya wanita itu masuk ke rumahnya ternyata berwarna tak seperti tampilan luarnya, barang barang di situ juga tampak tua dan hampir persis seperti kamarnya bibi Melisa. sang penyihir membaringkan Melisa dengan perlahan di ranjang satu satunya yang ia punya, sang penyihir tampaknya juga tak menduga akan ada tamu di rumahnya. &&& Melisa terbangun dari tidurnya, ia terkejut dan tersentak karena mimpi buruk sampai ia sadar ia tidak sedang di kamarnya atau pun di depan tv. Melisa melihat sekeliling ia di tempat yang asing dengan beberapa benda antik, itu membuatnya mengingat ruangan bibinya, Melisa tampak tak takut lantaran menurutnya ini lebih baik daripada dunia hitam putih sebelumnya dan ia tampak senang dengan barang barang antik tersebut tiba tiba suara langkah kaki dan senandung terdengar, Melisa yang tadinya sempat ingin berdiri kembali membaringkan dirinya di kasur dan menunggu orang membuka pintu kamar itu, ia juga berharap bukan sesuatu yang menyeramkan muncul. akhirnya sang penyihir membuka tirai yang menjadi pintu kamar tersebut dan melihat Melisa yang baru saja terbangun dari tidurnya, dan tiba tiba saja Melisa terkejut “bibi?” ucap melisa sambil kembali terduduk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN